Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KRIMINALITAS

PREMANISME
Kampus Menunggu Petrus

Sejumlah mahasiswa USU, Medan, jadi korban kekerasan preman. Seorang tewas. Penembak misterius dianggap jalan keluar paling efektif.

SEKITAR 200 mahasiwa Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, yang tergabung dalam Forum Mahasiswa USU Bersatu, Rabu dua pekan lalu berunjuk rasa. Bukan ke kantor pejabat atau DPRD. Melainkan keluar masuk gang di sekitar kampus di daerah Padang Bulan, Medan, yang dianggap sarang preman. Mereka menuntut agar preman segera dibasmi dan organisasi kepemudaan yang melindunginya dibubarkan. Kemudian polisi diultimatum. Jika dalam 2 x 24 jam sekitar kampus tak bersih dari preman, mereka akan bertindak sendiri.

Gayung bersambut. Esoknya, Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Medan, Komisaris Besar Badroddin Haiti, mengumpulkan 70 polisi dari 14 sektor sekota Medan. Selama dua hari menggeledah lokasi tadi, polisi berhasil menjaring 154 preman. Di antaranya, 50 orang ditahan untuk diadili. Mereka diketahui memeras, membawa senjata tajam, dan terlibat narkoba.

Mahasiswa belum puas. Menurut Sugiat Santoso, seorang presidium aksi itu, tindakan polisi masih temporer. Nanti, sebulan setelah dirazia, preman itu beraksi lagi. Padahal, sekitar kampus USU sudah lama tak aman. Banyak mahasiswa jadi korban pemerasan dan penganiayaan. Mereka didatangi di tempat kosnya dan dipaksa membayar uang keamanan, Rp 7.500 sampai Rp 20.000 per kamar setiap bulan. Jika tak punya uang, mahasiswa dipaksa meneken surat utang. Yang membantah dihajar. Malah, kalau ada acara kesenian, mereka tak segan-segan masuk kampus meminta uang keamanan.

Contohnya Ronald dan Parulian, mahasiswa fakultas teknik. Pada 18 Mei lampau, keduanya dibawa ke kantor Ikatan Pemuda Karya (IPK) Ranting Pasar I, Padang Bulan, karena menolak membayar uang keamanan. Mereka dihajar. Akibatnya, hidung Ronald patah. Sehari kemudian, Armansyah Putera, mahasiswa fakultas sastra, ditemukan tewas di kota Kabanjahe, sekitar 90 kilometer dari Medan. Presiden Mahasiswa USU, Sayid Azhar, menyebutkan, dini hari sebelum jadi mayat, Armansyah diculik tiga orang tak dikenal. Katanya, mereka menagih utang. Tapi, siapa tersangka pelakunya, belum terungkap.

Kini, mahasiswa menyiapkan gerakan lebih besar, melibatkan 24.000 mahasiswa USU, menghadapi preman tersebut. Langkah pertama, setiap kelompok permukiman diwajibkan melaporkan setiap intimidasi dan pemerasan yang mereka alami ke organisasi intra dan ekstrakampus untuk diatasi. Sugiat dan Hendra tak sependapat kalau, misalnya, Resimen Mahasiswa dihidupkan kembali untuk tugas-tugas tersebut. Mereka malah cenderung menginginkan preman itu dihabisi oleh petrus alias penembak misterius. "Gimana lagi. Jika masyarakat tak berani lagi menghadapi preman, ya, petrus itulah," katanya.

Arfan Maksum Nasution, Sekretaris Umum IPK Sumatera Utara, tak yakin anggotanya memeras mahasiswa. Soalnya, anggota IPK juga dari mahasiswa. Namun, Arfan minta ditunjukkan nama anggota IPK yang dicurigai. Jika terbukti, mereka akan dipecat dari organisasi dan diserahkan ke polisi. "Garis organisasi sudah jelas. Siapa yang berbuat keji akan dipecat dan dihukum," kata Arfan kepada M. Rizal Harahap dari Gatra.

Menurut Drs. Jhon Tafbu Ritonga, pejabat Humas USU, persoalan preman sudah merata di seantero Medan. Mahasiswa hanyalah salah satu kelompok korban. Universitas tak mungkin mengamankan mereka. Untuk mengamankan kampus yang cuma 100 hektare, 60 satpam yang ada sudah kewalahan. Mahasiswa juga tak perlu bersiskamling. Mereka datang ke USU untuk belajar, bukan meronda. Petrus juga bukan jawabannya. Menurut Jhon, sebagai warga negara, keamanan mahasiswa adalah tanggung jawab polisi, termasuk mengungkap kematian Armansyah. "Jangan sampai seperti kebanyakan kasus pembunuhan selama ini. Tak terungkap pelakunya," ujar Jhon.

Kapoltabes Badroddin Haiti membantah anggapan bahwa razia preman itu dilakukan atas ancaman mahasiswa. Katanya, itu operasi penyakit masyarakat yang sudah rutin. Meski belum semua preman terjaring, ia berharap, razia ini mampu mengurangi tindak kekerasan. Untuk mengamankan kawasan sekitar kampus USU, Badroddin minta mahasiswa bersama kepala lingkungan setempat berani memberi informasi. "Polisi pasti bertindak, tak peduli apa pun organisasi di belakangnya," ujarnya. Kematian Armansyah juga masih diusut. Usul petrus itu? "Yang bersalah ditangkap. Melawan, ya, ditembak. Tak perlu petrus. Itu melanggar hukum," katanya.

Fachrul Rasyid HF
ARTIKEL LAIN

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com