Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Wabah Mengeruk Lemak

Populer di Amerika Serikat sejak 1980-an. Beragam teknik telah dikembangkan. Sedot lemak makin nyaman dan aman.

LEMAK yang bergelayut di tubuh bisa menjadi pertanda kemakmuran. Tapi bisa juga berarti sebaliknya, timbunan kekecewaan. Coba hitung, sebutan bagi si gendut lebih banyak daripada si kurus.

Penyakit di balik timbunan lemak tubuh disinyalir juga lebih banyak ketimbang di balik tulang berbalut kulit. Tubuh langsing dicitrakan lebih menawan. Sejarah mencatat, usaha menggelontor lemak dimulai sejak 1921.

Ketika itu, Charles Dujarrier, seorang dokter dari Prancis, pernah berusaha mengeruk lemak dari betis dan lutut seorang penari balet. Hasilnya sungguh mengerikan. Lantaran terjadi pendarahan hebat, kaki sang penari terpaksa diamputasi. Maklum saja, Dujarrier menggunakan teknik kuret uterus dalam operasinya.

Catatan tentang sedot lemak yang lebih lengkap dikemukakan Josef Schrudde, ahli bedah dari Jerman, pada 1964. Schrudde mengembangkan teknik menyedot lemak di paha, lutut, dan bawah lengan. Namun teknik Schrudde masih berisiko pendarahan hebat dan bekas luka yang mengganggu penampilan.

Hampir satu dekade kemudian, Dr. Giorgio Fisher dan Arpard dari Italia mengembangkan metode yang lebih aman. Mereka mengembangkan teknik menyedot dengan hanya membuat sayatan kecil di lokasi gundukan lemak. Namun, ketika itu, alat yang digunakan sebenarnya bukan khusus untuk jaringan lemak. Toh, teknik yang mereka kembangkan dipandang sebagai tonggak sedot lemak modern.

Ahli bedah plastik asal Prancis, Yves-Gerard Illouz, sangat tertarik dengan karya Fisher. Ia segera menyempurnakan alat bedah yang digunakan Fisher, pada 1977. Illouz memperkenalkan alat sedot lemak yang berujung tumpul.

Ciptaan Illouz ini membuat risiko pendarahan jadi lebih kecil. Peralatan sedot dengan ujung yang tajam dapat membabat urat darah atau saraf yang ada di jaringan lemak. Sejak itu, berbagai teknik dan peralatan sedot lemak berkembang pesat.

Ahli bedah asal Prancis, Dr. Pierre Fournier, misalnya, mengenalkan teknik sedot lemak "kering". Fournier tidak menyuntikkan cairan ketika melakukan penyedotan lemak di tubuh pasien. Teknik ini berlawanan dengan teknik "basah" ala Illouz, yang menggunakan cairan khusus untuk mempermudah penyedotan dan mengurangi pendarahan.

Tahun 1980, Dr. Lawrence M. Field dan Yeffrey Klein meneruskan teknik itu ke Amerika Serikat. "Negeri Paman Sam" ini pun terkena wabah sedot lemak. Operasi bedah plastik ini dianggap sebagai cara paling mudah dan aman untuk segera mendapatkan tubuh indah.

Ilmu menghancurkan lapisan lemak juga makin populer di kalangan dokter. American Academy of Cosmetic Surgery mengadakan pelatihan dan simposium tingkat dunia khusus tentang sedot lemak untuk pertama kalinya pada 1984.

Kegiatan itu dipelopori oleh ahli bedah plastik Dr. Julius Newman dan Dr. Richard Dolsky. Saat itulah Newman menggunakan istilah "liposuction" pertama kali, yang kemudian mendunia. Selain itu, mereka juga mendirikan himpunan ahli bedah khusus sedot lemak: American Academy Society of Liposuction Surgery.

Perkembangan ilmu sedot lemak makin pesat setelah Dr. Jeffery Klein, ahli kulit dari California, melaporkan temuannya tentang teknik anestesi tumesen (tumescent anesthesia), 1987. Inovasi ini membuat dokter bisa menghancurkan lemak di bawah kulit hanya dengan pembiusan lokal.

Sejak itu, berbagai teknik dan pelayanan pasien takut lemak makin canggih. Ahli bedah Italia, Dr. Michael Zocchi, memperkenalkan teknik liposuction dengan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi pada 1987. Tahun 1999, ahli bedah Kolombia, Dr. Rodrigo Neira, menciptakan teknik baru dengan bantuan sinar laser.

Dari Benua Amerika dan Eropa, wabah sedot lemak ini pun melanda Asia, termasuk Indonesia. Operasi kecantikan ini dikenal sejak 1980-an. "Teknik bedah plastik ini awalnya diperkenalkan Dr. Illouz pada kongres dokter bedah plastik di Jakarta," kata Dr. Sidik Setiamihardja, ahli bedah plastik pada Rumah Sakit Bedah Plastik Bina Estetika.

Selain Illouz, para pakar sedot lemak dunia lainnya juga berdatangan ke Jakarta. Berikutnya giliran Dr. Pierre Fournier dan Dr. Lawrence Field yang, selanin ke Jakarta, juga ke Bandung, Padang, dan Medan demi sedot lemak. Hanya saja, menurut Sidik, jumlah ahli bedah plastik di Indonesia masih terbatas, hanya 54 orang.

"Mereka umumnya lebih banyak menangani pasien bedah rekonstruksi daripada sedot lemak," kata Sidik. Karena itu, menurut Sidik, sedot lemak lebih banyak terjadi di salon-salon tanpa pengawasan tenaga ahli. Hati-hatilah.

Nur Hidayat dan Alfian
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 05/2005 (GATRA/Imam Sukamto)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Perjalanan
Seni
Serambi
Techie
Televisi
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com