spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Poligami
Bukan Sekadar Melepas Hasrat Seks

Puspo Wardoyo Beserta Keempat Istrinya (Dok. GATRA)Jakarta, 21 April 2003 14:16
BERPOLIGAMI tanpa dorongan hasrat seksual, apa mungkin? Bisa iya, bisa pula tidak. Itu pengakuan pelaku poligami. Ada yang mengaku berbini banyak bukan mengejar kepuasan seks, melainkan mewujudkan keluarga besar yang sakinah. Tak sedikit pula yang terus terang bilang bahwa mengawini banyak perempuan, ya, lantaran libidonya menggebu.

Puspo Wardoyo, juragan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, termasuk yang blak-blakan soal ini. Pengakuannya --sambil senyum-senyum-- hasrat seksualnya yang menggelora memaksanya mengambil empat istri. Istri dua atau tiga masih dirasa kurang. ''Bahaya kalau (ketika itu) saya tidak kawin lagi (dan lagi). Saya bisa berzina,'' kata pria 46 tahun itu. Wow!

Memilih istri muda pun tidak bisa serampangan. Sosok ''pejantan tulen'' ini berselera tinggi. Syaratnya: si cewek berjilbab, taat beribadah, dan berakhlak bagus. Kebetulan pula semuanya cantik dan sarjana. Soal usia dan keperawanan? Aha, itu pun syarat penting. Usia 24-26 tahun dan belum pernah berhubungan seksual. Pertimbangannya, ''Mencumbunya nikmat, juga mudah diatur,'' kata Puspo, sembari tersenyum. Ehm!

Syukurlah, kehidupan keluarga besar dengan 10 anak ini rukun dan bahagia. Sang kepala keluarga menjalankan poligami ''Islami''. Ini istilah Puspo, untuk membedakan berpoligami melulu berdasarkan nafsu dengan yang berlandaskan agama Islam. Secara lahir-batin, kepala keluarga yang berlebihan materi ini bersikap adil dan menyayangi keempat istri dan anak-anaknya.

Rumah Makan Wong Solo; Presiden Poligami (GATRA/Jongki Handianto) Jodohnya dengan istri pertama, Rini Purwanti, kini 38 tahun, bertaut di Medan, Sumatera Utara. Waktu itu, sarjana pendidikan lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, ini mengajar di sekolah menengah di sana. Puspo jatuh hati pada Rini, juga seorang guru, lalu menikahinya di sana tahun 1979. Mereka kemudian membuka warung kaki lima di Bandara Polonia, Medan.

Mereka lalu merintis usaha Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, pada 1991. Hanya dalam tempo beberapa tahun, cabang baru di kota yang sama mereka buka. Tahun 1996, Puspo kebelet mengawini Supiyati, ketika itu berusia 26 tahun, karyawan restorannya. Keduanya menikah tanpa sepengetahuan istri pertama. Kata Puspo, bukan karena Rini menolak poligami, melainkan begitulah pesannya.

Ini diakui Rini. ''Sebagai muslimah, saya menerima kehalalan poligami. Cuma, waktu itu saya belum siap. Saya bilang, Mas Puspo kalau mau nikah (lagi) langsung saja, tak usah memberitahu saya,'' tutur Rini. Ibu enam anak ini baru tahu dimadu, enam bulan kemudian. Ia sempat menangis. Tapi akhirnya berlapang dada. Malah, ia menemani suami dan madunya itu mencatatkan perkawinan ke kantor urusan agama.

Dilamarkan Istri

SETAHUN berselang, ketika Supiyati memberinya seorang anak, Puspo menikah lagi. Ia berjodoh dengan Anisa Nasution, 24 tahun, juga karyawan restorannya di Medan. ''Saya pilih Mas Puspo karena akhlaknya baik dan keluarganya rukun,'' kata Anisa.

Kala melamar Anisa, Puspo didamprat calon mertua. Bagaimanapun, orangtua pasti tak suka anak perempuannya dijadikan istri kesekian. Puspo pun lapor pada Rini. Eh, malah Rini yang mendampinginya melamarkan Anisa lagi. Walhasil, lamaran itu diterima. Agaknya, kegigihan dan kesungguhan itulah yang membuat orangtua Anisa luluh.

Seiring dengan itu, restoran ayam bakarnya berkembang menjadi empat cabang. Puspo yakin, setiap perkawinannya membawa rezeki. Maka, pada 1999, ia mengawini istri keempat, Intan Ratih --pilihan istri keduanya. Lagi-lagi karyawan restorannya, cabang Semarang, Jawa Tengah. Dari istri ketiga dan keempat, Puspo memperoleh masing-masing satu dan dua anak. Jumlah anaknya kini 10. Restorannya pun beranak-pinak menjadi 26 cabang di kota-kota besar.

Telepon-teleponan

KEEMPAT istri Puspo tidak tinggal serumah. Istri pertama dan kedua menetap di Medan. Istri ketiga di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Istri ''bontot'' di Puri Bintaro, masih di Tangerang. Para istri ini mendapat limpahan materi dari sang suami. Mereka tidak terlibat dalam bisnis restoran, cuma mengawasi standar bumbu masakan.

Puspo berusaha bersikap adil, termasuk soal pembagian waktu kunjungan. Sepuluh hari di Medan, 10 hari di Tangerang. Sesekali keempat istrinya diajak kumpul bersama mempererat silaturahmi. Kadang rame-rame dibawa dalam seminar poligami.

Istri-istri Puspo sering saling telepon. Selain sekadar berhalo-halo, juga mendiskusikan bagaimana servis terbaik buat suami di kasur. Bukan main! ''Yang muda belajar pada senior. Hubungan mereka sangat akrab, seperti adik-kakak,'' kata Puspo, yang tak keberatan anaknya dipoligami orang. Lelaki ini bermaksud menyebarkan kisah suksesnya itu dalam buku Kiat Sukses Beristri Banyak yang tengah digarapnya.

Perawan Tak Penting

Ir. Rizal Chatin MSI (Dok. GATRA) TENTU, jauh sebelum ''buku penuntun'' tadi dibuat, banyak pelaku poligami yang sukses mengurusi istri-istrinya. Misalnya Mohamad Rizal Chatib, 44 tahun. Direktur Grup Rufaqa --holding dari PT Hawariyun-- ini juga punya bini empat. Semuanya rukun dan patuh pada sang suami.

Berbeda dengan alasan Puspo Wardoyo yang terang-terangan mengaku berpoligami antara lain didorong gelora seks, Rizal Chatib lebih melihatnya sebagai jodoh yang tak bisa dihindari. Bukan sekadar seks. ''Bukan saya yang merancang. Kalau bukan jodoh, ya, tak jadi,'' kata Rizal.

Lantaran bukan didorong nafsu, Rizal tidak mensyaratkan macam-macam pada jodohnya. Istri keempatnya, Andi Suaibah, misalnya, adalah janda dengan seorang anak --kini berusia 16 tahun. Suaibah dinikahi Rizal pada 2001 atas prakarsa istri sejawatnya.

Suaibah, yang menetap di Jakarta, bahagia menjadi istri keempat. Ia melihat poligami tidak merendahkan wanita. Malah menguntungkan. Sebab, adakalanya bisa terbebas dari tugas keseharian melayani suami dan anak. ''Kalau monogami, harus siap 24 jam tiap hari. Bayangkan, sanggup nggak?'' ujar Suaibah kepada Gatra.

Rizal pertama kali menikah pada 1986. Dia meminang Sufiah, asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Perkawinan ini dikaruniai lima anak. Sepuluh tahun berselang, Rizal menikahi Athirah, wanita Aceh, yang memberinya seorang keturunan. Tahun 1999, ia memperistri Kamariah, perempuan asal Malaysia, yang memberinya seorang anak. Ketiga istrinya ini menetap di Pekanbaru, Riau. Mereka mengelola boarding school milik Grup Rufaqa.

Tinggal Seatap

SEJAWAT Rizal di Rufaqa, Dr. Abdurahman Riesdam Efendi, juga sukses berpoligami. Wakil Presiden Grup Rufaqa itu punya bini empat, dan memperoleh empat anak. Ia menikahi Dr. Gina Puspita, teman kuliah di ITB, sebagai istri pertama. Mereka dikarunia tiga anak. Tahun 1995, ia kawin dengan Basyiroh Cut Mutia yang memberinya seorang anak. Enam tahun berselang, ia kawin lagi dengan Siti Salwa asal Malaysia. Tahun lalu, ia kawin dengan Fatimah.

Ketiga istri mudanya ini merupakan pilihan istri pertama. Mereka rukun dan bahagia. Kebetulan mereka bekerja di kantor yang sama. Malah mereka menetap serumah, di Taman Rempoa Indah, Ciputat, Tangerang. ''Kalau suami sedang dengan istri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol di satu kamar,'' tutur Gina. Bila berada di luar kota, mereka bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, akrab. ''Poligami yang didasarkan pada Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah,'' Gina menambahkan.

Gina dan Rizal menyayangkan adanya organisasi yang mewadahi pelaku poligami. ''Tak perlu diorganisir, yang penting diamalkan. Dengan membentuk organisasi malah membuka front, mengundang lawan,'' kata Rizal. Contohnya Masyarakat Poligami Indonesia, bentukan Puspo Wardoyo tahun 2001, yang ditentang gerakan feminisme.

Wapres Hamzah Haz Juga Berpoligami

SEBAGAI Presiden Masyarakat Poligami Indonesia, Puspo memang gencar mengampanyekan poligami lewat seminar dan talkshow. Ia terang-terangan mengajak orang untuk berpoligami. Malah, dalam waktu dekat, ia akan menggelar Poligami Award 2003. Seorang nominatornya, Wakil Presiden Hamzah Haz. Pertimbangannya? ''Dia berani menambah istri secara terbuka di saat menjabat di pemerintahan. Banyak orang berpoligami tapi sembunyi-sembunyi,'' kata Puspo, serius.

Agaknya Hamzah memang layak menjadi nominator. Hamzah diketahui punya tiga istri, hidup rukun dan damai. Paling tidak, itu diakui istri ketiganya, Soraya Smith, yang bersikap cukup terbuka. ''Hubungan kami (sesama istri) baik-baik saja. Demi Allah, mereka sangat baik. Benar-benar tidak ada problem,'' kata Soraya kepada Luqman Hakim Arifin dari Gatra.

Istri pertama Hamzah bernama Asmaniah, kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 27 Juli 1942. Dia menetap di Jalan Tegalan, Jakarta Timur, rumah yang dihuni Hamzah sejak 1982. Istri kedua, Titin Kartini, kelahiran 4 Mei 1946, tinggal di Bogor, Jawa Barat. Dari kedua istri ini, Hamzah memperoleh 12 anak, sembilan di antaranya dari istri pertama.

Istri ketiga, Soraya Smith, kelahiran Lampung, 17 Oktober 1963. Nama janda cantik --dengan tiga anak dari dua suami terdahulu-- ini sempat menyeruak bersamaan heboh penangkapan Ibra Azhari dalam kasus narkoba, Februari silam. Waktu itu beredar isu bahwa Laura Wendari, teman Ibra, tak lain anak tiri Wakil Presiden (Wapres) Hamzah. Soraya menggelar pertemuan pers dan menjelaskan bahwa Laura bukan anak tiri wapres.

Soraya dan Hamzah menikah dua tahun silam, sebelum Hamzah menjabat wapres. Hamzah tadinya pasien Soraya, yang sudah lama membuka semacam klinik pengobatan alternatif. Si pasien yang menderita sakit di ulu hati ternyata punya masalah dengan terapi sentuh sang ''tabib'' yang tujuh tahun menjanda itu. Ia tak bersedia disenggol perempuan bukan muhrim. Sebagai jalan keluar, mereka harus menikah.

''Pak Hamzah baik sekali. Saya yang memintanya menjadi muhrim saya, dan Bapak (Hamzah) bersedia,'' tutur Soraya. ''Saya bercita-cita punya suami ketiga sekaligus istri ketiganya. Saya berdoa, mudah-mudahan mendapat jodoh. Alhamdulillah, tercapai juga,'' ia menambahkan.

Bukan Seks Semata

SORAYA tak keberatan berbicara soal kehidupan seksnya. Pengusaha di banyak bidang --antara lain garmen, marmer, dan hasil bumi-- ini menuturkan, Hamzah berusaha membagi waktu untuk istri-istrinya secara adil. Minggu pertama full untuk istri pertama. Minggu kedua, Sabtu dan Minggu, bersama istri kedua. Pada minggu ketiga, juga Sabtu dan Minggu, giliran kumpul dengan istri ketiga.

Cukupkah pertemuan itu? Soraya mengaku cukup, karena ia juga memaklumi kesibukan sang suami sebagai wapres. Ia pun mengatakan dirinya tidaklah memikirkan seks saja. Ia bahagia dengan kondisi sekarang ini. Apalagi, katanya, sang suami sering berucap, ''Aku paling bahagia punya istri patuh-patuh padaku.'' Kata Soraya, ''Kebahagiaan dan kasih sayang itu nomor satu, bukan nafsu. Kuncinya: anak, ibadah, dan kuat menerima takdir. Kan, dinikmati saja hidup ini.''

Bahagia di Hari Tua

DALAM hal mengambil bini baru, Debby Nasution agaknya juga berprinsip seperti Hamzah Haz dan Rizal: janda pun tak mengapa, yang penting jodoh. Debby, pemusik dan mubalig, menjadikan Sitoresmi sebagai istri keempatnya, pada 1996. Sito, kini 53 tahun, sudah dua kali menjanda. Mula-mula jadi janda budayawan W.S. Rendra, 1979. Ketika itu, ia menjadi istri kedua Rendra (dari tiga istri).

Sepuluh tahun berselang, ia menikah dengan Sjukri Fadholi, seorang ulama --kini Wakil Wali Kota Yogyakarta. Perkawinan keduanya ini kandas pada 1996. Tak lama setelah masa idah rampung, ia tak keberatan dilamar Debby Nasution --dua istrinya telah meninggal. Perempuan bernama lengkap Hajah Raden Ayu Sitoresmi Prabudiningrat itu mengaku amat bahagia di hari tuanya. Ia termasuk orang yang lantang mendukung poligami. ''Saya siap kalau Bang Debby menikah lagi,'' kata perempuan yang masih cantik ini.

Poligami ''Irit''

KIAI Haji Noer Muhammad Iskandar, SQ, termasuk penganut poligami ''irit''. Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah itu baru punya dua istri: Nur Jazilah dan Khusnul Khotimah. Hidup berpoligami dilakoninya sejak 1993. Atas anjuran istri pertama yang merasa tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai istri secara sempurna, ia menikahi Khusnul, janda berusia 27 tahun. Tentu atas dukungan empat anaknya, serta keluarga istri pertama.

''Dengan bismillah, semuanya dilalui dengan lancar,'' kata anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR-RI berusia 48 tahun itu. Ia merasa happy. Khusnul Khotimah diberi jabatan sebagai pengasuh 2.000-an santri di Pesantren Asshidiqiyah Batuceper, Tangerang. Nur Jazilah menjadi pengasuh 1.500-an santri di Pesantren Asshidiqiyah Pusat di Kedoya, Jakarta Barat. Mereka mendapat materi cukup dari suami. Keduanya diberi rumah dan mobil, masing-masing Toyota Kijang dan Daihatsu Taruna. Sang kiai sendiri naik Honda Odyssey berpelat nomor N-1-SQ.

Soal membagi waktu? Noer Iskandar berusaha seadil-adilnya. Pada pribadi kedua istrinya, ia menanamkan pengertian bahwa membagi kasih adalah ibadah dunia-akhirat, sehingga tidak ada keinginan monopoli di satu pihak. Kiai kondang itu menyediakan waktu tiga hari berselang kepada kedua istrinya. Uniknya, bila ia lupa jadwal kumpul, kedua istrinya bergantian mengingatkannya. Untuk lebih mempererat silaturahmi, setidaknya dua bulan sekali kedua istrinya dipertemukan dalam rapat di yayasan. Walhasil, kedua istri itu rukun dan akrab.

Begitulah sekelumit kisah happy para pelaku poligami. Semuanya terdengar indah, bukan?

Taufik Alwie, Asrori S. Karni, Mujib Rahman, Rachmat Hidayat, dan Joko Syahban (Yogyakarta)
[Laporan Utama, GATRA, Nomor 23 Beredar Senin 21 April 2003]


printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  dasarnya syariat,bukan nafsu semata (laras@de..., 19/06/2003 05:22)
setuju,untuk menghindari adanya prostitusi dikarenakan jumlah wanita yg lebih banyak,
asal tahu hukum dan konsekuensinya.
 
 
spacer
  
  Polygami award (nurambarini@ya..., 03/06/2003 05:09)
Terus terang sebagai wanita saya lebih merasa dilecehkan oleh polygami award daripada oleh goyang inul. Meskipun polygami diperbolehkan menurut saya masih banyak award lain yang lebih bermanfaat misal jujur award, zakat award, dll. Keluarga yang sakinah lebih banyak tercipta pada keluarga yang monogami, mungkin perlu dibuat suatu penelitian ilmiah berapa persen keluarga polygami yang 'adem ayem' dibandingkan dengan yang 'hancur', kemudian apa pengaruhnya pada kejiwaan anak (terutama perempuan) y... <52 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  yang wanita gila harta/yang laki gila sex (march_75@ly..., 02/06/2003 22:19)
Yang wanita mau saja di madu karena di Iming-imingi harta bukan cinta murni dan yang laki karena gila sex bukan karena murni cinta
coba kalo yang laki kagak punya duit mana mau wanita dikawin terus kalo yang ceweknya tidak cantik atau sudah tua mana mau yang laki mengawininya

nanti juga ketahuan ketidak harmonisan atau kejelekan akibat poligami,,,,,,,,,,kita lihat saja nanti.
Yang di tulis kan yang enak-enaknya aja
coba tulis juga keburukan dari poligami itu,,,,,,,jujur lah pada diri sendiri
 
 
spacer
  
  topvariasimobil iri (bandito2005@de..., 09/05/2003 03:13)
topvariasimobil ini ngiri membaca istri pertama setuju suaminya poligami, mencari-cari alasan sendiri, nangis dalam hati itu kan dugaan kamu, kalau orang mau menduga sih bisa saja menduga macam-macam, seperti taufik kemas pernah tidur dengan inul, itulah dugaan, tapi nyatanya? tidak kan
 
 
spacer
  
  Tanggapilah dengan Pola Pikir Yang Jernih (Mastito75@ya..., 24/04/2003 00:16)
Para Pembaca Khususnya dengan topik "POLIGAMI" silahkan anda berkomentar dan menyimpulkan tapi Lihatlah dengan cara pandang anda yang Logik seandainya itu bisa anda lakukan sebaik mungkin silahkan anda lakukan tetapi jika banyak negatifnya dalam rumah tangga anda maka jauhilah.
Karena Syarat orang berpoligami adalah DIA BISA BENAR_BENAR JADI SEORANG PEMIMPIN YANG ADIL SEADIL_ADILNYA Baik segi Materi, Syiar, Maupun Perlakuan terhadap Istri-istrinya.

Wassalam.

Suryanto
 
 
spacer
  
  Istri Pertama Setuju? (topvariasimobil@ya..., 22/04/2003 21:22)
Sesungguhnya istri pertama menangis dalam hati ketika ia diharuskan menyetujui keinginan suaminya berpoligami.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 21 April 2003 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer