Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Rumah Horor Amerika di Fallujah

Boikot muslim Suni Irak mengancam keabsahan pemilu Irak. Negara-negara Arab meminta pemilu di Irak ditunda. Serdadu Amerika menyerang kelompok perlawanan dengan membabi buta. Puluhan masjid basis pertahanan kaum militan dilabrak mesin perang Amerika hingga rata dengan tanah. Beredar rekaman pembantaian dalam masjid.

KEVIN Sites hanyalah seorang juru kamera biasa. Tapi, karena pekerjaannya untuk stasiun televisi Amerika NBC, ia turut menjadi bagian dari satu unit pasukan batalyon ke-3 Resimen Marinir Pertama Amerika Serikat. Bersama unitnya, Sites ikut menyerbu Fallujah, kota para pejuang perlawanan Irak, dalam serangan besar-besaran yang diberi sandi Operasi Phantom Fury.

Sites sungguh tak menyangka perjalanannya kali ini bakal membuat liputannya jadi pembicaraan dunia. Semua bermula ketika unit yang ditempel Sites bergerak menuju sebuah masjid di Fallujah pada 13 November 2004. Sehari sebelumnya, masjid itu telah dikuasai unit marinir lain. Namun unit Sites mendengar pejuang Irak berhasil menguasai masjid itu lagi.

Ketika marinir unit Sites mendekat, terdengar tembakan. Tak ada yang bisa memastikan apakah tembakan itu berasal dari dalam masjid. Unit marinir Sites pun menyerbu masuk. Di dalam, mereka menemukan lima pria Irak terbaring penuh luka di lantai. Menurut seorang marinir, mereka itu korban serbuan marinir sehari sebelumnya.

Rekaman gambar Kevin Sites lalu menunjukkan seorang marinir lain tiba-tiba mendekat dan berteriak, "Dia cuma pura-pura mati!" Marinir lain menambahi, "Ya, dia masih bernapas." Di mata Sites, pria Irak yang terbaring luka itu sama sekali tak mengancam. "Seingat saya, tak ada satu senjata pun terlihat di masjid itu selain yang dibawa para marinir," kata Sites.

Tapi, dalam tangkapan kamera Sites terlihat marinir yang mendekati korban itu justru membidikkan senjata dan sengaja menembak pria yang terbaring lemah itu. Dalam rekaman tampak jelas darah pria itu memercik ke tembok. "Nah, sekarang baru dia benar-benar mati," kata si penembak, enteng.

Belakangan, Kevin Sites merasa "ada yang salah" dengan insiden itu. Maka ia memutuskan mengudarakan rekamannya. Tak perlu waktu lama, rekaman Sites pun menggegerkan dunia. Human Rights Watch segera besuara mengutuk. "Ini jelas pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa," kata Joe Stork, direktur divisi Timur Tengah organisasi itu di Washington.

Berdasar hukum internasional, aturan dasar perang menyatakan, prajurit tak bersenjata yang terluka dalam pertempuran harus dilindungi. Maka bagi sebagian orang, penembakan itu mengingatkan mereka pada laku Presiden Amerika Serikat George W. Bush, yang juga mengesampingkan hukum internasional ketika memulai invasinya ke Irak.

Ketika stasiun televisi Al-Jazeera menayangkan rekaman Sites, kemarahan pun menyergap Timur Tengah. Manal Morsi, seorang bankir di Kairo, menyatakan kegusarannya kepada Newsweek. "Penembakan ini, seperti juga insiden Abu Ghraib, menunjukkan sosok sebenarnya pasukan Amerika: mereka penjajah sadis, bukan pasukan pembebasan yang demokratis," katanya.

Yusuf Qardlawi, ulama Mesir yang kini tinggal di Qatar, juga ikut gusar. "Bagaimana mungkin seorang muslim bisa memahami pembantaian saudaranya dengan darah dingin di masjid?" katanya kepada Al-Jazeera. Di dalam negeri Irak, kemarahan jauh lebih menggelegak lagi.

Maysoun Hirmiz, 36 tahun, seorang pedagang beragama Kristen di Baghdad, menyatakan tak puas walau pasukan Amerika telah menarik marinir yang terlibat penembakan dan berjanji melakukan penyidikan. "Mereka menyatakan hal yang sama tentang prajurit yang bersalah di Penjara Abu Ghraib," katanya kepada CBSNews.

"Tapi lihat saja, pelaku kekejaman di Abu Ghraib hingga kini masih bebas, menikmati hidup setelah mereka menghancurkan hidup orang lain," Hirmiz menambahkan. Laila Hamid, seorang sekretaris di Baghdad yang lahir di Fallujah, berucap lain lagi. "Melihat ini, Amerika seharusnya malu dengan segala khotbah mereka tentang demokrasi dan hak asasi manusia," katanya.

Penembakan yang muncul dalam rekaman Sites bukanlah satu-satunya kejadian yang bisa menambah malu Amerika. Lihat saja catatan lanjutan Kevin Sites sebagaimana dilaporkan CBSNews. Menurut juru kamera ini, ternyata tak hanya penembakan yang direkamnya yang terjadi. Tapi tiga korban terluka lain di masjid Fallujah itu juga akhirnya ditembak.

Stasiun televisi Al-Jazeera malah melaporkan bahwa Amnesti Internasional dan pejabat tinggi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Louise Arbour, kini tengah mendesak Pemerintah Amerika untuk melakukan penyidikan serius atas sebuah peristiwa penembakan lain yang sangat mirip kasus dalam rekaman Kevin Sites.

Laporan-laporan tentang pelanggaran perang dan hak asasi oleh pasukan Amerika boleh jadi belum akan berhenti di situ. Pasalnya, Operasi Phantom Fury yang dilaksanakan di Fallujah sejak 8 November memang sengaja didesain untuk membuat jeri penentang-penentang Amerika, di dalam maupun di luar Irak.

Operasi Phantom Fury merupakan operasi penyerbuan besar-besaran berskala penuh. Rencana operasi ini disiapkan selama berminggu-minggu. Pasalnya, Fallujah memang telah lama menjadi simbol penentangan terhadap pendudukan Amerika. Kota ini, misalnya, dibanjiri ratusan pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia, yang ingin ikut berjihad melawan Amerika.

Pasukan pendudukan Amerika juga percaya bahwa di Fallujah-lah Abu Musab al-Zarqawi, yang disebut-sebut sebagai komandan operasi Al-Qaeda di Irak, bermarkas. Maka tak mengherankan jika Phantom Fury merupakan operasi paling besar tentara pendudukan Amerika, setelah operasi penyerbuan Baghdad tahun lalu.

Serangan ke Fallujah dimulai Senin malam 8 November dengan pengeboman udara, yang setara dengan operasi Shock and Awe yang meluluhlantakkan Baghdad pada Maret 2003. Artileri, mortir, dan bom tak kurang dari 500 kilogram dijatuhkan dari udara. Setelah itu, sekitar 18.000 pasukan Amerika ditambah pasukan baru pemerintah sementara Irak pun menyerbu masuk Fallujah.

Di atas kertas, jelas bakal terjadi pertempuran tak seimbang. Pasalnya, kekuatan pejuang perlawanan Irak bersenjata di Fallujah diperkirakan hanya berjumlah 1.300 atau paling banyak sekitar 5.000 orang saja.

Apa pun, serangan habis-habisan pasukan pendudukan Amerika telah memorak-porandakan Fallujah. Kota itu boleh dikata kini tinggal puing. Serangan udara, gempuran artileri, dan pertempuran kota telah meluluhlantakkan hampir seluruh rumah penduduk. Fallujah yang punya julukan "kota masjid" ini pun kini nyaris tak lagi punya masjid yang utuh berdiri.

Sebuah laporan di The Los Angeles Times menyebutkan bahwa Fallujah pasca-serbuan tampak seperti "tablo dari sekumpulan reruntuhan bangunan, mobil-mobil yang terbakar, masjid-masjid yang rusak, dan tumpukan puing". Tak ada satu bangunan pun yang bebas dari kehancuran di Fallujah. Tak juga rumah sakit dan klinik-klinik.

Hampir mustahil menghitung korban jiwa yang jatuh dalam pertempuran memperebutkan Fallujah. Setelah sepekan bertempur, pemerintah sementara Irak memperkirakan sekitar 1.200 pejuang perlawanan telah terbunuh. Tapi ini boleh jadi catatan yang menipu. Pasalnya, para pemimpin dan sebagian besar pejuang perlawanan diperkirakan telah lebih dulu meninggalkan Fallujah.

"Tak ada yang tahu pasti berapa korban sipil di antara 1.200 militan yang diklaim telah dibunuh pasukan Amerika," kata Dahr Jamail, yang menulis dari Baghdad untuk dissidentvoice.com. Belakangan, Dahr Jamail memperoleh bocoran dari seorang petinggi Palang Merah Internasional yang menyebut bahwa sedikitnya telah jatuh 800 korban sipil di Fallujah.

Operasi Phantom Fury di Fallujah memang mencemaskan kalangan Palang Merah. Masyarakat Bulan Sabit Irak, yang disokong penuh oleh Palang Merah Internasional dan Unicef, terang-terangan menyebut situasi di Fallujah sebagai "malapetaka besar" (big disaster). Jumlah korban sipil akibat serbuan ini diperkirakan bakal jauh lebih besar lagi.

Pasalnya, April tahun lalu saja, dalam pengepungan tiga minggu dengan jumlah pasukan yang jauh lebih kecil, pasukan Amerika tercatat menewaskan tak kurang dari 900 warga sipil Fallujah. Apalagi berbeda dengan saat itu, pembersihan Fallujah kini dilakukan dengan operasi dari rumah ke rumah. Artinya, yang terjadi benar-benar pertempuran kota alias urban street fighting.

Perang jenis ini jelas memungkinkan jatuhnya korban jiwa lebih besar. Pada Perang Teluk I tahun 1991, Presiden Amerika George Bush Senior menolak desakan untuk menyerbu Baghdad karena menghindari kemungkinan terjadinya urban street fighting ini. Bush Senior tak ingin jatuh korban jiwa yang tak perlu.

Tapi, kali ini, Amerika tak lagi menghindari jenis perang itu. Akibatnya, tak ada yang tahu pasti berapa banyak pelanggaran Konvensi Jenewa dilakukan oleh pasukan Amerika. Sebuah video yang diudarakan stasiun televisi Australia, ABC, menggambarkan seorang marinir berteriak pada rekannya, "Saya telah melukai seseorang. Dia ada di antara dua bangunan itu."

Seorang marinir lain segera bergerak menuju lorong yang membatasi dua rumah itu. Ia tampak memanjat drum, lalu menembakkan senjatanya dengan dingin. "Sudah beres," katanya kemudian. Tak ada yang tahu pasti siapa yang jadi korban di lorong itu. Mujahidin non-Arab, pejuang lokal, atau sekadar penduduk sipil pria yang kebetulan tak sempat meninggalkan Fallujah?

Pelanggaran Konvensi Jenewa yang dilakukan pasukan Amerika tak hanya soal penembakan membabi buta. Pasukan pendudukan juga sempat melarang konvoi Bulan Sabit Irak membawa bantuan darurat menuju rumah sakit. Pada kasus lain, mereka ganti menghalang-halangi penduduk yang terluka untuk sampai di rumah sakit dan memperoleh bantuan segera.

"Kami telah melakukan genosida di Irak," kata James Massey, mantan marinir dari Carolina Utara. Massey, yang kini menentang perang, mengaku banyak rekannya mudah menarik picu senjata ketika bertugas di Irak. "Kami bak koboi yang masuk kota lalu asyik menembaki tempat itu," katanya. Menurut Massey, rekannya pernah menembaki 30 warga sipil di sebuah checkpoint dalam sehari.

Tapi pertempuran merebut Fallujah tak bisa dikatakan mudah bagi pasukan Amerika. Rabu malam, pada saat naskah ini ditulis, misalnya, muncul laporan dari Muhammad Abu Nasr, jurnalis Free Arab Voice, yang menyebutkan bahwa mujahidin Fallujah telah berhasil membebaskan Al-Wahdah, salah satu kawasan di pusat kota itu, dari tangan pasukan pendudukan Amerika.

Namun, setelah menguasai kawasan Al-Wahdah, pihak mujahidin sengaja mundur teratur. Setelah Al-Wahdah, pihak mujahidin melanjutkan serangan ke kawasan Al-Azraqiyah di barat Fallujah. Menurut Free Arab Voice, mujahidin memang sengaja melakukan serangan acak, untuk membuktikan bahwa Fallujah belum sepenuhnya dikuasai pasukan Amerika.

Pertempuran memang tak selesai di Fallujah. Pasalnya, begitu Fallujah diserang, para pejuang perlawanan Irak dengan cerdik mengalihkan sasaran ke kota-kota lain, seperti Mosul, Beiji, Samara, dan Ramadi. Seolah tak mau kalah, pasca-Fallujah, pasukan pendudukan Amerika juga langsung menggelar serangan ke beberapa kota dekat Baghdad yang dihuni mayoritas kaum Suni.

Serangan ke Fallujah, dan pertempuran susulannya, jelas dilakukan Amerika dan perdana menteri sementara Irak Iyad Allawi untuk memastikan pemilu Irak berlangsung tepat waktu pada 30 Januari 2005. Pasalnya, kelompok Suni memang gencar mengancam boikot pemilu. Tapi tak ada yang menjamin serangan itu efektif (lihat: Petaka Amerika di Tanah Abunawas).

Yang lebih penting, perang di "negeri 1001 malam" ini masih belum ada tanda-tanda bakal berakhir. Pasalnya, keberadaan tentara Amerika, sumber utama munculnya gerakan perlawanan, masih belum jelas kapan berakhir. Upaya memperjelas batas kehadiran pasukan Amerika sebenarnya telah dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Prancis, Michael Barnier.

Pada konferensi setingkat menteri luar negeri untuk membicarakan masalah Irak, yang berlangsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, Bernier menyatakan, demi perdamaian, warga Irak berhak tahu kapan pasukan pendudukan bakal pergi. Bernier mengingatkan peserta konferensi pada resolusi 1546 Dewan Keamanan, yang menyebut pasukan koalisi harus pergi pada 31 Desember 2005.

Tapi pengaruh Menteri Luar Negeri Amerika, Colin Powell, dan Menteri Luar Negeri Inggris, Jack Straw, ternyata lebih kuat. Alhasil, teks kesepakatan pertemuan Sharm el-Sheikh menyatakan kehadiran pasukan pendudukan tak dibatasi. Artinya, pertempuran perlawanan terhadap pasukan pendudukan, juga porak-porandanya kota seperti Fallujah, kemungkinan akan terus berlangsung. Entah sampai kapan....

Krisnadi Yuliawan



Trio Baru Gedung Putih

DENGAN wajah berseri, George Walker Bush mengucapkan kalimat penuh sanjungan ke alamat Condoleezza Rice. "Kementerian Luar Negeri merupakan wajah Amerika di dunia," ucap Bush saat menetapkan penasihat keamanannya itu sebagai Menteri Luar Negeri, menggantikan Colin Powell. "Lewat Doktor Rice," lanjutnya, "dunia akan melihat kekuatan, keanggunan, dan tata krama negeri kita. Selama empat tahun terakhir ini, saya percaya pada nasihatnya, menghargai suara dan penilaiannya yang mantap," katanya, seperti dikutip kantor berita Prancis, AFP, Selasa pekan silam.

Naiknya Rice ke kursi Menteri Luar Negeri kian menggenapkan sifat monolitik pemerintahan Bush. Doktor ahli Rusia lulusan Universitas Denver ini selalu sejalan dengan dua tokoh neokonservatif yang selama ini sangat mewarnai kebijakan luar negeri Amerika: Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan Wakil Presiden Dick Cheney.

Selama ini, Colin Powell kerap menjadi "penghalang" bagi kebijakan Bush, terutama urusan Irak. Mantan jenderal ini pun diketahui tak cocok dengan Rumsfeld. Sementara Rice dikenal sangat loyal kepada sang presiden. Ia diyakini bakal membela mati-matian politik Amerika di Irak, seperti sikapnya selama ini. Ia juga bakal mempertahankan kebijakan unilateral dan serangan penangkal (pre-emptive strike) Bush, walau itu dikecam dunia internasional.

Bush sendiri mengakui memilih Rice untuk menjadi ujung tombak agenda pemerintahannya dalam perang melawan terorisme dan penegakan demokrasi di bumi. Juga masalah Irak serta perdamaian di Timur Tengah sepeninggal Yasser Arafat. "Saya yakin, Condi Rice adalah sosok yang tepat untuk menghadapi tantangan itu," kata Bush, seperti dikutip International Herald Tribune (IHT).

Sejumlah pengamat menilai trio Rice-Cheney-Rumsfeld akan menerapkan kebijakan luar negeri Amerika yang kian keras. Ahmed al-Baghdadi, pakar ilmu politik dari Universitas Kuwait, menilai kebijakan lebih keras itu memang dibutuhkan Bush untuk menyelesaikan agenda yang diprioritaskannya. Al-Baghdadi pada CBS News menyatakan, Rice bakal mampu mengubah arah kebijakan luar negeri Amerika berkat kepribadiannya yang kuat. "Perannya bisa meningkatkan determinasi kebijakan Amerika dan mendorong penyelesaian reformasi dan pembentukan Irak yang baru," katanya.

Namun penetapan Rice bukan sepi dari kritik. Perempuan kelahiran 14 November 1954 itu dinilai belum mumpuni untuk menduduki kursi Menteri Luar Negeri. Kekuatannya hanyalah kedekatan hubungan Rice dengan Bush. "Para pemimpin di pemerintahan tahu persis, apa yang diucapkan Rice bukan lain apa yang dikatakan Pak Presiden," ujar Lamar Alexander, senator Republiken dari Tennessee.

David Rothkopf, penulis buku Running the World, yang memaparkan ihwal Dewan Keamanan Nasional, menganggap langkah yang ditempuh Bush itu berbahaya. Pengangkatan orang-orang terdekatnya membuat sosok-sosok itu sekadar corong yang menggemakan pandangan sang presiden. "Yang hendak dilihat Bush adalah loyalitas dan kepaduan di tubuh tim kebijakan luar negerinya," katanya, sebagaimana dikutip IHT.

Namun ia menilai kedekatan hubungan dengan Presiden Bush bisa membuat kinerja Rice menjadi lebih efektif. Ia berpeluang lebih besar menjadi sosok penyeimbang ketimbang Colin Powell. "Hubungan uniknya dengan presiden memungkinkan Rice melawan Rumsfeld," katanya.

Pengangkatan Rice rupanya disambut gembira oleh sejumlah kalangan di Israel. Hal itu tampak dari ucapan Menteri Luar Negeri Silvan Shalom. "Rice adalah mitra sejati Israel. Sikap bersahabatnya terhadap Israel sangat mendalam dan keluar dari rasa keagamaan," katanya.

Para analis dari komunitas Yahudi Amerika pun menilai Rice mampu menjaga konsistensi kebijakan pemerintah untuk masalah Palestina-Israel. Mereka melihat, selama empat tahun, pernyataan politik Gedung Putih kerap tidak klop dengan Kementerian Luar Negeri. "Negara ini mesti menegakkan politik luar negeri yang konsisten, dan Doktor Rice tampak mampu menjaga konsistensi itu," kata Malcolm Hoenlein, seorang tokoh Yahudi-Amerika.

Kini tinggal menunggu saat persetujuan Kongres. Rice tak lama lagi menjalankan tugas di posisi baru: menjadi cermin wajah Amerika bagi dunia atau sekadar "corong" Bush di ajang pergaulan internasional.

Erwin Y. Salim
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com