Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

KONEKSI INTERNET
Internet di Kabel Listrik

Kabel listrik di rumah bisa dipakai untuk koneksi ke internet dengan kecepatan tinggi. Sukses di Jakarta, kini dipasang di Bandung, Semarang, dan Surabaya. Telkom terancam?

STEPHEN Wildstrom bisa menarik napas lega. Ia tak lagi pusing dengan belitan beberapa jenis kabel di rumahnya. Ada kabel listrik, antena, telepon, dan satu lagi kabel untuk koneksi internet kecepatan tinggi yang jadi kebutuhan sehari-harinya. Kini, kolomnis Technology & You, majalah BusinessWeek, itu tak perlu lagi mengangkat karpet dan meletakkan kabel baru untuk koneksi internet lewat notebook-nya.

Cukup menusukkan jack ke saklar listrik mana pun di rumahnya, sudah terhubung ke internet. "Koneksinya bagus, memadai untuk menonton video secara online," tulis Wildstrom dalam majalah bisnis tersebut edisi pekan lalu. Teknologi yang dirasakan Wildstrom itu memang terbilang baru. Jaringan Homeplug Powerline, begitu nama teknologi itu, memanfaatkan kabel yang dilintasi listrik untuk mengalirkan data atau untuk koneksi internet.

Meski kabel listrik sejak 30-an tahun lalu sudah biasa dipakai untuk saluran komunikasi, penggunaannya untuk internet baru berkembang sekitar lima tahun belakangan ini. Dan baru tahun lalu terbentuk sebuah kongsi yang melibatkan perusahaan-perusahaan teknologi mancanegara.

HomePlug Powerline Alliance (www.homeplug.com), nama kongsi itu, tujuannya untuk menstandarkan berbagai perangkat menggunakan teknologi ini. Di situ terlibat Intel, Motorola, Cisco, Compaq, Sony, Sanyo, Samsung, Philips, dan belasan perusahaan lain.

Kenapa perusahaan pembuat peralatan rumah tangga bisa terlibat dalam kongsi tersebut? Karena proyek ambisius itu sedang berupaya membuat semua peralatan di rumah terkoneksi ke internet. Jadi, mulai televisi, kulkas, microwave, hingga pendingin ruangan bisa dioperasikan lewat internet dari mana pun.

Ambisi itu memang masih digarap. Tapi, satu hal, ternyata tak hanya Wildstrom di New York sana yang sudah bisa merasakan koneksi internet lewat kabel listrik. "Sejak 9 Agustus tahun lalu, tiga rumah di Perumahan Karyawan PLN Duren Tiga, Jakarta, sudah merasakannya," kata Waluyo Nugroho Harjowinoto kepada Rifki Royhan dari Gatra.

Waluyo, pria kelahiran Bandung, 50 tahun lalu, adalah Presiden Direktur PT Indonesia Comnets Plus atau ICON +. Perusahaan yang didirikan 3 Oktober 2000 itu adalah anak PLN yang menyediakan layanan telekomunikasi dan teknologi informasi.

Setelah berhasil di tiga rumah, lanjut Waluyo, yang sudah 25 tahun berkerja di PLN, layanan ini telah pula dipasang di 20 rumah karyawan Perusahaan Listrik Negara itu. Sampai Agustus depan, Waluyo sedang memasang teknologi itu di 400 rumah yang tersebar di Bandung, Surabaya, dan Semarang.

Menurut Waluyo, kecepatan lintasan data di atas kabel listrik di sini bisa mencapai 2 megabyte per detik (Mbps). Sedangkan dengan kualitas kabel lebih bagus, di Singapura bisa mencapai 4,5 Mbps. Malah, uji coba di Italia bisa 14 Mbps. Untuk perbandingan, rata-rata kecepatan lintasan data lewat kabel telepon saat ini di Jakarta hanya sekitar 14 kilobyte per detik. Dengan kecepatan 2 Mbps, bukan hanya mengirim e-mail, nonton video online (video streaming) pun akan terasa nikmat. Tentu kalau penyedia layanan internet (ISP)-nya sanggup menyediakan servis istimewa tersebut.

"Teknologi ini sudah proven," kata Waluyo. Malah, ia melanjutkan, hasil uji coba juga menunjukkan, kabel listrik bisa dipakai untuk komunikasi suara dengan teknologi VoIP (voice over internet protocol). Dampak dari ini, menurut Waluyo, nantinya ponsel akan memiliki colokan listrik. Jadi, kalau mau menelepon, tinggal cari saklar listrik.

Dampaknya juga, kalau ini diterapkan, maka boleh jadi kabel telepon di rumah bisa dipangkas. Artinya, orang tak perlu berlangganan ke Telkom. Tapi, justru itulah, menurut Waluyo, yang menjadi kendala untuk menjual teknologi tersebut ke masyarakat umum. "Kami perlu izin khusus dari pemerintah. Kalau besok izin diberikan, kami sudah bisa mulai bekerja," katanya.

Harga pemasangan peralatan itu, menurut Waluyo, terbilang murah. "Kami targetkan harganya sekitar US$ 275 tiap satuan sambungan," katanya. Saat ini, untuk pasang telepon di Jakarta sekitar US$ 300. Apalagi, lanjut lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, saat ini untuk Jawa-Bali baru terpasang 7 juta telepon, tapi pelanggan PLN mencapai 15 juta.

Dosen Teknik Elektro ITB, Dr. Budi Rahardjo, sependapat dengan Waluyo. "Kalau sekarang banyak yang tak bisa mengakses internet karena tidak ada kabel telepon, lewat teknologi ini akan tambah banyak orang yang bisa akses internet," katanya. Tapi, Dr. Onno W. Purbo, sejawat Budi di ITB, menambahkan, "Sialnya, rakyat Indonesia kebanyakan miskin, jadi nggak punya komputer di rumah. Ya, repot kalau mau jual sambungan ke rumah yang nggak ada komputernya," kata Onno kepada Mappajarungi dari Gatra.

Dani Hamdani

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com