Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTRIK & MESKIPUN TETAPI

Philosophical Identity

Sebuah perusahaan bisa saja punya merek yang bagus dan berlogo indah. Tapi, karena miskin philosophical identity, merek itu hanya menjadi semacam manekin. Sosok dan wajah tanpa makna yang mudah dilupakan.

APA yang membedakan sebuah merek biasa dengan "cult brands"? Begitu pertanyaan seorang pembaca kolom ini kepada saya. Dalam bahasa sehari-hari, cult seringkali diartikan sebagai sekte, aliran, atau kepercayaan, di mana para penganutnya sangat patuh dan cenderung fanatik. Cult brands tercipta dengan mekanisme yang mirip. Hampir semua merek cult brands memiliki komunitas yang fanatik.

Salah satu merek yang menyandang predikat cult brands adalah Harley Davidson. Merek sepeda motor ini telah berusia lebih dari 100 tahun, dan sangat legendaris. Hampir di tiap negara ada komunitasnya yang disebut Harley Davidson Club. Begitu fanatiknya, tak jarang ada penggemar merek sepeda motor ini yang membuat rajah lambang Harley Davidson di tubuhnya.

Apa yang menjadi perekat komunitas penggemar Harley Davidson? Jawabnya sederhana, komunitas Harley Davidson memiliki citra gaya hidup yang mengagungkan kemerdekaan atau freedom. Seorang direktur bank yang juga merupakan fans berat Harley Davidson mengatakan, tidak ada yang lebih asyik selain menikmati desir angin di jalan sunyi di atas motor Harley Davidson pada akhir pekan. Rasanya merdeka penuh. Totalitas yang sempurna.

Bagi teman saya itu, memakai kaus Harley Davidson, celana kulit, sepatu bot, dan ikat kepala sambil mengendarai Harley Davidson bukanlah sekadar ungkapan emosi biasa. Melainkan sudah menjadi sesuatu yang sifatnya mirip pengalaman spiritual. Inilah yang disebut "philosophical identity". Merek biasa hanya memiliki "brand identity". Yaitu identitas fisik berupa nama merek, bentuk logo, tipe huruf, dan warna yang khas. Lain dengan philosophical identity yang sifatnya lebih filosofis. Mirip roh yang merasuki setiap penggemarnya.

Sebuah perusahaan bisa saja punya merek yang bagus dan berlogo indah. Tapi, karena miskin philosophical identity, merek itu hanya menjadi semacam manekin. Sosok dan wajah tanpa makna yang mudah dilupakan. Merek semacam ini tidak lengket dengan konsumennya, dan tidak mampu menjalin hubungan spiritual.

Lalu, apakah cult brands hanya beroperasi pada segmen pasar yang eksklusif dan memiliki posisi ceruk? Tidak juga. Banyak merek besar saat ini yang mengadopsi strategi cult brands untuk menciptakan loyalitas di kalangan konsumennya. Strateginya sederhana, yaitu merumuskan philosophical identity, lalu membangun komunitas fanatik di sekitarnya.

Salah satu merek Indonesia yang punya potensi menjadi cult brands adalah mobil Kijang. Merek Kijang cukup fenomenal. Sebenarnya merek ini hanya pendamping dari Toyota di Indonesia, atau yang dikenal sebagai sub-brand. Namun, setelah 20 tahun lebih, merek Kijang sebagai pendamping tak kalah kuatnya dengan merek utamanya, yaitu Toyota.

Begitu kuatnya merek ini menancap di kepala konsumen, sehingga menimbulkan bisik-bisik dan aturan tak tertulis bahwa setiap peluncuran merek mobil di Indonesia mengikuti Kijang. Yaitu memakai nama hewan. Maka, muncullah sejumlah nama merek mobil pendamping, seperti Panther, Zebra, dan Kuda.

Lalu, apa yang menjadi philosophical identity Kijang? Walaupun tidak terumuskan secara sengaja, kehadiran Kijang melekat dengan awal kebangkitan kelas menengah di Indonesia, pada akhir 1970-an. Kijang memberikan salah satu ciri dan identitas kemakmuran kelas menengah di Indonesia. Kijang menjadi mobil keluarga yang serba guna bagi kelas menengah di Indonesia.

Singkat kata, tanpa mobil Kijang, Anda belum layak jadi kelas menengah di Indonesia. Tak mengherankan, ketika Kijang meluncurkan model barunya belum lama ini, hanya dalam beberapa hari pesanan yang mengalir mencapai 18.000 unit.

Kafi Kurnia
peka@indo.net.id



SBY

MESKIPUN belum resmi berkuasa, SBY mengemukakan, tema besar 100 hari pemerintahannya adalah: konsolidasi, konsiliasi, dan aksi --akronim "resmi"-nya K2A.
"Soalnya, kalau ditulis KKA, dan ternyata si A-nya cuma bisa maju 13 langkah, bisa berubah jadi N!" kata MH.

***

TETAPI, SBY berharap, transisi kekuasaan dari Megawati kepada dirinya nanti berlangsung damai, penuh nilai budaya dan etika politik yang baik. "Saya ingin regularitas dan kontinuitas pengelolaan negara berlangsung dengan baik," katanya.
"Artinya, tidak akan ada perubahan radikal dan signifikan?" kata MH.
"Lho, kalau yang itu, artinya kan status quo, dan business as usual...?" kata JP.

***

TETAPI, kekeliruan terbesar rezim pasca-Soeharto, kata orang pandai, adalah justru karena "rezim reformasi" tidak sejak awal membedakan dan menarik garis batas yang tegas dengan rezim yang digantikannya. Maka, reformasi pun alon-alon... ora kelakon!

"Padahal, sejarawan dan sosiolog Inggris, Thomas Carlyle (1795-1881), sudah bilang: 'Semua reformasi, kecuali menyangkut moral, hanya akan membuktikan kesia-siaan...'."

"Dalam bahasa Om Billy dari BPK, kesia-siaan itu (baca: uang negara yang 'direformasi' oleh para pejabat sepanjang 1999-2004, nilainya Rp 167 trilyun!"
"Malah, menurut Om Kwik, dari APBN 2003 saja, dana yang terkorup mencapai Rp 305,5 trilyun!"

***

TETAPI, SBY memang bukan Zhu Rongji yang --JP mengutip rekannya, Asro Kamal Rokan-- ketika dilantik jadi PM Cina pada 1998, menantang: "Berikan kepada saya 100 peti mati, 99 untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama!"

Tetapi, yang dihadapi SBY sejak hari-H bukan cuma itu, melainkan juga pers bebas yang dikriminalisasi (halo, BHM!), ratusan ribu TKI yang dipulangkan, para TKW yang diancam hukuman maksimal di Singapura, harga BBM, gaji guru, nasib para karyawan PTDI, Dubes Amrik Boyce yang mengobok-obok Polri dalam kasus Ba'asyir dan Buyat, 'Hadiah (Mudik-Balik) Lebaran'. Dan, ini yang paling penting, ia harus mengakomodasi aspirasi partai-partai Islam dan tentara yang menjadi pendukung utamanya!

"Hayo, bagaimana color chemistry Biru + Hijau + Hijau...?" kata JP.

Yudhistira ANM Massardi
ymassardi@gatra.com

Cover GATRA Edisi 47/2004 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Advetorial
Album
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Musik
Nasional
Perjalanan
Ragam
Rona Niaga
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com