Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

SITI ROEHANA KOEDDOES
Mutiara dari Kotogadang

Wartawati dan perintis surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Berpikir modern, berdandan lokal.

Perempoean harus menggerakkan diri
Patoetlah poela mengeloearkan peri
Penarah kesat nak hilang doeri
Penghentian goendjing sehari-hari

DARI udara sejuk Kotogadang, Sumatera Barat, syair itu bermula. Penulisnya adalah seorang perempuan luar biasa. Bagaimana tidak, tahun 1892, saat 99% perempuan Tanah Melayu masih buta huruf, "perempuan anak ayah" itu sudah pandai membaca-tulis abjad Arab, Latin, Melayu, dan Belanda. Ketika itu, usianya baru delapan tahun.

Demikianlah sejarah Roehana binti Maharadja Sutan, Roehana Koeddoes, dituliskan. Di bawah potret buram Roehana yang tergantung di dinding kantor pengurus PWI Sumatera Barat, terdapat sebaris tulisan: "Wartawati Pertama Indonesia".

Namun tidak banyak orang mengenal Roehana dan reputasinya. Bahkan, nama itu terasa asing di telinga sebagian besar wartawan negeri ini. Dalam kilas sejarah penerbitan media massa, nama-nama seperti Adinegoro atau S.K. Trimurti terdengar lebih nyaring di telinga. Padahal, nama Roehana adalah sebuah tonggak penting yang menandai kehadiran perempuan intelek di dunia pers.

Dalam buku Roehana Koeddoes; Perempuan Sumatra Barat, mantan wartawan harian The Jakarta Post, Fitriyanti, menuliskan bahwa pada 1994, dalam sebuah kunjungan ke ranah Minangkabau, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Mr. J.H. Van Roijen, langsung jatuh hati begitu melihat foto Roehana dan mendengar sedikit cerita tentangnya. "Luar biasa sekali Kotogadang ini, di saat sebagian besar wanita di Eropa masih dalam kegelapan, ternyata Kotogadang sudah memiliki wartawati," demikian Fitriyanti menuliskan pujian Van Roijen dalam bukunya.

Pada 10 Juli 1912, Roehana istri Abdul Koeddoes menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe (SM) untuk pertama kalinya. Soenting berarti perempuan, sedangkan kata Melajoe dimaksudkan sebagai wajah tanah Melayu.

Bersama Zoebeidah dan Ratna Djoewita, Roehana memenuhi halaman koran itu dengan artikel dan syair yang berisikan imbauan kepada kaum perempuan di mana pun untuk bangkit dari keterpurukan yang menyedihkan, dan bebuat sesuatu untuk mengubah nasibnya ke arah lebih baik.

Meskipun mobilitasnya begitu tinggi sebagai wartawati dan pejuang emansipasi, gaya berdandan Roehana masih setia pada khazanah budaya Minangkabau, khususnya Kotogadang: baju kurung, kain, dan selendang. Dengan busana seperti itu, kakak kandung mantan Perdana Menteri dan Ketua Partai Sosialis Indonesia, Sutan Sjahrir, itu mengiringi sembilan tahun perjalanan Soenting Melajoe.

Koran itu berhenti terbit pada 1921, lantaran para anggota redaksinya sibuk dengan urusan di berbagai surat kabar lain. Roehana kemudian diminta menangani surat kabar Radio, yang diterbitkan oleh Cina Melayu di Padang. Pada waktu bersamaan, saudara senenek dengan pemuda jenius Agus Salim itu aktif menulis untuk surat kabar Tjahaja Soematra.

Setelah sempat merantau selama beberapa tahun di Medan, Sumatera Utara, Roehana memilih menghabiskan masa tua di kediaman anak semata wayangnya, Djasma Juni, di Jalan Sukabumi Nomor 1, Jakarta Pusat. Perempuan yang gemar dibidik kamera foto itu meninggal pada usia 88 tahun, tepat pada hari perayaan kemerdekaan RI ke-27, 17 Agustus 1972.

Dua tahun kemudian, pada 17 Agustus 1974, atas kepeloporannya, Roehana Koeddoes dikaruniai penghargaan sebagai "Wartawati Pertama Indonesia" dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Lalu, pada peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 1987, Roehana memperoleh penghargaan sebagai "Perintis Pers Indonesia" dari Menteri Penerangan RI, Harmoko.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 22/2004 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Arsitektur
Astakona
Buku
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Media
Mode
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Ragam
Seni
 
Created and maintained by Gatra.com