Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Bos, jangan bersaing

DIAM-diam, calon raja media telah lahir di Indonesia. Balita yang kini mulai lincah itu merupakan "buah perkawinan" PT Bimantara Citra dan Bhakti Investama.

DIAM-diam, calon raja media telah lahir di Indonesia. Balita yang kini mulai lincah itu merupakan "buah perkawinan" PT Bimantara Citra dan Bhakti Investama. Geliat sang bayi makin mencuat setelah Hary Tanoesoedibjo, 36 tahun, Direktur Utama Bhakti Investama, didaulat menjadi wakil komisaris utama di perusahaan milik Bambang Trihatmodjo itu, Selasa pekan lalu.

Masuknya Hary jadi pertanda makin mengguritanya investasi Bhakti- Bimantara di media televisi. Apalagi, saham Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan Metro TV juga dipunyai Bimantara. Belakangan, Bhakti membeli 36% saham Surya Citra Televisi (SCTV). Bhakti juga berancang-ancang mengikuti tender penjualan saham Indosiar Visual Mandiri yang dikuasai BPPN melalui Holdiko Perkasa, antara April hingga Juli nanti.

Dari seluruh stasiun televisi itu, RCTI paling dijagokan meraih laba. Maklum, selama ini stasiun TV swasta tertua itu menjadi dewa penolong Bimantara untuk menutup utangnya. Ketika diempas krisis ekonomi menyusul lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan, Bimantara rugi hingga Rp 381,5 milyar. Belum lagi utang luar negerinya yang mencapai US$ 335 juta.

Syukur, Bimantara punya RCTI. Ia menguasai 70% saham, sisanya di tangan Peter Sondakh, pemilik kelompok usaha Rajawali. Berkat iklan RCTI yang berjibun, sekitar 40% utang itu lunas dalam kurun setahun. Kendati belum menangguk laba, penampilan "RCTI oke" ini membuat harga saham Bimantara meroket dari Rp 125 menjadi Rp 700 per unit. Kini, iklan sudah memenuhi jatah jam tayang komersial. Padahal, untuk tahun ini, RCTI memperkirakan anggaran iklan naik 30%. "Karena itu diperlukan teve baru, tapi jangan bersaing dengan RCTI," kata Edwin Kawilarang, Direktur Bimantara.

Pucuk dicita, ulam tiba. Surya Paloh, pemilik Metro TV, membatalkan perundingan penjualan saham TV berita itu, yang nyaris final dengan investor lain. Lewat pendekatan Komisaris Utama Bimantara yang juga adik ipar Surya, Rosano Barack, Bimantara membeli 25% saham PT Media Televisi Indonesia, pemilik Metro TV, dengan harga Rp 40 milyar. Bimantara juga memberikan pinjaman Rp 125 milyar untuk mendongkrak kinerja Metro.

Jadilah Metro TV sebagai penampung iklan RCTI yang kini mengkhususkan diri sebagai televisi hiburan. Rencana Bhakti- Bimantara menjadikan bidang media dan multimedia sebagi fokus bisnis makin lengkap setelah PT Artha Graha Investama Sentral Tbk (AGIS) membeli saham SCTV. Anak perusahaan Bhakti itu, kabarnya, sudah membeli 36% saham SCTV seharga US$ 45 juta. Saham itu semula dikuasai Peter F. Gontha.

Sebelumnya, 47,5% saham SCTV dipegang Gontha melalui PT Datakom Asia. Sisanya dikantongi Hary Pribadi dan Sudwikatmono lewat PT Mitrasari Persada. Masih belum puas, Bhakti kemudian mengincar Indosiar. Rencananya, mereka bakal ikut tender penjualan 15% dari 67,73% saham Indosiar yang dikuasai Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melalui Holdiko Perkasa. "Langkah selanjutnya belum jelas. Kami hanya mengikuti BPPN," kata Humas Indosiar, Gufron Sakaril.

Modal Bhakti yang seolah tak pernah surut juga mau menjangkau televisi lainnya. Bhakti sudah bersiap-siap membeli AN-teve yang kini di tangan BPPN. Bhakti kabarnya berani menanggung sepertiga utang AN-teve, senilai US$ 75 juta. Niat Bhakti ini, bisa jadi makin lapang setelah satu-satunya calon investor pesaing, Grup Kompas- Gramedia, mundur dari perebutan AN-teve.

Media televisi memang menawarkan laba yang menggiurkan. Lima tahun terakhir ini layar kaca jadi pilihan utama para pemasang iklan. Paruh tahun kemarin saja, perolehan iklan Indosiar, RCTI, SCTV, TPI, dan AN-teve mencapai lebih dari Rp 3,4 trilyun. Ini merupakan 70% dari total belanja iklan.

Tapi untuk menjadi raja media tak cukup kekuatan modal semata. Ganjalan sepertinya bakal datang ketika Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepenyiaran selesai Agustus nanti. Dalam RUU yang masih dibahas di DPR-RI ini tercantum ketentuan yang melarang kepemilikan silang media pers. "Meski hanya di bidang televisi, bisa dikategorikan melanggar prinsip RUU Kepenyiaran," kata Dimyati Hartono, Ketua Pansus RUU Kepenyiaran.

Menurut Dimyati, kekhawatiran monopoli kepemilikan stasiun TV sebenarnya bisa dicegah dengan dua undang-undang lagi, yakni UU Pendirian Perseroan Terbatas dan Antimonopoli.

Sigit Indra dan Ronald Panggabean
ARTIKEL LAIN

 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Daerah
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hiburan
Hukum
Infoproduk
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Media
Multimedia
Musik
Nasional
Pendidikan
Ragam
Seni Rupa
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com