Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Setelah Koma 5,5 Bulan

Artis sinetron Sukma Ayu akhirnya meninggal setelah pulang ke rumahnya di Perumahan Bukit Sentul, Bogor. Berbagai peralatan kedokteran canggih disiapkan di rumahnya. Toh, tak banyak menolong. Berniat menggugat Medistra.

Album Sukma Ayu (GATRA/Edward Luhukay)PUKUL tujuh pagi, Ahad lalu, taman pemakaman umum Al-Ihya, Ciomas, Bogor, dibanjiri ribuan orang. Mereka rela berjubel untuk menyaksikan prosesi pemakaman artis sinetron Sukma Ayu, yang berlangsung dua jam kemudian. Sejumlah artis ikut mengantarkan kepergian jenazah pemain utama Kecil-kecil Jadi Manten di RCTI itu ke liang lahat. Isak tangis dan kucuran air mata mengiringinya. Peggy Melati Sukma dan kekasihnya, Tengku Jacky, ikut meneteskan air mata.

Sukma Ayu telah berpulang sehari sebelumnya di rumah di Taman Bekasi, Perumahan Bukit Sentul, Bogor. Nyawa Euis, panggilan Sukma, tercerabut setelah dibawa pulang keluarga besar Misbach Yusa Biran dari Rumah Sakit Medistra, Kuningan, Jakarta Selatan. Di rumah sakit itu, Sukma terbaring koma selama 5,5 bulan. Selama itu pula ia terus dibantu dengan alat pernapasan oksigen dan peralatan lain.

Sukma koma karena mengalami aneurisma dan perdarahan di sub-arachnoid. Aneurisma adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar kepala, sedangkan sub-arachnoid adalah bagian selaput otak. Kejadian itu tak lama setelah ia menjalani operasi tangannya yang terluka.

Biaya untuk menyadarkan si Rohaye --peran Sukma di sinetron-- itu memang tak sedikit. Setiap hari, kata Nina Kartika, kakak kandung Sukma Ayu, keluarganya harus mengeluarkan duit Rp 5 juta-Rp 6 juta sebagai biaya perawatan. Total, Rp 2,25 milyar-Rp 2,7 milyar fulus harus dibayarkan ke Medistra. Bila dibiarkan terus di sana, makin banyak uang terkuras, sementara belum ada tanda-tanda Sukma mulai siuman. "Kondisi Sukma hanya membaik dalam dua bulan pertama, seperti kaki bergerak. Setelah itu tak bergerak sama sekali," katanya kepada wartawan Gatra Naban Mahfia.

Karena itu, Nani Wijaya, ibu Sukma, ingin membawanya pulang. Namun ia tak mau membiarkan anaknya tergeletak di rumah tanpa bantuan apa pun. Sejumlah persiapan dilakukan. Menurut Nina, kamar berukuran 3 x 5 meter direnovasi dan dicat warna krem. "Kami perluas seperti layaknya ruangan gawat darurat," katanya kepada Julkifli Marbun dari Gatra.

Selain kamar, peralatan kedokteran ikut disiapkan. Syringe pump, yang dibeli dengan harga Rp 17 juta, disediakan. Juga sejumlah peralatan seperti suction, alat monitor jantung, monitoring saturasi, oksigen dalam bentuk darah, kipas plafon, alat suntik, alat untuk memasukkan makanan lewat hidung, dan tempat tidur berikut kasur khusus.

Untuk mengantisipasi listrik mati, Nani Wijaya menyediakan genset. "Totalnya kami mengeluarkan duit Rp 100 juta," ujar Nina. Produk impor itu dibeli lewat beberapa kolega. Keluarga Sukma juga mendapat pinjaman ventilator seharga Rp 400 juta dari seorang rekan di RCTI. Pemasangan peralatan itu dimulai sejak Rabu pekan lalu. Selain itu, juga disediakan kamera video yang akan memantau perkembangan kondisi Sukma.

Untuk menjaga Sukma, keluarganya menyewa dua perawat. Perawat itu sudah dilatih dan disuruh saat menjaga Sukma di ruang ICU Medistra. Sehingga, ketika Sukma dibawa pulang, perawat tadi sudah mahir menanganinya. Keluarga besar Misbach Yusa Biran juga meminta Dokter Sutarman menangani Sukma selama dirawat di rumah. Selain itu, juga didatangkan Dokter Prampilaay, konsultan dokter di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Dokter tersebut memantau Sukma di Medistra selama enam hari dan sehari di rumah.

Setelah semua peralatan beres, Jumat pekan lalu Sukma diboyong ke rumahnya di Perumahan Bukit Sentul. Namun Sukma cuma mencicipi peralatan itu selama 13 jam. Denyut jantung pada 12 jam terakhir terus menurun. Pada pukul 08.30 Sabtu pekan lampau, ketika dokter meraba tangan Sukma. "Tak ada denyut," ujarnya.

Awalnya, Misbach yang diberi info tentang itu merasa kurang yakin. Misbach terus berupaya memastikan kondisi anaknya, lantaran sudah lama Sukma memang tak sadar. Akhirnya Sutarman menggunakan alat monitor jantung. Setelah diperiksa, dugaan Sutarman benar. Detak jantung Sukma tak terbaca lagi.

Sukma telah pergi. Pihak keluarga akan menyumbangkan peralatan itu ke sejumlah rumah sakit yang membutuhkan. "Tapi, mau ke mana, kami masih merundingkannya. Sebab, saat ini kami masih sibuk tahlilan," kata Nina.

Tak cuma itu. Keluarga pun berniat menggugat pihak Medistra atas kelalaian menangani Sukma. Misbach sudah menunjuk pengacara Hotman Paris Hutapea. Atas rencana itu, Salim Haris, dokter yang menangani Sukma di Medistra, enggan menanggapinya secara panjang lebar. Ia pun tak mau bercerita lagi soal Sukma Ayu. "Sebagai dokter, saya sudah melakukan yang terbaik," ujarnya.

Aries Kelana



Hak Meminta Mati

JANJI mendampingi dalam suka dan duka yang diucapkan saat akad nikah, 10 tahun lalu, ditepati Hasan. Saban hari, warga Bogor ini berada di sisi Agian Isna Nauli, yang sudah tiga bulan 10 hari koma. Pria berusia 33 tahun itu hanya bisa menatap wajah istrinya yang terkulai di paviliun Unit Pelayanan Khusus Stroke Soepardjo Roestam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Di lubang hidungnya terpasang selang untuk memasukkan makanan dan minuman. "Ia seperti tumbuhan yang layu, yang harus digerakkan," ujarnya. Di rumah sakit pemerintah ini, Agian cuma dipasok obat-obatan. Dokter yang menangani Agian sudah angkat tangan.

Agian sudah tak berdaya. Mengenali wajah Hasan pun susah. Sementara itu, biaya perawatan terus membengkak. Setidaknya, uang Rp 68 juta sudah amblas untuk menebus obat-obatan buat istrinya. Merasa tidak tahan, Ia ingin membawa pulang istrinya. Tapi dokter RSCM tak mengizinkan. "Bagaimana merawatnya? Apa ini justru menambah penderitaan istri Anda?" kata Hasan, menirukan ucapan dokter.

Untuk menutup biaya, Hasan yang berprofesi sebagai makelar aneka macam barang itu terpaksa berkeliling mencari bantuan. Sejumlah cara dilakukan --dari mengirim surat ke Wali Kota Bogor, DPRD Kota Bogor, sampai mengisi acara di SCTV, RCTI, dan Trans TV. Hasan tidak bisa berharap dari keluarga. Ia dan Agian sudah yatim piatu. "Saya berharap bantuan masyarakat karena ketidakberdayaan saya," ujarnya memelas.

Menurut Hasan, hasil pemeriksaan alat pemindai magnetic resonance imaging, medio Agustus lalu, menunjukkan adanya kerusakan saraf permanen di otak besar dan kecil bagian kiri dan kanan serta otak kecil kiri dan kanan pada diri Agian. Kerusakan juga terjadi di batang otak. Kerusakan ini menyebabkan istrinya tidak bisa menggerakkan hampir seluruh organ tubuhnya.

Semua derita itu berawal dari operasi caesar yang dilakukan dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, Gunawan Muhammad, di Rumah Sakit Islam Bogor, Juni lalu. Kala itu, Agian akan melahirkan anak kedua. Raygie Attila Nurullah akhirnya lahir dengan bobot 1,7 kg. "Sekarang sudah naik jadi 3,4 kg," katanya.

Sehari setelah operasi, petaka itu terjadi. Tensi Agian saat jantung memompa (sistolik) 170 mmHg. Padahal, normalnya 130 mmHg. Gunawan lalu memberikan obat penurun tekanan darah tinggi. Tekanan darah turun drastis jadi 120 mmHg. Tapi ini justru dinilai terlalu rendah.

Tak lama kemudian, dokter memberikan obat untuk menaikkan tensi. Tensi Agian melonjak jadi 190. Obat penurun tensi diberikan lagi. Tiba-tiba saja denyut nadi Agian berhenti sejenak. Lalu tekanannya melonjak lagi menjadi 250. Sampai akhirnya ia tak sadarkan diri. Agian pun dipindahkan ke RSCM.

Hasan kemudian melaporkan Gunawan ke Kepolisian Daerah Jawa Barat. Dokter itu dituding sembarangan memberi obat pada pasien yang baru saja menjalani operasi. Selain itu, masih kata Hasan, Agian tak pernah terjangkit hipertensi, penyakit tekanan darah tinggi.

Hasan pun kini punya bukti kuat. Katanya, Profesor Yusuf Misbach, ahli penyakit saraf, dan Budi Sampoerna --keduanya berpraktek di RSCM-- serta Ikatan Dokter Indonesia sudah menyimpulkan adanya kelalaian dalam tindakan medis. Yaitu: memberikan obat penurun dan penaik tekanan darah dalam waktu hampir bersamaan. Ini menyebabkan tidak masuknya oksigen ke otak.

Jika ini dibiarkan terus, Agian akan menderita. "Kalau hak hidup tidak diberikan, saya minta hak mati, entah apa pun caranya," katanya. Upayanya untuk meminta euthanasia sudah dilakukan di DPRD Bogor. Tapi sayang, ditolak. Menteri Kesehatan Achmad Sujudi, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Farid Anfasa Moeloek, dan pihak RSCM sudah melarangnya. Selain terbentur etika, belum ada aturan soal euthanasia. Jadi, pasrah saja.

Gunawan yang menangani operasi caesar, didampingi Direktur Rumah Sakit Islam Bogor Sowarna, mengatakan bahwa Agian mengalami stroke akibat hipertensi. Stroke itulah yang membuat Agian koma. Sayang, hingga kini Gatra belum berhasil menghubungi Gunawan untuk meminta konfirmasinya.

Rachmat Hidayat
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 47/2004 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Advetorial
Album
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Musik
Nasional
Perjalanan
Ragam
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com