spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
TVRI Beriklan
Mengakali Usaha Sah

topik-nov07-oke

Jakarta, 7 November 2001 00:42
ANAK-anak berbaris, bergantian menjabat erat tangan lelaki tambun itu --yang akhirnya meringis. Lalu cut to: segelas susu. ''Ini dulu, baru itu,'' begitu narasi iklan tadi, yang sejak Kamis pekan lalu ''menumpang lewat'' di layar Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bersama Bank Mandiri, pariwara Dancow ini baru muncul sebatas acara sore.

Yah memang mulai November ini Televisi milik pemerintah itu mulai menarik iklan atau sponsor. Tapi faktor waktu ini sedikit bermasalah. ''Kami hanya dapat serpihan-serpihannya,'' kata Sumita Tobing, Direktur Utama TVRI, dengan nada maklum. Sebab, lazimnya kontrak iklan diteken setahun sebelum tayang. Biasanya, pintu pengiklan sudah tertutup pada Oktober. Jadi, dalam dua bulan ini, TVRI memunguti iklan yang ''tercecer''. Toh, rezekinya lumayan gede.

Lewat PT Uniaga Bhakti Persada, para pengiklan itu bersedia membayar Rp 10 milyar di muka. Tapi, ''It's nothing,'' kata Sumita. Untuk beroperasi secara layak, TVRI butuh Rp 1,35 trilyun per tahun. Dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), cuma 10% dari kebutuhan itu yang disisihkan. Padahal, TVRI harus menghidupi 6.000 karyawan, 29 stasiun daerah, dan 400 pemancar.

Untuk gaji saja dibutuhkan Rp 60 milyar. Sisanya dicukup-cukupkan untuk biaya produksi 29 stasiun. Kantong cekak itu menyebabkan setiap produksi TVRI harus bisa menutup biaya sendiri. Caranya, dengan membuka pintu untuk orang luar. Nah, di sinilah terbuka peluang iklan terselubung.


TVRI-BARU Berdasar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36/2000, sebagai perusahaan jawatan, TVRI punya lima sumber pemasukan. Selain 10% dari nilai APBN, ada iuran televisi, bagian iklan televisi swasta, usaha lain yang sah, sampai kerja sama dengan pihak ketiga. Tapi, jatah APBN sudah tak bisa diandalkan. Iuran televisi pun mandek.

Tahun lalu, misalnya, uang masuk hanya Rp 7 milyar. Merosot tajam dari pendapatan 1999, yang Rp 20 milyar. Sistem iuran juga memberi peluang kebocoran. Dari pemalsuan meterai, manajemen yang tidak berdisiplin, sampai keengganan pemilik televisi membayar iuran karena tidak menonton TVRI. Sumita menginginkan iuran itu dihapus saja. ''Kalau perlu, kami bayar orang supaya nonton TVRI,'' katanya.

Jatah iklan televisi swasta juga sulit diharapkan. Hingga tahun lalu, TVRI mencatat tagihan macet Rp 300 milyar di RCTI, TPI, SCTV, Indosiar, dan AN-teve. Bahkan, pada 18 Oktober lalu, keenam stasiun televisi itu sepakat mengakhiri saja perikatan pembagian kue iklan tadi. Dulu, perjanjian itu dibuat Direktur Televisi dengan masing-masing direktur televisi swasta.

Konsekuensi kesepakatan tersebut, ''TVRI boleh beriklan,'' kata Sumita. Soal selisih tagihan akan diselesaikan kemudian. Dasar hukumnya, ya, PP Nomor 36/2000 tadi. ''Iklan itu termasuk usaha lain yang sah,'' katanya, berdalih. Sebenarnya, langkah ini sudah didahului beberapa stasiun daerah. TVRI Medan, misalnya, sejak September lalu terang-terangan beriklan.

TVRI-BARU Mereka mendapat kontrak bumbu masak Miwon senilai Rp 200 juta untuk tiga bulan. Dari Britama Bank Rakyat Indonesia, mereka memperoleh Rp 6 juta. ''Untuk bulan puasa ini, beberapa produk sarung dan makanan sudah menandatangani kontrak senilai Rp 300 juta,'' kata Najieb, Manajer TVRI Medan.

Soal tarif, TVRI Bandung berani mematok tinggi. Alasannya, ''Kami menjangkau Jawa Barat, Banten, dan sebagian DKI,'' tutur Manajer TVRI Bandung, Hari Hasan Hariri. Bandung blak-blakan beriklan sejak Oktober. Untuk tiga bulan ini, Hari memasang target pemasukan Rp 2,2 milyar. ''Kami menjual wayang golek,'' katanya, dengan optimisme bisa meraup Rp 10 milyar.

TVRI Surabaya punya acara unik untuk menggaet pengiklan. Lewat ''Mister Kontak'', selama 15 menit mereka berinteraksi dengan pengusaha menengah ke bawah yang akan memasang iklan. Gatot Budi Utama, Manajer TVRI Surabaya, menetapkan tarif Rp 350.000 untuk setiap gambar iklan tak bergerak. Ia juga membuat program ''Lagu Rindu'', semacam tandingan ''Tembang Kenangan'' Indosiar. Selama setahun, acara ini mengundang Bank BNI memajang namanya di latar panggung, dengan imbalan Rp 12,5 juta sekali tayang.

TVRI-BARU Selama tak bentrok dengan iklan pusat, menurut Sumita, stasiun daerah boleh saja beriklan. Jam tayangnya antara pukul tiga dan enam sore. Porsinya dibatasi 10% dari acara. Namun, tampaknya upaya ini masih harus diadu dengan keputusan Menteri Penerangan Nomor 30/Kep/Menpen/1991, yang melarang TVRI beriklan. Hingga kini, beleid itu belum dicabut.

Tapi, sineas yang tekun mengamati dunia pertelevisian, Garin Nugroho, menilai, TVRI beriklan merupakan kemunduran. Mestinya, katanya, TVRI tetap menjadi TV publik. ''Sumita Tobing hanya berpikir gampangan untuk mencari uang. Perlindungan terhadap publik tak ada,'' kata Garin. Di Korea Selatan dan Afrika Selatan, yang sedang dalam proses transisi ke demokrasi, TV publik juga tetap dipelihara.

[Rita Triana Budiarti, Rachmat Hidayat (Surabaya), Sulhan Syafi'i (Bandung), dan Rosul Sihotang (Medan)]
[Laporan Utama Gatra Nomor 51 Beredar 5 November 2001]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 05 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer