spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
NUSANTARA
spacer
 
Ajaran Komunis
Puluhan Mahasiswa Penyebar Komunisme Di Unmul Akan Dipecat

Samarinda, 28 Desember 2001 14:10
REKTOR Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Prof Ir H Rachmad Hernadi,MSc berjanji akan mengeluarkan para mahasiswanya yang terbukti menyebarkan paham komunis di lingkungan kampus tersebut. Rachmad dalam keterangan persnya di Samarinda, hari ini mengatakan, sebanyak 24 mahasiswa berasal dari empat fakultas yang terlibat dalam organisasi terlarang di lingkungan kampus tersebut beserta barang bukti saat ini sedang diproses oleh pihak berwajib.

"Kampus tidak berwenang untuk mengusut dan menjatuhkan hukuman, oleh sebab itu kami teruskan perkara ini ke pihak berwajib. Hingga saat ini kami masih menunggu kabar dari Poltabes," katanya.

Dikemukakan bahwa mahasiswa yang diduga tersebut terdiri dari 17 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL), 4 mahasiswa Fakultas Ekonomi, 2 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Politik dan 1 mahasiswa Fakultas pertanian beserta barang bukti berupa bendera bergambar palu-arit diserahkan ke Poltabes pada awal November lalu.

Selain melanggar Tap MPRS No.25 tahun 1966 tentang pelarangan penyebarluasan komunis, menurut Rektor para mahasiswa itu juga telah melanggar SK Rektor Unmul No.239/AK/2001 tentang larangan penyebarluasan paham komunis di kampus dan SK No.241/AK/2001 larangan mengaktifkan organisasi ekstra kampus di lingkungan kampus.

Menurutnya, universitas memiliki fungsi strategis sebagai lembaga yang memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang potensial sehingga sering dilirik oknum yang tidak bertanggung-jawab untuk dimanfaatkan guna kepentingan tertentu.

Ia mengatakan, kebijakan dan hukuman yang diberikan merupakan bentuk perlindungan terhadap kampus sebagai tempat menuntut ilmu dan mahasiswa sebagai masyarakat intelek dan independen agar tidak mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

"Oleh sebab itu kami melarang dengan keras berkembangnya organisasi ekstra kampus maupun organisasi politik di lingkungan kampus dan menggunakan fasilitas kampus," katanya.

Skorsing Untuk Pelanggar Etika Kampur

Rachmad mengatakan, pihaknya saat ini juga memberlakukan skorsing bahkan mengancam DO bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib kampus dengan melakukan penganiayaan, mengancam dan mengintimidasi mahasiswa lain, membawa senjata tajam secara ilegal serta menyalahgunakan fasilitas kampus.

Menurut dia, selain meresahkan dan dapat menghambat proses belajar mengajar di lingkungan kampus, mahasiswa tersebut dianggap telah melanggar peraturan kampus No.186 tahun 2000 dan No.232 tahun 2001.

Dikatakan bahwa saat ini telah tercatat sekitar sembilan orang mahasiswa FISIPOL dinyatakan melanggar tata tertib etika kampus dan akan dijutuhi hukuman berupa skorsing satu semester untuk tahun akademik 2001/2002 dan mulai berlaku pada Februari hingga Juni 2002.

"Sebagai peringatan pertama kami akan menjatuhkan skorsing selama satu semester, namun apabila mahasiswa tersebut masih membangkang kami akan perpanjang skorsing satu semester lagi dan jika masih juga melanggar peraturan yang ada maka kami akan mengeluarkan mahasiswa tersebut," katanya.

Kebebasan Berfikir Yang Dihembuskan

Sementara itu, pengamat politik yang juga Pembantu Rektor III Arifien Leo mengatakan, maraknya penyebaran faham komunis dilingkungan kampus tersebut dapat disebabkan karena adanya kebebasan berfikir yang dihembuskan selama pemerintahan Gus Dur.

"Ketika Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI pernah terbersit keinginan untuk mencabut Tap MPRS No.25 tahun 1966 karena dianggap menghambat kebebasan manusia untuk berfikir," katanya.

Menurut Arifien, hal ini lah agaknya yang menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa sebagai kaum independen dengan berbagai pola pemikiran beragam untuk mulai menambah wacana berfikir.

Ia mengatakan, kalau pun hanya dijadikan sebagai referensi atau objek study seharusnya mahasiswa tersebut tidak perlu membuat dan memajang bendera dengan gambar palu arit yang merupakan lambang komunis di negara Rusia dan Indonesia.

"Seandainya mereka tidak menggunakan bendera tersebut mungkin kasusnya tidak segempar ini," katanya. [Dh, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 31 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer