Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KRIMINALITAS

NARKOTIKA
Sindikat Kwok Masuk Apotek

Sebuah apotek di Jakarta Barat digerebek polisi dengan dugaan menjual bahan ekstasi. Apotekernya menyebut hanya menjual bahan obat keputihan. Dimentahkan tersangka pembuat ekstasi.

RIWAYAT Apotek Langkat terancam tamat. Apotek yang sudah beroperasi selama 20 tahun di Jalan Jelambar Utama, Grogol, Jakarta Barat, itu Senin pekan lalu digerebek polisi. Linawati, apoteker sekaligus pemilik Apotek Langkat, juga digaruk polisi. Wanita berusia 50 tahun ini dijebloskan ke sel tahanan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya.

Linawati digaruk setelah setengah jam sebelumnya, menurut versi polisi, menjual evedrine bahan pembuat ekstasi kepada Sun Fa Lie, 48 tahun, tersangka pembuat ekstasi. Pengungkapan kasus ini, menurut Kepala Satuan Reserse Narkotika Polda Metro, Ajun Komisaris Besar Polisi Carlo Brix Tewu, memakan waktu tiga bulan.

Awalnya, polisi menciduk Anton, bandar narkoba di kawasan Jakarta Barat, 24 Februari lalu. Dari tangan Anton, polisi menyita 100 gram shabu-shabu dan 100 butir ekstasi. Ia mengaku membeli shabu-shabu dan ekstasi itu dari Kwok Budhi Dharmo, 43 tahun, bandar narkotika yang tinggal di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Walau demikian, polisi tak langsung mencokok Kwok. "Target kami membongkar jaringan Kwok sampai akarnya," kata Carlo Tewu. Ahad dini hari menjelang subuh pekan lalu, polisi meringkus tiga tersangka pengedar ekstasi di sebuah diskotek, kawasan Jakarta Utara. Mereka adalah Leo Chandra Ahua, Johan Cuan, dan Robert Ahim, masing-masing mengantongi sebutir ekstasi.

Obat setan tersebut, menurut pengakuan mereka kepada polisi, dibeli dari Kwok Budhi Dharmo. Lewat perantara Ahua, polisi mengontak Kwok untuk membeli ekstasi. Kwok tak tahu bahwa dia dijebak. Ia datang dengan 100 butir ekstasi dan 100 gram shabu-shabu di tangan.

Bandar narkotika itu digaruk polisi di depan pos penjagaan Koramil Tambora, Jakarta Barat. Kwok kedapatan menyimpan 550 butir ekstasi dan 3 kilogram berbagai bahan pembuat pil setan, di rumahnya. Dalam pemeriksaan polisi, Kwok mengaku punya banyak pengedar. Antara lain Morante, yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang karena kasus narkotika, dan Lutfi, masih buron.

Juga Ramli yang tertangkap 11 Juni 2001, dengan barang bukti 15 gram shabu-shabu. Kini, Ramli mendekam di LP Cipinang, Jakarta. Selain itu, Kwok juga mengaku mendapatkan bahan baku esktasi dari Sun Fa Lie, istri Ramli. Polisi lantas menjebak Sun Fa Lie, dengan perantara Kwok yang mengontak wanita ini lewat telepon.

Kwok disuruh memesan bahan ekstasi kepada Sun Fa Lie. Ibu tiga anak ini menyanggupi permintaan Kwok. Tentu saja, ia tak tahu bahwa Kwok sudah tertangkap. Sekitar pukul 09.00 Senin pekan lalu, Sun Fa Lie menumpang bajaj meninggalkan rumahnya di Kavling Polri Blok E, Jelambar, Jakarta Barat.

Dua anggota reserse Polda Metro Jaya, yang menyamar sebagai tukang ojek, membuntuti Sun Fa Lie. "Ia sempat singgah di ATM BCA di Jalan Jelambar Utama," tutur Carlo Tewu. Usai menghambil duit di ATM BCA, bandar narkotika sindikat Kwok ini meluncur ke Apotek Langkat.

Di apotek itu, kata Carlo Tewu, Sun Fa Lie membeli bahan ekstasi evedrine sebanyak 1 kilogram seharga Rp 3,6 juta. "Duit itu diterima langsung oleh Linawati, pemilik apotek," kata Carlo Tewu. Dari apotek, Sun Fa Lie pulang ke rumahnya.

Fa Lie disergap polisi beberapa saat setelah melangkahkan kaki di lantai rumahnya. Di rumah itu, polisi mendapatkan enam bungkus plastik berisi 150 butir pil ekstasi. Babak berikutnya, polisi meringkus Linawati dan menggerebek Apotek Langkat.

Di sana, menurut Carlo Tewu, petugas menemukan 1 kantong plastik berisi amphetamin 25 gram. "Barang itu disimpan di rak kaca di bawah meja kasir," kata Carlo Tewu. Ketika Linawati dipertemukan dengan Sun Fa Lie, ia bersumpah tak mengenal Fa Lie.

Lebih dari itu, Linawati juga menyatakan bahwa apoteknya tak menjual bahan ekstasi. "Saya justru geli dengan tindakan polisi. Yang saya jual itu kan obat biasa seperti yang dijual apotek lain. Mengapa saya ditangkap?" ujar Linawati. Ia menegaskan, barang yang dibeli Sun Fa Lie itu untuk campuran obat keputihan. "Kok, sekarang dibilang jadi bahan ekstasi," kata Linawati.

Pernyataan Linawati dimentahkan pengakuan Sun Fa Lie. "Saya memang beli evedrine dari Apotek Langkat. Tapi, kalau dia menyangkal, ya, boleh saja," kata Sun Fa Lie. Wanita ini mengaku baru satu bulan membikin ekstasi di rumahnya. Setiap hari, rata-rata ia mencetak 100 tablet ekstasi.

Evedrine yang dibeli dari Apotek Langkat, menurut keterangan Sun Fa Lie kepada polisi, merupakan salah satu bahan campuran untuk membuat ekstasi. Keterangan Sun Fa Lie tentang kegunaan evedrine juga dibenarkan seorang pejabat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta, yang datang ke Markas Polda Metro Jaya mengambil contoh bahan baku obat terlarang sitaan polisi.

"Bahan obat itu sebenarnya hanya pelengkap untuk membuat ekstasi," kata pejabat Badan POM yang tak mau disebut namanya itu. Kalau evedrine hanya bahan pelengkap, lalu dari mana Sun Fa Lie mendapatkan bahan baku utama ekstasi?

Heddy Lugito dan Hendri Firzani

Arena Pesta Warga Pendatang

KEHADIRAN David Edward Malaiholo di Kampung Cipayung, Ciputat, Tangerang, mengundang perhatian warga setempat. Betapa tidak, pria perlente berkulit bersih bertubuh tinggi besar itu bersedia menempati gubuk reyot. David, 32 tahun, mengontrak kamar berukuran 2 x 7 meter, bagian rumah petak milik Siti Sadiah.

"Saya juga heran, kok ada orang kaya yang mau tinggal di rumah jelek," kata Siti Sadiah. Bahkan, ketika Sadiah menawarkan harga sewa kamarnya Rp 150.000 sebulan, David langsung membayar kontan. Padahal, harga standar kamar itu cuma Rp 100.000 per bulan. "Itu pun jarang ada orang mau," ujar Sadiah.

Ketua RT 01/07 Cipayung, Umar, juga mencurigai David. Pada KTP-nya tertulis pekerjaannya swasta. Ketika ditanya lebih jauh, David mengaku berdagang bambu, ambil bambu di Sumatera lalu menjualnya ke Jakarta. Apalagi, sejak pertama ia datang di daerah itu, 18 Mei lalu, sudah banyak tamu David yang datang.

Mereka selalu naik mobil pribadi. Setiap malam, paling tidak dua hingga tiga teman David bermalam di sana. Pukul 21.30 Ahad pekan lalu, empat teman David datang. Mereka mengendarai mobil Toyota Soluna warna ungu dan sedan Mitsubishi Lancer.

Setelah mereka masuk ke kamar David, lampu bagian depan rumah kontrakan itu dimatikan. Perilaku David dan teman-temannya mengundang kecurigaan warga, termasuk Romlih. Pria berusia 42 tahun ini mengajak dua pemuda kampung mengintip kelakuan David dan temannya.

Tiga warga kampung Cipayung itu melihat David dan kawannya sedang asyik menyuntikkan putauw ke tubuhnya. Seorang warga melaporkan temuannya kepada Udin, anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Ciputat yang tinggal di kampung itu. Udin bersama belasan warga mendobrak pintu kamar yang ditempati David.

Warga menangkap tiga pecandu putauw: David, Aries, 22 tahun, dan Raymond, 21 tahun. Sedangkan dua orang yang belakangan diketahui bernama Teddy dan Umbu bisa meloloskan diri dari sergapan warga. Di rumah itu, warga menemukan satu paket putauw dan beberapa jarum suntik yang sudah dipakai dan yang masih baru.

Penemuan jarum suntik dan serbuk setan milik warga pendatang itu memicu kemarahan warga Cipayung. Ratusan orang rame-rame membakar dua mobil sedan, Toyota Soluna warna ungu milik Aries dan Mitsubishi Lancer milik Raymond. Kemarahan warga terhadap pengedar dan pecandu narkotika itu memang cukup beralasan.

"Karena warga sudah lama berusaha jangan sampai kampungnya kemasukan narkoba. Eh, sekarang ada pendatang yang membawa barang setan itu," kata Umar. Selain membakar mobil, warga juga menyekap David dan Aries di rumah kontrakan itu. Dua orang ini dihajar massa hinga babak belur.

Satu jam kemudian, polisi bisa mengevakuasi tersangka. David, Aries, dan Raymond ditahan di Polsek Ciputat. Kapolsek Ciputat, Ajun Komisaris Polisi Sutana, yang ditemui wartawan Gatra Heni Kurniasih, menyatakan bahwa dari tiga tersangka yang ditangkap, hanya David yang diketahui sebagai pengedar putauw.

Sedangkan Aries dan Raymond hanya pecandu. David, menurut Sutana, sejak sebulan lalu menjadi target operasi Polsek Pamulang, Tangerang. Karena itu, David yang semula tinggal di Pamulang kemudian pindah ke Cipayung, mengontrak rumah. "Ia jadikan tempat itu untuk traksaksi narkoba," kata Sutana.

Namun, kepada Gatra, David mengaku sebagai pemakai putauw, bukan pengedar. Mengapa saat diperiksa polisi, mengaku pengedar? "Saya mengaku pengedar karena sudah hancur," kata bapak dua anak itu. "Nggak ada pilihan lain."

Heddy Lugito
ARTIKEL LAIN

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com