Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Asilum Bodong Cerita Bohong

Sejumlah imigran Indonesia keturunan Cina ditangkap di Virginia, Amerika Serikat. Mereka dituduh melanggar aturan keimigrasian. Otak sindikat yang menyelundupkan mereka dikenai tuduhan penipuan berkas suaka politik. Sindikat beroperasi sejak 1999 dan telah memasukkan 1.000 imigran ilegal. Simak liku-liku para imigran itu sejak dari Indonesia.

Rumah Hans Gouw di Virginia (GATRA/Didi Prambadi)KERJA keras selama dua tahun itu membawa hasil. Tim gabungan penegak hukum Amerika Serikat yang dibentuk Biro Investigasi Federal (FBI) membekuk 26 warga negara Indonesia (WNI) keturunan Cina, Senin lalu. Mereka dituduh sebagai anggota sindikat pemalsu dokumen keimigrasian untuk mendapatkan suaka politik.

Terbongkarnya pemalsuan dokumen itu bermula dari sejumlah laporan yang sampai di meja FBI. Salah satunya berupa surat kaleng dari seorang WNI yang mengaku bernama Edi. Sedikitnya ada empat cerita yang rata-rata isinya mirip, yang digunakan untuk mendapat suaka politik.

Cerita pertama, latar belakang peminta suaka yang umumnya WNI keturunan Cina. Kisah kedua, sejarah perlakuan penduduk pribumi Indonesia terhadap orang-orang Cina beragama Kristen. Ketiga, alasan sebagai korban penganiayaan atau kekerasan yang dialami warga Cina saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Terakhir, para peminta suaka itu dikatakan sebagai korban pelecehan seksual, kekerasan fisik, atau perampokan.

Alasannya cukup seram. FBI lalu melakukan investigasi dengan mengirim petugasnya ke Indonesia, dua tahun lalu. Penyelidikan diam-diam itu dilakukan di Jawa Timur dan Jakarta, daerah asal sebagian besar pencari suaka politik itu. Tim FBI sekaligus mengamati kondisi politik dan keamanan Indonesia waktu itu. "Ternyata aman-aman saja," kata seorang petugas.

Dari hasil pengamatan ini, FBI kemudian membentuk satuan tugas, gabungan dari berbagai lembaga di negeri itu. Tim ini terdiri dari Bureau of Immigration and Customs Enforcement Departemen Keamanan Dalam Negeri, Internal Revenue Service (petugas pajak di bawah Departemen Keuangan), Social Security Administration (kantor yang mengurus KTP di Amerika), dan Departemen Perhubungan.

Tim inilah yang membongkar jaringan pencari suaka bodong itu. Ada empat perusahaan jasa pengurusan suaka ini yang dijaring, yaitu Organisasi Masyarakat China Indonesia Amerika (CIAS), Asian American Placement Services (AAPS), Kemala Nusantara, dan Petra International. Pentolannya bernama Hans Gouw, 53 tahun, dan istrinya, Isnayanti Gouw, 35 tahun.

Hans punya kaki tangan berjumlah 26 orang. Mereka semua diringkus. Dari empat alamat biro jasa tadi, disita belasan peralatan komputer. Hard-disk di setiap komputer itu bisa menjadi amunisi ampuh bagi Jaksa Penuntut Umum Alexandria, Virginia Utara, Paul McNulty. "Rata-rata mereka menulisnya dalam word processor. Nggak susah," kata McNulty.

Masih samar di mana Hans kini ditahan. Besar dugaan, sejak pekan lalu, Hans Gouw dan teman-temannya mendekam di penjara Pusat Penahanan Dewasa Wilayah Fairfax, di 10520 Judicial Drive, Fairfax, Virginia. Penjara berlantai delapan ini dihuni sekitar 45.000 tahanan.

Ancaman bagi Hans dan para cecunguknya sungguh berat. Bila mereka sudah mendapatkan kewarganegaraan Amerika, status yang mereka peroleh dengan susah payah itu boleh jadi akan dicabut, dan mereka dipulangkan ke Indonesia. Kalau mereka sudah mendapatkan kartu hijau, "surat sakti"-nya juga bakal dibredel. Tentu setelah menjalani masa tahanan cukup lama.

Sistem hukum Amerika memang memungkinkan seseorang ditahan berlipat ganda, tergantung jumlah kejahatan yang diperbuat. Misalnya Hans Gouw didakwa 10 kejahatan, yang per kasusnya dihukum sekitar lima tahun. Maka, ia harus menjalani 50 tahun. Padahal, komplotan ini dikenai hampir 2.000 kasus pemalsuan. Kalikan saja berapa tahun mereka harus mendekam di penjara.

Menurut Jaksa Paul McNulty, sejak 1999 tercatat 1.000 imigran dari Indonesia mengajukan permohonan suaka politik dengan memberikan kisah palsu. Seperti diketahui, pengajuan suaka politik harus disertai dengan peristiwa yang menimpa pemohon.

Kasus penipuan sejenis ini tidak hanya berlangsung di Virginia, melainkan juga di beberapa negara bagian lain. Setidaknya, mereka tersebar di 20 negara bagian. Melihat besarnya jumlah mereka, jelas-jelas palsu. Jumlah korban pemerkosaan sekitar kerusuhan Mei 1998 di Jakarta tak mencapai 100 orang --angka ini tak pernah dikonfirmasi oleh polisi.

Para korban tindak durjana itu banyak mendapat perhatian Ester Endah Yusuf, melalui Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa. Ester mencatat, onar Mei 1998 meninggalkan aib bagi 52 perempuan. Mereka diperkosa. Kebanyakan dari mereka kemudian mengungsi ke Singapura. "Yang pergi sampai Amerika sedikit sekali," katanya kepada Eric Samantha dari Gatra.

Korban kerusuhan itu, kata Ester, tidak melulu dari etnis Cina. Memang, menurut Ester, korban kerusuhan itu tidak tertangani secara baik oleh pemerintah. "Mereka yang minta suaka itu merasa sebagai orang yang tidak terlindungi," katanya. Wajar mereka tak kembali lagi ke Indonesia.

Peminta suaka di Amerika Serikat itu tidak seluruhnya akibat trauma kerusuhan di Tanah Air. Kebanyakan di antara mereka hanya menempuhnya sebagai jalan pintas, agar bisa bekerja di negeri itu. Karena, bila seseorang dikabulkan suaka politiknya, mereka akan mendapatkan surat izin bekerja sementara, sampai permohonannya itu dikaji kembali sebelum akhirnya dikabulkan menjadi penduduk tetap (permanent resident).

Kisah pelecehan seksual paling laku "dijual" yang dipakai para peminta suaka itu adalah pemerkosaan yang dilakukan sopir taksi. Uniknya, cerita bohong tentang sopir taksi ini dipakai sedikitnya oleh delapan wanita imigran Indonesia pada kurun 31 Oktober 2000 sampai 16 Januari 2002.

Lima wanita lainnya memakai kisah serupa, tapi diubah di sana-sini oleh Hans Gouw. Biasanya perubahan itu terjadi pada ujung cerita. Umumnya, upaya pemerkosaan yang gagal karena berbagai sebab. Seperti yang disiapkan Henry Lee, warga Australia asal Indonesia yang juga anggota komplotan ini.

Henry membuat cerita pemerkosaan gagal karena sopir taksinya keburu digigit korban. Atau karangan Danny Susanto, juga anggota sindikat ini, yang menyebut seorang korban batal diperkosa karena berhasil menendang alat vital sopir taksi itu.

Cerita bohong lainnya adalah penodongan, penggarongan ATM, atau ulah bejat sejenisnya. Karangan bernuansa agama digunakan Hans Gouw untuk 18 orang imigran Indonesia yang minta suaka politik. Juga masih banyak cerita ngibul bernuansa rasial dan menggunakan kata-kata kasar yang dikarang Hans Gouw dan komplotannya.

Kisah ngawur itu bukan monopoli WNI keturunan Cina. Para peminta suaka politik yang beragama Islam juga memanfaatkannya. Untuk ini, Hans punya cara dengan menggunakan nama-nama organisasi zaman Soeharto sebagai alasannya. Misalnya, seorang peminta suaka diminta mengaku sebagai anggota Pemuda Panca Marga, organisasi anak-anak veteran. Setelah Orde Baru runtuh, versi Hans Gouw, mereka dimusuhi kelompok pemuda lain.

Anggota Pemuda Panca Marga gadungan itu, sebut saja bernama Wirawan, akan dijadikan saksi oleh Jaksa Paul McNulty di pengadilan kelak. Kesaksian Wirawan, yang identitas aslinya dirahasikan, ini digunakan untuk memberatkan hukuman Hans Gouw dan komplotannya.

Wirawan semula berniat minta suaka politik setelah membaca iklan di majalah Indonesian Journal. Ia kemudian menelepon Herlina Suherman, si pemasang iklan. Disepakati ongkosnya US$ 2.000. Wirawan membayar separuh di depan. Ia kemudian dibuatkan akta kelahiran palsu seolah-olah bikinan Kantor Catatan Sipil di Jakarta. "Lha, agama saya kan Islam?" tanya Wirawan. "Jangan khawatir. Pakai problem politik, bisa beres," kata Herlina.

Seorang peminta suaka lainnya, sebut saja namanya Rohman, beragama Islam. Ketika akan minta suaka, identitasnya diubah Hans menjadi Eng Hiong. Gilanya lagi, ia dibuatkan surat baptis palsu, lalu dibawa ke pengadilan bersama berkas lain. Untuk pelayanan itu, Rohman harus membayar ekstra sebanyak US$ 3.000 plus US$ 100 untuk iuran CIAS.

Berbekal kisah palsu itu, mereka memohon perlindungan di beberapa kantor suaka, seperti di Arlington, Virginia, Los Angeles, Arizona, Newark, Pennsylvania, Houston, dan Texas. Semua dongeng ini disiapkan Hans Gouw dan komplotannya yang bertugas sebagai pendamping dan penerjemah para pemohon suaka politik saat wawancara di pengadilan. Atas ulahnya itu, Hans dan kaki tangannya dikenai dakwaan mengarang cerita bohong untuk mendapatkan suaka politik di Amerika.

Selain memalsukan alasan permintaan suaka, komplotan Hans Gouw juga memalsukan surat izin kerja/greencard, lisensi nyetir mobil, social security number (KTP Amerika), sertifikat baptis, akta kelahiran, dan paspor/visa.

Menurut tuduhan Jaksa Paul McNulty, pemalsuan surat izin kerja dilakukan Hans Gouw sebanyak 140 kali atas nama CIAS, biro jasa yang berpura-pura meminta tenaga kerja penerjemah bahasa Indonesia-Inggris atau sebaliknya. Pemalsuan itu dilakukan selama kurun 30 April 2001 sampai 30 Juni 2004. Untuk izin kerja palsu ini, Hans memasang tarif US$ 3.000.

Dengan surat itu, para peminat bisa mendapatkan gaji US$ 7 sampai US$ 25 per jam. Jauh di atas gaji para pekerja ilegal yang maksimum hanya US$ 6. Hal yang sama dilakukan Michael Wright, mantan pengacara yang membuat identitas bodong lewat perusahaannya, AAPS.

Komplotan Hans Gouw juga memalsukan paspor Amerika. Pada 23 April 2003, salah satu peminta suaka, sebut saja namanya Handoyo, ditolak permohonannya. Agar bisa tetap tinggal di Amerika, Handoyo menelepon Hans. Dalam percakapan itu, Hans menyarankan Handoyo membuat paspor palsu. "Saya kenal orang yang bisa mendapatkan itu," kata Hans. Tarifnya US$ 10.000, sekitar Rp 90 juta.

Omong punya omong, Hans berhasil membujuk agar Handoyo membayar US$ 15.000. Belakangan tarifnya naik sampai US$ 30.000. Meskipun Handoyo sudah memberi uang panjar US$ 7.500, sampai sekarang paspor itu tak pernah jadi. Cuma sebatas cap jempol pada blangko kosong. "Kontak saya di imigrasi minta lebih," kata Hans memberi alasan pada Handoyo.

Kalau soal SIM, jangan ditanya. Hans Gouw memalsu 41 kartu. Sedangkan Isnayanti membuat 268 lembar kartu nyetir bodong. Rekor paling tinggi dicatat Megawaty Gandasaputra dengan 360 kartu. Total dari 12 orang tersangka, telah dipalsu 1.876 lembar SIM selama kurun 1999 hingga 2001.

Modusnya gampang. Para imigran Indonesia yang ingin punya SIM itu tinggal telepon ke kantor CIAS. Kemudian memberikan nama, dan komplotan Hans Gouw yang mengurus semuanya. Bayarannya rata-rata US$ 3.000. Caranya, memanfaatkan peraturan bahwa semua warga Virginia mendapat kemudahan untuk mencari SIM. Komplotan ini berhasil memalsu sampai 2.000 lembar SIM.

Dengan berbagai jenis tindak pemalsuan ini, berapa duit yang diraup Hans dan kawan-kawan? Ada yang memperkirakan mencapai jutaan dolar. Dari hasil laporan pajak yang dibikin Hans dan kawan-kawan, terlihat penghasilan mereka pada 2001 hanya US$ 5.125.

Tahun berikutnya US$ 11.000 lebih, dan tahun lalu naik jadi US$ 13.000. Kenyataannya, Hans memiliki rumah mewah dengan pekarangan luas. Mobilnya dua, Mercedes-Benz dan BMW keluaran 2004. Setelah ditelusuri, ternyata pada 2001 mereka berhasil meraup hampir US$ 400.000, dan tahun lalu sampai US$ 662.000 lebih.

Diduga, jumlah itu belum termasuk kiriman uang para peminta suaka politik ke sejumlah bank Amerika. Di antaranya Wachovia Bank, Citibank, atau Chevy Chase Bank. Karena itu, jaksa juga mendakwa komplotan ini melakukan "pencucian uang" dengan tidak membayar pajak.

Terbongkarnya komplotan ini justru karena kisah-kisah "mengerikan" itu. Cerita palsu semacam ini pernah dimuat koran Philadelphia Inquirer, terbitan sekitar Maret 2002. Edi, seorang warga Indonesia yang sudah 14 tahun tinggal di Philadelphia, membaca artikel itu. "Praktek permohonan suaka yang dilakukan warga Indonesia sudah keterlaluan," kata Edi. "Saya muak mendengarnya."

Dalam artikel di koran tadi diceritakan tentang kedatangan imigran dari Indonesia. Di antaranya ada cerita tentang seorang pendeta yang tiap Minggu, sebelum ke gereja, harus mendengarkan radio untuk memastikan situasi aman.

Di satu sisi, Edi maklum mengapa orang memakai "kisah horor" itu. Kala itu, memang banyak pendatang gelap ketakutan karena ada wajib lapor untuk pendataan. Mereka berusaha mencari alasan supaya bisa tetap tinggal di Amerika. "Tapi saya juga nggak rela kalau ada orang menyebar berita fitnah tentang negara saya," katanya.

Edi, yang memilih tetap menjadi warga negara Indonesia meski sudah mendapat hak menjadi warga negara Amerika, kemudian menelepon wartawan bersangkutan. "Saya ingin tahu dari mana asal pendeta yang ditulis itu," katanya. "Kalau misalnya di Ambon, ya, mungkin saja." Tapi, menurut wartawan itu, si pendeta berasal dari Jawa. "Saya langsung bilang pendeta itu bohong! Tidak ada daerah di Pulau Jawa yang seperti itu."

Kemudian Edi memberi banyak masukan pada si wartawan. "Kalau mereka bilang orang Kristen dimusuhi orang Islam, nyatanya Gereja Katedral di Jakarta berhadap-hadapan dengan Masjid Istiqlal. Kalau mereka bilang gereja tidak aman karena Katedral pernah dibom, apa Istiqlal tidak pernah dibom juga?" kata Edi berapi-api.

"Kalau mereka bilang warga keturunan akan dihabisi jika tetap tinggal di Indonesia, nah, siapa itu Kwik Kian Gie, siapa itu Marie Pangestu?" Edi mengaku teraniaya batinnya melihat ulah para pemohon suaka. Ia lalu mengirim surat pada beberapa lembaga yang mengurusi masalah keimigrasian.

Surat itu ia kirim pada 2002. "Saya sebenarnya nggak tega. Kami sama-sama pendatang, cari makan di sini. Tapi bagaimana, ya, Mas," katanya sambil menghela napas berat. Pria yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan keuangan di pusat kota Philadelphia ini mengaku sakit hatinya agak terobati setelah mendengar berita bahwa Hans Gouw dan komplotannya ditangkap.

Didi Prambadi (Philadelphia)
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com