spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ALKISAH
spacer
 
Ceritera Pendek
Eksplorasi Menulis Bunyi

Jakarta, 3 April 2001 21:11
PENAMPILANNYA memang sangat ''Tardji'': topi rimba ala Indiana Jones, jaket longgar, rambut dianyam kecil-kecil, plus sebentuk anting bundar bergelayut di cuping telinga kiri. Begitu ''Presiden Penyair'' itu memasuki ruangan, langsung bergema tempik sorak lebih dari dua ratus hadirin yang memenuhi Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu pekan lalu.

Tadinya acara akan dimulai pukul 14.00. Tapi, sang tokoh utama --siapa lagi kalau bukan Sutardji Calzoum Bachri-- tak kunjung tiba. Padahal, hadirin sudah tak sabar menunggu acara peluncuran dan diskusi buku Hujan Menulis Ayam, kumpulan cerita pendek Sutardji yang baru diterbitkan Indonesiatera. Ada yang nyeletuk: keterlambatan itu merupakan bagian dari ''skenario pertunjukan''....

Hujan Menulis Ayam memuat sembilan cerita pendek pujangga kelahiran Rengat, Riau, 60 tahun lalu itu. Semuanya ditulis pada periode l966-l970. Artinya, seraya bersyair-syair, Tardji ternyata menulis cerita pendek juga. Sampai saat ini, menurut pengakuannya, ia menulis tak kurang dari 25 cerita pendek. ''Sedikit,'' katanya, ''karena alasan teknis.''

Waktu itu Tardji belum berkomputer. Ia mengarang dengan mesin tulis. Kalau salah harus di-tipeks. Kalau mau digandakan dialasi karbon. ''Itu adalah pekerjaan menyebalkan,'' tulis Tardji di kata pengantar bukunya. Lalu diungkapkannyalah suasana keterbelakangan itu sebagai ''sungguh suatu penderitaan yang halus dan memuakkan''.

Sudah begitu, cerita pendek yang tak banyak itu tidak pula didokumentasikan dengan cermat. ''Kami sudah mengaduk-aduk perpustakaan di mana-mana, tapi hanya sembilan cerita pendek inilah yang ketemu,'' kata Direktur Indonesiatera, Dorothea Rosa Herliany, yang juga penyair. Namun, Tardji tak berkecil hati. Paling tidak, ''Cerita-cerita pendek ini sudah menjadi klasik,'' katanya.

Maksud Tardji, cerita-cerita pendek itu masih enak dibaca, dan relevan, setelah mengendap sekitar 30-an tahun. ''Mirip karya Beatles dan Beethoven-lah,'' katanya, ngakak. Dalam hal ini, Tardji tak keliru. Hujan Menulis Ayam bukan saja enak dibaca dan relevan, melainkan juga membawa sentuhan baru dalam penulisan cerita pendek di Indonesia.

Selain berpidato, Tardji juga membacakan Pada Terangnya Bulan, satu dari cerita dalam kumpulan itu. ''Ada yang saya rindu, bila saya membacanya,'' kata Tardji, tanpa mengungkap kerinduan itu. Di sela bacaannya, Tardji mendendangkan Still Got The Blues-nya Garry Moore, lagu kesukaannya. Entah kapan pula Tardji akan meluncurkan album perdananya....

Pada Terangnya Bulan berkisah tentang tiga lelaki muda, dengan tiga gitar dan tiga suara. Cerita ini, seperti juga Hujan, dan Senyumlah Pada Bumi, sangat menonjol efek puitisnya. Pengamat Ignas Kleden menyebut ketiga cerita pendek itu sebagai prosa dengan sifat puisi. Ketiganya, menurut Ignas, lebih menonjol ketimbang cerita pendek lainnya yang lebih mengandalkan peristiwa.

Tak hanya ketika berpuisi, dalam menulis prosa pun Sutardji tidak terikat konvensi. Ia berbunyi seenaknya, mengikuti arus dan alur imajinasinya, memperlakukan kata dan kalimat sebagai kendaraan spiritualnya. Seperti dalam Pada Terangnya Bulan: ''Mereka menyanyikan lagu sedap dengan sedapnya dan dengan sedapnya berkeluaran denting gitar dari jari-jari mereka. Dan bulan jadi lebih sedap di langit malammu.''

''Selain puitis, cerita-cerita pendeknya sangat musikal,'' kata Danarto, sastrawan yang banyak menulis cerita pendek sufistik, kepada Mariana Ariestyawati dari Gatra. Danarto kemudian mencuplik sepenggal alinea dari Senyumlah Pada Bumi: ''Di Barcelona kakek tersenyum pada Adelita dan dapat Isabella. Di Marseilles kakek tersenyum pada Francoise dan dapat Helene. Di Yokohama kakek tersenyumn pada Michiko, Hiroko, dan dapat Kumiko,''

Pendapat Danarto ini didukung Ignas Kleden, ''Sejak dulu Tardji memang terkenal berani dengan eksplorasi fonetiknya,'' katanya. Dan itu, ternyata, sudah dilakukan Tardji sebelum dia mempermaklumkan kredo kepenyairannya, pada 1973. ''Membebaskan kata dari makna,'' katanya. Tapi, dalam Hujan Menulis Ayam, judul yang diangkat dari tiga cerita pendek dalam kumpulan ini, Tardji juga membebaskan makna dari keterbelengguan ''tradisi'' penulisan cerita pendek di Indonesia selama ini.

[Hidayat Tantan dan Dipo Handoko]
[Gatra Nomor 20, Beredar Senin 2 April 2001]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 03 April 2001 >>
SuMTW ThFSa
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer