Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Zig-zag di Jalur Hijau

Sejumlah kiai menjadi suporter loyal Susilo Bambang Yudhoyono, secara terbuka serta diam-diam. Ada yang mendukung SBY karena mengaku mendapat petunjuk dari Tuhan, ada pula yang karena perhitungan politis yang matang. Tampilnya para kia itu bisa membuat citra Islami bagi SBY. Bagaimana SBY mengakomodasi kepentingan para kiai itu? Siapa saja mereka?

SBY Saat Mengunjungi Sebuah Pesantren di Makassar; 6 Agustus 2004 (Yahoo! News/REUTERS/Yusuf Ahmad)IA duduk bersila di teras rumah. Mulut pria itu komat-kamit melafalkan zikir. Jam yang tergantung di atas pintu rumah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Menjelang tengah malam, laki-laki itu dikejutkan oleh sesosok manusia bertubuh besar terbang di atas awan. Sosok itu dikelilingi awan di sekitar pinggangnya. Awan putih cerah.

Saat itu, langit terang benderang menyinari seluruh bumi. Pria itu bagai melihat layar lebar di depannya. Ia memeras otak untuk mengenali sosok tubuh itu. "Itu Presiden Soeharto," katanya dalam hati. Sejurus kemudian, kaki Soeharto menjejak di bumi. Ledakan hebat menggelegar.

Awan yang tadi menyelimuti pinggang tiba-tiba masuk ke perut Soeharto lewat pusar. Langit gelap gulita. Tak lama kemudian, seberkas cahaya terang keluar dari tengkuk Soeharto. Bola cahaya itu terangkat meninggi. Langit kembali terang benderang. Bumi menjadi cerah.

KH Achmad Muzakky Syah, pria yang sedang berzikir tadi, tidak beranjak dari tempat duduknya. Aneh, seakan-akan rohnya menangkap cahaya tersebut dan masuk lewat mulut. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri, Patrang, Jember, Jawa Timur, itu merasakan ada sesuatu dalam tubuhnya. "Ada apa ini?" Muzakky bertanya-tanya.

Lewat tengah malam, usai menyaksikan kejadian "aneh" itu, ia tak bisa tidur. Ia merasa cahaya yang masuk ke tubuhnya berbicara agar dicarikan tempat tubuh yang umurnya lebih muda dari dia. Ia menangkap gambaran sosok tubuh yang dituju. Tapi tidak mengenali persis siapa orangnya.

Sejak kejadian 23 Oktober 1997 itu, selama tiga hari Muzakky merasakan hawa panas. "Semua orang yang saya ceritai tidak ada yang percaya. Termasuk anak saya," kata Muzakky. Bagai orang linglung, Muzakky ngomong ngalor-ngidul.

Sampailah pada 26 Oktober 1997, datang seseorang yang mengaku utusan Wiranto, Panglima ABRI saat itu. Utusan itu mengaku diminta membawa Muzakky ke Jakarta. Utusan itu mengaku bahwa Wiranto mendapat perintah dari 33 paranormal Presiden Soeharto untuk mencari kiai yang bertahi lalat di pipi. Domisilinya di "tapal kuda", sekitar Jember dan Banyuwangi.

Muzakky manut saja. Padahal, saat itu Jakarta sedang dilanda aksi demo dan rusuh. Sang kiai dibawa ke sebuah hotel di Cempaka Putih, di kamar 9 lantai 9. Saat itulah Muzakky bertemu Susilo Bambang "SBY" Yudhoyono, Kepala Staf Teritorial ABRI yang diutus Wiranto bertemu Muzakky.

Tiba-tiba tubuh pemimpin Jamaah Manaqib Abdul Qadir Jailani itu bergetar hebat, seolah-olah ada yang mau keluar dari tubuhnya. Setelah menatap mata SBY, bisikan muncul: "Ini orangnya." "Berapa umurmu," tanya Muzakky. Setelah dijawab 48 tahun, Muzakky makin yakin. Sebab, umur SBY lebih muda setahun ketimbang Kiai Muzakky.

Setelah tahu nama SBY, tanpa basa-basi Muzakky langsung memegang kepala SBY dan menciumi ubun-ubunnya. Kepala SBY penuh ludah Kiai Muzakky. Anehnya, meskipun kamar hotel ber-AC, kedua tubuh itu mandi keringat. Sebuah kebetulan atau tidak, semua terjadi pada angka 9: pukul 9, di kamar nomor 9, lantai 9.

Prosesi aneh ini disaksikan Munawar Fuad Noeh, penulis buku SBY dan Islam. Kemudian H. Ali Mudori, anggota DPR dari PKB, dan Suyuti. Kepada ketiga saksi, Muzakky bilang bahwa SBY seorang presiden. Muzakky berpesan agar SBY jujur. Keduanya tidak boleh bertemu sampai SBY jadi presiden.

Sejak itu, SBY-Muzakky hanya berhubungan lewat telepon. Saat kampanye putaran terakhir di Aceh pada pemilu presiden putaran pertama, SBY menghubungi sang kiai, minta doa agar selamat. Doa Muzakky lewat telepon diamini SBY. Setelah itu, keduanya bertelepon dua kali lagi, 22 Juli dan 26 Agustus, persis setiap malam Jumat Legi.

Sejak telepon pertama itu, tanpa perintah SBY, Muzakky menggelar doa untuk SBY setiap malam Jumat sembari menyembelih kambing peliharaan. Agar yang berdoa ikhlas, Muzakky bilang ada santrinya di Jakarta yang syukuran dan minta doa. Cuma, di setiap doa, Muzakky selalu menyebut nama "SBY" dan "Indonesia", dan meminta jamaah membaca Al-Fatihah 33 kali. Tidak tanggung-tanggung, Muzakky yang menerima surat resmi sebagai penasihat spiritual SBY itu menghabiskan 11 ekor kambing.

Akhirnya, seperti sama-sama kita saksikan, pasangan SBY-Jusuf Kalla (JK) tidak hanya lolos di pemilu putaran pertama. Sampai Rabu lalu, SBY-JK mengungguli perolehan suara (60%) pasangan Megawati-Hasyim Muzadi (40%). Meskipun Komisi Pemilihan Umum baru resmi mengumumkan pemenang pemilu pada 5 Oktober nanti, perolehan suara SBY-JK tampak tak terbendung. Seperti "bisikan aneh" Kiai Muzakky, SBY tampaknya bakal menjadi presiden, menggantikan Megawati Soekarnoputri.

"Tanda-tanda" SBY bakal menjadi orang nomor satu di negeri ini juga diutarakan KH Ahmad Khairun Nasihin. Pengasuh Pesantren AKN Marzuqi, Desa Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah, itu mengaku gelisah begitu Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid dilengserkan oleh MPR karena kasus Bulog. Ia lantas salat istikharah berulang-ulang, eh, yang muncul sosok SBY. "Padahal, saya belum kenal beliau," kata Nasihin.

Suatu ketika, Ketua Jam'iyah Ahli Thariqoh Mu'tabaroh Indonesia (JATMI), Maktub Effendy, menghubungi Kurdi Mustofa, 52 tahun, staf pribadi SBY. Intinya, Maktub mau beraudiensi dengan Menko Polkam itu mengenai rencana Muktamar JATMI. Saat itulah Maktub memperkenalkan Nasihin, Ketua Penasihat (Mustasyar) JATMI, kepada SBY di kantor Menko Polkam. Organisasi ini mengundang SBY saat Muktamar JATMI di Pesantren AKN Marzuqi, 3 September 2003.

Saat itu, hadir sejumlah petinggi penting negeri ini. Selain Gus Dur, ada Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Wakil Presiden Hamzah Haz, serta Menteri Komunikasi dan Informasi Syamsul Mu'arif. Dalam acara itu, Kiai Nasihin secara eksplisit mendukung SBY menjadi salah satu kandidat capres. Bahkan, di depan peserta muktamar, Nasihin mengalungkan serban ke pundak SBY seraya memeluk tubuh tinggi tegap itu. "Ini untuk mengikat bangsa," kata Nasihin. "Siap," sahut SBY.

Sejak itu, Nasihin yang mengklaim SBY menjadi murid dan masuk thariqoh-nya ini punya kedekatan khusus dengan capres Partai Demokrat itu. Bahkan, kata Nasihin, dialah yang meminta SBY mendirikan partai, mundur dari jabatan Menko Polkam, menjadi capres, dan menjodohkan SBY dengan JK lewat sebuah pertemuan, 11 April lalu. Saat itu, JK masih menjadi salah satu peserta konvensi Partai Golkar (baca: Angkat Menteri Bukan Pendusta).

Benarkah langkah-langkah politik SBY "didikte" lewat kejadian-kejadian "aneh" itu? Memang, sejak banyak orang menggadang SBY sebagai pemimpin, banyak orang berkontribusi memberi taushiyah (nasihat), terutama kiai. "Semua dihormati dan ditempatkan sama, sepanjang taushiyah ulama itu bersumber dari Al-Quran dan sunah Rasulullah," kata Kurdi Mustofa.

SBY akan nurut (sami地a wa atha地a). Di mata SBY, tidak ada guru spiritual yang sangat khusus, baik Nasihin maupun Muzakky. Menurut Kurdi, pemahaman agama SBY dipupuk secara otodidak dengan membaca buku-buku yang luar biasa banyaknya.

Dari 15.000 judul buku di perpustakaan pribadi SBY, 15% di antaranya buku-buku agama. Bukan hanya empat jilid buku Harun Yahya tentang perkembangan Islam, semua tafsir Al-Quran yang telah diindonesiakan --antara lain tafsir Al-Azhar, Buya Hamka, dan Ibnu Katsir-- tersedia. Buku Cak Nur juga diminati. Semua itu, kata Kurdi, dilahap SBY sebagai obat stres.

Bagi KH Ahmad Mubarok, kolega SBY yang juga pendiri Partai Demokrat, SBY sangat rasional. "Dia tidak mau menyakiti orang," kata Mubarok. Bahkan, menurut KH Ma'ruf Amin, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, SBY tidak perlu seorang penasihat spiritual. "Beliau itu sudah jadi. Pemahaman agamanya sudah bagus, tidak perlu saya isi lagi," kata Amin.

Ma'ruf Amin pertama kali bertemu SBY di Hotel Regent Jakarta, 22 Juni lalu. Namun pertemuan klarifikasi itu berubah menjadi dukungan Amin kepada SBY, setelah mantan Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) itu mendengar penjelasan sang capres. Aksi pertama Amin sebagai pembaca doa pada kampanye SBY di Senayan. Sejak itu, banyak yang menanyakan sikapnya.

Akhirnya, Amin menulis dalam enam lembar kertas berjudul "Mengapa Harus Pilih SBY?". Orang dekat SBY kemudian mencetak menjadi buku berjudul Mengapa Wajib Pilih SBY? Menurut sumber Gatra, Ma'ruf Amin sengaja didekati. Di tengah minimnya dukungan kiai representasi NU, masuknya Amin mengesankan SBY-JK didukung kiai-kiai NU. Hal ini penting, karena SBY-JK harus berebut suara NU dengan pasangan Mega-Hasyim.

Di sisi lain, SBY sangat berkepentingan meng-"hijau"-kan dirinya. Mengapa? Tentunya untuk menghadang isu-isu miring yang menerpa dirinya sepanjang pemilu presiden 5 Juli dan 20 September lalu. Soal istri SBY, misalnya. Hanya karena namanya Kristiani Herrawati, anak Jenderal Sarwo Eddie Wibowo itu dicap sebagai pemeluk Kristen.

SBY juga disebut sebagai muslim abangan yang pindah agama, dikelilingi orang nonmuslim, bahkan menangkapi aktivis Islam. Semua itu membuat SBY kerepotan. Tapi SBY bukanlah jenderal kemarin sore. Peraih penghargaan Adi Makayasa di Akabri tahun 1973 itu punya kalkulasi politik yang matang mengapa perlu mendekati kelompok "hijau" (baca: Islam).

Lewat staf khusus keagaman yang direkrutnya, SBY menganalisis secara matang, kiai-kiai dari pesantren mana saja yang perlu didatangi. Jika menyangkut ormas, seberapa besar jaringannya. "Prioritasnya, bagaimana nilai strategis pesantren dan ormas itu bagi dukungan SBY," kata Munawar Fuad Noeh, staf keagamaan khusus SBY.

Fuad, alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan dosen agama di STIE Perbanas, bertugas menganalisis itu. Fuad harus menyelami pengaruh pesantren di masyarakat dan seberapa besar tingkat karisma tokoh pesantren yang akan didatangi SBY. Pointer-pointer apa saja yang harus disampaikan SBY pun dibahas khusus. Bahkan, bagaimana mengeja nama pesantren dan nama kiai yang benar menjadi perhatian khusus. Bagi orang lain mungkin, ini sepele. Tapi, bagi SBY, ini serius.

Selain Fuad, ada KH Ahmad Mubarok yang bertugas mendekati kiai-kiai nonstruktural NU. Ada pula Kurdi Mustofa. Lewat tiga orang kepercayaan inilah SBY mulus bertandang ke sejumlah pesantren, menemui kiai-kiai karismatik, dan berdialog dengan kelompok-kelompok ormas Islam.

Lewat Mubarok, disaksikan Sudi Silalahi, SBY dibaiat sebagai anggota Thariqoh Naqshbandi Haqqani, Juli 2003. Yang membaiat pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949, itu adalah Syaikh Muhammad Hisham Kabbani. Kabbani adalah orang kedua thariqoh ini setelah Syaikh Nazim Al-Qubrusi Al-Haqqani di Cypruss. Kabbani tinggal di Washington, Amerika Serikat. Setelah membaiat, mata batin Kabbani mengatakan, SBY akan "menjadi" presiden. "Jadi! Jadi!" ujar Mubarok, menirukan ucapan Kabbani kepada SBY kala itu.

Lewat para "cantrik" politik inilah, tema besar "silaturahmi" SBY dibangun. Ini, kata Fuad, guna membangun citra SBY sebagai bapak bangsa dan tokoh nasionalis-religius --seperti ideologi Partai Demokrat. Dengan kalkulasi yang matang, di tengah sempitnya waktu, semua digelar dengan takaran yang tepat dan terukur. Jangan sampai overdosis.

SBY, kata Fuad, berusaha menjaga titik keseimbangan hubungan dengan berbagai kalangan dan kelompok agama. SBY tidak mau dikesankan tenggelam pada kelompok agama tertentu. Ia belajar dari rendahnya dukungan pemilih kepada Hasyim Muzadi karena "terlalu" NU atau Amien Rais karena "kelewat" Muhammadiyah.

Fuad memberikan contoh. Ketika menghadiri zikir di Majlis Az-Dzikra pimpinan Arifin Ilham di Depok, 5 September lalu, SBY menolak memakai kopiah putih seperti yang dipakai jamaah. Ia mengenakan kopiah hitam untuk menjaga "netralitas" dan kesan sebagai tokoh nasional.

Wajar bila pada akhirnya SBY mendapat dukungan demikian luas dari kalangan "hijau". Tanpa dikomando, banyak kiai, kelompok masyarakat, atau pribadi-pribadi yang menggelar pengajian atau doa bersama secara diam-diam untuk SBY.

Dipimpin Habib Abdul Rahman M. Al-Habsyi, pimpinan Islamic Center Indonesia, yang berlokasi di Jalan Kramat Kwitang, sejak lima bulan lalu diadakan pengajian di rumah SBY di Cikeas, Bogor, setiap malam Jumat. Pesertanya sekitar 500 orang.

Seminggu penuh menjelang 20 September lalu, di rumah SBY di Jalan Bali, Blitar, Jawa Timur, digelar salat isya, diteruskan dengan salat hajat berjamaah. Dipimpin imam H. Abdullah Hafidz, tokoh agama setempat, aksi ini diarsiteki Siti Habibah, ibunda SBY. "Saya mohon doa untuk anak saya," kata Habibah kepada Nurul Fitriyah dari Gatra.

Aktivitas serupa dilakukan keluarga SBY di Desa Ploso, Pacitan, Jawa Timur. Tidak cuma itu. Tanpa diminta, sejumlah kiai bahkan mengirim doa-doa untuk SBY. Sebut saja KH Irfan Hielmy, pengasuh Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat. Pada 14 September lalu, Hielmy secara khusus mengirim doa-doa pendek untuk SBY dalam empat lembar kertas. Ada doa ketika menghadapi kesulitan luar biasa dan doa menghadapi rencana berat.

KH Abdul Mukti asal Magelang malah menciptakan salawat khusus, "Salawat SBY". Selama pemilihan presiden putaran kedua, SBY diminta Mubarok mengamalkan dua hal: tahajud semampunya setiap malam dan wiridan sebanyak 70.000 kali dalam majlis zikir dengan lafadh: hasbiyallah wa ni知al wakil, ni知al maulaa wa ni知an nashiir (bagi saya, cukup Allah sebaik-baik pelindung dan penolong).

Di Aceh, Tgk. H. Muhammad Daud Ahmady, 55 tahun, pada pemilihan pemilihan presiden putaran pertama hanya memberikan sinyal kepada santri dan masyarakat sekitar agar tidak memilih presiden wanita. Sedangkan pada putaran kedua, pimpinan Pesantren Darul Huda, Lueng Angen, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, itu mengultimatum santrinya untuk memilih SBY-JK.

Bahkan, Daud mengajak jamaah membaca surat Yaasin tiga malam berturut-turut di pesantrennya. Intinya, ia beroda agar rakyat memilih SBY-JK. Lewat itu semua, SBY akhirnya tercitrakan sebagai capres berwarna "hijau".

Ketika capres lain kesulitan masuk ke sebuah pesantren atau bertemu pengasuhnya, putra tunggal pasangan Soekotjo-Siti Habibah itu dengan mudah keluar-masuk satu pesantren ke pesantren lain. Ini, misalnya, terjadi di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang diasuh Dewan Pengurus Pesantren Al-Munawwir.

Sesepuh Pesantren Al-Munawwir, KH Zaenal Abidin Munawwir, secara khusus bersedia menerima SBY di ruang pribadinya, 21 Juni 2004. Itu dilakukan sebelum SBY berkampanye di Lapangan Denggung, Sleman. Padahal, Pak Kiai pernah menolak Megawati. Wiranto saat berpasangan dengan Salahuddin Wahid pun cuma diterima selama lima menitan. Bahkan, Amien Rais hanya diterima oleh istri KH Zaenal, Nyai Ida Fatimah Zaenal.

SBY memang luwes. Ketika masih aktif di militer, ia dikenal dekat dengan sejumlah kiai dan ulama di tempat berdinas. Contohnya, ketika menjadi Pangdam II/Sriwijaya di Palembang pada 1996, ia sering mengundang KH Muhammad Zen Syukri berceramah. Pimpinan Pondok Pesantren Undaris, Palembang, kelahiran Arab Saudi, 10 Oktober 1919, ini adalah sosok kiai sepuh yang punya pengaruh luas di Sumatera Selatan. Kiai dengan 1.500 santri ini, yang tak lain guru SBY, malah menjadi tim sukses SBY-JK di sana.

Tampaknya SBY memang selalu berupaya membekali dirinya sebelum terjun ke suatu komunitas. Ketika berinteraksi dengan kalangan pesantren, misalnya, ia dengan mudah berzig-zag. Bahkan bisa melebur dan menyatu. Sebab, sebelumnya ia sudah menyerap tradisi pesantren, bahkan menguasai idiom-idiom atau "bahasa politik" khas pesantren. Tak mengherankan bila komunikasi SBY dengan pengasuh pesantren berlangsung intens, gayeng, dan cair. "Pak SBY melakukan riset sendiri. Beliau membaca bagaimana kultur pesantren," kata Fuad.

Kalau belakangan SBY makin fasih dan akrab menggunakan kata "insya Allah", "tabayun" (cross check), "kami datang untuk bersilaturahmi", atau "mohon taushiyah para kiai", itu adalah hal biasa. Lewat "bahasa politik" pesantren inilah SBY bisa bermain cantik. Ia tidak pernah meminta dukungan dengan bahasa vulgar, seperti "mohon pilih saya" dan sejenisnya. "Ia ingin membangun hubungan langsung dengan pesantren, tanpa jarak, dan tak ingin pesantren menjadi objek politik," tutur Fuad.

Jika kemudian di kantong-kantong "pendukung sukarela" itu SBY-JK meraup banyak suara pemilih, tampaknya wajar-wajar saja. Di Sumatera Selatan, misalnya, pada pemilihan presiden putaran kedua, SBY-JK meraih mayoritas suara di delapan dari 12 kabupaten.

Di kantong-kantong "hijau" bekas pemilih Amien Rais-Siswono (di Aceh, misalnya) atau Wiranto-Wahid di wilayah "tapal kuda", atau komunitas pendukung PKS di Jakarta, banyak yang lari ke SBY-JK. SBY tampaknya paham benar, kiai --meminjam istilah sejarawan Kuntowijoyo-- memang ampuh dijadikan political broker.

Khudori, Asrori S. Karni, Alfian, Luqman Hakim Arifin, Syamsul Hidayat (Semarang), Noverta Salyadi (Palembang), Ibrahim Passe (Banda Aceh), dan Taufan Luko (Surabaya)



Tiga Pintu Masuk Kiai

DI antara puluhan orang yang mengelilingi Susilo Bambang "SBY" Yudhoyono, ada tiga orang yang punya tugas khusus. Mereka mengurusi soal-soal yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Ketiga orang ini, KH Ahmad Mubarok, Munawar Fuad Noeh, dan Kurdi Mustofa, disebut sebagai pintu masuk bagi kiai yang ingin bertemu dengan SBY.

Di kalangan dekat SBY, Ahmad Mubarok disebut sebagai penasihat spiritual SBY. "Saya tidak mau mengaku begitu. Saya juga tidak merasa begitu," kata Ahmad Mubarok. Toh, suatu kali, ketika bertemu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, SBY memperkenalkan Mubarok sebagai penasihat spiritualnya.

Lain lagi dengan Kurdi Mustofa. Lulusan IAIN Walisongo, Semarang, ini lebih dikenal sebagai guru ngaji-nya SBY. Selain kawan diskusi soal agama, Kurdi juga memimpin kegiatan pengajian di rumah SBY. Sedangkan Munawar Fuad Noeh lebih banyak sebagai "jembatan" antara SBY dan komunitas agama seperti pesantren.

KH Ahmad Mubarok

PRIA kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 15 Desember 1945, ini termasuk satu dari sembilan penggagas berdirinya Partai Demokrat. Ia pertama kali berkenalan dengan SBY dalam sebuah seminar, jauh sebelum mendirikan partai. Mubarok ikut menandatangani pencalonan SBY sebagai wakil presiden pada Sidang Umum MPR 2001.

Pada saat itu, Mubarok adalah anggota DPR/MPR dari utusan Golongan (cendekiawan). Menurut Mubarok, kala itu SBY akan dicalonkan oleh sebuah fraksi Islam. "Tapi, belum apa-apa, orang fraksi itu minta uang. SBY menolak. Saya jadi terpanggil," kata Mubarok, yang mengumpulkan 100 tanda tangan dukungan untuk pencalonan SBY sebagai wakil presiden.

Meski gagal menggolkan SBY sebagai wakil presiden untuk Megawati, hubungan Mubarok dengan SBY terus berlanjut. Selama proses pemilihan presiden 2004, ia masuk jajaran tim sukses SBY-JK. Tugasnya, mendekati kiai-kiai nonstruktural Nahdlatul Ulama.

Selain sibuk di tim sukses SBY-JK, Mubarok sehari-hari mengurus pesantren. Lulusan IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri), Jakarta, 1971 ini mengasuh dua pesantren. Pesantren Fi Sabilillah di Kampung Sawah, Bekasi, dan Pesantren Pengembangan Masyarakat Fi Sabilillah di Cilangkap, Jakarta Selatan.

Munawar Fuad Noeh

ALUMNUS Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1998, ini dikenal sebagai penulis produktif. Salah satu bukunya adalah Islam dan Gerakan Moral Anti-Korupsi (1997). Pria asal Kampung Babakan Cibarusah, Bekasi, ini adalah Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (2000-2005).

Fuad, begitu pria kelahiran 16 Mei 1970 ini biasa dipanggil, pertama kali berkenalan dengan SBY saat masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu, SBY masih menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya, dan Fuad Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Syariah, IAIN Syarif Hidayatullah.

Sejak itu, hubungan Fuad-SBY makin dekat. Di tim sukses SBY-JK, Fuad bertindak sebagai "staf khusus keagamaan". Dia bertugas mengatur komunikasi SBY dengan tokoh dan komunitas agama: pesantren, kiai, pimpinan ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, termasuk tokoh-tokoh lintas agama.

Fuad bertugas membuat analisis mendalam tentang individu atau kelompok yang akan dikunjungi SBY. Kelompok dan individu itu ditakar nilai strategisnya bagi proses pemenangan SBY. Fuad mengatur semuanya sejak persiapan sampai evaluasi akhir. "Karena SBY memang menginginkan segalanya perfect," katanya.

Kurdi Mustofa

BERSAMA Munawar Fuad Noeh, Kurdi Mustofa mengedit buku tulisan SBY Mengatasi Krisis Menyelamatkan Reformasi (2000). Sejak delapan tahun lalu, Kurdi menjadi staf pribadi SBY. Tugasnya, selain membantu SBY berhubungan dengan kelompok-kelompok Islam, juga kadangkala menuliskan draf pidato SBY.

Pria kelahiran Salatiga, 12 Mei 1952, ini aktif berdakwah dan menjadi pimpinan pengajian di rumah SBY setiap malam Jumat. Lewat Kurdi-lah KH Ahmad Khairun Nasihin berkenalan dengan SBY. Waktu itu, SBY masih menjabat sebagai Menko Polkam.

Ketika itu, ketua Jamaah Ahli Thoriqoh Mu'tabarih Indonesia-Organisasi Tarekat Indonesia, KH Maktub Effendy, menelepon Kurdi, meminta bertemu dengan SBY karena akan melaksanakan muktamar. Dalam pertemuan itulah KH Nasihin ikut serta. "Ini penasihat kami, KH Nasihin, yang juga sahibul bait muktamar," kata KH Maktub.

Luqman Hakim Arifin dan Asrori S. Karni



Mustika Masih di Tangan Fuad

SEPASANG batangan kayu mungil itu dinamai Sodo Lanang. Kayu yang satu panjangnya 11 cm, dan lainnya 9 cm. Keduanya berwarna hitam, dan masing-masing besarnya tak melebihi selingkaran rokok. Bila Sodo Lanang dimasukkan ke dalam air, misalnya pada sebuah gelas, keduanya tetap berdiri tegak.

Sodo Lanang yang lebih pendek berdiri tegak di dasar air. Sedangkan Sodo Lanang yang panjang, eh, malah tegak persis di atas si Sodo Lang pendek. Tapi, jika airnya diobok-obok, sang Sodo Lanang besar akan turun. Lalu berdiri di samping si kecil. Aneh, memang.

Benda langka itu, oleh pemiliknya, Djohan Surya Purnama Salim, diberikan kepada calon presiden idolanya, Susilo Bambang "SBY" Yudhoyono. Djohan, 60 tahun, kolektor barang antik asal Madiun, Jawa Timur, awal September lalu menyerahkan Sodo Lanang untuk SBY lewat Munawar Fuad Noeh, staf khusus SBY bidang keagamaan.

Hingga akhir pekan ini, Sodo Lanang masih berada di rumah Munawar di kawasan Depok, selatan Jakarta. "Pak Bambang minta saya menyimpan barang tersebut. Kalau sudah jadi presiden, agar barang titipan itu dikembalikan pada pemiliknya," kata Munawar Fuad.

Walau demikian, Djohan tak hendak menerima kembali Sodo Lanang. "Dia sudah saya serahkan dengan ikhlas pada Pak SBY. Dan saya tidak mengharap imbalan apa pun," kata Djohan Surya, pemilik toko variasi mobil dan bengkel mobil Surya Abadi Motor di Jalan Musi, Madiun.

Ia menyatakan, Sodo Lanang bukanlah benda klenik semacam batu ajian, keris, atau tombak sakti. Sodo Lanang hanyalah benda yang terbentuk oleh kekuatan alam. "Karena Sodo Lanang menghimpun kekuatan lama, dia punya daya linuwih, berbeda dengan kayu atau sodo (lidi) lainnya," kata Djohan Surya.

Sodo Lanang itu, menurut Djohan, berasal dari puncak Gunung Lawu. Seseorang mendapat benda tersebut, lantas menyerahkannya pada Djohan yang selama ini dikenal sebagai kolektor benda-benda pusaka. "Orang yang mendapatkan Sodo Lanang itu minta saya menyerahkan pada Pak SBY," ujar Djohan.

Ternyata bukan hanya Djohan Surya yang rela menyerahkan "benda pusaka" pada SBY. Munawar Fuad mengaku sering menerima titipan berbagai macam jenis benda yang oleh pemiliknya dipercaya punya kekuatan magis. "Mereka minta saya memberikan benda-benda itu pada Pak Bambang," kata Munawar Fuad.

Ada yang memberi tasbih "sakti", ada juga yang menyerahkan lempengan besi kecil yang diyakini sebagai kalung Gajah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit. Benda tersebut dinamai Mustika Tahta Kerajaan Tanah Jawa. Pemilik benda itu minta Fuad menyerahkan pada SBY. Ia mewanti-wanti agar SBY mengenakan Mustika Tahta saat berlangsung coblosan pemilihan presiden putaran kedua, agar bisa menang.

Tapi, sampai pemilihan presiden putaran kedua usai, Mustika Tahta masih di tangan Fuad. Sebab, bukan hanya pemilik Mustika Tahta yang ingin SBY mengenakan "benda pusaka" titipannya. Banyak orang yang punya keinginan serupa.

Seorang kiai pengasuh pesantren di Banyuwangi, Jawa Timur, misalnya, juga memberikan rompi penolak bala untuk SBY. Pak Kiai itu minta SBY memakai rompi pemberiannya. "Lha, kalau Pak SBY mau memakai semua benda titipan para simpatisan itu, beliau malah kelihatan seperti orang gila," kata Munawar Fuad sambil tersenyum.

SBY sendiri tak tega menolak pemberian benda-benda klenik yang datang dari pelbagai lapisan masyarakat. Karena, menurut Munawar Fuad, hal itu merupakan bentuk ekspresi dukungan kepada SBY. "Kalau Pak SBY menghargai dukungan itu, bukan berati beliau menganut paham klenik," kata Munawar Fuad pula.

Suvenir klenik untuk SBY tidak hanya masuk lewat Munawar Fuad. Banyak pula yang disalurkan melalui anggota tim kampanye SBY lainnya. Ketua Umum Partai Demokrat, Subur Budhisantoso, mengaku kewalahan menerima titipan benda klenik dari masyarakat. "Ada yang berwujud keris, batu, dan bunga yang sudah diberi doa. Semuanya masih saya simpan di lemari, belum sempat menyerahkannya kepada Pak SBY," kata Subur Budhisantoso.

Setelah SBY terpilih sebagai presiden, kemungkinan masih banyak warga yang akan menyerahkan benda "pusaka" kepadanya. Djohan Surya, pemilik Sodo Lanang tadi, pekan depan berniat menyerahkan dua bilah keris pusaka dan setangkai tombak sakti.

Heddy Lugito, Asrori S. Karni, dan Luqman Hakim Arifin
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 47/2004 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Advetorial
Album
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Musik
Nasional
Perjalanan
Ragam
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com