Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Susut Lemak Berbalas Nyawa

Promotor tinju Aseng meninggal setelah operasi sedot lemak. Dokter asing yang menanganinya. Peminatnya membludak.

BEBERAPA lilin besar warna merah dan putih tampak menyala di atas meja persemayaman. Dua boneka kertas, bunga-bunga segar, dan simbol berhuruf Cina melengkapi khidmatnya suasana di rumah persemayaman Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya. Persis di depan peti mati, terpampang foto yang tak asing bagi dunia tinju Indonesia. Ialah foto promotor tinju Herry Sugiarto alias Aseng.

Dengan pakaian jas lengkap, almarhum pria kelahiran Surabaya, 11 Mei 1947, ini terbaring dengan tenang, Selasa lalu. Ia meninggal setelah menjalani operasi penyedotan lemak di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat. Jenazahnya diinapkan di rumah duka selama lima hari. Rencananya, Jumat ini mayatnya dikremasi di Gunung Gangsir, Bangil, Pasuruan.

Lima anak Aseng tak mengira secepat itu ditinggalkan sang ayah. Tak ada firasat apa pun yang dialami keluarga. "Beberapa hari sebelum ke Jakarta, Papa masih sempat bermain golf," ujar Ndondo Sugiarto, anak bungsu Aseng.

Ketika ke Jakarta bersama Ndondo, Jumat pekan lampau, Aseng menyembunyikan rencananya selama di Jakarta, termasuk datang ke Abdi Waluyo. "Papa cuma bilang mau check-up," kata Ndondo kepada Taufan Luko Bahana dari Gatra. Kejadian itu pun cepat. Begitu masuk, Aseng menuju kamar operasi. Ndondo baru tahu ayahnya disedot lemak setelah disodori perawat surat pernyataan yang harus diteken pihak keluarga. Pokoknya, Ndondo tak sempat berpikir panjang.

Sebelum operasi, Aseng dibius total. Ndondo tak tahu nama dokter yang menangani. "Katanya dokter dari Amerika," ujarnya. Menurut Dokter Tommy Halauwet, seorang pengurus Komisi Tinju Indonesa, ahli bedah plastik asal San Francisco, California, Amerika Serikat, yang menangani Aseng itu bernama Fred Suess. Disebutkan pula bahwa di Abdi Waluyo, hanya dokter bule yang mengoperasi. Inilah yang kemudian memicu kontroversi (baca: Dokter Asing, Boleh Tidak).

Sayang, Abdi Waluyo memilih diam soal nama dokter asing itu. Fred yang disebut-sebut sebagai ahli bedah itu pun belum menjawab surat elektronik yang dikirim Gatra.

Informasi yang dikumpulkan Gatra menyebutkan, lemak yang menimbun di perut Aseng disedot dengan injeksi. Kabarnya, sebanyak 12 kilogram (sekitar 16,8 liter lemak) dikeluarkan! Padahal, maksimalnya 3-4 liter. Dua jam setelah operasi, Aseng mulai siuman. Dia sempat mengeluh perutnya sakit.

Ndondo cemas. Ibunya, Bilyvia, dikontak. Esok harinya, istri Aseng itu tiba di rumah sakit. Bilyvia menyaksikan seorang dokter tengah menyuruh Aseng belajar duduk. Tapi Aseng mengaduh terus. Suhu tubuhnya meninggi di atas 37 derajat celsius. Di perutnya tampak darah pada luka bekas operasi. Kondisinya terus merosot hingga ia mengembuskan napas terakhir, Ahad dini hari lalu.

Tentu saja, dunia tinju di sini kembali kehilangan. Sebelum ini, dunia tinju juga ditinggalkan promotor kondang Boy Bolang, yang meninggal April lalu. Aseng sendiri sudah lama malang melintang di dunia adu jotos. Ia juga acap ikut pertemuan Federasi Tinju Internasional (IBF) di Amerika Serikat.

Semasa kariernya, ia telah mementaskan 30% dari pertarungan tinju, baik nasional maupun internasional. Tak mengherankan Aseng acap disebut sebagai Don Seng, seperti Dong King, promotor kondang Amerika Serikat. Namun, dari sekian banyak pertarungan, ada satu pekerjaan yang memuaskan. Yaitu: mengantarkan Muhammad Rachman menjadi juara dunia tinju kelas terbang mini versi IBF, 14 September silam.

Rachman menyingkirkan Daniel Reyes dari Kolombia. "Saya puas. Selama 14 tahun jadi promotor, baru Rachman yang berhasil saya orbitkan jadi peringkat pertama dunia," ujar Aseng, seperti ditirukan rekannya, Muhammad Yunus. Yunus adalah pelatih tinju Sasana AKAS Boxing Club, Probolinggo.

Sebelum dioperasi, Aseng memang kerap mengeluhkan badannya yang kelewat gemuk. Beratnya 100 kilogram. Berbagai keluhan kerap diutarakan kepada Ndondo. Mulai nyeri persendian kaki sampai tidak lincah bergerak. Apalagi setelah meninggalkan olahraga tenis, enam tahun silam, ia kurang banyak gerak. Sejak 2001, ia meminta anaknya mencarikan dokter yang cocok untuk menurunkan berat badan. Tapi belum ada yang pas.

Akhirnya ia memilih disedot lemak. Tatkala pergi ke Amerika Serikat, ia sempat minta izin untuk menghilangkan lemak di sana. Ndondo tak mengizinkan. Ndondo menganjurkan ayahnya agar diet. "Papa makannya kuat," katanya. Permintaan serupa diulangi saat di Amerika, setahun berikutnya. Lagi-lagi ditolak.

Toh, Aseng agaknya tak ambil pusing. Ia konon sempat mencobanya di sebuah rumah sakit di Malaysia dan Singapura. Tapi rumah sakit di negeri jiran ini menolak mememenuhi permintaan itu. Aseng dianjurkan untuk lebih dulu melakukan diet.

Alasan penolakan yang lain, Aseng punya riwayat penyakit hipertensi. Sewaktu ia cek kesehatan di rumah sakit Singapura, dokter di sana menemukan jantungnya tidak normal. "Ada pembuluh darah yang mulai tersumbat," kata Tommy. Ia pun menjalani operasi di sana. Padahal, penyakit jantung sangat riskan untuk sedot lemak.

Kesal ditolak terus, Aseng nekat melakukannya tanpa izin keluarga. Ia hanya bilang sama Tommy. "Supaya saya kelihatan langsing lagi," seloroh Aseng yang ditirukan Tommy. Ia pun mendaftar ke Abdi Waluyo sejak Mei lalu. Tapi baru Jumat pekan lalu mendapat panggilan untuk operasi, yang berakhir dengan kematian.

Aseng hanyalah satu dari sekian banyak korban sedot lemak. Menurut studi ahli bedah Rudolph de Jong dari Universitas Columbia, dalam jurnal Plastic and Reconstructive Surgery, prevalensi kematian boleh dibilang tinggi. Rata-rata 20 dari 100.000 operasi penyedotan lemak. Biasanya mereka tewas lantaran terjadi penggumpalan darah, anestesi, dan prosedur sedot lemak yang salah. Di Indonesia sendiri, belum ada laporan kematian akibat praktek ini selain Aseng.

Meski sudah jatuh korban, toh praktek ini tetap digandrungi orang. Sebab, sedot lemak dianggap sebagai cara paling praktis untuk menggelontorkan lemak secara cepat. Apalagi, tarifnya lumayan murah: minimal Rp 3 juta. Sejumlah klinik dan rumah sakit pun ramai-ramai membuka fasilitas khusus. Antara lain Jakarta Skin Center, Rumah Sakit Abdi Waluyo, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan Rumah Sakit Bedah Plastik Bina Estetika.

Pasiennya pun berjibun. Di RSCM, saban bulan ada satu-dua pasien yang ingin disedot lemak. Di Surabaya, Djohansjah Marzoeki, ahli bedah plastik pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, membuka klinik pribadi yang menangani sedot lemak pribadi. Jumlah pasiennya menempati urutan 4-5 pasien bedah plastik terbanyak, di bawah permak hidung. "Dalam sebulan, pasti ada pasien yang ingin disedot lemaknya," katanya. Kebanyakan perempuan berusia 35 tahun.

Bahkan sejumlah selebriti --lokal dan asing-- memilih bedah estetika ini. Demi Moore, Rina Gunawan, dan Guruh Soekarnoputra melakukannya. Rina Gunawan malah nekat melakukannya berbarengan dengan operasi melahirkan anaknya lewat caesar (baca: Menjaga Penampilan).

Sedangkan penyanyi Denada nyaris mengikuti jejak Rina, setelah berbagai teknik pelangsingan yang diikuti gagal membuahkan hasil. "Tapi saya urungkan karena dilarang oleh Ibu (Emilia Contessa --Red.)," katanya kepada Diya Farida dari Gatra.

Menurut Rachmat Sugih, ahli gizi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sedot lemak sebenarnya tidak untuk menurunkan bobot badan. Ia hanya untuk mengurangi timbunan lemak di daerah-derah tertentu, seperti di perut, paha, dan tangan. Selain itu, operasi ini tidak akan efektif apabila tidak diiringi dengan diet dan berolahraga. Lemak akan muncul lagi di tempat lain atau di sekitar tempat lemak yang disedot. "Bentuk tubuh jadi tidak proposional karena ada gundukan-gundukan lemak," ujarnya.

Proses sedot lemak adalah dengan mengerik sel lemak. Jadi risikonya, ada lemak yang lepas dan masuk ke pembuluh darah. Ini bisa menyumbat. Penyumbatan ini bisa terjadi di jantung, otak, atau tempat lain. "Jika terjadi penyumbatan di pembuluh jantung atau otak, bisa mengakibatkan kematian," kata Rachmat. Tapi kasusnya jarang terjadi. Artinya, penderita penyakit jantung harus hati-hati dengan risiko ini.

Aries Kelana, Amalia K. Mala, Alfian, dan Nurul Fitriyah (Surabaya)



Dokter Asing, Boleh Tidak

KASUS kematian Aseng ternyata tak sekadar mengingatkan kembali risiko sedot lemak. Juga memunculkan kontroversi mengenai kehadiran dokter asing. Sebab, menurut Tommy Halauwet, ahli bedah pada Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia dan Cikini, Dokter Fred Suess berpraktek seperti dokter biasa. Dan tidak ditemani oleh dokter asal Indonesia.

Tommy menyangkal pernyataan Humas Rumah Sakit Abdi Waluyo sebelumnya. Dalam jumpa pers, Senin lalu, baik Dokter Migot maupun Dokter Tony tidak bersedia menyebutkan siapa nama dokter dari Amerika itu dan keberadaannya di Abdi Waluyo. Tony cuma bilang, dokter asing diperbolehkan datang ke rumah sakit di Indonesia. Di situ ia bisa melakukan transfer ilmu pengetahuan.

Caranya pun bisa macam-macam. Bisa berbicara dalam seminar dan melakukan demonstrasi operasi. "Kalaupun melakukan operasi, ia ditemani oleh dokter dalam negeri," katanya. Tapi Migot mengutarakan pernyataan yang bertolak belakang. Kata Migot, yang menangani Aseng adalah Oei Kim Ik dan Husni Hasbullah, selaku dokter spesialis bedah, dibantu Sutrisno Tono Susanto, spesialis penyakit jantung.

Kehadiran dokter bedah plastik asing di Abdi Waluyo tentu saja mengundang reaksi. Imam Susanto, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi), terkejut. Ini lantaran ia belum mendengar atau mendapat laporan bahwa seorang anggotanya mengajak dokter bedah plastik asing berpraktek di rumah sakit tertentu.

Lagi pula, memasukkan dokter bedah plastik asing tak gampang. Harus memenuhi beberapa persyaratan. Antara lain, mendaftar ke Perapi dulu. Mereka juga harus menyerahkan daftar riwayat hidup dan diperiksa Kolegium Ilmu Bedah Plastik Indonesia. Bila benar ahli bedah plastik sungguhan, ia akan diproses lagi di Departemen Kesehatan.

Selain itu, harus memenuhi syarat keimigrasian dan ketenagakerjaan. "Kalaupun sudah lulus, tak bisa praktek sendiri. Ia harus didampingi dokter bedah plastik Indonesia, minimal dua orang," kata Imam Susanto. Menurut catatan Imam, baru dua ahli bedah plastik asal Brasil dan Amerika Serikat yang sukses melewati seleksi. Tapi kini tak jelas keberadaannya.

Menurut Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, kasus ini tak lepas dari lemahnya pengawasan pemerintah. Standar pelayanan medis belum ada. "Akibatnya, banyak tenaga asing yang tak minta izin ke Departemen Kesehatan," katanya. Mereka datang mengoperasi hari ini, besok sudah kembali ke negaranya. Dan tak cuma dari Amerika Serikat yang datang. Belakangan tenaga medis dari India, Cina, Korea Selatan, dan Taiwan pun sudah berani berpraktek.

Sementara itu, Sri Astuti S. Suparmanto, Direktur Jenderal Pelayanan Medik, belum berkomentar banyak. Ia masih menunggu laporan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, karena lembaga inilah yang berwenang mengawasi soal itu. Toh, ia tak akan tinggal diam. "Saya akan minta dibentuk tim gabungan dari Dinas Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia untuk mengecek apakah dokter itu sesuai prosedur atau tidak," katanya kepada Eric Samantha dari Gatra. Kalau terbukti, dokter itu akan dideportasi.

Aries Kelana, Alfian, dan Rohmat Haryadi



Menjaga Penampilan

SELAIN Aseng, ada beberapa orang yang mencoba sedot lemak. Tapi selamat. Berikut kisah dua orang di antaranya:

Cut Ria, 24 tahun, pramugari

"SAYA ikut sedot lemak sebenarnya cuma ikut-ikutan teman, kok," kata Cut Ria. Ria, begitu panggilannya, mengaku punya masalah berat badan. Maklumlah, sebagai pramugari maskapai penerbangan PT Lion Air, urusan penampilan dan kesehatan harus dijaga. Karena itu, Ria mulai gelisah karena berat badannya sudah mencapai 60 kilogram. Apalagi, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini punya hobi ngemil.

Gadis Aceh dengan tinggi 168 sentimeter itu pun akhirnya memilih operasi sedot lemak di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta. "Saya malas juga capek kalau olahraga," kata Ria. Kalau mengikuti program diet ketat, Ria terus terang tak sanggup harus bolak-balik buang air.

Maka, lemak-lemak yang bergelayut di perut, lengan, dan paha Ria pun dibabat habis oleh tim dokter Rumah Sakit MMC, setahun lalu. Setelah operasi, berat badannya susut 8 kilogram lebih, hingga menjadi 52 kilogram saja. Untuk urusan sedot ini, Ria harus mengeluarkan setidaknya Rp 3 juta. "Itu baru untuk biaya operasi saja," katanya.

Rina Gunawan, 30 tahun, artis

BAGI Rina Gunawan, menjadi gembrot adalah takdir. Semua perempuan yang sedang mengandung atau habis melahirkan tentu tubuhnya menjadi gemuk. Tapi Rina mengaku susah punya tubuh gendut. Ketika hamil anak kedua, bobot tubuh Rina sempat mencapai 90 kilogram. Saat akan operasi caesar anak keduanya, Rina sempat nyeletuk kepada tim dokter. "Aduh, Dok, berat gue nih, gile banget. Kurangin dikit kek lemaknya di mana gitu," katanya.

Begitu selesai operasi, tiba-tiba seorang suster membawa sebuah kantong kepada Rina. Ini titipan dari dokter, katanya. "Rupanya, isinya lemak saya seberat 2 kilogram," kata Rina. Celetukan Rina tadi ternyata dikabulkan dokter. Lemaknya disedot di beberapa tempat.

Nur Hidayat
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 05/2005 (GATRA/Imam Sukamto)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Perjalanan
Seni
Serambi
Techie
Televisi
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com