spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
TV Swasta Baru
Mengudara Tapi Serba Darurat

topik-nov06-oke

Jakarta, 6 November 2001 00:48
TV7

STASIUN TV7 memang belum siaran. Kantornya di lantai 3 Wisma Dharmala Sakti, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, terlihat belum rapi. Di ujung lorong sebelum pintu masuk ada tulisan: ''Siap tayang 25 November 2001''. Ruang lobinya lengang. Ada selusin kursi berderet menempel di sisi jendela. Meja resepsionisnya sederhana, mirip meja tulis kantor biasa. Dinding kantornya baru diplester, belum tersentuh cat.

Meski begitu, aktivitas persiapan masa siar perdana mulai terasa. Jumat pekan lalu, misalnya, kala GATRA mengunjungi kantor itu, tampak pegawainya mondar-mandir pada berbenah. Ada yang membetulkan instalasi listrik, merancang acara siaran dan promosi, ada pula yang tengah mendesain.

Pengusaha jamu Jaya Suprana tampak berada di sana. ''Mau mengisi program, tapi belum bisa saya sebutkan,'' kata pengusaha humoris asal Semarang itu. Sesekali reporter dan juru kamera TV7, yang baru turun dari lapangan, beraktivitas di kantor.

Ada tiga lantai yang dipakai. Lantai III untuk marketing, lantai XX dan lantai XXI dimanfaatkan sebagai studio. Rencananya, setelah tiga tahun, TV7 akan pindah ke gedung milik sendiri di wilayah Jakarta Barat. Lahannya sudah disiapkan seluas satu hektare.

Meski masih pontang-panting mempersiapkan siaran, pihak pengelola yakin bisa sukses. ''Yang diandalkan adalah berita dan olahraga, karena harapan pemirsa memang ke situ. Penonton tahu bahwa kita di-back-up Kompas,'' kata August Parengkuan, Presiden Direktur TV7, kepada GATRA. Menurut dia, semua penerbitan di lingkungan Grup Kompas-Gramedia akan mendukung berita di TV7. Maksudnya, dilibatkan mengisi rubrik-rubrik di TV7.

Parengkuan mengatakan, niat mendirikan televisi sudah ada sejak awal 1970-an. Saat itu, ada ketentuan bahwa untuk membuat TV swasta harus punya stasiun radio dulu. Karena itu, Kompas mendirikan radio Sonora. Ternyata, izin mendirikan televisi yang diajukan ke Menteri Penerangan Ali Moertopo saat itu ditolak.

TV-BARU Lalu, pada 1980-an, kala RCTI dan SCTV lahir, Grup Kompas meminta izin mendirikan televisi. ''Namun, Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, mengatakan bahwa izin TV ada di tangan presiden. Ya... sudah, kami mundur karena pasti nggak dapat,'' kata August Parengkuan lagi.

Kini, kesempatan telah terbuka. Dana yang disiapkan mencapai sekitar Rp 200 milyar. Uang itu, antara lain, dipakai untuk perekrutan pegawai, pemilihan program, dan gaji karyawan. Juga untuk membeli berbagai peralatan baru. Antena dan stasiun transmisi sudah didirikan di Cikokol, Tangerang, Banten. Rencananya, ada enam transmisi yang segera dibangun di berbagai daerah.

TV7 akan siaran penuh pada 7 April 2002. Adapun pada 25 November baru soft opening-nya. Lama tayang lima jam, mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Untuk sementara, siaran baru menjangkau wilayah Jakarta dan Bandung. Akhir tahun depan, diperkirakan 70% penduduk Indonesia bisa menonton TV7.

Secara hitung-hitungan bisnis, TV7 diperkirakan mencapai titik impas lima tahun mendatang. Dengan porsi siaran berita mencapai 35%, diharapkan TV7 menjadi lebih informatif. ''Tapi, konsepnya masih general entertainment. Sebab, iklan menyukai jenis siaran seperti itu,'' ujar Parengkuan.

TV7 didirikan Kelompok Kompas, bekerja sama dengan PT Duta Visual Mandiri. Komposisi sahamnya, Kompas 80% sedangkan PT Duta Visual 20%. Untuk jajaran manajer dan direksi, semua dari Grup Kompas. ''Kami tetap welcome jika ada investor lain yang ingin menanamkan investasi di sini,'' kata Parengkuan.

TransTV

SUASANA kantor ''darurat'' TransTV, Kamis pekan lalu, masih tampak agak berantakan. Seorang staf bagian programing, Achmad Ferisqo Irwan, sampai kelimpungan mencari tempat untuk sebuah wawancara. Hampir tak ada tempat kosong di bangunan sederhana berukuran dua kali lapangan basket, di kawasan Jalan Piere Tendean, Jakarta Selatan, itu.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, Rico --panggilan akrab Achmad Ferisqo Irwan-- barulah mengajak ke ruang kerjanya di salah satu sudut kantor itu. Di situ tergeletak kertas, map, dan filing dalam posisi tak teratur. Poster film Jelangkung-nya Rizal Mantovani menempel di dinding belakang meja.

TV-BARU Di sekitar situ tampak hiruk-pikuk. Setidaknya, ada 30 orang sibuk dengan urusan masing-masing. Bagian penjualan, promosi, personalia, produksi, programming, serta perencanaan tumplek-blek di situ. ''Namanya juga sementara. Tapi, syukurlah, hari ini kami resmi pindah ke belakang,'' kata Rico. Itulah kantor TransTV yang terletak persis di belakang kantor sementara itu.

Gedung sembilan lantai milik TransTV itu memang tampak mencolok. Ada menara bulat dan antena tinggi. Luas bangunannya mencapai 7.000 meter persegi. Sampai pekan lalu, halaman depannya masih berantakan. Bongkahan batu dan paving block berserakan di sana-sini. Pintu masuk utama masih tertutup. Adanya dua karangan bunga bertuliskan ''Selamat dan Sukses'' ikut meramaikan acara syukuran pindah kantor.

Bau cat masih menyengat. Tak jauh dari pintu masuk samping ada tulisan: ''On Air. Dilarang Masuk''. Hari itu lagi ada syuting acara ''Trans to In''. ''Ini studio 3,'' kata Rico, sambil menunjukkan ruang seluas 150 meter persegi. Beberapa juru kamera dan asistennya sedang dibrifing sang produser. Persis di samping ruangan ada ruang kontrol studio. Tampak 10 karyawan sibuk memelototi beberapa layar kecil di hadapannya.

Yang terbesar adalah studio 1. Tempat ini sudah diset untuk acara ''Tebak Harga'', kuis andalan TransTV. Kursi penonton warna biru tua masih berbungkus plastik. Studio ini bisa menampung 265 penonton. Di sana tampak Farhan, si pembawa acara kuis, sedang berbincang dengan rekan kerjanya. ''Rencananya, gedung ini diresmikan 15 Desember nanti,'' kata Rico.

TransTV menyiapkan dana cukup besar, sekitar Rp 500 milyar. Sekitar Rp 75 milyar untuk membangun gedung. ''Saya optimistis akan mencapai break even point pada tahun ketiga,'' kata Alex Kumara, Vice President TransTV, kepada GATRA. Pada tahun pertama, Alex hanya menargetkan meraih 10% dari total belanja iklan di Indonesia. Setelah itu diharapkan persentasenya terus meningkat.

Mulai pekan ini, siaran TransTV mulai merambah Surabaya. Bandung dan Jakarta sudah menikmati lebih dulu sejak beberapa waktu lalu. Semarang, Yogyakarta, dan Medan akan dilayani berikutnya.


Global TV

STASIUN Global TV ternyata ''bersaudara'' dengan Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Lihatlah, Global TV banyak menggunakan sarana yang dimiliki RCTI. Gedung Art yang menjadi studio Global TV pun berada di belakang Gedung RCTI di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

TV-BARUKetika dikunjungi GATRA, Jumat pekan lalu, kondisi studio Global belum siap pakai. Ruangan seluas 500 meter persegi hanya berisi peralatan untuk uji siar yang dimulai sejak 8 Oktober lalu.

Sebuah studio lengkap masih dipersiapkan. Tanahnya tersedia seluas 2,5 hektare di kawasan Kebon Jeruk, di luar kompleks RCTI. ''Karena belum dibangun, untuk sementara kami menyewa peralatan RCTI,'' kata Nasir Tamara, Presiden Direktur PT Global Informasi Bermutu, perusahaan yang mendirikan Global TV.

Anggaran yang disiapkan untuk membuat TV ini sekitar Rp 300 milyar, untuk lima tahun mendatang. Nasir mengaku baru sebagian dana yang terkumpul. Kini, dia tengah melakukan perundingan dengan Bimantara yang tertarik bergabung dengan Global TV. ''Sampai sekarang, baru Bimantara yang secara resmi mendaftar ke kami,'' kata Nasir, yang mantan redaktur koran Republika itu.

Bimantara akan masuk melalui anak perusahaannya, PT Panca Andika Mandiri. Namun, sampai kini besarnya komposisi saham Bimantara belum selesai dirundingkan. ''Bimantara menginginkan saham mayoritas,'' kata Edwin Kawilarang, Corporate Affairs Bimantara, kepada Kholis Bahtiar Bakri dari GATRA.


Lativi

ADA kesibukan baru yang dijalani mantan Puteri Indonesia, Berni Ifada Taufik. ''Aku kini jadi wartawan,'' katanya, bangga. Itu impian lama sejak ia masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Di salah satu ruangan --News Room-- milik stasiun Lativi, dia tampak serius berlatih menjadi presenter berita, Sabtu pekan lalu. Stasiun Lativi terletak di Jalan Rawa Terate II Nomor 2, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.

TV-BARU Bernika, begitu panggilan gadis berusia 24 tahun itu, adalah salah satu dari 30 wartawan Lativi. Stasiun TV swasta baru ini dimiliki Abdul Latief, Menteri Tenaga Kerja masa Orde Baru. Tampang oke seperti yang dimiliki Bernika memang jadi kiat Lativi untuk menarik pemirsa. ''Presenter harus good looking,'' kata Chrys Kelana, Managing Director PT Lativi Media Karya.

Namun, wajah Bernika belum bisa tampil di layar kaca. ''Karena kami baru siaran awal Desember nanti,'' kata Chrys Kelana. Itu pun kalau persoalan teknisnya beres. Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, untuk membuat Lativi jadi yahud, dibutuhkan dana Rp 500 milyar. Duit sebesar itu, antara lain, dipakai membangun gedung berlantai dua seluas 15.000 meter persegi yang telah selesai dikerjakan. Kini tinggal menyelesaikan menara pemancar.

Sampai akhir pekan lalu, Lativi telah merekrut 200 karyawan. Itu baru sekitar 60% dari rencana awal. Ketika GATRA melongok ke kantor Lativi, Sabtu pekan lalu, tak tampak kesibukan layaknya sebuah stasiun TV. Maklum, karena pekerjaan yang ditangani belum banyak, Sabtu sementara diliburkan.

Sabtu itu, kesibukan hanya tampak di bagian berita, salah satunya, ya, Bernika tadi. Namun, tak semua fasilitas pemberitaan sudah lengkap. Terlihat hanya ada meja dan komputer untuk wartawan. Tak terlihat peralatan seperti kamera. Semua peralatan baru siap akhir bulan ini. Sebagai langkah awal, rencananya, program Lativi dipancarkan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Medan.

[Rihad Wiranto, Irwan Andri Atmanto, Amalia K. Mala, dan Sigit Indra]
[Laporan Utama Gatra Nomor 51 Beredar 5 November 2001]


printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 05 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer