Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

KORUPSI
Idul Fitri di Isolasi

Belum semua koruptor yang dikirim ke Nusakambangan bisa beradaptasi. Pande Lubis masih tertekan. Minta penyedot udara dan toilet duduk.

DUA nama koruptor sudah dikeluarkan dari saku Hamid Awaludin. Iwan Zulkarnain dan Asri Hadi, terpidana korupsi 16 dan 10 tahun penjara, disebut-sebut akan dinusakambangankan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia itu. Kedua narapidana Lembaga Pemasyarakatan (LP) Makassar itu akan segera menyusul enam terpidana korupsi lain yang dikirim ke Pulau Nusakambangan, awal November lalu.

Keenam narapidana itu ditempatkan di tiga lokasi berbeda di pulau terpencil sebelah selatan Cilacap, Jawa Tengah, ini. Seperti dilaporkan wartawan Gatra, Basfin Siregar dan Deni Muliya Barus, yang berkunjung ke Nusakambangan Lebaran lalu, hanya beberapa dari mereka yang terlihat mengikuti kegiatan Hari Raya Idul Fitri. Di LP Batu, salah satu kompleks LP di Nusakambangan, misalnya, Dedi Abdul Kadir tidak terlihat salat id. Kabarnya, ia sakit. Bahkan sempat diberi obat oleh petugas.

Di antara alunan salawat Nabi, hanya Duryani, terpidana korupsi Rp 978 juta dana kredit usaha tani (KUT), yang tampak menyatu dengan penghuni lain. Di muka masjid, Duryani mengeluhkan perlakuan padanya. Katanya, sudah 11 hari ia tinggal di sana. Tapi mantan Sekretaris Lembaga Swadaya Masyarakat Wangun Caruban, Cirebon, itu masih juga ditaruh di sel isolasi. "Sel isolasi itu kan untuk pelanggar disiplin penjara. Saya justru kooperatif," katanya.

Dalam sel yang dicengkeram tiga lapis pintu itu, Duryani tidak bisa bergaul dengan narapidana lain. Pintu-pintu itu hanya dibuka di waktu salat. Ia harus kembali sehabis salat di masjid. "Apa khawatir kalau penjara ini dikorupsi oleh saya?" katanya. Kepala LP Batu, Sudwi Harjanto, menjawab dengan kalem. "Memangnya disangka saya tega? Saya juga kasihan. Tapi, kan cuma menjalankan tugas," tuturnya. Menurut Kepala Pengamanan LP Batu, Eddy Wahyu Nugroho, pengisolasian itu merupakan prosedur tetap yang diberlakukan kepada tiap narapidana yang baru saja dipindahkan ke sana. "Semacam orientasi," katanya.

Tiga buku, lembaran kertas, dan pensil menyertai Duryani dalam sel isolasi. Di sana ia membuat catatan, yang katanya akan dibukukan. Kalau sudah jadi, buku bertema psikologi itu akan dijuduli Mengendalikan Keluarga dari Balik Terali Besi. Isinya, sejumlah tips agar keluarga tetap utuh dan harmonis meski suami di penjara. Soalnya, banyak istri mengajukan cerai ketika suaminya menjadi narapidana. Rujukan dia adalah buku kehidupan Bung Hatta dan Buya Hamka dalam penjara, bekalnya dari LP Sukamiskin, Bandung. "Buku ini bertujuan mencegah agar perceraian itu tidak terjadi," kata lelaki beristri tiga itu.

Proyek menulis yang ia mulai di LP Sukamiskin itu agak tersendat di Nusakambangan. Selain karena cuma dibekali pensil dan lembaran kertas, di sana juga tak ada meja. Jadi, ia pun harus tiduran di lantai setiap menulis. Bagi dia, Sukamiskin jauh lebih enak. Pintunya hanya dikunci empat jam sehari.

Duryani sama sekali tak pernah menduga akan dipindahkan ke sana. Lelaki yang menjalani sisa hukuman tiga tahun penjara itu merasa ada yang lebih layak dikirim ke sana selain dia. "Contohnya H. Ramli Araby dari PT QSAR. Kalau tidak salah, masa hukumannya masih sembilan tahun," katanya. Duryani berharap, ia tak cuma jadi korban gebrakan 100 hari. "Mudah-mudahan berkesinambungan," katanya.

Dulu, Duryani membayangkan sel demi sel di Nusakambangan dihubungkan oleh hutan. Banyak macan dan binatang buas. "Saya bahkan sempat ditakut-takuti, dibilangin akan diborgol terus dan tidak diberi kesempatan untuk kencing," katanya. Akhirnya, ia membawa plastik dan membagikannya pada teman-temannya. "Untuk kencing," katanya menjawab teman-temannya. Untunglah, Nusakambangan tak mirip benar dengan bayangannya.

Sewaktu menyelewengkan uang KUT dulu, Duryani juga tak pernah menyangka akan diganjar enam tahun penjara. Waktu itu, kata dia, pemerintah berjanji membeli bawang petani. Tetapi janji itu ditarik. Petani bawang datang menagih padanya. Ia memutuskan untuk membeli bawang itu. Jumlahnya sampai Rp 978 juta. "Waktu itu, saya sadar bisa dipenjara. Tapi, saya pikir, ini demi menolong petani," ujarnya. Dugaannya sedikit meleset. Hukuman yang dikira akan jatuh tujuh bulan jauh berlipat ganda menjadi enam tahun.

Lalu, di LP Kembangkuning ada Lintong Siringoringo, terdakwa kasus korupsi Bank Mandiri, dan Saiful Bahri Ismail. Bagi Lintong, LP Kembangkuning adalah penjara sesungguhnya. "Kita tidak diperlakukan secara istimewa di sini," katanya. Tak ada televisi atau radio di kamarnya. "Kalau di LP Cipinang, pesan makanan malam-malam ke luar juga bisa," katanya sambil terkekeh.

Di LP Permisan, yang paling terpencil di Nusakambangan, mendekam Pande Lubis, 67 tahun, mantan Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional, dan Pratomo. Keduanya menolak diwawancarai. Menurut Kepala LP Permisan, Kristiadi, Pande masih tampak tertekan. Ia berulang kali mengeluhkan rendahnya fasilitas dalam selnya. Pande, misalnya, minta diberi bantal dan lapisan kasa antinyamuk pada jeruji selnya. Pengisap rokok Virginia itu juga minta alat penyedot udara agar bau dari WC di selnya tidak terlalu kuat. Selain itu, Pande minta toilet di selnya diganti dengan toilet duduk. Sebagian besar permintaan itu tentu tak dikabulkan Kristiadi.

Bagi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Erry Riyana Hardjapamekas, setidaknya penusakambangan itu memberi efek publisitas bagi para koruptor. Tapi, seperti dikhawatirkan Koordinator Indonesia Corruption Watch, Teten Masduki, corengan kinerja sipir LP Nusakambangan juga sudah menjadi rahasia umum. Kepada Muchamad Ghufron dari Gatra, ia menyatakan kekhawatirannya, "Pengucilan itu juga menjauhkan dari pengawasan masyarakat," katanya.

Rita Triana Budiarti



Getar Pesan Pengucilan

"KLOTER" kedua terpidana korupsi akan segera diterbangkan ke Nusakambangan. Kepada Basfin Siregar dan Deni Muliya Barus dari Gatra, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hamid Awaludin, mengungkapkan latar belakang kebijakannya. Berikut petikannya:

Bagaimana gagasan memindahkan koruptor ke Nusakambangan itu?

Banyak kritik bahwa pemindahan mereka ke Nusakambangan itu hanya mengalihkan perhatian, sekadar sensasi, atau mencari popularitas. Tidak apa-apa. Kritik itu memang membesarkan kami. Dasar berpikirnya begini, kita sepakat bahwa salah satu masalah bangsa kita adalah praktek korupsi, yang bahkan oleh para ahli hukum sudah dikatakan sebagai extraordinary crime. Nah, sekarang ada orang yang dihukum oleh undang-undang bahwa ia bersalah menurut hukum karena praktek korupsi. Lalu ia dimasukkan ke penjara, katakanlah Cipinang. Tetapi, menurut saya, masalahnya belum selesai di situ.

Apa kekurangan Cipinang?

Ia hanya dihukum oleh undang-undang. Masyarakat belum menghukum. Sementara kita sepakat bahwa korupsi adalah extraordinary crime yang melumpuhkan urat nadi bangsa. Apa yang Anda bayangkan tentang Nusakambangan? Kalau kita bicara geografi Nusakambangan, yang terlintas di benak Anda adalah pengucilan, kan? Nah, saya mau para koruptor ini tidak hanya dihukum oleh undang-undang, melainkan juga dihukum oleh masyarakat dengan cara you harus terisolasi nun jauh di sana. Karena itu, pesan moralnya adalah pelaku korupsi itu tidak mendapat pembenaran di masyarakat, karena masyarakat sendiri mengucilkan ia secara geografis. Meskipun dengan alat transportasi dan telekomunikasi bisa semakin dekat, pesan moralnya adalah masyarakat mengisolasi dia.

Anda akan mengawasi fasilitas khusus di Nusakambangan?

Oh, iya. Itu akan saya lakukan. Tenang saja. Saya cuma tidak lakukan sekarang karena mereka sudah siap. Saya tidak mau. Saya bukan orang bodoh. Saya tunggu, baru saya muncul.

Apakah Anda akan mengirim semua koruptor atau yang tergolong koruptor besar saja?

Di sana selnya kan terbatas. Jadi, saya beri prioritas. Terdakwa korupsi yang paling tinggi dulu hukumannya. Yang paling tinggi dulu. Kalau masih ada yang kosong, baru kami sisir lagi. Dan saya tidak hanya mau dari Jakarta, yang dari daerah juga akan saya kirim.

Apa kriterianya?

Saya jelas pake kriteria. Misalnya kemarin ada yang tanya, "Lho, bagaimana itu dengan perbankan?" Perbankan itu tidak dihukum karena korupsi lho, tapi karena penggelapan. Beda. Tapi, kalau nanti masih ada ruang, saya sisir lagi kriteria berikut, semua yang terlibat kasus perbankan. Jadi, bertahap. Pertama, korupsi dulu karena ini yang jadi tema sentral bangsa, extraordinary crime dan visual oleh publik. Jadi, saya harus antisipasi. Saya tidak bisa biarkan.

Apakah ini sekadar gebrakan atau akan berkelanjutan?

Yang penting, saya lakukan sesuatu yang baik. Begitu lho. Tidak usah Anda pertanyakan apakah ini gebrakan atau bukan. Niat saya adalah mengirim pesan kepada publik, menggentarkan orang-orang untuk tidak korupsi. Dia sudah lihat. Oh, kalau kita korupsi, selain kita dihukum badan, ternyata kita juga dijauhkan dari keluarga. Pesannya itu.
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com