spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
HUKUM & KRIMINALITAS
spacer
 
Tommy Tertangkap
Kambing Hitam Tommy

topik-des-05-oke

Jakarta, 5 Desember 2001 00:34
SELAMA setahun menjadi buron, yang berpindah dari satu ke tempat lain, Tommy Soeharto memelihara kambing hitam. Ia menyebutnya ''GD''. Ucapan itu pun meloncat begitu saja ketika Inspektur Dua Danang Dwi Kartiko, 36 tahun, menodongkan pistol ke arah Tommy, 39 tahun, yang sedang mengaso di kamar ''indekosnya'', di sebuah rumah di Jalan Maleo, Bintaro Jaya, Rabu pekan lalu.

Ketika itu, Tommy mengenakan celana pendek dan oblong putih. ''Tenang-tenang.... Saya bukan musuh polisi. Saya begini karena sakit hati dengan GD,'' seru Tommy, seperti ditirukan Danang, anggota reserse di Polda Metro Jaya. Setelah itu, Tommy pun ditangkap.

Lalu, siapakah GD? ''Ya, itu Gus Dur,'' kata Elza Syarief, pengacara Tommy Soeharto. Jawaban serupa diberikan Dion Hardi, kawan dekat Tommy. ''Kalau Gus Dur tak ingkar janji, tak mungkin Tommy melarikan diri,'' kata Dion kepada GATRA di Polda Metro Jaya, Kamis lalu, seusai menjenguk sohibnya itu di tahanan.

Tommy dan Gus Dur, menurut Dion, terlibat perjanjian rahasia: kebebasan ditukar dengan uang. Kesepakatannya dirajut pada Oktober tahun lalu. Ketika itu, Tommy sedang berusaha lepas dari jeratan hukum dalam kasus ruilslag PT Goro Batara Sakti. Setelah diputus bebas di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 14 Oktober 1999, ia kalah di tingkat banding dan kasasi. Pada 22 September, Majelis Hakim Mahkamah Agung, yang diketuai Syafiuddin Kartasasmita (almarhum), memvonisnya 18 bulan penjara dan denda Rp 30,5 milyar.

Tommy tak serta-merta masuk bui. Ia mengulur waktu dengan mengajukan grasi sekaligus peninjauan kembali. Kencan rahasia antara Tommy dan Gus Dur pun terjalin. Pertemuan pertama berlangsung 5 Oktober 2000 di Presidential Suite, lantai 18, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Dion juga datang ke Borobudur, tapi tak ikut masuk ruang pertemuan, karena Tommy menyuruhnya membawa beberapa kiai yang menyertai Gus Dur ke lobi. ''Saat itu banyak kiai yang turut datang,'' kata Dion. Dalam ruang mewah itu, tutur Dion, selain Gus Dur dan Tommy, hadir Kiai Noer Iskandar, SQ, dan Dodi Sumadi.

GD-TOMMY Dodi inilah yang disebut-sebut memfasilitasi kencan itu. Dodi dan Tommy memang berkawan dekat. Kebetulan, Dodi juga akrab dengan Kiai Noer, yang dikenal sebagai orang dekat Gus Dur.

Dalam pertemuan itu, menurut Dion, Tommy mengaku bahwa Gus Dur dan Kiai Noer, juga Dodi, menawarkan deal untuk membantu Tommy. Karena tak dicapai kesepakatan, pertemuan dilanjutkan esok harinya di Hotel Regent, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Formasi yang hadir tidak banyak berubah. Hanya, kali ini Siti Hardijanti Rukmana --yang akrab dipanggil Mbak Tutut-- ikut nimbrung.

Satu versi mengatakan, dalam kedua pertemuan itu, Tommy tidak meminta agar grasinya dikabulkan. Ia cuma meminta agar proses peninjauan kembali (PK) perkaranya tak diintervensi Gus Dur secara politik. Saat itu, dalam satu versi disebutkan bahwa Gus Dur setuju saja. Versi lain menyatakan, Presiden Gus Dur meminta bantuan US$ 5 juta untuk proses agar Tommy bebas. Selain itu, ia juga dituduh meminta saham PT Timor Putra Nasional dan saham jalan tol PT Citra Marga Nusaphala. Dua permintaan terakhir ini tak direspons.

Menurut Dion, seusai pertemuan, Tommy sempat mengadu kepadanya: ''Nggak bener tuh orang.'' Tak jelas siapa yang dimaksud, bisa Gus Dur, Kiai Noer, atau Mbak Tutut. Yang pasti, menurut Dion Hardi, seminggu kemudian Tommy didatangi Kiai Noer Iskandar, Dodi Sumadi, dan Kiai Sidik.

Mereka, kata Dion, meminta bantuan Rp 15 milyar. Rinciannya, seperti tertera dalam surat pernyataan yang ditandatangani Dodi dan Kiai Sidik, Rp 5 milyar untuk yayasan Ibu Sinta Nuriyah Wahid, Rp 5 milyar untuk Kiai Sidik, dan Rp 5 milyar untuk pengurusan kasus Tommy di Mahkamah Agung. Dalam versi Dion, ''setoran'' 15 milyar itu sudah dibayar Tommy.

Nama Kiai Sidik, tutur Dion, disebut-sebut ketika Gus Dur ketemu Tommy. ''Mas Tommy, saya sih tergantung Mbah Dik,'' ujar Dion, mengutip ucapan Gus Dur. Kiai Sidik kabarnya adalah penasihat spiritual Gus Dur yang berasal dari Karangnongko, Desa Susuhbangun, Kecamatan Kandet, Kediri, Jawa Timur. Dalam obrolan Gus Dur, kata Dion, kiai ini bisa masuk ke istana tanpa diketahui pengawal.

GD-TOMMY Menghadapi sodokan kubu Tommy, Gus Dur tak tinggal diam. Ia menggelar konferensi pers, Jumat lalu, di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Jalan H. Agus Salim, Jakarta Pusat. Ia pun menepis tuduhan itu. ''Kalau saya dikatakan menerima uang, itu dusta,'' katanya. Ia berpendapat, ''dusta'' itu sengaja dilempar untuk mengalihkan perhatian dari isu yang kini bergulir. ''Saya yakin, ada permainan di balik ini semua,'' Gus Dur menandaskan.

Yahya C. Staquf, juru bicara Gus Dur semasa menjadi presiden, mengatakan bahwa tuduhan setoran Rp 15 milyar versi Dion itu tak masuk akal. ''Mustahil, buktinya Gus Dur tetap menolak grasi Tommy,'' katanya kepada Irwan Andri Atmanto dari GATRA.

Penolakan itu disampaikan Gus Dur pada 2 November 2000. Saat itu pun pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan memanggil Tommy untuk menjalani hukuman. Sel tahanan nomor 2085 di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang telah disiapkan. Namun, apa lacur, Tommy tak muncul. Sejak itulah ia buron sampai tertangkap Rabu lalu.

Toh, pemberitaan soal Tommy tak pernah surut. Mahkamah Agung, awal Oktober lalu, mengabulkan PK Tommy, sekaligus membatalkan keputusan kasasi Mahkamah Agung. Majelis hakim yang diketuai Wakil Ketua Mahkamah Agung, Taufik, membebaskan Tommy dari segala tuntutan pada kasus Goro. Meski banyak yang mencurigai, keputusan PK itu dinyatakan tak bisa diganggu gugat.

''Dengan keluarnya PK itu, kasus Goro sudah selesai,'' kata Andi Hamzah, guru besar hukum pidana Universitas Trisakti, Jakarta, kepada wartawan GATRA Rita Triana Budiarti. Kasus ini tak bisa dipakai untuk menjebloskan Tommy ke penjara. Toh, tak berarti Tommy bebas. Tuduhan lain sudah berderet. Ada kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita, kepemilikan bahan peledak dan senjata api ilegal, serta pengeboman di sejumlah tempat.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Sofjan Jacoeb, menyebutkan, polisi sudah mengantongi segepok bukti keterlibatan Tommy atas kasus-kasus itu. ''Hak tersangka untuk mungkir. Kami punya bukti kuat,'' kata Sofjan Jacoeb. Barang bukti itu, antara lain, persenjataan yang ditemukan di Jalan Alam Segar, Pondok Indah, pada sebuah rumah yang dikontrak Tommy.

GD-TOMMY Temuan itu lumayan bikin shock. Ada dua senapan serbu jenis M-16 dan MP-5, lima pistol merek Diamond, Longrivel 22 mm, pistol Baretta 9 mm, dan revolver 22 mm, 11 magasin, dua granat manggis, serta peluru 150 butir. Barang-barang ini tersimpan dalam brankas baja bersama 10 detonator, 1,2 ton TNT, 13 telepon selular merek Mugon, dua pisau komando, alat perangkai bom, paper bomb, dan uang tunai Rp 70 juta serta US$ 12.600. Menurut polisi, ''alat-alat perang'' itu dimiliki Tommy.

Polisi menghubungkan TNT itu dengan bom yang dibawa Elize Maria Tuwahatu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, awal tahun lalu. Semula, polisi menyatakan, Elize mendapatkan bom itu dari Tommy Soeharto. Dalam sidang pengadilan, ia mencabut pengakuan, dan mengatakan bahwa bom itu didapat dari orang tak dikenal. Alhasil, bom TMII itu tak bisa menyentuh Tommy.

Toh, polisi yakin, Tommy memang suka main bom untuk menebar teror. Bom yang meledak di Atrium Senen, Jakarta Pusat, misalnya, diaktifkan dengan telepon selular. ''Telepon selularnya mirip dengan yang ditemukan di Pondok Indah,'' kata Komisaris Besar Polisi Adang Rochjana, Kaditserse Polda Metro Jaya. Sedangkan ledakan di Slipi, Jakarta Barat, dan Mampang, Jakarta Selatan, berasal dari granat jenis manggis. ''Di rumah kontrakan Tommy pun ditemukan granat manggis,'' Adang Rochjana menambahkan.

Meski begitu, untuk kasus bom ini, polisi belum menemukan bukti kuat yang mengindikasikan keterlibatan Tommy. Soalnya, dari kasus kasus-kasus bom yang disebutkan Adang, belum satu pun pelaku yang tertangkap. Ini berbeda dengan kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin. Polisi sudah membekuk tak kurang dari 10 tersangka, termasuk eksekutor penembakan Mulawarman alias Mola dan Noval Hadad. Mereka, menurut versi polisi, mengaku disuruh Tommy Soeharto menghabisi hakim agung tersebut.

Untuk menjawab sederet tuduhan itu, Tommy ternyata sudah menyiapkan kambing hitam yang lain. Kasus-kasus itu, menurut pengakuan dia kepada polisi, ditimpakan kepada Sersan Mayor (purnawirawan) Wiryono, yang meninggal di sel tahanan Polda Metro, September lalu. Wiryono sendiri ditangkap dengan tuduhan memasok senjata untuk Tommy. Sayang, ia tak bisa lagi membela diri.

Hidayat Tantan, Hendri Firzani, dan Taufik Abriansyah
[Laporan Utama, Gatra Nomor 03 Beredar Minggu, 2 Desember 2001]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 05 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer