spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Jatuhnya Domino Hans Gouw

Rumah Hans Gouw di Virginia (GATRA/Didi Prambadi)

SUASANA perkampungan warga Indonesia di Philadelphia Selatan terasa tegang. Semua mata melihat dengan curiga saat Gatra masuk ke salah satu toko Indonesia, di Snyder Avenue. Bahkan tiga orang lelaki yang baru turun dari mobil van balik naik ke dalam mobilnya.

"Itu wartawan! Wartawan! Jangan-jangan kita dilaporkan," kata seorang di antara mereka. Banyak warga kehabisan koran-koran lokal berbahasa Indonesia. Situasi serupa yang terasa di beberapa pusat pencucian pakaian (laundry) di Philadelphia Selatan.

Mereka ingin tahu daftar nama 26 warga Indonesia yang tertangkap di Negara Bagian Virginia. Dan yang lebih penting, mereka ingin tahu nasib mereka selanjutnya. Maklum, tertangkapnya komplotan Hans Gouw merupakan mimpi buruk bagi kebanyakan warga Indonesia di Amerika Serikat.

Sebab, bisa dipastikan nasib mereka, yang mayoritas pemohon suaka politik dan mengantongi kartu identitas palsu, berada di ujung tanduk. Tak lama lagi, sebanyak 2.000 pemohon suaka akan "disapu bersih" dan setelah diadili, karena kasus pemalsuan, bakal dipulangkan ke Indonesia.

Nasib buruk mereka akibat ulah kawanan Hans Gouw, komplotan 26 orang pemalsu identitas dan suaka politik di Virginia yang ditangkap pekan lalu. Tidak seperti pelanggar hukum di Amerika Serikat, yang kebanyakan menyembunyikan identitasnya, kelompok ini seakan tenang-tenang saja memamerkan diri.

Di setiap iklan berukuran besar yang dipasang CIAS (Organisasi Masyarakat Cina Amerika) di beberapa media berbahasa Indonesia di California dan negara bagian lainnya, Hans Gouw memasang foto rumahnya yang mewah itu.

Rumah Hans yang terletak di Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia, memang cukup mewah. Halamannya luas, dan di depan pintu masuk terdapat sebuah air mancur mini. Sementara itu, di depan garasi berderet mobil mewah.

Merek mobil itu terkenal sebagai mobil mahal. Seperti BMW sport warna metalik bernomor pelat "Yanti G" milik Isnayanti Gouw, lalu mobil jip Cadillac Escalade bernomor pelat "Hi Joe" milik Joandi, keponakan Hans. Juga ada dua mobil jip merek lain bernomor pelat "CIAS 1" dan "CIAS 2". Ada pula mobil Hyundai bernomor pelat "Hi Lia".

Bahkan menurut penuturan Tanudjaja, salah satu warga Indonesia yang minta asilum lewat Hans, di garasi rumah Hans ada dua mobil Mercedes dan BMW keluaran tahun terakhir. Sementara itu, di tembok tapal batas jalanan masuk ke pekarangan rumahnya tertera "The Gouws 6155".

Saat Gatra membunyikan bel rumahnya, seorang anak muda --kemungkinan Joandi Gani, salah satu tersangka yang ditangkap pekan lalu-- mengintip dari balik gorden rumah mewah itu sebelum keluar. Sambil tetap memegang daun pintu, ia menanyakan maksud kunjungan Gatra.

"Ini Joandi?" tanya Gatra. Pemuda itu balik bertanya, "Memang kenapa?". Dan setelah dijelaskan, ia hanya menjawab, "Wah, Pak Hans tidak ada. Tidak jelas kapan pulangnya," katanya. Wajahnya terlihat tegang, sementara di balik pintu tampak sejumlah wanita menongolkan wajahnya dengan sembunyi-sembunyi.

Suasana tegang juga terlihat di kantor AAPS (Asia American Placement Services), yang terletak di deretan depan gedung perkantoran Spring Mall Building, Springfield, Virginia.

Seorang lelaki bule, diduga Michael Wright, suami Megawaty Gandasaputra, direktur biro jasa itu, mengangkut beberapa kotak warna biru dan pesawat televisi, dibantu Joandi, ke dalam jip bertuliskan "Hi Joe".

Saat Gatra mendekat, mereka buru-buru masuk ke dalam kantor AAPS, membiarkan pintu mobil belakangnya terbuka. Memang tidak terlihat ada komputer yang diangkut ke luar. Maklum, petugas Biro ICE (Immigration and Customs Enforcement) telah menyita perangkat keras yang diduga digunakan komplotan Hans Gouw memproses seluruh dokumen dalam kasus pemalsuan permohonan suaka politik dan identitas.

Seperti diketahui, dalam penyelidikan kasus Hans ini, ICE dibantu sejumlah pendatang gelap asal Indonesia lewat beberapa cara. Di antaranya, para warga RI itu diminta ICE mendekati kelompok Hans cs, sambil berpura-pura menjadi peminat suaka palsu.

Petugas ICE juga memastikan bahwa semua warga RI yang membantu mereka itu tidak pernah melakukan kejahatan di Amerika Serikat. Eliana, misalnya, yang mengajukan permohonan suaka lewat CIAS pada 14 Agustus 2003, menggunakan nama palsu. Tidak seperti biasanya, kali ini Hans dan komplotannya tidak mencantumkan nama mereka sebagai biro jasa yang membantu Eliana.

Entah untuk mengelabui petugas, CIAS mengajukan surat permohonan itu lewat kantor imigrasi di Texas. Tapi alamat Eliana tetap di Virginia, di tempat tinggal Hans Gouw yang lama, di 13105 Canova Drive, Manassas, Virginia.

Dalam permohonannya itu, Eliana dikatakan menderita perlakuan tidak adil dan penganiayaan sejak kecil oleh bosnya yang muslim. Untuk itu, Eli harus membayar pada CIAS US$ 2.750 untuk pembuatan surat kelahiran palsu, dengan nama baru, yang seolah dikeluarkan Kantor Catatan Sipil Jakarta, Februari 2001.

Surat palsu itu seolah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh CIAS pada 8 Agustus 2003. Sebulan kemudian, Eli menemui Brigitta Parerra, seorang pegawai Hans, di rumah Hans di Pohick Street, Fairfax.

Di rumah mewah itu, Eli dilatih menghadapi pewawancara dari kantor imigrasi Amerika Serikat. Antara lain menghafal cerita bohong, dan menjawab pertanyaan dasar tentang agama Kristen, soal Yesus dan Injil.

Selain itu, Eli juga diminta memohon pada petugas agar ia bisa menghindari ancaman penganiayaan di Indonesia. Dan terakhir, Eli diminta menangis dan terlihat sedih sambil menjelaskan bahwa warga muslim fanatik akan membunuhnya bila ia kembali ke Indonesia.

Pada saat wawancara dengan petugas imigrasi, Brigitta bekali-kali mengingatkan tentang latihan yang diberikan. "Wanita pembimbing" ini juga memelesetkan terjemahannya agar lebih dramatis.

Contohnya, ketika petugas bertanya apakah Eli punya kenalan atau keluarga yang pernah mengalami kekerasan di Indonesia, Eli menjawab ia punya kenalan wanita yang mengalami nasib serupa.

"Lalu, apa yang terjadi padanya?" tanya petugas. Eliana hanya menjawab, "Nggak tahu. Dia ngomel-ngomel saja." Tapi oleh Brigitta diterjemahkan dengan, "She got raped (diperkosa)." Brigitta ternyata tidak tahu bahwa Eli adalah orang suruhan ICE untuk menjebaknya.

Lain lagi yang dilakukan salah satu mata-mata ICE bernama samaran Hendra. Warga Indonesia ini dipasangi alat penyadap di tubuhnya saat menghubungi Herlina Suherman, perwakilan CIAS untuk Amerika Serikat Tengah. Dari percakapan mereka didapat keterangan Herlina:

"Imigrasi mulai merasa banyak yang bohong, mereka mengajukan suaka, cuma sekadar mengajukan saja. Memang benar begitu sih. Banyak yang tujuannya cuma memperpanjang waktu supaya bisa tinggal di sini lebih lama, sampai tiga, empat, atau lima tahun. Langsung telepon Pak Hans. Dia sudah menangani permohonan suaka sampai lebih dari 700 orang, lho."

Ketika Hendra menjelaskan bahwa dia tidak punya pengalaman buruk, Herlina menjawab, "CIAS akan membuatkan cerita." Ketika ditanya Hendra, siapa Pak Hans, Herlina menjawab, "Eeh, bukan dia sendiri sih, tapi kayaknya pegawainya. Saya bilangin ya, kalau nggak punya cerita, saya kirim formulir, saya kirim lagi ke Pak Hans, bos saya. Nanti dia yang ngurus semua. Mereka juga bisa bikin surat kelahiran."

Pada 20 Oktober 2003, Hendra diminta datang ke markas CIAS di Virginia. Di situ dijelaskan bahwa Hendra akan didampingi Achnita Hanny yang bertindak sebagai penerjemah sekaligus pelatihnya yang berpengalaman sebanyak 30 kali. "Jangan terlalu sering lihat ke arah Achnita, ya. Nanti jadi kelihatan bahwa kita kerja sama. Akting-akting dikit. Sebisa mungkin nangis."

Saat latihan wawancara, Hendra diminta menjelaskan bahwa ia dirawat dua hari di rumah sakit karena dianiaya oleh sekelompok orang muslim. "Dihafal betul-betul cerita dan urutan kejadiannya. Pura-pura nggak bisa bahasa Inggris, ya, di depan petugas." Wawancara dengan petugas imigrasi berjalan mulus.

Kini Hans Gouw dan sejumlah tersangka lelaki --dari 23 orang yang ditangkap-- berstatus tahanan luar dengan uang jaminan US$ 50.000 per orang. Akhir pekan lalu, Teguh Wardoyo, Kepala Bidang Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), yang menjenguk tiga tahanan di penjara wanita, Alexandria menjelaskan, mereka meminta bantuan KBRI.

"Kami hanya bisa membantu agar mereka yang ditahan bisa mendapatkan hak-haknya. Misalnya didampingi penasihat hukum, diberi makan dan penginapan yang layak," kata Teguh kepada Gatra. "Mereka bertiga menangis minta pulang ke Indonesia," Teguh menambahkan.

Dari kasus ini bisa ditebak bahwa ke-23 orang tersangka bermain-main dengan hukum Amerika Serikat yang dikenal sangat tangguh. Pola pikir sederhana dan melecehkan hukum, seperti yang biasa dilakukan di Indonesia, mereka anggap bisa diterapkan di Amerika. "Seperti makelar atau biro jasa SIM atau STNK yang banyak terdapat di hampir seluruh kota Indonesia," kata seorang warga Amerika Serikat yang pernah mengajar di Universitas Brawijaya, Malang.

Kebodohan komplotan Hans Gouw bisa dilihat dari cara mereka melaporkan pajak penghasilan yang hanya US$ 5.000 setahun. "Setara gaji pelajar SLTA yang nyambi kerja," kata mantan dosen itu. Sementara itu, Hans Gouw tinggal di rumah mewah seharga US$ 500.000 lebih. Ia juga menyimpan tabungan sebesar ratusan ribu dolar di bank-bank lokal Virginia. Tentu saja, ini membuat curiga petugas pajak yang memonitor transaksi perbankan setiap nasabah bank.

Deposito cek kiriman para peminta suaka juga diberi keterangan "biaya asilum". Bahkan, setiap mobil mewahnya diberi pelat nomor sesuai dengan nama mereka masing-masing. "Semuanya terang-terangan. Bukti di mana-mana, sehingga yang dilakukan Hans Gouw tinggal meneken surat penahanan dirinya," kata mantan dosen itu lagi.

Besar kemungkinan, persidangan ke-26 orang itu digelar awal tahun depan. Bisa dipastikan, mereka masing-masing terkena belasan pasal pidana. Kalau satu pasal saja ancaman hukuman penjaranya lima tahun, maka Hans Gouw hampir pasti menjalani puluhan tahun.

Setelah pengadilan usai kelak, Hans Gouw dan keluarganya harus meninggalkan beberapa rumah, plus mobil-mobil mewahnya, yang bakal disita Pemerintah Amerika Serikat, karena dianggap sebagai hasil kejahatan. Komplotan itu akan ramai-ramai pindah ke sel-sel di hotel prodeo, yang tempat tidur dan kakusnya jadi satu.

Mereka akan meninggalkan hampir 2.000 imigran gelap Indonesia yang mengurus asilum dan kini waswas bakal digerebek dan dipulangkan ke Indonesia. Seperti biji-biji domino berjatuhan," kata Tanudjaja, yang tak tahan mendengar berita ihwal asilum bohong. Tanu juga pernah menjalani "latihan" lima kali di rumah Hans Gouw di Virginia.

Mudah-mudahan saja Hans Gouw, pria Jakarta kelahiran Manado
berusia 53 tahun dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm ini, masih mampu menahan diri. Seperti yang biasa ia lakukan saat menemui setiap pelanggannya. "Tutur bahasanya halus, dan ia seakan mampu menyembunyikan emosinya. Hebat orang itu," kata Tanudjaja sambil geleng-geleng kepala.

[Nasional, Gatra Nomor 4 beredar Jumat, 3 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  hampir kena juga nih (justme@ic..., 13/01/2005 23:34)
terus terang, saya kenal Hans Gouw, tapi saya nggak sempet 'pakai' jasanya, soalnya saya cuma mau minta dikenalin ke immigration lawyer mengenai pemindahan surat2 saya yg nyangkut di imigrasi. Sehabis saya dikenalin ke satu lawyer, that's it. Saya nggak pernah kontak2 dia lagi. Itupun th 2000

Pernah sih, Hans bilang, kalo saya mau, social security numbernya bisa dia yg urusin, tapi biayanya mahal banget. Teman saya kaget, terus dia bilang, kita akan pikirkan. Dijalan, dia bilang, kalao saya u... <659 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Janganlah cepat mensyukurkan (mkoo5087@ro..., 19/12/2004 10:31)
Hans Gouw itu salah besar dalam penipuan dan alasan2 palsunya tetapi kita sebagai manusia beradab harus tahan diri dalam komentar yang emosionil dan sadistic. Sebagai negara berdasarkan hukum, KBRI bertindak adil dalam menolong warganya. Mengambil tindakan hendaknya secara objective, factual, dengan pertimbangan cultural, socio-economic, phychological dan judicial. Masyarakat harus membantu rakyat karena kita adalah sebagian dari anggautanya. Maka berkomentarlah secara broad minded, dan humanist... <975 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Mereka yang ngaku anti racist (syantik@ya..., 17/12/2004 14:03)
Saya alergi sama orang-orang yang bilang anti pribumi, tapi saya lebih alergi sama mereka yang mengaku tidak anti Cina tapi mengeluarkan kata-kata yang mencerminkan seorang "racist". Karena mereka yang seperti itu merasa dirinya paling tahu segalanya, punya pengalaman yang paling banyak dari orang lain dan berkomentar yang tidak mencerminkan seorang yang "educated" ataupun mengenal Tuhan. Orang-orang seperti ini sama saja dengan Mr. Hans Gouw yang racist.
 
 
spacer
  
  pemakai jasa hans (jem24k@ya..., 15/12/2004 02:38)
siapa sih pemakai jasa hans? kalau mau tahu byk dari mereka adlh org pribumi muslim yg ingin dpt ijin tinggal tetap, mereka secara sadar datang kecalo yg namanya hans gouw lalu berpura2 menjadi kristen dan menjelek2kan bangsanya sendiri (baca; pribumi menjelekan bangsanya sendiri) dan memfitnah agamanya sendiri dgn mengatakan org islam diindo bajingan dll pdahal mereka sendiri adlh islam.
apakah iman kepercayaan hanya seharga kartu hijau?
bagaimana tanggung jawabmu di ahkirat nanti?
apa lagi... <740 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Kupada: Jack_mania (homegirl92504, 11/12/2004 23:09)
Jack, kalem aja napa sih. Si Hans itu kan belajar dari pemerintah nya. Kalo pemerintah kelakuannya nggak tipu menipu, rakyat kan pasti sudah lama terbiasa sama yang namanya jujur.

Pemerintah kudu mulai rubah tabiat supaya jadi contoh buat rakyat.

Martha Rumimper
Doyan nipu, hehehehe
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer