Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

GATRASIANA

Balik Badan Menolak Hormat

Ketika Kurnia naik podium, peserta upacara justru ramai-ramai balik badan, dan meninggalkan lapangan tanpa memedulikan inspektur upacara.

KURNIA Rajasah Saragih diangkat menjadi Wali Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara, sejak 21 Oktober lalu. Ia tentu langsung disambut seabrek kesibukan. Salah satu tugas yang harus diembannya adalah menjadi inspektur upacara Hari Sumpah Pemuda, Selasa pekan lalu.

Semestinya, inspektur upacara merupakan posisi terhormat. Kurnia selayaknya mendapat penghormatan berkali-kali selama upacara. Petuahnya juga sepantasnya didengarkan seluruh peserta upacara. Cuma, hari itu ternyata hari apes buat Kurnia. Bukan kehormatan yang diraih, justru pembangkangan yang didapat.

Mula-mula, ketika tiba di Lapangan Adam Malik, Kurnia masih mendapat sambutan pejabat setempat. Ratusan peserta upacara tampak tegak berdiri dengan disiplin. Mereka terdiri dari berbagai kalangan pemuda, seperti Pemuda Pancasila, Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun, Ikatan Pemuda Karya, dan Garda Bamper Pematang Siantar.

Bagi Kurnia, ini adalah upacara pertama yang dipimpinannya setelah menjabat wali kota. Upacara pun dimulai. Protokol membacakan satu per satu tata tertib acara melalui pengeras suara. Akhirnya sampailah pada saat pembawa acara mempersilakan inspektur upacara naik ke atas podium kehormatan.

Tapi, apa yang terjadi kemudian benar-benar menjatuhkan martabat Kurnia. Ketika Kurnia naik podium, peserta upacara justru ramai-ramai balik badan, dan meninggalkan lapangan tanpa memedulikan inspektur upacara. Pembangkangan ini jelas membuat muka Kurnia merah. Meski cuaca agak mendung, keringat tampak membasahi wajahnya.

Upacara tersendat beberapa lama karena peserta gaduh. Untunglah, masih ada sebagian kecil peserta yang bertahan di lapangan. Acara pun tetap dilanjutkan, tapi upacara dipersingkat.

Ke mana peserta upacara yang mbalelo? Ternyata mereka mengadakan upacara tandingan. Mereka berkumpul di pelataran parkir Dinas Pariwisata di Jalan Merdeka, tak jauh dari Lapangan Adam Malik. Upacara dipimpin Ater Siahaan, Ketua Ikatan Pemuda Karya.

Para pemuda yang mbalelo ini ternyata tak setuju dengan penunjukan Kurnia sebagai wali kota oleh Menteri Dalam Negeri, Hari Sabarno. Kurnia diangkat menjadi pelaksana wali kota menggantikan Marim Purba, wali kota sebelumnya. Ketika dihubungi Bambang Sukmawijaya dari Gatra, Kurnia memilih tak mengomentari nasibnya ditinggal peserta upacara itu.



Naik Pangkat Bersyarat Hormat

TRADISI militer masih melekat erat dalam jiwa raga Letnan Kolonel (purnawirawan) Osin Herlianto. Padahal, setelah pensiun dari dunia keprajuritan, Osin punya jabatan sipil. Rupanya, jabatan sebagai Wakil Bupati Sumedang, Jawa Barat, tak mampu menghilangkan kebiasaannya sebagai militer.

Walhasil, gaya tentara Osin pun jadi gunjingan masyarakat. Pasalnya, ia nekat membuat aturan bergaya militer untuk diterapkan di lingkungan sipil. Aturan yang dilontarkan mantan Komandan Kodim 0610 itu, antara lain, menyatakan pegawai harus rajin menyemir sepatu, membersihkan tanda pangkat, dan patuh mengikuti apel.

Tapi, yang paling menghebohkan adalah kewajiban pegawai untuk angkat tangan menghormat ala tentara bila bertemu atasan. "Jika bertemu saya malah membuang muka, kenaikan pangkat bisa dicoret," kata Osin, di depan peserta pendidikan dan latihan pimpinan se-Sumedang.

"'Osin rule" itu jelas saja mengejutkan sekitar 12.000 pegawai di Sumedang. Apalagi, berbagai aturan Osin itu akan dipakai menjadi penentu dalam kenaikan pangkat. Misalnya ketika sebuah jabatan diperebutkan beberapa orang. "Bakal dipilih yang rajin menyemir sepatu, hormat atasan, dan rajin apel," kata Osin.

Ketua DPRD Sumedang, Endang Sukendar, menyatakan tak setuju pada ide Osin. "Tidak realistis. Cukup anggukan kepala dan senyum sudah sangat baik," kata Endang kepada Mappajarungi dari Gatra. Endang menyatakan akan menolak jika aturan itu diminta untuk disahkan DPRD.

Peraturan tersebut sebenarnya baru gagasan, tapi beberapa pegawai sudah mengolok-olok rencana ini. "Sepatumu kotor, wah nanti tak bisa naik pangkat atuh," kata salah satu pegawai di sudut kantor DPRD, menyindir temannya. "Pegawai akan kurus-kurus, sebab keseringan disuruh push-up," rekannya menimpali.

Para pegawai ini tak setuju aturan Osin, sebab disiplin pegawai sudah tercantum dalam daftar penilaian prestasi pekerjaan. Osin sendiri menilai setiap pegawai harus makin disiplin. "Aturan yang sudah ada tidak mencukupi," kata Osin. Siap, eh pikir-pikir, Dan!

Rihad Wiranto

Wajah Baru Jaringan Baru (Gatracom)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Arsitektur
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Gatrasiana
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Ragam
Seni
 
Created and maintained by Gatra.com