spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ALKISAH
spacer
 
Tommy Buron
Hai, Ini Gue...

tommy-elize-wwcJakarta, 6 Pebruari 2001 15:34
ELIZE Maria Tuwahatu, 33 tahun, menjalani pemeriksaan maraton sepanjang pekan lalu. Hampir setiap hari, Elize, yang mendekam di tahanan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, sejak 18 Januari lalu, harus menjawab rentetan pertanyaan polisi. Keterangan tersangka penenteng bom di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini, kata polisi, bisa menuntun pencarian Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

Sebagai tokoh kunci, untuk melacak buron Tommy Soeharto, Elize mendapat perlakuan ''istimewa''. Ke mana-mana, ia dikawal ketat oleh polisi. Sejumlah perwira Polda Metro Jaya menuturkan betapa piawainya Elize melepas borgol di tangan. Masih dengan penjagaan ketat, Rabu lalu, gadis bertubuh subur ini diperiksa di ruang reserse. Baby --begitu ia sering dipanggil-- terlihat santai. Sesekali ia mengibaskan rambut ikalnya yang basah oleh keringat di depan kipas angin.

Dalam keterangannya, Eliza masih bersikukuh bahwa orang yang memberinya bom di Jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat, hanya mirip dengan Tommy. Ia pun mengakui suara yang meneleponnya, membicarakan rencana pengeboman, juga cuma mirip Tommy. Tapi polisi yakin, yang menghubungi Elize itu Tommy Soeharto. ''Dia tahu banyak, tapi mengelak,'' kata Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Harry Montolalu.

Sejauh ini, kata Harry, sudah 26 saksi yang diperiksa berkaitan dengan kasus Elize. Tapi, belum ada titik terang tentang persembunyian Tommy dan jaringan bomnya --kalau memang ada. Polisi terus akan memanggil sejumlah saksi, termasuk Sonia, ibunda Elize. Harry masih berpegang pada pengakuan Elize yang pertama bahwa ia bertemu benar dengan Tommy di Jalan Cilacap, 14 Januari lalu. ''Pengakuan itu tercatat dalam berita acara pemeriksaan pertama,'' katanya.

Kedekatan Elize dengan Tommy, kata polisi, bermula dari balapan jetski di Teluk Jakarta, 1985. Baby, saat itu masih 17 tahun, mengirim surat kepada Tommy, dan memintanya mengurungkan niat berlomba. Ia menujumkan, Tommy bisa celaka. Eh, ternyata benar. Konon... jetski Tommy bertabrakan. Nah, ketika putra presiden ini dirawat di rumah sakit, Elize mengirim bunga. Setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit, Tommy membalas mengirimkan bunga saat Elize berulang tahun.

Sejak itu, hubungan Elize dengan Tommy makin dekat. ''Elize bertindak bak penasihat spiritual Tommy,'' kata Fahrul Kahar, dari Kantor Pengacara Masiga Bugis, penasihat hukum tersangka. Setiap kali ada acara keluarga di Jalan Cendana, terutama menyangkut Tommy, Elize hadir. Meski cukup dekat, kata Fahrul, Baby tak pernah berbisnis dengan Tommy.

Hubungan Baby dengan Tommy, masih menurut Fahrul, merenggang pada 1985. Pemuda tampan itu kian tenggelam dalam bisnisnya. Tapi, dalam versi polisi, hubungan keduanya tetap berlanjut. Buktinya, Tommy pernah dua kali, 22 Mei dan 22 Oktober 1997, menyerahkan cek sebesar Rp 150 juta melalui Bank Utama ke Elize. ''Setelah kami selidiki, ternyata cek itu berasal dari rekening milik Tommy,'' kata Harry.

Seorang anggota reserse di Markas Besar Polri juga mengatakan, bantahan Eliza, bahwa orang yang memberi order hanya tampang dan suaranya saja yang mirip suara Tommy, tak bisa dipercaya. Menurut perwira menengah itu, catatan print out telepon genggam Elize menunjukkan adanya hubungan ke sejumlah nomor sekitar pertengahan Desember sampai saat pertemuan Cilacap. ''Nomor telepon yang dihubungi berubah-ubah, tapi di antara nomor itu ada nomor Tommy,'' kata perwira polisi itu.

Pada hari saat pertemuan Cilacap, kata sumber itu pula, terdapat delapan kali hubungan keluar dari ponsel Elize. Nomor-nomor itu sebagian juga ada saat hubungan telepon sebelumnya. ''Jadi, tidak mungkin dia tidak mengenal siapa yang menyuruh,'' katanya. Apalagi, di antara penelepon itu, sebagian besar menuju ke nomor-nomor milik Tommy. Dan panggilan dari nomor itu pun lenyap setelah Elize ditangkap.

Tentu saja, pengacara Elize tidak sepenuhnya menerima versi polisi itu. Menurut Fahrul Kahar, rencana pengeboman berawal dari telepon yang masuk ke ponsel Elize, pertengahan Desember. Suara di telepon dikenalinya mirip dengan suara Tommy. ''Menurut Elize, suara ditelepon itu tidak menyebutkan nama. ''Cuma bilang, 'Hai ini gue....' Jadi belum tentu dari Tommy kan?'' katanya.

Dalam percakapan telepon itu, kata Fahrul, ''Tommy'' cuma bilang ''apa kabar''. Baru pada kontak selanjutnya, sang penelepon berbicara soal bom. Elize diminta mencari orang yang mampu meletakkan bom tanpa ketahuan. Elize teringat pada Joko Bodo, paranormal yang dikabarkan bisa menghilang. ''Saya tahu tentang Joko Bodo lewat iklan yang di sebuah majalah hiburan, November 2000 lalu,'' katanya kepada polisi.

Elize lalu menemui Joko Bodo akhir Desember 2000, di tempat prakteknya, di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Semula, Elize berpura-pura minta tolong agar Elmo's Cafe yang dikelolanya, di halaman rumahnya di Jalan Suwiryo 48, Menteng, Jakarta Pusat, bisa laris. Pada konsultasi berikutnya, ia meminta bantuan Joko Bodo menaruh bom di tiga tempat tadi. ''Masalah bom itu dibahas Elize setelah pertemuannya dengan Tommy di Jalan Cilacap,'' kata Fahrul.

Sejak pertemuan itu, sampai hari ia ditangkap polisi, Eliza terus dihubungi suara yang mirip Tommy itu. Isinya seputar rencana peledakan. Setiap kali menelepon selalu menggunakan telepon yang berbeda-beda. Lalu, terjadilah serah terima bom itu bersama tiga lembar traveler's check, masing-masing Rp 25 juta. Dua lembar di antaranya sudah dicairkan.

Pencairannya dilakukan di BNI Cabang Jatinegara, Jakarta Timur, dan Green Garden, Jakarta Barat. Sebagian duit itu kemudian diserahkan kepada Joko Bodo. Paranormal yang membuka praktek di belakang Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, itu minta bayaran Rp 74 juta untuk setiap lokasi yang akan diledakkan. Untuk uang muka, Elize menyerahkan Rp 21 juta kepada Joko Bodo. Sisanya dibayar kalau order sukses.

----
Di sela pemeriksaan Polisi Gatra berhasil mendekati Elize Maria Tuwahatu yang didampingi pengacaranya. Penampilan gadis berusia 33 tahun, tampak stabil. Meski terlihat lelah, gadis kelahiran 1 Januari 1968 ini masih mau tersenyum saat disapa wartawan ketika keluar dari sel menuju ruang pemeriksaan. Hanya saja, dia menghindar untuk banyak bicara.

Masih banyak misteri di balik ''aksi'' Elize, yang dituduh polisi berencana mengebom tiga tempat di Jakarta, Januari lalu. Wartawan Gatra Sigit Indra, yang sehari penuh menunggu kesempatan wawancara, Rabu pekan lalu, hanya mendapat jawaban sepotong-sepotong. Berikut kutipannya:

Mengapa Anda mencabut pernyataan bahwa Tommy telah menemui Anda di Jalan Cilacap?
Memang bukan dia. Tapi mirip dengan Mas Tommy. Saya cabut, karena pengakuan pertama terjadi saat saya stres diperiksa.

Seberapa dekat Anda dengan Tommy?
Kenalnya waktu Mas Tommy balapan jetski. Saya kirim surat supaya jangan turun karena akan celaka. Nggak tahunya benar. Sudah itu, saya kirim bunga. Mas Tommy terus balas kirim waktu saya ulang tahun. Sudah itu, saya sering datang ke acara keluarga. Tapi setelah tahun 1985 nggak dekat lagi.

Siapa yang minta Anda membawa bom?
Pertengahan Desember saya ditelepon orang. Dia minta saya taruh bom. Saya nggak tahu siapa, tapi suaranya mirip-mirip Mas Tommy.

Kok mau?
Semula sekadar menjawab saja. Tapi dia mengancam akan mencelakakan saya kalau menolak. Saya terus tanya, caranya gimana. Dia bilang, coba cari orang yang bisa bantu. Terus saya kontak Ki Joko Bodo.

Kenapa minta bantuan Joko Bodo?
Dia punya ilmu gendam. Bisa menghilang.

Bagaimana Anda kenal Joko Bodo?
Dari majalah Misteri. Tapi baru Desember saya ketemu.

Anda sering kontak dengan orang yang memberi oder itu?
Saya nggak kenal nomornya. Setiap hari dia telepon tapi nomornya ganti-ganti.

Selama Tommy menghilang Anda pernah dihubungi?
Pernah. Satu kali.

Apa yang dibicarakan?
(Elize hanya menggelengkan kepala)

Bagaimana keadaan Anda di tahanan?
Saya ingin cepat sidang.
[I Made Suarjana dan Sigit Indra]
[Gatra Nomor 12 Tahun ke Tujuh, Beredar Senin 5 Februari]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 06 February 2001 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer