spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
RI Desak Faksi Afghanistan Segera Capai Rekonsiliasi

Sydeny, 2 Desember 2001 15:38
Indonesia mendesak para faksi Afghanistan yang tengah bertemu di Bonn, Jerman Barat segera mencapai rekonsiliasi dengan mengenyampingkan perbedaan di antara mereka karena kepentingan utama rakyat Afghanistan saat ini adalah bagaimana program pembangunan kembali pasca perang bisa dilaksanakan secepatnya.

Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negara Hassan Wirayudha kepada ANTARA ketika melakukan "stop-over" di Sydney dalam perjalanannya dari Auckland kembali ke Jakarta, Minggu.

Menurut Hassan, Afghanistan adalah negara sahabat Indonesia karena negara itu adalah salah satu negara peserta konferensi Asia Afrika, di samping juga sebagai negara non-blok.

"Secara tradisional Afghanistan adalah negara non-blok dan memiliki banyak kesamaan prinsip dengan Indonesia. Kita berkepentingan untuk membantu apa yang kita bisa berikan dalam hubungan perdamaian di negara tersebut," katanya.

Hassan mengingatkan para pemimpin Afghanistan agar menjauhi konflik dan mencari solusi perdamaian di negara itu. "Konflik Afghanistan adalah konflik yang berkepanjangan (Forgotten Conflict)," katanya.

Menlu Hassan mengakui, memang tidak mudah mencapai kesepakatan di antara para faksi Afghanistan karena Utusan Khusus Sekjen PBB Lakhdar Ibrahimi saja sejak awal memperkirakan hal itu.

Lakhdar sebagai Utusan Sekjen PBB sudah bergelut dalam masalah Afghanistan 10 tahun, dan ia memperkirakan tidak mudah membentuk "peace-keeping force" di Afghanistan karena rakyat Afghanistan adalah orang yang bangga pada diri mereka sendiri dan sukar menerima keterlibatan pihak luar.

Oleh karena itu, tambah Menlu Hassan, tidak aneh jika pembentukan pasukan perdamaian saja tidak berhasil karena rakyat Afghanistan ingin kekuatan itu diambilkan dari kekuatan yang ada di Afghanistan sekarang.

Menurut Hassan, keinginan itu tidak realistis karena di antara mereka ada tradisi bertikai satu dengan yang lain. "Dan itu bukan cerita satu dua tahun tahun lalu tapi bisa dilihat dari sejumlah peristiwa seperti sehabis hengkangnya Rusia, kembali pecah pertikaian antar etnik yang begitu besar," katanya.

Kesulitan lain adalah tidak diikutkannya Taliban dalam perundingan perdamaian itu, padahal Taliban terdiri dari suku Pastun yang merupakan 40 persen dari seluruh rakyat Afghanistan.

Sedangkan, Aliansi Utara didominasi oleh suku Tajik dan Uzbek yang merupakan suku minoritas di Afghanistan. "Jadi, upaya mengecualikan Suku Pastun merupakan tindakan yang tidak bijaksana dan tidak mustahil," katanya.

Dia mengakui, persoalan Afghanistan tidak mudah, namun ada faktor yang bisa memaksa mereka mau saling mengakomodasi yaitu kesulitan ekonomi dan kehidupan yang memerlukan bantuan dunia luar.

"Dengan kata lain, ketergantungan terhadap bantuan dunia luar bisa menjadi faktor pemaksa agar mereka tidak lagi keras kepala," katanya.

Mereka harus menyadari bahwa ada keperluan bersama dan kepentingan rakyat Afghanistan untuk perdamaian, rekonstruksi dan pembangunan kembali ekonomi pasca perang, tegasnya. " Kesadaran itu diharapkan dapat mendorong mereka ke arah pembentukan pemerintah yang mencakup semua (broad-base government)," katanya.

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 02 December 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer