Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Hadiah Terbesar Lulu

Lulu Luciana Tobing merasa mendapat hadiah terbesar sepanjang tahun ini. Ia diajak Garin Nugroho main film layar lebar untuk pertama kalinya. Judulnya, Ijinkan Aku Menciummu Sekali Saja. Lulu berperan sebagai Kasih, tokoh utama dalam film itu. "Saya berjanji mau main halus,"katanya.

BAGAIMANA sih rasanya digaet sang pujaan hati? Tak tergambarkan dong senangnya hati. Begitu, kan, Lu? Dara kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, yang punya nama lengkap Lulu Luciana Tobing ini malah mengaku seperti mendapat hadiah terbesar sepanjang tahun ini. Soalnya, sutradara kondang Garin Nugroho ia kagumi sejak 1992. "Waktu itu, saya ikut pemilihan Gadis Sampul, dan Mas Garin jadi jurinya," ujarnya.

Tentu saja Lulu kaget ketika awal Agustus lalu Garin memanggilnya ikut casting untuk film terbarunya, Ijinkan Aku Menciummu Sekali Saja. Tanpa berpikir dua kali, Lulu menyambar kesempatan bagus itu. Lulu, 25 tahun, berhasil mendapat peran Kasih, tokoh utama dalam film itu. Maka, mulailah hari-harinya dipadati latihan penghayatan peran. Antara lain, mempelajari Kitab Kidung Agung yang ada dalam Injil Perjanjian Lama.

"Saya nggak mau malu-maluin Mas Garin," kata Lulu kepada Taurusita Nugrani dari Gatra. Apalagi, ini film layar lebar pertamanya. "Saya merasa main di 'kakaknya sinetron', jadi harus lebih halus dan profesional," ia menambahkan. Satu hal yang membuat Lulu begitu excited. Ia diserahi Garin tanggung jawab memilih sendiri kostumnya. "Saya harus presentasi di depannya mengapa saya memilih baju ini dan itu."

Minarti Gantung Raket

caption:...........; Persembahan terakhir

GELAR juara ganda campuran Sanyo Indonesia Terbuka 2002 diraih Minarti Timur dengan gemilang, Ahad dua pekan lalu. Bersama Bambang Supriyanto, wanita berusia 34 tahun ini "menggulung" lawannya, pasangan Nova Widhianto-Vita Marissa, dengan poin 11-7 dan 11-3 di Gelanggang Olahraga Kertajaya, Surabaya, Jawa Timur. Tapi, itulah persembahan terakhir Minarti bagi negeri tercinta ini.

Usai upacara penganugerahan gelar dan hadiah, Minarti mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia bulu tangkis. "Pengunduran diri ini keinginan saya pribadi," ujar Minarti kepada Rachmat Hidayat dari Gatra. "Inilah waktu yang tepat untuk pamit, karena sudah tak ada lagi target yang harus saya capai," perempuan yang bergabung di pelatnas Indonesia sejak 1986 itu menambahkan.

Minarti, yang akrab disapa Meme, mengaku tak sepenuhnya gantung raket. Buktinya, 13-15 September ini, ia masih bertanding membela klubnya, Djarum. "Saya bermain untuk Djarum, karena klub itulah yang membesarkan saya." Selain itu, Meme juga berencana menerjuni bisnis peralatan olahraga. Plus, menjadi pelatih di klub yang dibentuknya kelak di kota kelahirannya, Surabaya. Kalau ada tawaran melatih di luar negeri? Minarti hanya tersenum.

Derita Tindik Kiki

caption:..........; Tak bisa tengkurep

SENGSARA membawa gaya. Yah, begitulah Kiki Fatmala. Perut rata lajang 33 tahun itu kini makin indah dipandang dengan nyembulnya anting di tengah pusarnya. Tapi, jangan tanya derita yang harus dilakoninya sebelum ia benar-benar bebas bergaya memamerkan keindahan pusarnya. Dua bulan full mantan bintang panas ini "mati kutu" meng-handle udel, yang sempat luka dan agak berdarah. Kepada wartawan Gatra, Heni Kurniasih, Kiki berkisah.

Di mana nindik-nya?

Di Singapura, di tempat orang bikin tato. Lupa nama tempatnya. Yang jelas, di sebelah Lucky Plaza (di Orchard Road --Red.)

Berapa biayanya?

Untuk anting dengan bahan emas putih ini, aku mengeluarkan duit total sekitar Rp 2,4 juta.

Mana lagi yang ditindik?

Emangnya mau kayak ABG yang masih mau tindik di alis? (Tertawa).

Nggak takut AIDS?

Sempat takut dengan jarum tindiknya, sih. Tapi, waktu itu ternyata jarumnya masih dibungkus plastik. Yang nindik juga pakai sarung tangan. Lebih save-lah.

Ada masalah sehabis tindik?

Nggak sakit, sih, cuma sengsara. Kapok, ah! Sit-up nggak bisa. Harus jagain biar nggak kena keringat. Mandi mesti kering, bahkan dua hari pertama setelah tindik nggak boleh mandi sama sekali. Nggak bisa tengkurep, dan yang paling menyengsarakan... aku nggak boleh meluk guling. Padahal, aku demen banget meluk guling waktu tidur.

Kalau meluk yang lain boleh nggak, Ki?

Keprihatinan Cheche Kirani

caption:...........; Menulis cerita

MASALAH eksploitasi perempuan ternyata sudah lama menarik minat bintang iklan dan sinetron Cheche Kirani. Sejak lulus SMU pada 1997, ia mulai mengamati kehidupan kaum Hawa yang mangkal di warung remang-remang di jalur pantai utara alias pantura. Utamanya di Karawang, Jawa Barat. "Saya berusaha melihat secara langsung, dan mendekati orang-orang di situ," ujar Cheche kepada Heni Kurniasih dari Gatra.

Cheche, 23 tahun, tertarik soal eksploitasi wanita karena, menurut dia, problem ini sekarang makin parah. "Perempuan tidak dihargai. Sudah dieksploitasi, disalahkan lagi!" Keprihatinan itu akhirnya memunculkan ide menulis cerita yang bakal dikembangkan menjadi skenario film. "Saya coba bikin padat berisi, tapi pesannya sampai ke masyarakat," Cheche menambahkan.

Gadis yang punya nama asli Hetty Heryani ini belum tahu akan seperti apa format filmnya. "Mungkin model FTV --'Film Televisi'," katanya. Concern Cheche ternyata tak sebatas membuat cerita untuk skenario film. Di masa mendatang, katanya, ia ingin membuka pusat rehabilitasi buat perempuan-perempuan kurang beruntung itu. "Pinginnya sih memberi bekal keterampilan, supaya mereka bisa membuka usaha sendiri."

Pemilihan Kontroversial Franky

caption: .........; Menunggu pelantikan

SEKITAR 400 seniman berkumpul di Gedung Republika, Jakarta Selatan, Ahad dua pekan lalu, dalam ajang Musyawarah Seniman Jakarta. Dipimpin penyair Suparwan G. Parikesit, mereka menggelar pemilihan pengurus Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2002-2005. Dari lima kandidat ketua, terpilihlah musikus Franky Sahilatua. "Sekarang kami sedang menunggu pelantikan dari Gubernur DKI Jakarta," katanya.

Terpilihnya Franky ternyata mengundang protes dan kontroversi. Sastrawan Hamsad Rangkuti menilai pemilihan itu cuma ulah sekelompok orang tak puas. Franky hanya tersenyum kalem menanggapi protes itu. "Saya merasa pemilihan itu sah," ujarnya. Kepada Novrizal dari Gatra, Franky menegaskan, sepanjang eksisnya DKJ, pemilihan ini yang paling demokratis. "Biasanya Ketua DKJ ditunjuk begitu saja untuk kepentingan kelompok tertentu!"

Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 16 Agustus 1953, ini pun menyatakan sudah menyusun program. Pendek dan panjang. Pendeknya: akan menggairahkan kembali kehidupan kesenian di Jakarta. Sedangkan panjangnya, memajukan kesenian di Jakarta dan nasional menuju tingkat dunia. "Pada intinya, saya ingin DKJ menjadi milik semua seniman di Jakarta. Itulah visi dan misi saya."

cover-43-2002 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Media
Meskipun Tetapi
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Perilaku
Ragam
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Surat & Komentar
Tamu Kita
Tari
 
Created and maintained by Gatra.com