Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

GATRASIANA

Kuis Radio Murah Meriah

Acara kuis menjadi favorit pendengar Radio Angkringan di Bantul, Yogyakarta. Pesertanya adalah pendengar yang telah membeli "kartu permintaan lagu".

BIKIN stasiun radio sekarang lebih mudah ketimbang di masa Orde Baru dengan Departemen Penerangannya. Persoalan izin mengudara dan pemakaian frekuensi tak lagi dipersulit. Asal pemerintah daerah setempat oke, ya, mengudara. Itulah yang terjadi dengan radio Angkringan, Bantul, Yogyakarta, yang terpancang di frekuensi 89,9 FM.

Hingga pekan lalu, Angkringan masih setia mengunjungi pendengarnya. Stasiun radio yang berdiri pada 2001 itu kian disukai warga Desa Timbul Harjo, Sewon, Bantul, yang cuma dihuni 17.000 jiwa.

Tentu, radio komunitas itu berbeda dengan puluhan stasiun radio komersial di Yogyakarta. Mereka tak pusing soal duit untuk ongkos siaran. Radio Angkringan memang dibangun untuk klangenan masyarakat Timbul Harjo. Misalnya, ada acara obrolan ringan tentang situasi dan kondisi desa, cerita tentang Pak Kades, dan jalan yang berdebu.

Lalu, ada acara kuis yang kini jadi favorit pendengar. "Paling tidak, seminggu ada 100 orang yang ikut," kata Akhmad Nasir, satu di antara empat penyiar Angkringan, kepada Sawariyanto dari Gatra.

Kuis ala Bantul itu unik, sederhana, tapi memuaskan peserta dan sponsornya. Pesertanya adalah pendengar yang telah membeli "kartu permintaan lagu" seharga Rp 100 per lembar. Kartu itu cuma berlaku untuk satu lagu dan sekali ikut kuis. Tentu, ada hadiahnya. Jangan kaget kalau sponsornya kini antre. Dari bengkel sepeda motor, pedagang, usaha sablon, hingga tukang pijat.

Tanyakan saja pada Geno, pemenang kuis edisi 27 Mei lalu. Pramuniaga toko kelontong di Yogyakarta itu memenangkan hadiah: dua porsi sate di warung Mbak Sri, yang terletak di Timbul Harjo juga. Ia sukses menjawab pertanyaan kuis tentang nama-nama anggota Badan Perwakilan Desa Timbul Harjo.

Dua hari sebelumnya, ada yang beruntung dapat servis gratis sepeda motor di sebuah bengkel kecil. Bulan lalu, Sigit menggondol kaus oblong dan stiker ukuran 5 x 5 sentimeter dari sponsor kuis, tukang sablon di Dusun Mirikulon. "Saya puas dengan hadiahnya," kata Geno, yang mengajak istrinya menikmati sate Mbak Sri yang kesohor di desa itu.

Para pemberi hadiah pun rupanya puas. Cuma dengan dua porsi sate atau kaus oblong, sudah bisa beriklan dengan jingle bikinan Angkringan tanpa biaya tambahan. Pekan ini, peserta akan dapat hadiah kejutan dari Mbah Wongso, si tukang pijat.

Foto Mahal Petinggi Karawang

BIKIN foto bintang film beken, lalu menjualnya dengan harga mahal, biasa dilakukan para tukang foto. Namun, foto yang satu ini harganya: Rp 150.000 per dua lembar foto ukuran 10R. Padahal, sang tokoh bukan artis atau selebriti Ibu Kota, melainkan duet petinggi Kabupaten Karawang: Achmad Dadang (bupati) dan Salahudin (wakil bupati).

Ceritanya berawal dari ide Pemerintah Kabupaten Karawang untuk menyosialisasikan wajah pasangan Achmad Dadang dan Salahudin. "Masak, warga tak kenal wajah bupatinya," kata Enceng Sukanda, kepala bagian pengawasan daerah. Gagasan itu baru bergulir tiga minggu silam.

Maka, dimulailah "proyek foto" tersebut. Awalnya, urusan memperbanyak foto itu menjadi kerjaan bagian humas. Belakangan, Balai Pemeriksaan Daerah yang jadi distributor bagi seluruh kantor kepala desa dan kantor camat di Karawang.

Penyebaran foto pasangan petinggi kabupaten itu belakangan bermasalah. Foto yang sudah dicetak dan dibingkai rapi tak juga diambil para kepala desa dan camat. Sampai pekan lalu, foto-foto itu masih menumpuk di kantor Balai Pemeriksaan Daerah.

Keengganan para camat dan kepala desa menyangkut harganya. "Kami tak keberatan mengganti ongkos cetak dan bingkai. Tapi, jangan semahal itu," kata seorang kepala desa, seperti dituturkan Wawan, satu di antara distributor foto, kepada Sulhan Syafi'i dari Gatra.

Siapakah yang mematok harga setinggi itu? Tak satu pun mau buka kartu. Kata Enceng Sukanda, ia tidak tahu-menahu soal harga. "Coba tanya humas saja," katanya. Eh, Nunu Nugraha, kepala humas, malah kaget mendengar harga foto karyanya jadi mahal. "Foto itu gratis buat kantor desa dan kecamatan. Sumpah, ada tulisannya gratis," katanya.

Entah siapa yang bikin ulah. Yang jelas, foto-foto itu sampai pekan lalu tak laku. Bisik-bisik mengatakan, ihwal tarif mahal itu sengaja diembuskan orang karena adanya gesekan bagian humas dengan Balai Pemeriksaan Daerah. "Itu kan dulu proyeknya humas, kok diambil alih Balai Pemeriksaan Daerah," kata sumber itu.

Dipo Handoko

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com