Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KRIMINALITAS

PERCABULAN
Kalender Hilang Sabun Terbilang

Pemeriksaan lanjutan terhadap tersangka kasus VCD sabun dialihkan ke Polda Metro Jaya. Satu tersangka melakukan aksi tutup mulut.

DUA pria tampak digelandang dari ruang tahanan Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung menuju ruang Satuan Reserse, Kamis pagi pekan lalu. Mereka adalah tersangka kasus VCD saru casting iklan sabun, yakni George Irfan, 40 tahun, dan Slamet Ardi Agung Priadi Arifin Hamid alias Arifin, 35 tahun. Sebuah berkas penyerahan dari polisi "kota kembang" itu kepada Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) disodorkan kepada keduanya.

George tampak pucat, sementara Arifin terlihat pasrah saja. Keduanya tampak tak lahap ketika disuguhi hidangan kupat tahu dan makanan kecil berupa "gehu" (tahu isi toge). George dan Arifin saling membuang muka, meski sebenarnya mereka ini kawan akrab. Usai menandatangani berkas, mereka langsung diboyong ke Polda Metro Jaya. Dua mobil sedan, Nissan Cefiro dan Totoya Corolla, secara beriringan membawa dua tersangka itu, dikawal beberapa polisi.

Mereka akan menjalani pemeriksaan lanjutan. "Kami serahkan ke Polda Metro, karena lokasi kasusnya di Jakarta," kata Ajun Komisaris Besar Masguntur Laupe, Kepala Satuan Reserse Polwiltabes Bandung. Sebelumnya, George sudah diperiksa Polwiltabes Bandung sejak ditangkap Rabu dua pekan lalu. Awalnya, kepada penyidik, karyawan Metro TV itu bersikukuh mengaku dijebak Arifin. Ia juga menyebut Arifin-lah otaknya (Gatra, 1 Juni 2002).

Namun, sejak Arifin menyerahkan diri, Senin malam pekan lalu, sikap George menjadi lain. Ia berubah jadi pendiam. Puncaknya, Rabu pekan lalu, saat keduanya diperiksa secara bersamaan di satu ruangan, George melakukan aksi tutup mulut. Ia tak mau menjawab pertanyaan petugas.

Menurut Masguntur, sikap George itu dilakukannya, karena saat diperiksa bersamaan itu, Arifin membantah semua keterangan George. Arifin menyatakan, George adalah atasannya di production house (PH) Indochroma di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Sebagai juru kamera, ia menuruti saja perintah bosnya itu dalam pelaksanaan casting iklan sabun tersebut.

Arifin juga bilang, awalnya casting sabun itu sebenarnya hanya rekayasa. Ide casting itu bermula dari permintaan seorang klien yang ingin dibuatkan foto untuk kalender. Pesanan spesial ini berupa foto-foto wanita cantik dengan pose "berani". Saat itu, pemilik PH, pasangan Hengky dan Lana Togas, sedang pergi ke Australia. George, manajer PH itu, ditunjuk sang pemilik untuk menjadi pimpinan sementara.

Karena order itu, George meminta Arifin mencari model sensual yang akan mengisi gambar-gambar di kalender. "Saya lalu menghubungi agency penyedia model milik Budi Setiawan," kata Arifin. Budi menyanggupi permintaan itu, dan membawa enam gadis model. Sejak itulah, casting bodong berbanderol iklan sabun dilakukan. Arifin mengaku, ia mengarahkan gaya tiga model. Sisanya, dua model, diarahkan George Irfan, sedangkan satu model lainnya diarahkan Dariel Togas (kakak Lana Togas). Menurut Arifin, peristiwa itu terjadi sekitar Oktober 2000.

Namun, selang beberapa hari kemudian, pemesan kalender tak kunjung datang. Tunggu punya tunggu, toh sia-sia juga. Transaksi proyek kalender syur itu batal. Budi lalu meminta Arifin meng-copy hasil rekaman atawa masternya, berbentuk VHS, dalam bentuk VHS juga. Jumlah kopian ini ada dua. Yang satu dibiarkan seperti masternya, yang lainnya ditambahi dengan casting tiga model baru.

Budi lalu meminta Arifin mentransfer dua copy kaset itu ke dalam bentuk VCD. Tempat transfernya bernama CDBS. Letaknya di dekat Stasiun Kereta Api Kramat, Jakarta Pusat. Hasilnya masing-masing dua keping VCD berisi enam model dan sembilan model. VCD yang berisi enam model diserahkan Arifin kepada Dariel Togas, dan yang berisi sembilan model dibawa Budi. Kalau kemudian beredar VCD saru berisi sembilan model, kata Arifin, besar kemungkinan dari VCD milik Budi.

Kini, Budi menjadi tersangka yang diburu polisi. Keterlibatan Budi dalam casting sabun ini diperkuat pula dengan keterangan satu di antara korban casting bodong itu, yakni Melvi Noviza. Selasa pekan lalu, ia mengadukan kasus yang dialaminya itu ke Polda Metro. Kepada Gatra, ia juga menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya (lihat: Shock Biarpun Tak Telanjang).

Selain Budi, nama lain, yakni Hengky dan Lana Togas, keduanya pemilik PH Indochroma, Dariel Togas, pengarah gaya model, dan pemilik transfer VCD bernama Bambang, juga jadi tersangka kasus ini. Kini, kelimanya menjadi buronan polisi.

Irwan Andri Atmanto, Heni Kurniasih, dan Sulhan Syafi'i (Bandung)

---------------------------

cletukan:

Membuang muka
ARTIKEL LAIN

cov-VIII-29
 
RUBRIK

Agama
Album
Apa & Siapa
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Ragam
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com