Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KRIMINALITAS

TENAGA KERJA WANITA
Bisnis Bayi Negeri Jiran

Bayi asal Indonesia diselundupkan ke Malaysia. Calo tenaga kerja membawa wanita hamil ke negeri jiran. Mereka disekap hingga melahirkan, bayinya dirampas, lalu dijual.

TIGA wanita muda berurai air mata mengadukan nasib mereka ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (YLBH-PIK) Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat dua pekan silam. Mereka adalah Ena, 28 tahun, Evi, 21 tahun, dan Yanti, 20 tahun. Semuanya baru datang dari Malaysia bersama bayinya, berumur antara satu dan dua bulan.

Di negeri tetangga itu, mereka mengaku disekap pedagang bayi gelap di Kuching, Serawak. "Saya disekap selama berbulan-bulan," kata Ena. Wanita asal Karangan, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, ini meninggalkan kampung halamannya, pertengahan November 2001. Pada waktu itu, Ena mengandung lima bulan. Hatinya gundah, lantaran ia memergoki suaminya bermain gila dengan wanita lain.

Ibu tiga anak ini kabur dari rumah, tanpa pamit pada siapa pun. Tujuannya Malaysia, mencari pekerjaan. Di dekat Pos Pemeriksaan Lintas Batas ke Malaysia di Entikong, Kalimantan Barat, Ena bertemu seorang pria setengah baya. "Dia bilang, saya akan dicarikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia," tutur Ena.

Sampai di Malaysia, Ena ditempatkan di sebuah rumah besar di kawasan pinggiran kota Kuching. Di rumah itu, menurut Ena, ada belasan wanita asal Indonesia --antara lain Evi dan Yanti-- semuanya sedang hamil. Evi tiba di rumah itu, 5 November 2001. Wanita asal Kabupaten Ketapang ini mengaku, saat tiba di Malaysia sedang mengandung lima bulan.

Evi dihamili pacarnya yang tak mau bertanggung jawab, ketika ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Pontianak. Evi pergi ke Malaysia setelah mendapat tawaran dari lelaki yang kebetulan ditemui di Pasar Kapuas Indah, Pontianak. "Saya ditawari kerja di Malaysia dengan gaji tinggi," ujar Evi.

Evi pun menyeberang ke Malaysia bersama laki-laki yang menawari pekerjaan tadi. Ternyata, ia disekap di rumah "penampungan" wanita hamil. Kisah yang sama dialami Yanti, asal Pontianak, yang mengaku dihamili pria asal Malaysia.

Ia pergi ke Malaysia dengan maksud menuntut tanggung jawab pria yang menghamilinya itu. Sial, Yanti terdampar di tempat penampungan wanita hamil, dan bertemu Evi dan Ena. Ketiga wanita ini tak mengetahui nama pemilik rumah tersebut. Setahu mereka, rumah itu dikelola seorang wanita yang dipanggil "Aunty" alias Bibi.

Di rumah itu, wanita-wanita hamil asal Indonesia ditempatkan di lantai II, dan diperlakukan dengan baik. "Setiap hari mendapat jatah makan yang cukup," kata Evi. Meski demikian, mereka tak diperbolehkan keluar rumah. "Pintu gerbangnya selalu dikunci, dan dijaga keamanan rumah," kata Evi.

Setelah beberapa bulan di tempat penampungan itu, mereka diberitahu si Bibi: bayi yang mereka lahirkan akan dijual sebagai ganti biaya selama mereka tinggal di sana. "Kalau laku dengan harga tinggi, kami akan mendapat bagian," kata Evi pula.

Bayi yang nilai jualnya tinggi, menurut kabar yang didengar Evi, adalah bayi yang berkulit kuning dan bermata sipit. Harganya mencapai M$ 15.000. Sebab, pembeli bayi di negeri jiran itu, katanya, kebanyakan warga Malaysia keturunan Cina.

Bayi berwajah Melayu tidak banyak peminatnya. Harganya cuma M$ 5.000. Beruntung, bayi yang dilahirkan Evi, Yanti, dan Ena semuanya berwajah Melayu. Sehingga, si Bibi pedagang bayi itu perlu waktu berminggu-minggu untuk menjual bayi mereka.

Kesempatan inilah yang digunakan Yanti, Evi, dan Ena untuk kabur bersama bayi mereka. Di penghujung malam pertengahan Mei lalu, Yanti, Evi, dan Ena kabur lewat pintu belakang. Mereka ditolong seorang warga Malaysia, dan diantar ke Kantor Konsulat Jenderal RI di Kuching.

Selanjutnya, Konsulat RI memulangkan Evi, Ena, dan Yanti ke Pontianak. Mereka kini ditampung di asrama YLBH-PIK Pontianak. Menurut Ketua YLBH-PIK Pontianak, Hairiah, pihaknya telah bekerja sama dengan Kepolisian Daerah Kalimantan Barat dan Konsulat RI di Kuching untuk mengusut kasus tersebut.

Berita tentang bisnis bayi asal Indonesia di negeri jiran ini mencuat sejak beberapa tahun silam. Awal Mei 2000, petugas Kepolisian Sektor Seluas, Sambas, Kalimantan Barat, meringkus Farida dan Deny Siburian, yang kedapatan membawa dua bayi merah di dalam mobilnya (Gatra, 13 Mei 2000). Dua bayi mungil itu sedianya akan diselundupkan ke Serikin, Negara Bagian Serawak, Malaysia. Boleh jadi, bisnis bayi di negeri jiran itu sulit dihentikan karena banyak pemainnya.

Heddy Lugito, dan Rulli Nasrullah (Pontianak)

-------------------------

cletukan: .............; Berwajah Melayu
ARTIKEL LAIN

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com