Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Bukan Bola Muntah Gratisan

Masuk putaran kedua, SBY meraup lebih banyak basis Islam. Siapa ambil untung?

SUSILO Bambang Yudhoyono (SBY) anti-Islam. Lingkaran dalamnya disesaki tokoh Kristen garis keras. Opini beginian bergulir kencang menjelang pemilihan presiden (pilpres) putaran pertama, 5 Juli 2004. Namun arus politik berbalik pada pilpres putaran kedua, 20 September silam. Duet SBY-Jusuf Kalla justru berubah jadi tempat penampungan "bola muntah" dari kantong-kantong muslim religius.

Saksikan para kiai NU aliran "haram-presiden-perempuan" yang semula menopang duet Wiranto-Wahid di "tapal kuda" Jawa Timur. Begitu pun bekas pendukung Amien Rais, mulai elemen PKS, PAN, sampai Muhammadiyah. Mereka berbondong-bondong "menghijaukan" pasangan SBY-Kalla yang tadinya dilabeli sekuler.

KH Mas Subadar, seorang tokoh antipresiden perempuan, termasuk yang paling depan menggalang pengalihan suara basis PKB Jawa Timur, dari Wiranto ke SBY. "Sampai kapan pun, saya tidak akan mendukung presiden perempuan," kata Kiai Subadar, pengasuh Pesantren Besuk, Pasuruan, ini. Sebagi satu-satunya calon presiden lelaki yang tersisa, SBY bak menuai durian runtuh.

Arus dukungan para kiai top PKB di Jawa pada SBY mengalir sejak dua pekan usai pilpres putaran pertama. "Tepatnya sejak Wiranto-Wahid diperkirakan tak bisa lolos," kata Munawar Fuad, staf khusus keagamaan SBY. Selain KH Subadar, tokoh NU-PKB yang serempak mengalihkan dukungan ke SBY, antara lain KH Abdullah Faqih (Langitan) dan sejumlah Ketua Dewan Syuro PKB provinsi: KH Anwar Iskandar (Jawa Timur), KH Abdurrahman Chudori (Jawa Tengah), dan KH Warson Munawwir (DIY).

Dukungan kiai itu bukan dengan cek kosong. Dalam pertemuan tertutup 26 kiai Jawa Timur di rumah KH Subadar, 6 September 2004, SBY dimintai komitmennya dalam banyak hal: memberantas korupsi, membenahi pendidikan, serta pengentasan kemiskinan. SBY sanggup bekerja keras. Dukungan pun digelontorkan. "Pilpres putaran kedua ini, perolehan suara SBY di Pasuruan tercatat yang terbesar kedua di Jawa Timur setelah Pacitan," kata KH Idris Abdul Hamid, Rais Syuriyah NU Pasuruan.

Guyuran suara juga berasal dari eks pendukung Amien Rais. PKS memberikan dukungan resmi sejak 26 Agustus. Lagi-lagi, ini bukan dukungan gratis. SBY harus meneken lima nota kesepahaman bersama Presiden PKS Hidayat Nur Wahid. Di antaranya mencakup concern utama PKS: "... mendukung perjuangan Palestina merdeka dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel."

SBY pun harus meralat berita di koran-koran waktu itu bahwa ia berencana membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Selain itu, PKS minta SBY membangun pemerintahan bersih, peduli, dan profesional. Anggota kabinet yang tersangkut korupsi harus mundur. Pemerintahan SBY juga dilarang menjadikan kekuasaan untuk menzalimi umat Islam.

SBY tidak hanya memainkan suara Islam, agaknya juga dikendalikan oleh kepentingan aspiran Islam. Sokongan bersyarat pun diberikan Ustad Arifin Ilham, pemimpin kelompok zikir yang lagi naik daun. Ketika bertemu SBY secara tertutup, Arifin menanyakan komitmen SBY --yang ia panggil "ayahanda"-- dalam memberantas korupsi.

"Ayahanda, terus terang sebelumnya kami mendukung Amien Rais. Bedanya Ayahanda dengan Amien Rais hanya satu, Ayahanda sangat tawadlu. Bila nanti terpilih, bagaimana langkah Ayahanda memberantas korupsi?" ujar Arifin, seperti dituturkan Munawar Fuad. SBY berjanji akan memulai dari diri sendiri dan memimpin langsung proses pemberantasan korupsi.

PAN bersikap netral. Tapi banyak elite PAN merapat ke SBY. PKB juga begitu. Sikap resminya netral, tapi Alwi Shihab, Ketua Umum PKB, ke mana-mana menempel SBY-Kalla. Muhammadiyah juga netral. "Tapi komunikasi terbaik Pak Bambang justru dengan Muhammadiyah," ujar Munawar Fuad.

Organisasi wanita Muhammadiyah, Aisyiyah, dikabarkan paling all-out mendukung SBY. Mereka menyediakan logistik para saksi kubu SBY-Kalla. "Aisyiyah memang biasa bekerja all-out," kata Prof. Dr. Chamamah Soeratno, Ketua Umum Aisyiyah. "Itu karena kami menanamkan kesadaran pentingnya perubahan."

Merapatnya elite Islam seirama dengan meminggirnya elite Kristen dari lingkaran SBY. Tampilan publik SBY belakangan memang lebih "hijau", karena sering diapit wajah Hidayat Nur Wahid dan Alwi Shihab. Sementara wajah T.B. Silalahi dan E.E. Mangindaan, Sekjen Partai Demokrat, makin jarang terlihat.

Pendiri Partai Demokrat, Dr. Ahmad Mubarok, menilai gejala ini sebagai hal wajar. "Karena mayoritas, wajar bila muslim mewarnai," katanya. Apakah pemerintahan SBY nanti juga lebih berwarna "hijau"? Bukan mustahil. Tapi politisi Islam jangan terkecoh dulu. Siapa tahu hijaunya "loreng".

Asrori S. Karni, Luqman Hakim Arifin, dan Mujib Rahman (Surabaya)
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 47/2004 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Advetorial
Album
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Musik
Nasional
Perjalanan
Ragam
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com