Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Hikayat Kaum Pentol Korek

Beberapa budaya lokal ditengarai memberi ruang bagi perilaku homoseksual. Tak terkecuali lembaga pendidikan yang kini siswanya homogen dan tertutup.

PERNIKAHAN pasangan gay, Philip Iswardono dan William Johanes, seperti martir yang mendobrak norma di Indonesia. "Suami-istri" warga negara Indonesia dan Belanda, yang resmi menikah 23 Juli lalu, itu seolah menjadi simbol perlawanan kaum gay. Pasangan Mamoto Gultom dan Hendy Sahertian akan mengikuti jejak Iswardono-William.

Lewat pernikahan ini, "Kaum gay seolah menunjukkan eksistensinya,'' kata Dede Oetomo, Ketua Yayasan Gaya Nusantara. Sesungguhnya, keberadaan gay dan lesbian di Indonesia belangsung sejak ratusan tahun silam. "Di beberapa daerah, perilaku homoseks malah menjadi semacam tradisi," ujar Dede, pendiri Lamda Indonesia, organisasai kaum gay pertama di negeri ini.

Di daerah yang pengaruh religiusnya sangat tinggi, seperti Aceh dan Jawa Timur, kata Dede, perilaku ini tetap ada. Sosilog dari Universitas Airlangga, Surabaya, itu menyitir karya Snouck Hurgronje berjudul The Achehnese. Dalam buku ini, Snouck melaporkan, lelaki Aceh pada abad ke-19 punya kebiasaan berkasih-kasihan dengan anak muda sejenis.

Selain di Aceh, menurut Dede, kebiasaan itu juga berlangsung di pusat perkembangan agama Islam di daerah lain, seperti Surakarta, Yogyakarta, dan Minangkabau. Homoseksual muncul lantaran ada pemisahan hubungan sosial antara pria dan wanita. Para gadis tak bebas bersua dengan pria.

Akibatnya, homoseksual menjadi jalan keluar tergampang untuk gejolak seksual yang membara. Pada waktu itu, di wilayah Pidie, pantai timur dan barat Aceh, laki-laki tak malu dilihat di depan umum bersama kekasihnya sesama jenis. Naskah kuno berjudul Hikayat Ranto, tulisan Leube Isa di Pidie, memperkuat kesimpulan ini. Menurut Hikayat itu, tak satu pun perantau Aceh yang berkebun lada di Pidie bisa pulang dengan jiwa bersih. Rusaknya orang rantauan itu karena jauh dari anak-istri. Untuk menebus sepi, mereka berjudi, mabuk, dan bercinta dengan anak muda.

Kaum bangsawan Aceh, masih menurut The Achehnese, bahkan menganggap bercinta dengan anak muda sebagai proses pendewasaan diri. Erotisme homoseksual di Aceh, tulis Snouck, tertuang pula pada kesenian rateb sadati. Tarian yang umumnya diperagakan 15-20 pria dewasa ini --disebut dalem atau aduen-- juga menyertakan seorang anak laki-laki kecil nan tampan.

Sang anak, disebut sadati, didandani mirip perempuan. Mereka umumnya berasal dari Aceh pegunungan atau Nias. Anak-anak ini direkrut melalui "transaksi" antara dalem dan orangtuanya. Orangtua berharap anak mereka dipelihara dalem supaya memperoleh hidup layak.

"Apa yang dituturkan Snouck memang realitas kehidupan Aceh di masa lalu," kata Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, guru besar ilmu budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Fenomena homoseksual Aceh masa lampau itu, kata Prof. Ibrahim, muncul karena ketatnya norma yang membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan lajang.

Saking ketatnya pembatasan relasi lelaki dan wanita, sehingga terkadang pelampiasan seksual tercurah pada sesama jenis. Meski demikian, menurut Ibrahim, pelakunya tak mesti menjadi gay. Hubungan seks itu semata hanya pelampiasan.

Kelakuan ini terjadi pula di lingkungan dayah atau pesantren. Pada masa lampau, anak laki-laki Aceh setelah berusia tujuh tahun kerap tidur di meunasah (surau). Anak baru ini sering disebut anekeh, artinya "anak pentol korek api". Tak jelas maksud istilah itu, "Yang pasti, di antara mereka sering diajak seniornya tidur dalam satu sarung," tutur Prof. Ibrahim.

Walau begitu, mereka tak selama menjadi kaum "pentol korek" alias homo. Lagi pula, perilaku homoseksual bukan hanya terjadi di Aceh. Di lingkungan pesantren di Jawa, ada juga santri yang berperilaku seks menyimpang. Sebelum 1970, di pesantren muncul istilah mairil di kalangan sejumlah santri. Mairil atau amrot-amrotan adalah kebiasaan beberapa santri senior yang gemar ngeloni santri cilik berwajah manis.

Adanya santri berperilaku seks menyimpang itu tentu saja masih ada hingga sekarang. Kenyataan ini diakui Faiz Ahsoul, 27 tahun, mantan santri sebuah pesantren di Cirebon, Jawa Barat. Faiz mengaku sering mendengar cerita rekan-rekannya yang senior menggarap santri baru. "Biasanya mereka berhubungan saat tidur di malam hari," kata mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Saling naksir di antara santri juga terjadi di pesantren. "Bahkan ada juga yang berpacaran dengan sesama santri," kata Faiz, yang sedang melakukan penelitian tentang homoseksual untuk menulis novel. Tapi, banyak juga santri baru membawa golok ketika tidur, untuk berjaga-jaga jangan sampai dirinya digerayangi santri homo. Perilaku homoseksual di pesantren, kata Faiz Ahsoul, hanya terjadi pada diri segelintir santri. Santri yang dulunya suka menggerayangi temannya kebanyakan akan kembali normal setelah lulus.

Di lingkungan pendidikan lain yang siswanya berjenis kelamin sama juga rentan terjadi perilaku homoseksual. Apalagi yang sistem pendidikannya mengharuskan siswa tinggal di asrama. Misalnya di SMU Seminari Menengah di Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Di sekolah calon pastor itu, pada 1998 pernah terjadi seorang siswa mengundurkan diri karena menyukai seorang rekannya. Pasangan ini, sejak awal masuk pada 1997, memang sudah akrab.

Ketatnya pengawasan di sekolah itu disiati sepasang kekasih ini dengan berhubungan lewat surat. Setahun kemudian, percintaan mereka terendus siswa yang lain. Lalu digelarlah konferensi medan, sebutan sidang di kalangan siswa, untuk membereskan masalah ini. Akhirnya, "Salah satunya mengundurkan diri dan yang lain tetap sekolah sampai lulus," kata siswa asal Temanggung, rekan seangkatan pasangan ini.

Direktur Seminari, Romo Martinus Hadi Siswoyo, 49 tahun, mengaku tak mengetahui kejadian itu. Jikapun memang ada, ia yakin siswa tersebut pasti tak akan kerasan belajar di seminari. "Rekan-rekannya dan pihak sekolah pasti akan menyarankan supaya mengundurkan diri," kata Romo Hadi.

Perilaku homoseksual juga mewarnai kehidupan para warok dalam kesenian reog di Ponorogo, Jawa Timur. Biasanya, sang warok meminang gemblak dengan mas kawin beberapa ekor sapi betina dan sebidang tanah. Setelah dipinang, gemblak yang artinya anak laki-laki pilihan akan dipenuhi segala kebutuhannya, dan diperlakukan seperti seorang "istri" selain istrinya yang asli.

Hubungan dengan gemblak ini terjalin lantaran sang warok percaya kesaktiannya akan hilang bila melakukan hubungan seks dengan wanita, apalagi yang bukan istrinya. Dalam seni reog, gemblak juga punya peran sebagai penari jaranan atau jathilan yang didandani menyerupai wanita. Kini, kebiasaan itu sudah luntur. Tari jaranan dalam grup-grup reog sudah dimainkan perempuan tulen.

Homoseksual ataupun lesbian, menurut Jaleswari Pramodhawardani, memang sudah terjadi pada kehidupan masyarakat tradisional di Indonesia. Di Bali, kata peneliti pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu, terdapat komunitas lesbiah yang tinggal di Puri Gede.

Hal serupa terdapat di Aceh dan Padang, "Bahkan di Makassar terdapat komunitas waria yang disebut bisu yang dianggap sebagai orang bijak," kata Jaleswari kepada Alfian dari Gatra. Di suku Asmat di Papua pada masa lampau, terdapat tradisi menyodomi anak laki-laki yang baru akil balig.

Pada suku ini terdapat kepercayaan, anak membawa sifat wanita karena selalu mendapat cairan ibu dari sejak rahim hingga menyusui. Supaya jantan, sang anak harus diberi cairan laki-laki dengan melakukan ritual sodomi dengan pria seangkatan ayahnya, tapi bukan bapaknya sendiri. "Ini menyiratkan, homoseksual sebenarnya sudah menjadi kultur Nusantara," kata Dede Oetomo.

Tapi, bukan berarti masyarakat luas mau menerima perilaku homoseks. Di negeri ini, kaum homo tetap tersudutkan. Dan baru beberapa tahun belakangan ini, kaum homoseks Indonesia berani tampil ke permukaan.

Sigit Indra, Sawariyanto, Sujoko (Yogyakarta), dan Mujib Rahman (Surabaya)
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 46/2003 (Dok. GATRA)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Lintasan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Prayojana
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com