spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ALKISAH
spacer
 
dr. Ika Widyawati, SpKJ.
Penderita Autisme Bisa “Disembuhkan”

Jakarta, 2 April 2002 15:35
Seorang anak autistik, meski -secara medis- kelainan pada otaknya tidak dapat disembuhkan, secara sosial mereka bisa “disembuhkan”. Maksudnya, si anak autistik itu bisa keluar dari “dunianya”, kemudian membaur dan hidup mandiri dalam masyarakat.

“Tapi itu membutuhkan kerja keras tim terpadu, dari tim medis maupun orangtua anak yang bersangkutan. Dan yang terpenting, mendeteksi anak lebih dini dan tepat waktu,” kata psikiater anak dari Bagian Psikiatri FK-UI/RSCM Jakarta, dr. Ika Widyawati, SpKJ kepada Gatra.com, Selasa (2/4) di Jakarta, saat Peringatan Satu Tahun Berdirinya Sasana Terapi Terpadu Psikiatri Anak & Remaja RSCM.

Hadir dalam acara itu, psikiater anak dr. Hj. W. Edith Humris, SpKJ dan dr. H. Yan Prasetyo, SpKJ, para terapis, paramedis serta para orangtua dan anak yang mengalami gangguan perkembangan, termasuk autisme.

Menurut dr. Ika, tim medis yang dimaksud meliputi dokter anak, psikiater anak, psikolog, ahli terapi bicara, ahli terapi okupasi, ortopedagog dan pekerja sosial.

“Dengan terapi, anak autistik bisa dikurangi masalah perilakunya, kemampuan belajar dan perkembangannya ditingkatkan, terutama dalam penguasaan bahasa, sebagai bekal bersosialisasi,” ujar alumnus program Child and Adolesence Psychiatry, McGill University, Kanada ini.

Fenomena autisme ini, kata dr. Ika –yang banyak mengikuti seminar tentang autisme di dalam dan luar negeri ini- relatif baru bagi masyarakat kita. Sayangnya, masih sedikit informasi dapat diterima masyarakat. Padahal populasi penderita autisme ini, tergolong banyak.

Meski tak ada angka pasti tentang populasi penderita autisme di Indonesia –mengingat lemahnya sistem pendataan di sini, prevalensi autisme di dunia terakhir mencapai 15 sampai 20 per 10.000 kelahiran, atau 0,15 - 0,2 persen.

Menurutnya, kondisi ini meningkat tajam dibanding 10 tahun lalu yang hanya dua sampai empat per 10.000 kelahiran. Bila merujuk data di atas, di Indonesia akan lahir 6.900 anak penyandang autisme per tahun.

“Bahkan, data terakhir menunjukkan, penderita autisme sudah meningkat menjadi satu dalam setiap 125 kelahiran,” tambah salah seorang pendiri Yayasan Autisme Indonesia ini.

Padahal, kata dr. Ika, jumlah psikiater anak di Indonesia sangat terbatas, yakni hanya 25 orang. Dan satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia yang mencetak psikiater anak –setelah sebelumnya menamatkan psikiater umum- adalah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

“Memang, kita masih membutuhkan banyak psikiater anak, terutama yang mendalami masalah autisme ini,” ucapnya.

Kini, ilmu yang didapatkannya dari Kanada tentang metode day care (penanganan sehari penuh) terhadap anak yang mengalami gangguan perkembangan, diterapkan pula di Sasana Terapi Terpadu Anak & Remaja RSCM. Secara intensif, terapi dilakukan dari pukul 9 – 3 sore.

Gambaran Autisme

Dokter Ika menjelaskan, autisme adalah kondisi otak yang secara struktural tidak lengkap, atau sebagian sel otaknya tidak berkembang sempurna, ataupun sel-sel otak mengalami kerusakan pada masa perkembangannya.

Melalui pemeriksaan dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada penyandang autisme, sekitar 30-50 persen mempunyai kelainan pada sereberum (otak kecil).

Penelitian dalam bidang neurologis dan genetika menemukan kerusakan yang khas pada sistem limbik (pusat emosi), yaitu bagian otak yang disebut hipokampus yang berhubungan dengan fungsi belajar dan daya ingat, serta amigdala yang mengendalikan fungsi emosi dan agresi.

"Penyandang autis umumnya tak bisa mengendalikan emosinya. Mereka acap kali agresif, atau sebaliknya pasif seolah tak punya emosi," katanya.

Disebutkan, selain banyak orangtua yang tidak memahami gejala autisme pada anaknya sendiri, kalangan profesional –termasuk para dokter, dokter anak, bahkan psikiater- pun banyak yang belum mengerti tentang autisme.

Mereka biasanya memberikan prognosa bahwa anak (yang autis) itu hanya mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara. Bahkan, ada yang menyamakan penderita autisme dengan penyandang retardasi mental. Sehingga anak autistik lantas dimasukkan di sekolah luar biasa (SLB) -yang khusus melatih bicara (speech therapy). Tentu saja ini tidak pas.

Sementara itu, dr. Edith, sebagai pembicara kedua menjelaskan, begitu “divonis” sang anak menderita autisme, reaksi orangtua bisa beragam. Ada yang sedih, marah dan tidak percaya, menyangkalnya, kemudian memeriksakan anaknya ke berbagai dokter, bahkan ada yang sampai shock (terguncang).

“Karena itu orangtua hendaknya mempersiapkan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan anaknya, yang sehat maupun sakit,” katanya.

Selain itu, tambahnya, para orangtua harus dibekali pengetahuan (knowledge) yang memadai tentang gangguan autisme, ketrampilan (skill) untuk menghadapi anak yang menderita autisme, serta bersikap (attitude) sesuai dengan gangguan pada anaknya, guna menunjang terapi yang dijalankan.

“Idealnya, orangtua bersikap tut wuri handayani, yakni membiarkan anak mengembangkan dirinya, tapi juga tetap menjaganya,” tambah dr. Edith. [Tma]



printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 02 April 2002 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer