Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

SENI RUPA

Harum bunga kaki si kuda

Mulai tengah Februari 2002, dunia memasuki Tahun Kuda. Mengapa sang kuda sering jadi harapan. Dan mengapa dalam seni rupa Cina, kuda dominan dan dimitoskan.

SEORANG kakek di pedalaman Tiongkok kehilangan seekor kuda. Para tetangganya terkejut dan sangat prihatin atas kejadian itu. Namun, si kakek berkata, ia tak tahu harus merasa rugi atau untung. Beberapa hari kemudian, kuda yang hilang kembali lagi, bahkan membawa tujuh kuda yang lain. Para tetangganya merasa bersyukur atas "rezeki besar" itu.

Atas kemujuran ini, lagi-lagi si kakek berkata, ia tak mengerti punya kuda banyak harus merasa untung atau rugi. Lalu pada suatu kali, cucunya yang sudah remaja mulai belajar menunggang satwa gagah perkasa itu. Namun, belum sampai bisa, si cucu terjatuh dan kakinya patah. Atas musibah ini, kakek itu berkata bahwa cucunya cuma jatuh, tapi ia tak paham pula, apakah itu penderitaan atau bagian dari kesukacitaan.

Syahdan, di negeri itu semangat perang sedang berkibar-kibar. Pemerintah mewajibkan lelaki yang sehat menjalani milisi. Delapan kuda si kakek dipinjam untuk dibawa ke medan laga. Si cucu berupaya ikut perang, namun ditolak pemerintah karena sedang cedera kaki. Mendengar penolakan itu, kakek merasa bersyukur, cucu yang disayanginya tidak harus maju bertempur. Di sini ia baru merenung, betapa kuda-kuda itu sesungguhnya membawa berkantong keberuntungan!

Dongeng yang berjudul Sai ung seh ma yen ce fei fu (Kakek kehilangan kuda belum tentu tidak untung) ini konon berkembang pada kekuasaan Han Leng Tee, yang merupakan anak Kaisar Han Hian Tee (220-280 Masehi), yang mengawali zaman Tiga Negara atawa Sam Kok. Itulah periode perang hebat dalam sejarah Tiongkok.

Dari cerita di atas, tampak kuda telah dimitoskan sejak dahulu kala. Kuda, dalam situasi apa pun, selalu membawa untung. Tak hanya untung, kuda juga dimaknai orang-orang Cina dengan berbagai ihwal yang positif. Sebagai simbol pekerja keras, lambang kecepatan, kebergasan (symbol of swiftness). Lantaran itu, dalam khazanah Cina sejak berabad lampau ada ungkapan "ma tao cheng kung", yang artinya Harum Bunga Kaki Si Kuda "apabila sang kuda telah sampai, segalanya selesai".

Selesai dalam arti tuntas atau berhasil. Selain itu, kuda juga diangkat sebagai lambang kegagahan, kekuatan, serta kejelasan tujuan karena, menurut penelitian, kuda adalah satwa yang punya indra nyaris sempurna. Dengan pelbagai alasan itulah, memasuki Tahun Kuda, mulai 12 Februari 2002, atau Cia Gwee 2553, perlambang kuda banyak menjadi harapan. Dalam kemeriahan Imlek ini, bahkan dalam Imlek tahun apa pun, lantas banyak terbaca kaligrafi indah yang berbunyi "chuen fung te i ma thi ci", yang artinya "keriangan musim semi tiba, makin cepat derap kaki kuda".

Dari berbagai legenda atau dongeng kehebatan kuda, dan dari akumulasi aspek positif kuda, dunia seni rupa di Tiongkok memulai perjumpaannya dengan sosok kuda selama berbilang abad. Dan seperti halnya legenda yang memaknai kuda dengan berbagai simbol, sebagian besar lukisan kuda karya jutaan perupa Tiongkok juga menyimpan lambang-lambang. Mitos kuda ini -terutama pada aspek kegagahan, kejantanan, dan kecepatan- setelah mengembang di seluruh kawasan Asia Tengah, kemudian juga berkembang di dunia seni rupa Barat.

Diduga, mitos satwa kuda dalam seni rupa di Barat dibawa oleh Giuseppe Castiglione (1688-1768). Misionaris Jesuit itu semula datang ke Tiongkok untuk menyebarkan agama sambil mengajarkan praktek melukis cara Barat. Dan meskipun akhirnya ia diangkat jadi pelukis Kerajaan Manzhu di Beijing, ke-"Barat"-an Castiglione luntur juga. Ia belajar chinese painting dan segera mengganti namanya jadi Langshining.

Sekembalinya ke Italia, ia banyak mengajarkan gaya seni lukis Cina dalam teknik cat air, dan mengenalkan mitos kuda dalam perlambang seni rupa. Meskipun pada kemudian hari kuda di negeri-negeri Barat tak terlalu mengacu kepada simbol-simbol, karena mereka lebih kepada aspek badaniahnya, yang memang perkasa dan artistik. Kuda dilukiskan dalam berbagai ragam bentuk, berdasar keunikan rasnya: kuda hippideon (yang sangat dikenal pada zaman modern), kuda arabia, kuda poni, kuda thoroughbred, kuda percheion, kuda belgia, sampai kuda sandel. Tak pandang bulu semua kuda itu berhak masuk ke dalam lukisan, patung, grafis, kriya, kriya-seni, dan sebagainya.

Di Amerika, kuda dipopulerkan di antaranya oleh Frederick Remington lewat gubahan patung-patung aksi koboi dari logam. Juga lewat lukisan Rosa Bonheur yang memajang karisma kuda dalam berbagai suasana chaos. Di Eropa, Paul Rubens sempat mengultuskan, juga Salvador Dali yang menegaskannya lewat patung-patung surealis di abad ke-20. Diego Velazquez mengangkat derajat kuda di Spanyol dalam lukisan yang klasik. Perusahaan kristal ternama Prancis, Daum, tahun ini khusus memproduksi art craft bertema kuda dengan mengetengahkan karya desainer populer semacam Hilton McConnico atau Christian Poincignon.

Dalam seni rupa Tiongkok, di samping aneka simbolisasinya, sosok satwa kuda juga dijadikan salah satu basis pokok penguasaan bentuk. Seorang pelukis diakui sebagai seniman yang piawai apabila telah menguasai menggambar kuda. Ihwal penguasaan pelukisan sosok kuda jadi parameter dapat dibaca lewat peristiwa seni yang terjadi di zaman Dinasti Song (960-1279), semasa pemerintahan Huizong, kaisar sekaligus seniman yang menyatukan aliran seni lukis Utara dan Selatan. Kala itu ia mengadakan lomba seni lukis yang temanya menerjemahkan secara visual syair yang berbunyi: "Setelah pulang, menginjak bunga. Menjadi harum kaki si kuda". Karya pemenang lomba ini melukiskan seekor kuda sedang berlari gesit, kepala berlenggok, dengan kakinya dikelilingi beberapa ekor kupu-kupu.

Diketahui, selama ratusan tahun lomba-lomba lukis di negeri ini tak lupa mengetengahkan kuda sebagai subject matter, selain objek bambu yang juga populer. Dalam lihatan umum, hampir semua pelukis Tiongkok legendaris, dari Shi Peihong, Liu Haishu, Qi Baishi, Chang Thacien, bahkan sampai yang akhirnya ternama sebagai seniman modern seperti Zou Wuki dan Wu Guangzong, pernah mempelajari objek kuda secara intensif. Murid Wu Guanzong yang kini populer, Li Fuyuan, juga sangat banyak melukis dunia kuda dalam berbagai geraknya.

Mantan Wakil Presiden Adam Malik (almarhum) memiliki lukisan kuda karya Yin Shaoquan (1644-1711). Sebelum dikoleksi Adam Malik, lukisan ini menjadi milik sejumlah kolektor di Tiongkok dan beberapa negara secara bergiliran. Dalam lukisan itu tertulis sebuah inskripsi yang menjelaskan bahwa seniman yang mampu melukis kuda dengan sempurna adalah seniman yang terdidik. Karena itu, ia harus diberi bintang kehormatan. Inskripsi itu menyiratkan logika: siapa pun yang menyimpan lukisan (atau seni rupa lain) berobjek kuda, adalah orang yang terpelajar dan terhormat.

Dalam seni lukis modern Indonesia, kuda tampak tak terlampau digarap. Juga dalam khasazah seni lukis Indo-Tionghoa. Namun, bukan berarti tidak ada sama sekali. Untuk menyebut fanatikus kuda, orang harus mengingat Adam Lay, pelukis realis yang telah menggubah kuda di ribuan kanvasnya. Lalu Amat Matheus yang sejak beberapa belas tahun lalu tak henti menggambarkan kuda dalam berbagai gerak dan komposisi. Probo, pelukis surealis dari Yogyakarta, juga melakukan hal yang sama.

Yang sekali-sekali melukis namun dengan kesungguhan penghayatan adalah Lee Man-fong. Ia menggambarkannya dalam chinese-western painting yang khas. Tak ketinggalan Lie Tjoen Tjay, Tjeng Tjiam Hwie, serta pelukis spesialis satwa Ayung Lim Hui Yung. Pelukis yang "affandistik", Men Sagan, juga banyak melukis kuda lantaran pesanan.

Begitu juga Sri Hadhy. Sementara pelukis realis Robby L. pada minggu-minggu ini serius menggarap kuda yang melesat di atas air. Kuda air, kuda yang mengatasi banjir. H. Hardi, yang biasanya melukis harimau dan potret tokoh masyarakat, menjelang pameran tunggalnya di Tahun Kuda juga ikutan melukis kuda. Ia menyebut bahwa lukisannya cuma bermakna peringatan: jadilah kuda, dan jangan mau diperkuda.

Agus Dermawan T.
ARTIKEL LAIN

http://www.gatra.com/images/gambar/15/47.jpg (Tim Desain Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Ilmu & Teknologi
Infoproduk
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Utama
Lingkungan
Manekin
Meskipun Tetapi
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Perjalanan
Ragam
Seni Rupa
Serambi
Surat & Komentar
Tamu Kita
 
Created and maintained by Gatra.com