spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
APA & SIAPA
spacer
 
Dian Sastro Wardoyo
Kepak Sayap Bintang Jatuh

Dian Sastro Wardoyo (GATRA/Tatan Agus RST.)DIANDRA Paramitha Sastro Wardoyo tak pernah bercita-cita menjadi pesohor di dunia hiburan. Soalnya, siapa sangka penampilan gadis kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982, itu sewaktu SMP tomboi habis. Hobinya saja bermain basket, pencak silat, dan kemping. Sampai-sampai teman-teman lelaki Dian di sekolah menantangnya untuk mengikuti perlombaan ''Gadis Sampul''.

Penggemar sop buntut ini dengan ''gagah'' menerima tantangan beradu kemolekan di ajang tahunan yang digelar majalah remaja itu. Hasilnya benar-benar tak terduga. Dian tak cuma berhasil membuktikan pandai bersolek. Ia juga menyabet gelar pemenang Gadis Sampul 1996 itu. Sejak itu, paras cantiknya sering muncul di majalah. Ia juga rajin menjadi model klip video. Tiga klip video Sheila on 7, seperti Dan, Anugrah yang Terindah, dan JAP, memasang mahasiswa Jurusan Filsafat Universitas Indonesia itu menjadi modelnya.

Kepak sayap gadis berambut panjang ini pun melebar ke film. Ceritanya, pada 1999, teman-teman Dian yang suka nongkrong di rumahnya sedang membuat film. Semula, Dian hanya ikut-ikutan menjadi figuran. Tapi, dalam film Bintang Jatuh yang digarap sutradara Rudy Soejarwo itu, Dian malah kebagian pemeran utama.

Sejak itu, Dian suka seni peran. Ia tidak memilih-milih peran. Meskipun Dian punya syarat, ''Tak cuma mengumbar keindahan lekuk tubuh wanita,'' ujarnya. Meski begitu, dengan tegas gadis bertinggi 163 cm dan berbobot 47 kg ini menolak bermain sinetron. Alasannya sederhana: Dian tak pernah nonton televisi.

Tahun berikutnya, Dian dipercaya sutradara Nan T. Achnas memerankan tokoh Daya, gadis lugu dalam film Pasir Berbisik. Ia langsung dipasangkan dengan bintang film kawakan, Christine Hakim. Film itu meraih Asian Tradewinds Award di ajang Festival Film Internasional Seattle. Predikat aktris terbaik di Festival du Film Asiatique de Deauville Prancis, dan Festival Film Internasional Singapura ke-15, dihadiahkan pada Dian.

Dian Sastro Wardoyo (GATRA/Tatan Agus RST.)Pamor Dian kian meroket, setelah sukses membintangi film laris Ada Apa dengan Cinta?, pada 2002. Film tersebut tak cuma digemari di dalam negeri, melainkan juga di Malaysia, Singapura, dan Brunei. Popularitas Dian mendatangkan rezeki lain. Sejumlah perusahaan periklanan menawarkan berbagai kontrak iklan. Namun, Dian tidak kemaruk. Untuk saat ini, Dian baru memilih produk sabun Lux.

Kendati demikian, Dian ogah memublikasikan diri. Karena sifatnya yang enggan publisitas inilah, Dian sempat dicurigai menduplikasi gaya Desy Ratnasari dalam menyikapi pers. Salah paham ini segera dijernihkan. Sikap menjauhi pers, katanya, semata-mata karena ia tak mau jadi ''bintang kejora''. Ia lebih suka menjadi Dian yang dikenal sebagai anak yang biasa. ''Saya tidak minta dibesar-besarkan, karena saya memang tidak ingin membesarkan nama saya dengan segala macam berita,'' ujar Dian ketika itu.

Dian memang mengaku tak mau jadi selebriti. Salah satu keinginannya adalah menjadi penulis. Menurut dia, menulis adalah tempat menuangkan semua pemikirannya. Selain itu, lanjut Dian, menulis lebih mudah ketimbang membuat film. ''Kalau di film, apa yang ada di pikiran disampaikan lewat gambar. Sedangkan kalau menulis, pikiran disampaikan lewat bahasa dan kata-kata,'' katanya.

Sejak SD, putri pasangan Ariawan Sastrowardoyo dengan Dewi Parwati Setyorini ini menyukai sastra. Mulanya sih memang agak terpaksa. Mulai kelas IV SD, ia ditugasi ibunya melahap sedikitnya satu buku dalam tiga bulan. Lalu satu buku per bulan. Bukan cuma itu, ia juga harus meringkas dan mendiskusikan dengan ibunya.

Hasilnya tak sia-sia. Sewaktu SMP, penggemar Pramoedya Ananta Toer ini dipercaya menjadi redaktur majalah sekolah. ''Saya harus membuat cerpen tiap edisi,'' katanya. Sayang, memasuki SMA, Dian sibuk bukan kepalang. Kegiatan menulisnya ditinggalkan.

Kini, sebagai mahasiswi, ia memaksakan diri menulis lagi. ''Di jurusan filsafat, tugasnya lebih banyak membuat tulisan,'' ujar Dian. Meski begitu, ia merasa tulisannya belum layak dipublikasikan.

Rita Triana Budiarti
[Edisi Khusus, GATRA, No 40 Beredar Jumat 15 Agustus 2003]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Oh Dian (b1635vl@ho..., 25/08/2003 01:17)
I love you so
 
 
spacer
  
  dian harus menjadi artis agung seperti siti nurhaliza (yerianda@ya..., 24/08/2003 23:48)
salut deh but dek dian. cuma saya hanya mengharapkan penampilan dian dalam cover gatra ini cukup sekali ini saja begini, aurat nya kebuka banget, kalo di photo pasang gaya yang biasa aja gak usah mau ikut aturan gaya fhotografernya, saya suka liat salah satu gaya dek dian di web kafegaul yang tidak menggayakan diri dan mengumbar aurat. dek dian harus bisa jadi artis agung seperti siti nurhaliza, banyak artis dek dian, banyak karya yang tercipta dek dia. tapi sangat susah mencari artis dan karya ... <11 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  pamertubuh (bandito2005@de..., 24/08/2003 17:05)
ini orang pamer tubuh kalau nanti dicicipi orang tahu rasa lo

***bandit anak dusun
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 24 August 2003 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdot12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer