Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Jalur Menyempit Menuju Seberang

Suaka memang menjadi incaran warga Indonesia yang ingin bermigrasi ke Amerika. Hanya 7% pemohon suaka dari Indonesia yang disetujui. Peluang bermigrasi ke Amerika makin sulit.

DARI pengalaman saya sehari-hari dan dari berbagai komentar publik yang saya terima, saya menyimpulkan, terdapat dua kelompok besar orang yang ingin hijrah ke Amerika. Pertama, orang yang merasa bahwa dengan tinggal di Amerika, dia bisa memperbaiki kehidupan ekonominya, pekerjaan, keuangan, serta jaminan kesehatan dan pendidikan bagi keluarganya. Kedua, orang yang ingin berimigrasi ke Amerika karena merasa Indonesia bukanlah lagi tempat yang aman untuk ditinggali. Entah lantaran alasan ras, agama, kesukuan, keanggotaan pada suatu kelompok sosial khusus, atau karena ia memiliki opini politik berbeda.

Secara historis, Amerika memang merupakan pilihan yang menarik karena sejarahnya sebagai bangsa kaum imigran. Mereka, para penghuni Amerika sekarang, berdatangan sejak awal abad ke-17. Waktu itu, sekelompok pendatang yang terkenal dengan sebutan pilgrims berlayar dari Eropa menuju Amerika Utara untuk mencari sekeping tanah merdeka di tanah yang semula dihuni kaum Indian. Mereka berharap bisa dengan bebas menjalankan keyakinannya dan hidup sesuai hukum mereka sendiri. Kelompok ini memilih meninggalkan Eropa, melepaskan diri dari Gereja Inggris karena merasa bahwa gereja asal mereka gagal melanjutkan cita-cita yang dirintis oleh Gerakan Reformasi.

Romantika bangsa kaum imigran ini terus berlanjut. Anda mungkin pernah mendengar kisah Ellis Island, yang terletak di perairan Negara Bagian New York. Wilayah ini telah menjadi museum. Ellis Island pernah menjadi saksi sekaligus gerbang kedatangan imigran ke Amerika dari segala penjuru dunia, termasuk dari Timur Tengah, Eropa, bahkan Kanada, sampai pertengahan abad ke-20. Ellis Island adalah pintu gerbang bagi 12 juta manusia yang pada 1940-an setara dengan 10% jumlah penduduk Amerika saat itu.

Di masa lalu, mayoritas imigran yang datang ke Amerika berasal dari Eropa Barat. Di tahun 2003, 35% imigran datang dari Asia, dari total 700.000 imigran legal --turun 300.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Yang dimaksud dengan istilah imigran adalah "pendatang yang mendapatkan izin untuk dapat tinggal dan bekerja di Amerika secara tetap". Dari sekitar 1.800 imigran Indonesia yang terdata di tahun 2003, lebih dari separuh imigran tadi hijrah ke Amerika karena disponsori keluarganya yang datang lebih dulu. Sisanya, sekitar 200, karena berhubungan dengan pekerjaan, lalu 400-an melalui lotere kartu hijau.

Dari total pengunjung mancanegara yang mencapai 27,8 juta, 63.000 di antaranya datang dari Indonesia. Demografi umum penduduk Indonesia di Amerika juga cukup menarik disimak. Sekitar 40.000 warga Indonesia yang datang ke Amerika menggunakan visa turis. Hampir seperlimanya adalah pelajar. Hanya terdapat sekitar 1.000 orang Indonesia yang memegang visa professional atau trainee (visa H) dan sekitar 300-an orang pemegang visa transfer (visa L).

Telah terjadi kesalahpahaman kronis dari banyak pendatang Indonesia di Amerika yang menganggap bahwa mengajukan asilum atau suaka adalah satu jurus ampuh untuk mendapatkan kartu hijau. Di tahun 2003 terdapat sekitar 1.200 klaim untuk suaka dari Indonesia (principal), dan 1.600 untuk pasangan dan anak mereka. Pemerintah Amerika menyetujui hanya 29% dari klaim untuk asilum dari seluruh dunia secara keseluruhan. Dari Indonesia, hanya 7% yang permohonannya disetujui. Rendahnya angka yang disetujui itu membuktikan, standar pembuktian klaim asilum ini sangat tinggi dan sulit diterobos.

Pada 1998, hanya 15 orang Indonesia yang mendapatkan suaka. Naik pesat menjadi 1.545 di tahun 1999, lalu 937 di tahun 2000, 615 di tahun 2001, dan 489 di tahun 2002. Pada 2003 terdapat hanya 216 orang Indonesia yang berhasil mendapatkan suaka. Sedangkan yang kemungkinan besar dideportasi 3.000 orang, naik pesat dari 213 pada 2002.

Apa itu suaka? Menurut hukum keimigrasian Amerika, suaka diberikan sebagai bentuk perlindungan bagi individu asing untuk tinggal di Amerika, karena yang bersangkutan mendapat ancaman penyiksaan di negara asal. Ada lima kategori penting persoalan tercakup di situ: ras, agama, kebangsaan, keanggotaan suatu kelompok sosial khusus, dan opini politik. Hukum suaka di Amerika berkesinambungan dengan Konvensi Melawan Penyiksaan (Artikel 3) dan Konvensi Pengungsi (Artikel 33) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Berdasarkan data terakhir di tahun 2003, terdapat sekitar 42.000 orang dari seluruh dunia datang ke Amerika untuk mencari suaka.

Agar aplikasi terpenuhi, pengaju harus punya alasan "ketakutan dan keterancaman" yang kuat dan valid. Pengaju juga harus bisa membuktikan kemungkinan yang logis bakal teraniaya bila pulang ke negara asalnya. Ketakutan itu dibatasi standar cukup berat: (1) seseorang itu sebelumnya telah mengalami penyiksaan atau khawatir mendapat perlakuan serupa di masa depan; (2) ketakutan itu harus sangat masuk akal; (3) persekusi harus berbasis pada lima kategori di atas; dan (4) orang tersebut tidak bisa dan tidak mau kembali ke negara asal karena khawatir disiksa.

Dilihat dari uraian singkat di atas, tampak bahwa pengajuan suaka dalam situasi negara kita saat ini bukan hal terbaik bagi pendatang. Indonesia negara cukup aman. Tak sedang berkecamuk perang saudara. Pemerintah juga tidak melakukan pembersihan etnis ataupun pemberangusan agama, seperti pernah terjadi di Kosovo, Kroasia, Zimbabwe, atau Sudan. Memang ada masalah di Poso, Irian Jaya, maupun Aceh. Tapi itu bukanlah kebijakan pemerintah.

Secara teknis, jalur suaka memang menarik bagi pendatang yang sudah terlalu lama tinggal secara gelap di Amerika. Bila klaimnya berhasil, pengaju suaka akan mendapatkan izin tinggal dan bekerja tetap, meskipun ia pernah tinggal secara gelap. Meskipun kuota pemberian greencard atau kartu hijau telah dipatok menjadi maksimum 10.000 per tahun, bila aplikasi suaka tadi disetujui, pengaju akan mendapatkan izin untuk bekerja. Mereka juga bebas keluar-masuk Amerika. Bahkan, pengaju akan mendapatkan izin untuk bekerja selagi aplikasinya masih tertunda.

Maka, suaka menjadi pilihan menarik untuk dilirik, mengingat saat ini tidak ada aturan khusus yang dapat menolong atau menyelesaikan masalah legalitas pendatang tersebut. Program INA 245(i) yang pernah memberikan kesempatan kepada saudara-saudara kita yang tidak memiliki status di Amerika telah berakhir pada 30 April 2001. Saya sebetulnya berharap Presiden Bush mengadakan program serupa di akhir masa jabatannya yang pertama, dan untuk menyambut awal masa pemerintahannya yang kedua ini, seperti halnya dilakukan Presiden Clinton.

Bila jalur suaka sulit ditempuh, sebetulnya masih banyak cara lain yang legal untuk dapat tinggal dan bekerja di Amerika. Di antaranya melalui hubungan keluarga. Seseorang yang memiliki keluarga dekat yang warga negara Amerika sebagai pasangan, orangtua, saudara laki-laki atau perempuan dari seorang warga Amerika, atau hubungan tertentu lainnya, bisa mendapatkan kartu hijau.

Jalur pekerjaan juga bisa ditempuh sebagai pintu berimigrasi ke Amerika. Ada lima jalur, yakni: (1) warga asing dengan keahlian luar biasa, profesor atau periset terkemuka, dan manajer atau eksekutif multinasional tertentu; (2) pekerja dengan keahlian istimewa atau keterampilan tertentu yang langka; (3) profesional, tenaga terampil yang akan dievaluasi melalui banyaknya pengalaman kerja; (4) pekerja khusus, seperti mereka yang bekerja di lingkungan agama tertentu; serta (5) pencipta lapangan kerja atau investor.

Jalan lain adalah melalui aturan khusus, misalnya yang sedang berlangsung saat ini adalah program lotere kartu hijau DV-2006. Untuk program lotere tahun fiskal 2005 (DV-2005), tercatat sekitar 9,5 juta pelamar. Posisi yang tersedia 55.000 kartu, tapi 5.000 di antaranya sudah menjadi jatah pemohon dari Nikaragua. Terdapat 258 warga Indonesia sukses dalam program DV-2005. Pengikutsertaan dalam program ini hanya dapat dilaksanakan secara elektronik langsung dari situs Departemen Luar Negeri Amerika. Instruksi lengkap dan formulir elektronik tersedia langsung di http://www.dvlottery.state.gov.

Akhir kata, di balik permohonan suaka politik ini sebetulnya terdapat satu benang merah yang bisa ditarik dan diluruskan. Orang tak akan bersusah payah memanfaatkan peluang suaka politik bila dia merasa aman dan nyaman di negara sendiri: bebas dari segala bentuk diskriminasi dan ketidakpastian hukum, bebas dari larangan untuk menyejahterakan kehidupan keluarganya. Bisakah pemerintah baru yang dipimpin SBY ini secara nyata mengupayakan suasana aman dan nyaman --hal-hal yang didambakan para pendatang gelap di Amerika?

Bukanlah watak orang Indonesia untuk mengadu nasib di negara asing, apalagi sebagai pendatang haram. Bila datang sebagai pendatang ilegal, warga Indonesia di Amerika bisa sewaktu-waktu digerebek dan dibui.

Priscillia Suntoso
*Pengacara imigrasi, tinggal dan bekerja di Amerika
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com