spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Harry Roesli Ingin Tulis Buku, Tapi Ada Kejanggalan

Bogor, 12 Desember 2004 19:50
Seniman dan budayawan Putu Wijaya mengungkapkan kejanggalan yang dialaminya menjelang meninggalnya seniman dan musisi Harry Roesli.

Hal itu diungkapkan Putu Wijaya saat menyampaikan sepenggal kata terakhir untuk almarhum dalam prosesi pemakaman di pekuburan keluarga di RT03/RW05, Desa Pasirmulya, Ciomas, Kecamatan Bogor Barat, Ahad.

Menurut dia, ketika dirinya sedang mengadakan tour ke Yogya-Semarang-Surabaya-Singaraja, Harry Roesli sempat menyampaikan keinginannya kepada Putu untuk menulis sebuah buku.

Selanjutnya, pada tanggal 6 Desember 2004, ketika Putu Wijaya bertemu langsung dengan Harry Roesli di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, sambil memegang tangan Putu, Harry berkata, "Mas, bukunya sudah selesai." Setelah menerima pemberian buku tersebut, Putu merasakan ada yang janggal. "Kok 300 halaman kosong semua?" demikian batin Putu Wijaya bertanya pada diri sendiri.

Ternyata, kejanggalan lain juga dialami salah satu putra almarhum yakni Lahami Khrisna Parana.

"Di halaman pertama, bapak menuliskan 1951-2004," tambah Lahami Krisna Parana.

Setelah menerima penyerahan buku tersebut, Putu Wijaya membuat kata sambutan yang terdiri dari 10 halaman dari 300 halaman buku itu, yang rencananya akan dilaunching pada saat peringatan 100 harinya nanti.

Berpulangnya almarhum, tidak hanya dirasakan oleh keluarganya saja, namun juga oleh kawan-kawannya di komunitas seni dan budaya maupun musisi lainnya.

Hal itu, setidaknya juga dirasakan Triawan Munaf, yang merasa kehilangan sahabat dekatnya itu.

Selain itu, aktor Didi Petet tampak matanya merah, kantong matanya menghitam, dengan pandangan mata nanar.

Ia mengaku, teringat dua patah kata terakhir Harry Roesli, Hi Di!" sapa almarhum ketika masih dirawat di RS Harapan Kita.

Saat detik terakhir menjelang berpulangnya untuk selamanya sahabatnya itu, pemeran "Kabayan" itu sedang tidak di sisi almarhum.

Didi Petet sedang mengikuti Festival Film Indonesia (FFI) 2004, dan ketika mendengar berita duka itu ia langsung menjerit.

Meski dalam suasana duka, namun proses pemakaman itu sempat diwarnai nuansa seni.

Ketika dibawa keluar dari Masjid Jami Al-Huda, setelah jenazah dishalatkan, bunyi bedug Jepang sebanyak lima buah tenor drum dan sebuah musik perkusi ditabuh mengiringi jenazah menuju liang lahat. Saat menjelang pemakaman, langit Bogor sudah mendung tebal dan pukul 13.50 WIB jenazah dikebumikan.

Kedua anak kembar almarhum menyambut bopongan jenazah dari dalam kubur diiringi doa yang terus dipanjatkan, dan lagu "Indonesia Menangis" menjadi penutup dari acara pemakaman almarhum. [EL, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  maknanya adalah.... (wekamuni@ya..., 19/12/2004 00:58)
buku tanpa isi bermakan hening :), sehingga buku tersebut tetap dapat di cetak, dengan isi komentar rekan-rekan beliau, dan diakhiri 1 lembar halaman terakhir tanpa isi apa-apa, yang merupakan karya monumental harry roesli yang bermakna keheningan atau kontemplasi dari yang bebas dimaknai oleh siapapun juga.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 18 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer