Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

VONIS
Sela Menakar Bebas

Hokiarto, terdakwa kasus ruilslag Bulog dengan Goro, diputus bebas. Akibat kendurnya dakwaan jaksa.

CAIR sudah "ketegangan" Hokiarto, terdakwa yang terjerat kasus tukar guling tanah (ruilslag) antara Bulog dan PT Goro Batara Sakti. Juragan tanah berusia 68 tahun itu tampak gembira dan terus menebar senyum kepada orang-orang yang menyalaminya. Maklum, dalam putusan sela di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu, majelis hakim yang diketuai Zubair Jayadi menolak seluruh dakwaan Jaksa Immanuel Zebua.

Dipandu penasihat hukumnya, Hotman Paris Hutapea, Pak Hok --demikian ia biasa dipanggil-- bersedia melayani pertanyaan pers. "Ya, senang, saya bersedia berdebat secara umum. Walau saya tak bersalah, saya serahkan semua pada pengacara saya," katanya. Hotman menambahkan, pihaknya akan minta Jaksa Agung mengadakan debat publik membahas kasus ini.

"Kami siap hadir didampingi Hokiarto serta dihadiri LSM dan profesor hukum pidana untuk menunjukkan bahwa dakwaan itu sangat tidak cermat," kata pengacara yang dijuluki jago kasus-kasus kepailitan itu. Kali ini, lagi-lagi ketidakcermatan jaksa penuntut umum jadi takaran hakim untuk menolak dakwaan.

Disebutkan, dakwaan jaksa dengan jeratan pasal yang berlapis-lapis disusun secara tak cermat, jelas, dan lengkap. Karenanya, dakwaan dinilai kabur (obscure libel), dengan alasan unsur-unsur yang didakwakan tak memenuhi syarat materiil. Selanjutnya hakim membebaskan terdakwa dari jerat hukuman, serta mengembalikan berkas perkaranya kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Selain itu, dinyatakan pula, PN Jakarta Selatan tak punya kewenangan absolut memeriksa dan memutus kasus ini. Dalilnya, locus delicti atau tempat terjadinya korupsi seperti dituduhkan jaksa tak saja di kantor Bulog yakni Jakarta Selatan, melainkan juga di Marunda, Jakarta Utara. Saksi-saksi yang diajukan pun berada di Marunda.

Sehingga, merujuk Pasal 84 ayat 2 KUHAP, mestinya pengadilan yang berwenang memeriksa dan memutus kasus Hokiarto adalah PN Jakarta Utara, bukan Jakarta Selatan. Sedangkan ketidakcermatan dakwaan jaksa, menurut majelis, terlihat pada pencampuradukan perbuatan berlanjut (voorgezette handeling) dengan perbuatan yang berdiri sendiri (concursus realis).

"Kedua perbuatan itu tak bisa disatukan karena akan menyulitkan terdakwa dalam membuat pembelaan. Apalagi untuk kedua perbuatan itu berbeda dalam penjatuhan hukumannya," kata Zubair.

Hokiarto adalah terdakwa terakhir yang diadili dalam kasus yang telah merugikan negara Rp 52,5 milyar itu. Sidang untuk dia molor hingga tiga tahun. Berkasnya saja baru dilimpahkan ke PN Jakarta Selatan, 23 Juli lalu. Padahal terdakwa lainnya, yaitu Hutomo Mandala Putra, Ricardo Gelael, dan mantan Kabulog Beddu Amang, divonis hampir tiga tahun lalu.

Hotman Paris menilai, ada upaya menjadikan kliennya kambing hitam dalam kasus ruilslag Bulog dengan Goro. Tujuan awal adalah menyelamatkan tiga terdakwa yang lain. Tapi, skenario itu gagal kala terdakwa lain justru divonis bersalah. Indikasinya, tambah Hotman, Hokiarto pernah disodori berita acara pemeriksaan yang telah terisi. "Isinya menyudutkan Hokiarto. Untung urung diteken," katanya.

Sementara itu, Jaksa Zebua langsung menyatakan verzet (perlawanan) ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Nah, apakah Hokiarto akan mengikuti jejak Beddu? Kita tunggu saja. Pasalnya, dakwaan jaksa atas Beddu pernah ditolak PN Jakarta Selatan dalam putusan selanya. Tapi, jaksa mengajukan kembali dakwaan, dan Beddu divonis dua tahun penjara. Malah, di tingkat banding ditingkatkan jadi empat tahun.

G.A. Guritno dan Zainal Dalle
ARTIKEL LAIN

cover-43-2002 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Media
Meskipun Tetapi
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Perilaku
Ragam
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Surat & Komentar
Tamu Kita
Tari
 
Created and maintained by Gatra.com