Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Tiada Hasil Tim Penguak Misteri

Kematian Munir di pesawat Garuda menyisakan banyak tanda tanya. Hasil otopsi menyebutkan, ada racun arsen di tubuhnya. Siapa yang meracuni tokoh hak asasi manusia itu? Ia memegang kasus besar yang belum diungkap.

Munir (Yahoo! News/REUTERS/Stringer)DUKUNGAN terhadap Suciwati terus mengalir. DPR berjanji membentuk tim gabungan. Rabu lalu, di luar agenda resmi, Presiden Susilo "SBY" Bambang Yudhoyono menerima istri mendiang Munir itu. Suciwati ditemani Mufti Makarim dari Kontras, Rachland Nashidik dari Imparsial, dan Todung Mulya Lubis, seorang pendiri Kontras.

SBY mendukung dibentuknya tim pencari fakta (TPF) independen. "Beliau mengikuti kasus ini dari hari ke hari," kata juru bicara presiden, Andi Mallarangeng. Rachland mengusulkan, TPF dibentuk berdasarkan keputusan presiden dan hasilnya dilaporkan ke presiden.

TPF merupakan bagian dari tim penyelidikan pro-justisia. Sejumlah nama diusulkan Rachland sebagai anggota, seperti Amien Rais, Syafi'i Ma'arif, Todung Mulya Lubis, dan Abdul Hakim Garuda Nusantara. Anggotanya ditambah dari kepolisian dan kejaksaan.

Perkembangan ini membuat penyelidikan kematian Munir makin ramai. Maklum, kematian Munir memang tak wajar. Salah satu pendiri Kontras yang juga pejuang hak asasi manusia itu diduga dibunuh pihak tertentu.

Tanda-tanda kematian Munir muncul ketika pesawat Garuda jenis Boeing 747-400 nomor penerbangan GA 974 tiba di Bandara Changi, Singapura, pukul 00.40, setelah terbang selama satu jam 45 menit dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Di Changi, penumpang beristirahat satu jam 10 menit. Saat itu, Munir mengirim pesan singkat ke telepon genggam istrinya, Suciwati, di Bekasi, "Kok perut saya nggak enak, ya? Jangan-jangan mag saya kambuh."

Suciwati tak terlalu hirau akan hal itu. Ibu dua anak ini tidak pernah menyangka SMS itu sebagai pesan terakhir suaminya. Setelah terbang selama 10 jam dari Changi menuju Bandara Schipol, Amsterdam, tepatnya pukul 11.05 WIB (7 September 2004), Munir didapati telah meninggal. Ketika itu, pesawat yang ditumpangi Munir masih berada di langit Hongaria. Singapura-Amsterdam memerlukan waktu 13 jam penerbangan.

Sepanjang perjalanan Singapura-Amsterdam, Munir begitu tersiksa. Tak lama setelah pesawat lepas landas dari Bandara Changi, tepatnya pukul 01.50 waktu setempat, Munir didera sakit perut, mual, dan berak-berak. Persis orang sakit kolera atau muntaber. Setelah terbang tiga jam, Dokter Tarmizi Hakim yang tidur terkaget-kaget ketika dibangunkan oleh pramugari.

Tarmizi baru saja berkenalan dengan Munir saat keduanya berpapasan di pintu pesawat di Bandara Changi. Saat itu, Tarmizi ngobrol dengan pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 itu. "Tak ada tanda-tanda sakit. Juga nggak mengeluh," kata Tarmizi. Makanya, ia kaget bukan kepalang saat Munir bercerita sudah muntah dan berak sekitar enam kali dalam setengah jam.

Munir yang duduk di kursi nomor 40G mengerang. Tarmizi segera memberi Munir obat muntah dan obat mencret yang selalu di bawanya ketika pergi. Tapi sakit Munir tak kunjung reda. "Ia gelisah dan mengaduh terus," ujar Tarmizi. Selama setengah jam menemani Munir, Tarmizi menyaksikan Direktur Eksekutif Imparsial itu enam kali muntah-muntah.

Oleh Tarmizi, Munir segera diberi obat penenang. Toh, sakit perut Munir sebentar hilang, sebentar muncul lagi. Tarmizi menduga, Munir mengalami keracunan makanan. Munir sendiri mengaku tidak ada makanan aneh yang disantap selama perjalanan, bahkan sebelum lepas landas dari Jakarta.

Dari pramugari Tarmizi tahu Munir minum air jeruk. Padahal, pria bertubuh ceking dan berambut pirang itu sudah lama menderita sakit mag. "Tapi minum air jeruk tidak akan membuat menderita seperti ini," kata Tarmizi. Setelah agak tenang, Munir ingin beristirahat. Ia tiduran telentang di dekat WC. Setelah Munir tidur, Tarmizi pun lelap.

Begitu bangun, hari sudah pagi. Tarmizi segera makan. Kepada pramugari, ia bertanya ihwal kondisi Munir. "Alhamdulillah, Dok, ia tidur," kata pramugari. Munir memang tidak di tempat semula, tapi sudah pindah ke depan. Tiba-tiba Tarmizi diminta oleh pramugara Madjid Nasution melihat kondisi Munir. "Kok tidak bergerak, Dok," kata Nasution. Saat diperiksa, Munir sudah meninggal.

"Nggak biasa orang muntah dan berak meninggal secepat ini," kata Tarmizi. Tarmizi menduga, pasti ada sesuatu. Makanya, ketika mendarat di Bandara Schipol, Belanda, ia minta kepada polisi setempat agar diberi hasil otopsi. Ia dijanjikan otopsi selesai sehari. Setelah ditunggu-tunggu, lebih dari sepekan hasil otopsi Munir yang akan kuliah hukum di Utrech itu tidak kunjung keluar.

Nun jauh di kawasan Ridderkerk, kota kecil dekat Rotterdam, Belanda, Sri Rusminingtyas, 40 tahun, kebat-kebit. Toh, udara dingin pagi yang menggigit tak menghalanginya untuk pergi. Bersama suaminya, Leo Fontijne, ia pergi ke Rotterdam Central Station. Dari sana, Sri naik kereta menuju Schipol. Dalam perjalanan, ia membayangkan cengiran khas temannya, Munir. "Kalau ketemu, aku mau ngomel. Datang kok pagi benar, dingin, males bangun," Sri menggerutu.

Menurut pesan singkat Munir ke Sri sebelumnya, pesawat diperkirakan mendarat di Schipol pukul delapan pagi. Makanya, ia berusaha datang setengah jam sebelumnya. Sandwich dua tangkup plus air mineral dibawa biar nanti tiba di bandara, Munir bisa sarapan. Karena belum tahu rencana Munir berikutnya, Sri telah menyiapkan rumahnya sebagai tempat singgah.

Sri mengenal Munir pada tahun 2000. Saat itu, Munir aktif di YLBHI, sementara Sri di Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan. Sri juga nitip ijazahnya yang lupa dibawa ketika pindah ke Belanda. Tak lama di Schipol, pesawat GA 974 mendarat. Para penumpang berhamburan di pintu keluar. Detik demi detik, dan menit berganti jam, tapi wajah yang ditunggu tak juga nongol.

Sampai sebuah pengumuman dalam bahasa Belanda menyebut-nyebut nama Munir. Sri ngedumel karena tak mengerti bahasa Belanda. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Seseorang yang bekerja di Imparsial meneleponnya. "Mbak Sri di mana?" "Aku di Schipol, nunggu Munir. Tapi dia belum nongol." Dari seberang terdengar suara lagi, "Kami baru dapat berita dari Garuda, katanya Cak Munir meninggal. Coba dicek, bener nggak."

Sri menggigil. Telepon terputus. Dalam kondisi panik, Sri segera bertanya ke kru Garuda yang keluar dari pesawat. Para kru membenarkan, tapi tidak berani bercerita lebih jauh. Akan ada pernyataan dari Garuda.

Sri pun langsung menuju information desk. "I'm waiting for Munir. Could somebody tell me what happened with him?" Sri nyerocos. Sang officer menyarankan Sri bertanya kepada tiga orang yang sedang berjaga di mulut pintu kedatangan Garuda. Sri melontarkan pertanyaan yang sama. Ketika petugas mengangguk, Sri pun histeris. "Aku sendirian. Bayangin, mau jemput teman tapi sudah jadi mayat. Di negeri orang pula," kata Sri kepada Gatra.

Setelah itu, Sri diajak ke kantor polisi Schipol. Ia diinterogasi soal kesehatan Munir, juga pertanyaan apakah Munir punya musuh. "Setahu saya, beberapa kali Munir menerima ancaman pembunuhan, diteror, dan sebagainya," kata Sri. Petugas yang menginterogasi bengong. Mereka bertanya, siapa si Munir itu? Setelah bercerita panjang lebar tentang aktivitas Munir, polisi baru ngeh.

Polisi yang menginterogasi lantas mengontak sana-sini. Akhirnya, semua akses ke lokasi sekitar Garuda ditutup. Tak ada seorang pun yang boleh mendekat. Polisi berseragam biru digantikan oleh Marsose, polisi khusus di bawah polisi militer yang khusus menangani kasus pembunuhan dan kriminalitas. Sejak diambil alih Marsose itu, Sri sudah menduga bahwa Munir meninggal tak wajar.

Dalam kondisi bingung, tiba-tiba Leo menelepon dan menanyakan apakah Sri sudah tiba di bandara. Karena Sri histeris, Leo yang menikahi Sri pada 5 Juni lalu itu segera meninggalkan kantor. Setelah Leo datang, suasana makin tegang. Karena Sri shock, hanya Leo yang dibawa ke kamar mayat Schipol untuk mengidentifikasi Munir. Belakangan baru Sri. Setelah memastikan mayat Munir, sejak itu Sri jadi wakil keluarga Munir di Belanda.

Kecurigaan Sri Rusminingtyas dan Dokter Tarmizi Hakim soal ketidakwajaran kematian Munir terjawab oleh hasil otopsi Netherland Forensich Institute (NFI). Otopsi itu menemukan, dalam tubuh Munir ada timbunan racun arsen. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung: mencapai 460 miligram --lebih dari tiga kali dari kemampuan tubuh manusia untuk bisa bertahan hidup.

Siapa yang meracun Munir? Edwin Partogi, Ketua Divisi Operasional Kontras, mencurigai seorang pegawai penerbangan yang mengajak Munir pindah tempat dari kelas ekonomi ke kelas bisnis dalam perjalanan Jakarta-Singapura. Ia putra seorang pakar paranormal yang dekat dengan aparat berwajib. Siapa dia? "Nanti saja, ada saatnya," kata Edwin kepada Julkifli Marbun dari Gatra.

Berita kemungkinan Munir diracun itu pertama kali dilansir oleh koran sore NRC Handesblad, 11 November lalu. Berita yang dilaporkan oleh Dirk Vlasblom, koresponden NRC Handesblad di Indonesia, itu bikin geger. Kabarnya, Dirk mendapatkan info itu dari Dirjen Urusan Amerika dan Eropa, Departemen Luar Negeri, Arizal Effendi. Tapi, baik Dirk maupun Arizal membantahnya. "Tak benar itu," kata Dirk kepada Rahman Mulya dari Gatra.

Dugaan itu didasari kabar, sebenarnya pada 14 September sudah ada kesimpulan otopsi dari Bandara Schipol bahwa Munir meninggal karena diracun. Otopsi ini diuji lagi oleh NFI. Akhir September, setelah ada kesimpulan NFI, hasil otopsi itu dikirim ke Indonesia. Namun kabar ini dibantah oleh Arizal Effendi.

Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Australia yang selama ini bungkam itu menceritakan, pukul 10.30 pada 11 November menerima kedatangan Dubes Belanda untuk Indonesia, Rudolf Jan Treffers. Sang dubes menyerahkan dua buah fotokopi, satu berbahasa Belanda, satunya lagi berbahasa Inggris. Rudolf berpesan agar dokumen itu diserahkan ke pihak berwenang.

Arizal segera melaporkan ke Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Ternyata Wirajuda di Myanmar. Ia berusaha menghubungi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo AS serta Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar, tapi keduanya tak ada di tempat. Baru sore harinya ia menemui Kabareskrim Mabes Polri, Komisaris Jenderal Suyitno Landung. Sementara juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, menginformasikan hal itu ke Suciwati.

Inilah yang kemudian memicu debat. Menurut Rachland Nashidik, keluarga Munir berhak tahu hasil otopsi itu. Tapi usaha Suciwati dan Imparsial ke polisi membentur tembok. Menurut polisi, dokumen tersebut belum lengkap. "Itu analisis, bukan hasil otopsi," kata Suyitno Landung. Arizal Effendi, ketika ditanya soal ini, mengaku tidak tahu apakah analisis atau hasil otopsi. Ia sempat membaca, tapi isinya amat teknis. Ada unsur kimia segala.

Kepada Elmy Diah Larasati dari Gatra, Suyitno membantah mempersulit Suciwati mendapatkan hasil otopsi. "Hasil itu milik polisi karena kematian Munir tidak wajar," katanya. Toh, Rabu lalu, ia memberi kesempatan Suciwati untuk membacanya. Guna memperdalam dokumen itu, Polri membentuk tim investigasi. Di dalam negeri, orang-orang Garuda sudah dimintai keterangan.

Sebanyak tujuh orang tim lainnya, antara lain Anton Charliyan (polisi), Budi Sampurna dan Ridla Bakri (Universitas Indonesia), serta Andi Amhad Basari (Departemen Luar Negeri), sejak Jumat lalu berada di Belanda. Tujuannya, meminta salinan asli otopsi. Sayang, tim datang tanpa persiapan. Meskipun pegawai Kedubes RI di Den Haag sibuk bukan main, tim nyaris tak membuahkan hasil apa-apa. Maklum, tim datang akhir pekan di sore hari, saat Departemen Luar Negeri Belanda hendak tutup.

Tim diterima Robert Milders, Director Asia Oceania. Saat itu terungkap bahwa belum ada surat resmi dari Pemerintah RI tentang kedatangan tim ini. "Suratnya diusahakan menyusul," jawab Mulya Wirana, wakil KBRI, ketika ditanya oleh Milders. Surat Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh yang dikirim ke Belanda, Selasa lalu, baru diterima Rabu sore. Sampai tulisan ini naik cetak, tim belum membuahkan apa-apa. "Pertemuan tidak membicarakan hal substansial," kata Usman Hamid dari Kontras yang mewakili keluarga Munir.

Khudori, Bernadetta Febriana, dan Asmayani Kusrini (Den Haag)



Racun Tuan Magnus

HASIL otopsi tim forensik Belanda terhadap pegiat hak-hak asasi manusia, Munir, kembali membuat arsen naik daun. Arsen, zat kimia bernomor atom 33, ini memang bukan pertama kali makan korban. Sejak abad ke-13, orang Romawi biasa menggunakan senyawa arsenik oksida untuk membunuh musuhnya.

Bahkan pada 1993 dilaporkan, arsenik telah meracuni 7.600 warga Bangladesh. Mereka mengonsumsi air danau yang tercemar bahan beracun itu. Air danau itu dilaporkan mengandung arsen 0,05 part per million (ppm), di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 0,01 ppm.

Arsen memang bukan barang baru. Malah, sejak 400 tahun sebelum Masehi, filsuf Yunani Aristoteles pun, menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, sudah mengenal senyawa ini. Kala itu, yang dikenal adalah senyawa arsen sulfida. Aladdin Ibrahim dari Universitas Harvard (http://phys4.harvard.edu/) malah menyebut arsen digunakan sejak 3.000 tahun sebelum Masehi.

Namun Albertus Magnus (1193-1280), warga Lauingen an der Donau, Swabia (sekarang Jerman), yang pertama kali mengisolasi unsur bersimbol As itu pada 1250. Arsen berasal dari bahasa Persia zarnik, yang berarti mineral berwarna kuning dan jarang dijumpai. Bahan ini terdapat pada lapisan permukaan dan kerak bumi.

Arsen mudah didapat. Beberapa perusahaan memasukkan arsen sebagai bahan campuran untuk membuat pestisida, racun tikus, racun semut, herbisida, cat, gelas, tonik rambut, dan keramik. Ia juga dapat menghantarkan listrik, sehingga kerap dipakai dalam peralatan listrik.

Arsen pun pernah selama bertahun-tahun digunakan dalam dunia kedokteran. Ia dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional homeopati. Para praktisi homeopati menggunakan bahan arsenik ini untuk penderita stres, dehidrasi, demam, dan asma. Arsen juga biasa dipakai untuk mengobati sifilis dan leukemia. Malah, 30 tahun lampau, zat ini sempat dipakai sebagai bahan tonikum untuk anak-anak. Dalam kadar tertentu, arsen pun terdapat pada udang.

Arsen biasanya dipasarkan dalam bentuk senyawa oksidanya (As2O3). Arsen oksida ini berupa serbuk putih. Namun, bila dilarutkan dalam air, ia menjadi tidak berwarna. Senyawa ini memang memiliki sifat tak berasa, tak berbau, dan tak berwarna. Inilah yang membuat keberadaan arsen sulit dideteksi. Orang bisa keracunan makanan tanpa sengaja, atau tanpa sadar melahap makanan yang sudah dububuhi racun arsen. Bubuk arsen ini tidak akan mengubah rasa makanan.

Untuk meracuni seseorang, arsen bisa digunakan dalam dosis kecil atau besar. Djaja Surya Atmadja, ahli forensik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menduga proses pembunuhan Munir sudah dirancang lama. Korban diracuni arsen dalam dosis kecil. Zat tersebut bekerja secara perlahan-lahan. Akibatnya, korban tak langsung meninggal.

Dalam kurun waktu lama, korban akan mengalami gejala seperti mag dan muntaber. Korban biasa menyangka terserang penyakit biasa, seperti keracunan makanan yang bisa segera diatasi. Bahkan dalam dosis besar, arsen tidak lekas membunuh. "Butuh waktu satu sampai empat hari," kata Djaja kepada Gatra.

Djaja mengatakan, orang tak akan tewas, meskipun saban hari secara tidak sengaja mengonsumsi arsen 0,5 mg sampai 1 mg. Ia juga tak akan mengalami gejala-gejala hebat. Sebagian zat itu terakumulasi di dalam tubuh, sebagian lagi dibuang bersama air kencing.

Bila lebih dari 1 mg, korban baru akan mengalami gejala hebat. Antara lain mual, muntah, kerongkongan terasa terbakar, sakit perut, diare dengan feses seperti air cucian beras, terkadang disertai darah. Mulut kering dan berasa logam, napas berbau bawang putih, dan ada keluhan sulit menelan. Gejala itu muncul 30 menit hingga dua jam setelah terpapar racun. "Dokter yang kurang berpengalaman biasanya tak akan cepat menyimpulkan keracunan arsen," ujar Djaja.

Bila penanganannya lambat, biasanya korban mengalami shock dan pembengkakan otak. Indikatornya: sakit kepala, bicara kacau, koma, kejang, lalu meninggal. Itu karena telah terjadi kegagalan sirkulasi darah ke otak. Kalaupun selamat, menurut Djaja, korban akan menderita penyakit liver, kelainan ginjal, dan kelainan saraf tepi berupa kesemutan, rasa kebas, atau hilangnya fungsi sensorik. Selain itu, racun arsen bisa menyebabkan kanker kulit dan paru-paru.

Untuk menetralkannya, dokter biasanya memberikan makanan yang mengandung banyak belerang. Misalnya telur, susu, bawang putih, dan makanan berserat.

Rachmat Hidayat
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com