Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Api yang Tak Pernah Padam

Sejak Januari 2004, lebih dari 400 orang tewas di Thailand Selatan. Berikut laporan wartawan Gatra yang menjelang Idul Fitri berkunjung ke wilayah itu.

ZARINA lari tunggang langgang menuju sungai. Wajahnya ketakutan. Matanya perih oleh gas air mata. "Mati saya.... Mati saya...," perempuan 38 tahun itu hanya bisa membatin sambil mendekap erat kedua anaknya yang juga ketakutan. Fadel, 2 tahun, ada di tangan kirinya, dan Muhammad Saifud, 3 1/2 tahun, di tangan kanannya.

Ibu dua anak itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia cuma berencana membesuk ibu mertuanya yang dirawat di rumah sakit dekat kantor polisi Distrik Tak Bai, Narathiwat, Thailand Selatan. Tapi, baru saja Zarina duduk dekat kerumunan orang yang berunjuk rasa, semua orang bergerak, berlari ketakutan.

Tanpa pikir panjang, Zarina ikut berlari ke sungai yang jaraknya 100 meter dari kantor polisi. Di belakangnya, puluhan tentara mengejar dengan M-16 di tangan. Suara tembakan terdengar di mana-mana. "Stop! Stop! Ada perempuan dan anak-anak!" jerit para lelaki memohon "army" --sebutan untuk tentara di masyarakat muslim Tak Bai-- berhenti menembak.

Para pengunjuk rasa terjebak di antara arus sungai dan tentara. Zarina, seperti juga yang lain, hanya bisa merunduk-telungkup dan berpikir tentang kematian yang sudah di ujung tanduk, "Mati saya.... Mati saya...." "Ada seorang lelaki yang menegakkan kepala untuk mencari HP-nya yang jatuh. Eh, langsung ditembak mati," kata Zarina kepada Gatra.

Ibu berkulit sawo matang ini menambahkan, ketika itu keberadaan kaum perempuan dan anak-anak sangatlah membantu. "Kalau tidak, kaum laki-laki itu mungkin sudah mati semua di sungai itu (ditembaki)," katanya. Zarina memang beruntung. Meski sempat diinterogasi, ia bisa pulang tanpa kurang suatu apa, selain mungkin trauma dan kemarahan.

Suami Zarina, Suding, 42 tahun, juga beruntung. Meski ditumpuk seperti ikan sarden di dalam truk yang membawanya ke kamp militer di Pattani, serta diinterograsi selama 11 hari, Suding hanya lecet ringan. "Dia (Suding) dipulangkan karena ada jaminan keluarga," ujar Zarina. Jaminannya sertifikat tanah dan uang sebesar 250.000 bath (sekitar Rp 58.750.000).

Nasib warga lain yang ikut berkerumun pada saat unjuk rasa itu lebih tragis: enam orang tewas seketika di tempat berunjuk rasa, 78 orang mati selama perjalanan dari Tak Bai ke kamp militer di Pattani, satu meninggal di rumah sakit, 35 tewas tenggelam di sungai (18 jasad ditemukan di sungai pada 29 Oktober 2004), 730 luka-luka, dan 255 orang hilang tak tentu rimbanya.

Data itu datang dari kelompok separatis PULO (Pattani United Liberation Organization --lihat di situs www.pulo.org). Ini tentu saja berbeda dengan data resmi Pemerintah Thailand, yang banyak dikutip media massa. Pemerintah hanya menyebut angka 80 orang meninggal dalam insiden 25 Oktober ini.

Insiden itu memang menggegerkan Thailand. Langkah Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang meminta maaf, dua hari setelah insiden, tak mampu menyurutkan kegeraman masyarakat muslim Thailand. Dunia internasional juga mengecam keras sikap Pemerintah Thailand yang berlebihan dalam menangani para demonstran.

Pemerintah Thailand memang telah membentuk tim pencari fakta. Tapi sampai sekarang belum jelas benar siapa yang memicu insiden dan berapa korban yang meninggal sebenarnya. Alhasil, insiden Tak Bai juga mengalami nasib seperti insiden-insiden sebelumnya: tak jelas siapa pemicu atau pelakunya!

Aneh, memang. Dari pembantaian orang muslim di Masjid Kru Sec hingga setiap peledakan kuil, pembakaran sekolah, penyerangan rahib atau guru, bahkan pembunuhan polisi atau tentara sekalipun. Semuanya tak pernah benar-benar jelas. Maka, jika datang ke Tak Bai, Anda bisa jadi hanya akan mendapatkan kesenyapan dan tatapan penuh curiga.

Tapi mungkin juga sebaliknya, Anda akan mendapatkan ledakan kemarahan yang berbaur dengan ketakutan yang terpendam dalam semangat perlawanan yang tak pernah padam --dari orang-orang berkulit sawo matang dengan bahasa Melayu Pattani yang kental.

Ketika Gatra sampai di Tak Bai, pagi dan siang masih terasa sepi, meski insiden Tak Bai sudah satu bulan berlalu. Jalan-jalan lengang dan kantor polisi Tak Bai masih dijaga ketat oleh tentara dan polisi. Di Tak Bai, orang Indonesia atau Malaysia harus ekstra hati-hati. Tak boleh lupa membawa paspor atau tanda pengenal.

Di Tak Bai, orang Indonesia dan Malaysia sangat dicurigai. Konon, dari ratusan orang yang mati di Tak Bai, banyak yang tidak beridentitas. Tapi di sakunya, ada segepok uang ringgit dan rupiah!

Berbagai kalangan menyebut insiden Tak Bai sebagai klimaks pergolakan yang terjadi selama satu tahun terakhir (sejak Januari 2004) di tiga provinsi Thailand Selatan (Pattani, Yala, dan Narathiwat). Kawasan itu memang terus tegang. Sepekan saja di Thailand Selatan, Gatra mendapati pembunuhan terhadap guru olahraga di Yala dan peledakan toko di Narathiwat.

Perayot Rahimmula, akademisi muslim di Prince of Songkhla University Pattani, punya teori menarik. Menurut Rahimmula, selesai tidaknya pergolakan di tiga wilayah muslim Thailand Selatan tergantung kebijakan yang diambil pemerintah pusat. Dan pemerintah pusat itu sangat bergantung pada Thaksin Shinawarta, Perdana Menteri Thailand.

"Semua ini adalah hasil beberapa kebijakan Thaksin yang mislead. Dia melihat Thailand Selatan hanya dengan mendengar masukan dari orang-orangnya. In fact, ia tak paham," kata Perayot Rahimmula. "Problemnya ada pada diri Thaksin. Ia kerap mengucapkan sesuatu yang membuat keadaan menjadi bertambah buruk," ia menambahkan.

Dalam pada itu, Rahimmula juga menegaskan bahwa salah satu persoalan yang harus diselesaikan Thaksin adalah adanya conflict of interest dalam pengelolaan keamanan di Thailand Selatan antara tentara dan polisi. "Telah terjadi conflict interest dalam penanganan keamanan tiga wilayah tersebut antara militer dan polisi," katanya.

Perayot Rahimmula, yang pernah melakukan riset tentang hubungan Thailand dan Malaysia, menemukan banyaknya bisnis ilegal di perbatasan. "Bisnis gelap obat-obatan, senjata, prostitusi, judi, hingga penyelundupan itu di-support oleh militer dan polisi," kata Rahimmula, yang setahun terakhir ini banyak menerima surat kaleng berisi ancaman agar ia diam.

"Anda tahu berapa uang yang mereka dapatkan selama satu tahun? Sembilan milyar bath dalam setahun. Itu jumlah yang sangat besar. Potongan kue yang sungguh lezat!" kata Rahimmula. Menurut dia, sejak Thaksin berkuasa, polisi lebih punya peran di tiga provinsi Thailand Selatan tersebut karena Thaksin adalah eks polisi.

"Polisi kini menguasai 80% (dari bisnis-bisnis ilegal itu), sedangkan tentara hanya 20%," kata Perayot Rahimmula. Inilah yang membuat tentara belingsatan ingin kembali masuk ke bisnis tiga daerah itu. "Jika militer ingin kembali ke area ini, ia harus melakukan sesuatu untuk bisa kembali," katanya.

Pertentangan antara dua institusi itulah yang membuat ketiga wilayah tersebut selalu ramai oleh berbagai insiden yang pelakunya tidak jelas. Tentu saja, ini cuma satu analisis. Tapi, jika benar, api perlawanan di tiga wilayah itu tampaknya tak akan pernah padam. "Tak ada pesoalan religius. Semua ini persoalan politik," Perayot Rahimmula menegaskan.

Bagaimana dengan gerakan separatisme? "Jangan melihat muslim Thailand sebagai kelompok separatis. Separatis itu sudah menjadi old story dan jumlahnya sedikit," kata Rahimmula.

Aura ketakutan dan kemarahan, patroli tentara dan polisi, bukan milik Tak Bai atau Narathiwat saja. Hal serupa sangat terasa di Pattani atau Yala. Tempat-tempat bersejarah, pemerintahan, dan jalan masuk ke setiap kota selalu dijaga dan diawasi secara ketat.

Sebut saja Masjid Kru Sec, simbol perjuangan masyarakat muslim Pattani. Sekitar 200 meter dari masjid berusia lima abad ini, puluhan tentara dan polisi berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Anda bisa mengobrol apa saja dengan penduduk. Tapi, jika berkaitan dengan masalah kerusuhan, mereka pasti langsung tertutup dan ekstra hati-hati.

Luqman Hakim Arifin
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com