spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
INTRIK
spacer
 
Kafi Kurnia
Encok

KEMARIN, ketika saya menengok Mpu Peniti di rumahnya, beliau tampak sedang kesal dan menggerutu terus. Di kampungnya sedang ramai-ramai pemilihan Ketua RT. Beberapa calon berupaya keras menyogok Mpu Peniti agar mau menjadi juru kampanye. Tentu saja Mpu Peniti jadi uring-uringan.

Ketika mengobrol --di sela-sela kepulan asap rokok kretek-- Mpu Peniti bertutur tentang kepemimpinan ala encok. Mulanya saya bingung juga. Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, ada seorang raja. Kebetulan sang raja ini terobsesi dengan dirinya sendiri.

Ia adalah raja antikritik. Kalau ada yang berani mengkritiknya, raja akan stress dan tidak bisa tidur. Tak mengherankan bila raja punya divisi public relations yang sangat besar. Divisi itu dipenuhi orang-orang yang berusaha menjaga citra raja, agar selalu populis, kharismatik, dan dicintai rakyatnya.

Selama 10 tahun raja memerintah, negeri antah berantah tidak mengalami kemajuan yang berarti. Raja sibuk mengurus citranya. Bukan sibuk mengurus negeri dan rakyat. Uang negara habis untuk proyek-proyek yang bertujuan memoles citra raja.

Suatu hari, sang raja menderita encok, hingga tidak bisa tidur. Otomatis seluruh istana ikut encok. Setiap kali raja kesakitan, semua pelayan, dan staf divisi public relations, ikut meringis dan merasa ikut encok. Dalam waktu singkat, encok mewabah di seluruh negeri.

Staf raja mendirikan berbagai rumah sakit khusus encok, klinik encok, pusat penelitian encok, dan universitas encok. Setiap rakyat yang sakit encok mendapatkan pengobatan gratis. Pokoknya, seluruh negeri antah berantah tergila-gila dengan encok.

Lewat cerita itu Mpu Peniti menitip pesan. Jangan gara-gara kepentingan seorang pemimpin, seluruh negeri menderita. Saya tersentuh mendengar cerita ini.

Belum lama ini di Beijing, dalam sebuah sarasehan strategi manajemen, saya mendiskusikan soal kepemimpinan bersama beberapa eksekutif Asia. Di tengah gejolak persaingan global, banyak organisasi yang tersengal-sengal napasnya. Kehadiran seorang pemimpin yang tangguh menjadi sangat kritis.

Pemimpin zaman ini, tidak cukup sekadar bermodalkan visi, dan kecakapan manajemen belaka. Tapi ada prioritas lain yang sangat dibutuhkan. Yaitu, moral, karakter, norma, dan nilai. Konon, topik ini yang diusung Bush dalam kampanye lalu.

Ketika giliran saya menyampaikan makalah, saya mengambil ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara. Ajaran lama ini selalu saya jadikan pantutan. "Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani".

Artinya, seorang pemimpin yang ingin menjadi pendidik harus selalu berani mengambil sikap. Di depan, memberikan teladan. Di tengah rakyat, bersama-sama membangun semangat. Dan di belakang selalu memberikan dorongan, atau empowerment.

Sayangnya situasi ideal ini jarang terjadi. Kebanyakan pemimpin sibuk dengan citranya sendiri. Sehingga terjadi kepemimpinan encok.

Ayah saya pernah bercerita tentang Dr. Sun Yat Sen. Alkisah suatu hari beliau naik kapal. Ketika sedang berjalan-jalan di dek, ada seorang penumpang yang seenaknya meludah di lantai. Padahal sudah ada peringatan jelas tentang larangan meludah.

Melihat kejadian itu, konon, Dr. Sun Yat Sen tidak segan mengambil sapu tangannya, dan menyeka ludah di lantai itu. Dr. Sun Yat Sen sama sekali tidak memarahi orang itu.

Tapi tindakannya yang elegan, persis sama dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Perbuatannya sekaligus menjadi teladan, motivasi, dan inspirasi. Sama sekali ia tidak merasa terhina dengan merendahkan diri seperti itu. Inilah kepemimpinan anti-encok.

Pemimpin sesungguhnya adalah juga sekaligus pelayan bagi massa yang dipimpinnya. Posisinya tidak selalu di depan. Tetapi di mana pun ia berada, ia memiliki fungsi yang sesuai.

Kafi Kurnia
[Intrik, Gatra Nomor 4 beredar Jumat, 3 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 11 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer