Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ASTAKONA

SEKOLAH KUDA
Sirna Galih Menolak Betina

Kuda bisa liar dan brutal akibat terlalu kenyang dan kelebihan berat badan. Dengan puasa, kuda alumni Citra Kencana bisa jinak dan patuh.

BELAJARLAH dari kuda. Tak payah. Cukup naik delman atawa kretek dari Terminal Soreang, Bandung. Beberapa menit kemudian sampai di Kampung Sirna Galih, Desa Parung Serab, Kecamatan Katapang, Jawa Barat. Di situlah sekolah kuda Sanggar Citra Kencana milik Abah Oman Sumantri, 55 tahun, pendidik kuda dengan prinsip penuh makna bagi kehidupan manusia.

Abah Oman, begitu pria dua anak ini biasa disapa, memulai kariernya sejak 1975. Awalnya, ia cuma membeli seekor kuda seharga Rp 75.000, untuk meneruskan pekerjaan orangtuanya narik delman antara Terminal Soreang dan Kampung Cikopo. Sekitar Agustus 1990, Abah Oman iseng-iseng melatih kuda liar asal Sumbawa untuk acara arak-arakan 17-an. Hasilnya lumayan bagus.

Abah kemudian memberanikan diri meminjam uang di bank untuk membeli beberapa kuda, Rp 2 juta seekor. Kuda itu dididik beberapa bulan untuk kuda bendi, kuda renggong, atau kuda pacuan. Setelah mahir, laku dilego Rp 3 juta. Maka, Abah pun mendirikan Sanggar Citra Kencana, sekolah khusus untuk kuda.

Begitulah, seiring diminatinya alumni sekolah kudanya, Abah rutin mendatangkan kuda dari Pulau Sumbawa atau Surabaya. Kuda dari Sumbawa diangkut menggunakan truk selama 15 hari ke Kampung Sirna Galih. Agar kuda-kuda liar itu tak "memberontak", selama perjalanan satwa yang jadi ukuran kekuatan tenaga mesin itu diwajibkan puasa, tak makan atau minum selama dua hari. Kuda jadi tak banyak tingkah karena kelelahan. Malah, jika berat badannya turun, kuda lebih gampang diatur. "Kuda jadi liar justru karena terlalu kenyang dan gemuk," katanya.

Di Citra Kencana, kuda-kuda yang baru datang dipisahkan. Masing-masing menempati istal, kandang kecil ukuran 2,5 x 2 meter. Lantainya ditaburi serbuk gergaji, biar tetap kering dan empuk. Di situ disediakan kotak makanan. Kalau sakit, misalnya mulas, Abah mengobati sendiri dengan suntikan cairan kangkung campur kemiri racikannya sendiri. Lalu diberi obat konvensional seperti obat penyehat badan B-12 dengan dosis lebih tinggi, atau neurobion.

Kuda yang sehat langsung diserahkan kepada empat pelatih: Entah Supriatna, 34 tahun, Ade Kartiman, 30 tahun, Deni, 30 tahun, Ade Wahyudin, 26 tahun, dan Aep Sumarna, 24 tahun. Mereka masih anggota keluarga Abah. Tiap hari, kuda digiring ke lapangan rumput. Jika bandel, sesuai peribahasa, binatang tahan pukul manusia tahan kias, kuda itu dipukuli bahkan sampai berdarah. Luka-luka itu kemudian diobati, dan esoknya dipukuli lagi.

Entah Supriatna menuturkan, perlu seratus akal menghadapi kuda binal. Sebab, tiap kuda punya karakter. Meski di mata awam terlihat semua kuda serupa, Entah tahu membedakannya. Ia melongoknya dari kaki, wajah, badan, dan pusarnya. Dari situ ia tahu mana kuda yang harus dididik secara keras dan kasar dan mana kuda yang cuma perlu sentuhan seadanya. Bahkan bagi orang tertentu, pusar kuda benilai mistik. Dari situ ada yang percaya kuda membawa keberuntungan atau jadi biang sial.

Calon "siswa" dan materi pelajarannya ditentukan berdasarkan karakter tersebut. Pelatih harus memahami kebiasaan asuhannya makan, tidur, dan reaksinya terhadap sesuatu, seperti mobil. Kuda sangat sensitif terhadap suara dan gerakan yang membahayakan dirinya. Pelatih juga dituntut berhati tegar melatih, meski kudanya jatuh berdarah atau mulutnya berbuih.

Mendidik kuda renggong lebih serius dan lebih lama, tiga sampai lima bulan, ketimbang kuda bendi yang cuma sebulan. Mata pelajaran kuda renggong seperti halnya kuda sirkus lebih banyak. Misalnya, beratraksi seperti menari, berdiri, memberi hormat, dan gerakan lucu-lucu. Diawali dengan memakai baju renggong, lalu dibawa jalan-jalan sembari diberi aba-aba yang diarahkan dua pelatih yang menggiringnya.

Pelatihan kuda pacuan lebih lama karena ber-"perasaan" lebih halus. Tak suka dikasari. Dalam pelatihannya, kuda pacuan cukup diajak jalan-jalan sembari dilecuti secara perlahan. "Kuda asuhan kami pernah meraih juara I pacuan kuda se-Bandung, mendapat enam penghargaan," ujar Entah, yang sehari-hari berjualan pakaian muslim.

Yang liar dan suka melawan juga ada. Yang begini, biasanya, diikat dengan tali dan dipegang dua pelatih dari kiri dan kanan. Lalu pembimbing mengarahkan dan melecuti dari belakang. Jangan cemas. Menghukum kuda tak seperti di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri di Jatinangor --juga di Jawa Barat-- yang menghukum prajanya sampai tewas. Kata Entah, di sekolah kudanya belum ada "siswa" yang mati dipukuli. Sebab, pukulannya selalu dimaksudkan mendidik agar kuda tak mengulangi kesalahan yang sama. Berat ringan pukulan juga seirama dengan kemajuan kuda sesuai kurikulum. Tapi, kalau memang sakit dan tak mungkin diobati, ya, langsung dikirim ke rumah jagal.

Selain itu, kandang kuda juga harus tetap bersih. Makannya, rumput, ampas singkong, gabah, dan bekatul diaduk jadi satu. Siangnya dididik atau dibiarkan di istal. Sore harinya diberi makan lagi. Agar tetap sehat dan lincah, setiap hari kuda dimandikan dan dikeramasi menggunakan sampo atau deterjen dan dibilas dengan air bersih. Bulunya disikat supaya tak berketombe atau berkutu. Semua menghabiskan biaya Rp 10.000 sehari.

Meski sudah berpengalaman, Entah pernah kecolongan kuda jelek. Kuda itu, setelah dididik selama lima bulan, kelasnya tak naik dari kelas kuda kretek. Akhirnya kuda itu dilego. Kuda pendendam pun ada. Aksinya dialami Entah saat pertunjukan di sebuah kenduri khitanan. Tiba-tiba saja kaki kuda itu melayang ke wajah Entah. Akibatnya, jidat Entah terluka sehingga mendapat tiga jahitan. Ade Sumarna malah pernah terluka digigit kuda. Namun semua duka itu cepat terlupakan kala kuda mereka menjuarai perlobaan, dan tentu juga karena nafkah yang diberikannya. Aep Sumarna, misalnya, kini mampu menunggang sepeda motor berkat melatih kuda itu. "Ya, dari hasil jual-beli dan melatih kuda itu," katanya.

Rezeki juga datang dari iuran 10 calon pelatih kuda, yang belajar di Citra Kencana. Mereka mengikuti pendidikan tiga sampai lima bulan dan menyetor uang kuliah Rp 500.000 hingga Rp 1 juta seorang sebulan. Di luar 11 kuda miliknya sendiri, Citra Kencana pun menerima 20-an kuda milik orang lain. Dan, harap diingat, semuanya kuda jantan. Kuda betina dipelihara hanya untuk mendapatkan anaknya. Induknya kemudian dijual dan digantikan dengan kuda jantan. Alasannya? "Kuda betina susah dididik, suka galak, dan kurang pintar beraksi di atas panggung," ujar Abah.

Fachrul Rasyid HF, dan Nanik Mustika (Bandung)

Cover GATRA Edisi 03/2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perilaku
Prayojana
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com