Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ESAI

WIDI YARMANTO
HP

Tuntutan rakyat sangat sederhana: ''Perut kenyang.'' Mereka tak butuh kursi atau fasilitas, tapi memiliki etika dan kejujuran. Itu yang membanggakan.

SMS berseliweran sebelum 5 Oktober. Ada pesan senada yang masuk bergantian, ''Mohon maaf, nomor HP ini terpaksa saya matikan dari tanggal 1-5 Oktober. Takut dihubungi SBY. Saya belum siap jadi menteri.'' SBY adalah Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pilihan rakyat.

Persis menjelang pembentukan kabinet di era Soeharto. Yang merasa punya akses pada kekuasaan siap menunggu dering telepon Pak Harto. Kini, di saat HP membudaya, lelucon di balik elite kekuasaan pun tak kalah seru. Ya, ketimbang pusing mikirin ini-itu, bisa stres.

Stres bisa membuat salah ucap atau salah tulis. Itu pula yang dialami pers walau sudah dibentengi etika, wajib menyiarkan kebenaran dan tidak menyiarkan kebohongan. Ujung-ujungnya disomasi. Akibatnya tak terelakkan, yaitu membayar pengacara yang tak sedikit. Kemungkinan lebih buruk: masuk sel!

Maka, pandai-pandailah menempatkan diri. Apalagi, budaya mencari kesalahan orang lagi seru-serunya. Kebohongan publik, yang dulu ditutupi karena satu kubu, kini bisa jadi ancaman. Yang kecewa terhadap gerak langkah partai juga sedang getol-getolnya main gusur dan pecat. Gelombang pembersihan ada di mana-mana.

Itu pula yang tengah dilakukan Kwik Kian Gie, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan PDI Perjuangan (PDI-P). Kekalahan Mega dan kubunya dalam tiga kali pemilu telah disikapi dengan lapang dada. ''Ini disebabkan oleh para kader busuk yang untuk kepentingannya sendiri telah membusukkan partai kita,'' tulis Kwik.

Maka, Kwik mengimbau agar semua kader, simpatisan, atau siapa saja yang ingin bergabung dengan gerakan pemurnian partai dari anasir-anasir yang busuk, dan bertekad membangun kembali PDI-P, dimohon mendaftarkan diri. Kwik akan menggerakkan loko, satu barisan dengan kader-kader golongan putih, untuk membangun kembali PDI-P yang bersih.

Gema membersihkan diri itu disambut akar rumput PDI-P. Mereka berdemo di kantor DPP PDI-P di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin siang. Spanduk dibentangkan: ''Keluar! Pecat Sutjipto, Pramono, dan Gunawan yang membusukkan partai.'' Sutjipto dan Pramono Anung adalah sekjen dan wakilnya, sedangkan Gunawan adalah salah satu Ketua PDI-P.

Sebenarnya, kemelut di PDI-P bukan cerita baru. Tapi gema itu makin nyaring terdengar sejak perhitungan suara hari pertama. Situasi ini juga membuat beberapa orang yang punya kaitan dengan ''proyek-proyek'' KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) buru-buru cari selamat. Antara lain, ya, mengganti nomor HP.

Nomor HP boleh ganti, tapi kegelisahan hati sulit terukur. Ditambah oleh riuhnya gelombang pembersihan. Pemerintahan SBY-JK, yang dulu menjanjikan perubahan, akan ditagih. Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (FAM-UI) sudah memulainya untuk tetap bersikap kritis terhadap pemerintahan baru.

Melalui aksinya di Kejaksaan Agung, FAM-UI menuntut koruptor diadili. Mereka juga minta agar Laksamana Sukardi, Menteri BUMN, dicekal karena dianggap telah menjual aset-aset negara. Gerakan ini tak bisa dilepaskan dari kinerja pemerintahan lama yang seolah tak punya gereget menyikat koruptor. Yang tampak justru ramai-ramai berganti peran menjadi koruptor.

Simak saja raibnya milyaran rupiah ''berlabel'' anggota dewan. Belum lagi yang mengorup biaya perjalanan dinas, menyalahgunakan kredit usaha tani, menyogok pengusaha, dan memberi uang pelicin pada orang-orang yang memproses pembuatan undang-undang dan perda. Celakanya, yang tak ikut arus justru terpental dan dicemooh: ''Sok moralis.''

Anehnya pula, ada elite politik yang bangga, karena bisa membohongi negara dan rakyat. Mereka merasa bahwa kekuasaan yang berpengaruh tidak akan pernah dikatakan terlibat korupsi. Begitulah lihainya elite memutarbalikkan kenyataan. Kiprah mereka sulit dicegah, dan tak ada yang berani menegur.

Maka, jangan kaget jika esok-lusa kebohongan demi kebohongan bakal terungkapkan. Jangan heran pula jika nomor HP, yang dulu akrab, belakangan berubah nomornya. Dan, tak hanya ''orang lama'' yang mengganti nomor HP-nya, ''orang baru'' pun sama. Alasannya, khawatir disibukkan dengan urusan ''titipan'' mencari posisi.

Anda mulai mabuk kemenangan? Tahan dulu. Ada e-mail untuk saya. Isinya memberi warning: ''Kemungkinan bom susulan menunggangi keberhasilan pemilihan presiden kedua.'' Analisisnya begini: enam tahun reformasi --krisis multidimensi belum teratasi-- terjadi 61 peledakan bom (era Orba tujuh kali dan era Orla sekali).

Dari 69 kali itu, high explosive delapan kali, low 50 kali, granat sembilan kali (dua tak meledak), dan sisanya petasan. Motif politik 21 kali (dalam negeri empat dan luar negeri 17), motif ekonomi 15 kali, motif agama 22 kali, dan sabotase delapan kali. Jumlah korban luka-luka 905 orang, dan meninggal 269 orang.

Adapun bom susulan diledakkan dengan maksud, ''Mengadu domba sesama bangsa yang baru saja menyelesaikan pesta demokrasi dengan aman dan damai.'' Bom di era reformasi itu tak punya motif memorak-porandakan bangsa. Itu hanya semacam peringatan atau kekacauan pada golongan tertentu.

Maka, analisisnya lebih jauh, jika bom di seputar pengumuman pemilihan presiden kedua ini benar-benar meletus, bisa dipastikan tak ada rangkaian dengan pelaku bom terdahulu. Pelakunya, bisa jadi, jaringan dari negara asing yang menunggangi momentum bom untuk menghancurkan negara kesatuan RI.

Di pengantar e-mail itu ada pertanyaan buat saya: ''Apa pandangan batin Pak Widi?'' Wah, saya sulit menjawab. Yang pasti, saya tidak mengganti nomor HP yang telanjur merakyat. Tuntutan rakyat sangat sederhana: ''Perut kenyang.'' Mereka tak butuh kursi atau fasilitas, tapi memiliki etika dan kejujuran. Itu yang membanggakan.

Cover GATRA Edisi 47/2004 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Advetorial
Album
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Musik
Nasional
Perjalanan
Ragam
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com