spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
EKONOMI
spacer
 
Jurus Pamungkas
Melawan Gelombang Panas

cov-viii-07Jakarta, 31 Desember 2001 00:45
STASIUN televisi baru, Trans TV, punya gawe meriah, 15 Desember lalu. Sejumlah pengusaha, eksekutif, pejabat, dan artis top hadir dalam perhelatan yang digelar sehari menjelang Idul Fitri itu. Hari itu, stasiun TV swasta yang bermarkas di Jalan Piere Tendean, Jakarta Selatan, tersebut memang meresmikan launching-nya.

Trans sebenarnya hadir sejak 25 Oktober tahun lalu. Namun, selama sekitar enam pekan, ia hanya mengudara untuk uji coba. Setelah itu ia memasuki masa komersial. Kemunculannya tentu saja bakal meramaikan bisnis ''kotak ajaib'' di Tanah Air.

Bila Trans nanti sukses melahap kue iklan, yang paling menikmati untungnya adalah Chairul Tanjung, pengusaha muda yang menjadi pemiliknya. Hadirnya stasiun TV yang banyak menampilkan sinetron dan telenovela itu membuat namanya makin menjadi perbincangan. Banyak yang berdecak kagum: tatkala sebagian besar pengusaha dilibas krisis, ia malah gencar berekspansi.

Soalnya, hampir bersamaan dengan peluncuran Trans, Chairul membuka Bandung Supermall, kompleks pertokoan gede di Bandung. Investasi untuk Bandung Supermall ataupun Trans masing-masing sekitar Rp 600 milyar.

Chairul memulai usahanya dari penjualan perangkat medis. Berikutnya merambah ke bank, properti, hingga perusahaan sekuritas. Namanya kini disebut menjadi salah satu calon pembeli saham bank BCA.

Sinar sukses itu, syukurlah, tak hanya dimiliki Chairul. Sejumlah pengusaha lokal lain diam-diam juga terus berkembang, meski krisis ekonomi belum enyah. Tengoklah, misalnya, Toto Sugiri. Bos Sigma Cipta Caraka Group ini mengawali usahanya dengan modal sekitar Rp 400 juta, pada 1989. Sejak itu, ia tak pernah rugi. Malah kini asetnya bernilai ratusan milyar. Omsetnya terus menggembung. Dalam tiga tahun terakhir ini, misalnya, bergerak dari US$ 20 juta hingga US$ 30 juta per tahun. Kini pengusaha berambut gondrong itu bertekad menjadi raja software di kawasan Asia Pasifik.

Di sektor perbankan, kinerja Bank NISP juga makin mantap. Rasio modalnya tak pernah di bawah batas ketentuan Bank Indonesia. Di perusahaan kosmetika, tiga ratu yang selama ini menjadi primadona bisnis ngadi salira tubuh wanita juga makin yahud. Mereka adalah Mustika Ratu (BRA Mooryati Soedibjo), Sari Ayu (Martha Tilaar), dan Ristra (Retno I.S. Tranggono).

Bank NISP dan tiga peracik jamu itu masuk finalis penerima penghargaan pengusaha berprestasi versi Ernst & Young cabang Indonesia, akhir tahun lalu. Ernst & Young adalah konsultan keuangan dan perpajakan berpusat di London.

Yang juga pantas diacungi jempol adalah para wirausahawan dari kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Bisnisnya beragam, mulai garmen, pengangkutan, perhiasan, pariwisata, rumah makan, sampai bimbingan belajar.

Menurut Heru Prasetyo, Kepala Perwakilan Accenture Indonesia, meski mereka bermain di kelas ''ekonomi recehan'', pengusaha UKM ini justru berjasa membuat ekonomi kita tahan banting. ''Di kelas bawah, kegiatan ekonomi relatif normal,'' kata Heru. Accenture merupakan konsultan manajemen dan teknologi dan berpusat di New York, yang tiap tahun memberikan pengharaan bagi pengusaha kecil-menengah berprestasi. Pengusaha kecil menengah versi Accenture adalah yang omsetnya Rp 50 milyar-Rp 100 milyar per tahun. Penghargaan kepada mereka terakhir diberikan awal November lalu.

Dengan tujuan yang kira-kira sama, Ernst & Young beberapa hari kemudian menggelar kegiatan serupa. Cuma fokusnya berbeda. Perusahaan jasa konsultan ternama itu, dalam seleksinya, tak membedakan pengusaha kecil atau gede. Yang lebih ditekankan karakternya.

Bernardus Djonoputro, Direktur Pemasaran Ernst & Young, mengakui --meski cukup sulit mendapat data akurat-- dibandingkan dengan yang berjatuhan, pengusaha yang sukses menjinakkan gelombang krisis jumlahnya dipastikan jauh lebih kecil. Tapi mereka mempunyai nilai lebih. ''Mereka sukses menggenjot bisnisnya di era transparansi, tak mengandalkan KKN seperti pada masa lalu,'' ujarnya.

Penghargaan seperti itu disambut gembira oleh Dr. Rhenald Kasali. Pakar manajemen dari Universitas Indonesia itu menilai, secara psikologis hal itu bisa memacu semangat kerjanya. Tapi, menurut bintang seminar yang lagi ''rajin jualan jamu'' di televisi ini, cukup banyak pengusaha yang tak ikut seleksi versi dua konsultan kondang tersebut. ''Saya mengantongi ratusan nama pengusaha kelompok UKM lain yang sebenarnya juga layak mendapat penghargaan,'' katanya. Rhenald secara rutin menampilkan usahawan kecil-menengah yang sukses itu lewat 'Solusi', acara di stasiun swasta AN-teve.

Menurut Rhenald, para pengusaha itu memanen sukses setelah melalui perhitungan matang, dan menerapkan strategi bisnis yang tepat. Tanpa itu, mereka akan ikut rontok, tergulung badai krisis ekonomi. Mereka yang hanya bermodal dengkul dan mengandalkan perkoncoan pasti terlempar.

Tumbangnya konglomerat klan Cendana, serta rontoknya bisnis anak-anak pejabat, bisa menjadi pelajaran berharga. Karena terbiasa mengandalkan fasilitas pemerintah, mereka tak siap ketika ombak krisis menggulung.

Kekacauan ekonomi itu diimbuhi pula oleh ketidakstabilan politik. Dengan baju reformasi, para elite politik banyak bertingkah. Lembaga legislatif lantas tampil menjadi kekuatan baru yang amat menentukan. Tak jarang mereka masuk ke tetek bengek eksekutif.

Gonjang-ganjing politik yang juga merembet ke bawah, membikin investor asing merasa tak nyaman. Mereka waswas jika duit yang dibenamkannya malah amblas. Apalagi, labilnya politik dan ekonomi itu diperkuat pula ketidakpastian di bidang hukum. Komplet sudah.

Simak saja, sejumlah kontrak bisnis yang sudah diteken antara investor dan pejabat pemerintah dengan mudah dibatalkan kalau DPR tak setuju, atau daerah menolak. Carut-marutnya divestasi saham Semen Gresik adalah contoh paling aktual di penghujung 2001.

Buntut ketidakpastian itu jelas merontokkan kepercayaan. Padahal, kata Rhenald, teori ekonomi mengajarkan bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama untuk menjalin hubungan bisnis. No trust, no business, itu istilah sononya. Ambrolnya kepercayaan investor asing itu, sebagaimana diakui Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, Theo F. Toemion, menurunkan secara tajam investasi ke Indonesia.

Yang juga merasa gerah melihat situasi serba tak menentu itu adalah para kreditur asing. Duit milyaran dolar yang mereka utangkan ke Indonesia belum membuat ekonomi kita beranjak. Tak jelas, kapan duit bermilyar-milyar dolar itu kembali. Pemerintah kerepotan bukan kepalang membayar cicilan utang yang mencapai sekitar 40% dari total penerimaan APBN itu.

Angin segar sempat berembus ketika Megawati Soekarnoputri naik menjadi presiden akhir Juli lalu. Rupiah menguat drastis sampai pada kisaran Rp 8.700, dari sebelumnya Rp 11.500. Tapi, momentum bagus itu, untuk kesekian kalinya, seakan hilang begitu saja. Baru sebulan usia kabinet Megawati, rupiah lunglai lagi. Kepercayaan terhadap tim ekonomi mulai goyah.

Situasi itu makin memburuk, menyusul tragedi World Trade Center, New York, 11 September lalu. Ekonomi dunia, yang sudah terguncang sejak beberapa tahun terakhir ini, makin rontok. Amerika Serikat, yang menyerap sepertiga pasar dunia, loyo. Mitra dagangnya, termasuk Indonesia, terkena dampaknya. Para eksportir menjerit. Sejumlah kontrak dibatalkan.

Wajah muram ekonomi global itu tampaknya membuat pemerintah amat hati-hati. Karena itu, sepanjang tahun lalu pemerintah tak sudi mengendurkan kebijakan uang ketat. Suku bunga deposito dikerek tinggi agar masyarakat lebih tertarik menyimpan duitnya di bank. Selain untuk menekan laju inflasi, kebijakan ini juga sekaligus untuk membendung melorotnya rupiah.

Sayang, kendati jurus uang ketat sudah kadung digulirkan, toh rupiah terus melorot. Inflasi tahun lalu dipastikan dua digit. Yang sudah pasti kena, gairah bisnis di sektor riil terseok-seok. Kalaupun kredit mengucur, bunganya mencekik, sehingga kurang menarik.

Bagi bank, ini memang pilihan yang dilematis. Sebagaimana diakui Sekretaris Jenderal Perbanas, Dani Hartono, kepada Hendra Makmur dari GATRA, pada satu sisi bank diimbau menyalurkan kredit untuk menggerakkan sektor riil. Di sisi lain, pemerintah mengajak bank menyimpan duitnya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) agar dapat menekan laju inflasi. Apalagi, bunga yang ditawarkan menggiurkan.

Dihadapkan pada pilihan seperti itu, bank bersikap realistis. Apalagi, menurut kacamata bank, bisnis di sektor riil masih mati suri. Mereka waswas kredit yang dikucurkannya macet dan menggerogoti CAR-nya. Kalau sudah begitu, risiko lebih berat akan dipikulnya: dilikuidasi. Karena itu, pilihan menaruh ke SBI lebih aman.

Toh, di tengah seretnya kucuran kredit itu, tak sedikit yang heran melihat ekonomi kita. Mobil-mobil mewah makin banyak berkeliaran di jalanan. Bisnis jual-beli otomotif tetap ramai. Pusat-pusat perbelanjaan tak pernah sepi pengunjung. Pasar-pasar tradisional juga meriah. ''Yang krisis kan pemerintah. Rakyat tidak,'' ujar Rhenald Kasali.

Boleh jadi, Rhenald benar. Tengoklah data yang direkap Accenture. Menurut Heru Prasetyo, selama tahun 2000, sekitar US$ 570 juta dana hibah dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Duit gratis sebesar itu berasal dari pemerintah, yayasan, ataupun lembaga swadaya masyarakat asing yang masuk tanpa permisi pemerintah. Biasanya, dana yang banyak dipergunakan untuk pelatihan keterampilan manajemen di desa-desa itu mengalir lewat perguruan tinggi atau LSM. Gerojokan uang ke level bawah itu ikut menggairahkan ekonomi pedesaan.

Pada gilirannya, gairah ekonomi di tingkat ''recehan'' itu bukan hanya menarik para pengusaha kelas UKM, melainkan juga pengusaha besar. Ini menjadi ladang baru dalam berinvestasi. Karena itu, pengusaha besar yang sebelumnya banyak bermain di strata menengah atas tak mau ketinggalan.

Hal ini, misalnya, dilakukan juragan jamu Mooryati Soedibjo. Ia membuat kemasan jamu yang lebih kecil, agar harganya terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. ''Ini adalah bagian dari strategi bisnis untuk menyelamatkan usaha,'' kata Heru. Secara logika bisnis, karena ''gula'' sedang bergairah di tingkat recehan, wajar kalau para pengusaha pada ''menyemut'' di situ.

Dengan bermain di level bawah, mereka praktis tak banyak berbenturan dengan gelombang krisis ekonomi, yang disebut Heru sebagai ''gelombang panas''. Pasalnya, hanya orang yang berani mengambil risiko tinggi dengan perhitungan matang yang sukses 'bercengkerama' dengan gelombang panas itu. Arus ini banyak menggasak sektor perbankan, properti, jasa keuangan, dan multimedia. Mereka yang tak siap bertarung pasti akan ''meleleh'', seperti banyak menggilas perusahaan dotcom.

Guncangan ekonomi akibat krisis itu memang menyempitkan pilihan berinvestasi. Itu diakui pengamat ekonomi Tjiptono Darmadji kepada Sugiyanto dari GATRA. Pasar modal yang dulu menjadi primadona, kini dijauhi. Dalam situasi tak menentu, keputusan salah dalam berinvestasi bisa melenyapkan modal.

Ia melihat, baik investasi langsung maupun tak langsung sama-sama berisiko tinggi. Investasi di bidang makanan dan sabun, katanya, masih cukup menjanjikan. Namun, untuk bermain di pasar saham, prospeknya tak begitu baik. Lantas, pilihan jatuh ke deposito, yang bunganya cukup tinggi. ''Meski pajaknya lumayan besar, sebagai pilihan investasi jangka pendek masih tetap menarik,'' katanya.

Pendapat senada dikemukakan pelaku pasar uang Adler Haymans Manurung. Menurut Direktur Fund Manager PT Nikko Securities Indonesia itu, masyarakat kita tak terbiasa berinvestasi yang berisiko tinggi. ''Kita lebih suka menghindarinya,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang ini, deposito lalu menjadi pilihan utama.

Tak perlu diragukan, ketidakpastian menjadi kata kunci yang menghambat kegiatan berusaha. Pelaku bisnis pasti butuh ketenangan, agar untung-rugi usahanya bisa dikalkulasi secara tepat. Tapi, ini yang repot. Seperti diakui Rhenald Kasali, sejarah justru mengajarkan bahwa ketidakpastian selalu menjadi mitra pengusaha. ''Kalau segalanya sudah pasti, tak menarik lagi,'' katanya kepada GATRA.

Bagi pengusaha tangguh, Bernardus menimpali, ketidakpastian itu justru disulap menjadi peluang. Akhirnya, hanya mereka yang benar-benar ulet dan menerapkan strategi bisnis tepat yang tampil menjadi pemenang. Paling tidak hal itu terlihat dari 14 finalis versi Ernst & Young ataupun 50 pengusaha berprestasi kelompok UKM yang mendapat penghargaan dari Accenture.

Baik Heru maupun Bernardus mengakui, secara umum para jagoan yang sukses itu memiliki pengetahuan bisnis yang baik. Mereka senantiasa memasukkan kaidah-kaidah bisnis modern, mulai transparansi, kontrol kualitas, restrukturisasi, manajemen organisasi, manajemen pemasaran, sampai kiat mengelola sumber daya manusia.

Mereka juga sudah kenyang jatuh-bangun dengan minimnya dukungan fasilitas dari penguasa. Hal itu membentuk karakter jiwa kewirausahannya. Apalagi di era keterbukaan ini, menggantungkan pada fasilitas kekuasaan bisa menjadi bumerang. ''Mereka sudah biasa berlayar di tengah kerasnya gelombang,'' kata Bernardus.

Gelombang keras itulah yang membuat para jagoan bisnis menjadi makin matang. Di saat sebagian besar konglomerat lunglai diterjang utang, mereka malah mendulang uang.

[Saiful Anam]
[Laporan Utama Gatra Nomor 07 Beredar 02 Januari 2002]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 31 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer