spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
HUKUM & KRIMINALITAS
spacer
 
Kisah Fantastis Si Penidur

elize-tommy

Jakarta, 23 Januari 2001 00:59
NAMANYA tiba-tiba saja membentot perhatian publik akhir pekan lalu. Padahal sebelumnya, gadis pendiam yang sejak lahir di Jakarta 1 Januari 1968 tinggal di Jalan Suwiryo Nomor 48, Menteng, Jakarta Pusat, tersebut tak banyak dikenal. Bahkan oleh para tetangganya.

Kisah Eliza Maria Tuwahatu, demikian nama lengkapnya, sedikit terkuak, tak lain berkat dari pengakuannya pada polisi Jumat pekan lalu. Eliza, Jumat siang tersebut tertangkap oleh polisi sedang menyerahkan paket bom di Taman Mini Indonesia Indah untuk diledakkan di tiga kantor pemerintah.

Setelah tertangkap, terungkaplah penuturan yang mengagetkan polisi sendiri. Karena ia mengaku menjadi kurir Tommy Soeharto dalam kasus bom tersebut.

Ia mengaku sebagai teman dekat putra mantan presiden Soeharto yang kini buron tersebut. Malah, menurutnya pada Polisi, bom tersebut diterima langsung dari Tommy Minggu malam (15 Januari 2000) masih di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tepatnya di Jalan Cilacap, depan Universitas Bung Karno, atau hanya beberapa ratus meter dari kantor Polisi Sektor Menteng.

Saat menerima paket bom Tommy, yang malam itu bercelana pendek dan bertopi rimba, Eliza juga mengaku mendapat tiga lembar cek, masing-masing Rp. 25 juta yang ditandatangi oleh bos grup Humpuss tersebut. Ketiga cek tersebut, menurut Eliza, telah dicairkan di dua cabang bank milik pemerintah.

Tapi benarkah pengakuan Eliza tersebut? Polisi tampaknya masih meragukan pengakuan tersebut. Bukan karena pengakuan tersebut, sedikit banyak memalukan polisi, yang telah mengejar Tommy hingga ke hulu Sungai Mahakam di Pedalaman Kalimantan Timur.

Tapi, menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mulyono Sulaiman, polisi tidak bisa terburu-buru mengambil kesimpulan. "Keterangan dia mungkin benar, mungkin salah," kata Sulaiman. Alasan lain, lanjut Sulaiman, Elize tidak memberikan bukti apapun mengenai keterkaitan dirinya dengan Tommy, kecuali hanya memperlihatkan bahan-bahan bom. Lho tiga lembar cek itu?

"Kami tengah selidiki cek itu, kapan dikeluarkan, ditandatangani siapa, kapan dicairkan dan sebagainya," kata Wakil Kepala Polri Komjen Panji Atmadisurya kepada wartawan di Bandung. Pengakuan dari Eliza, lanjut Panji, dan bukti yang dikumpulkan petugas saat ini, masih berupa data-data awal. "Itu masih harus dikembangkan lagi dari berbagai sudut pandang," katanya.

Hal lain yang sedang dicari keterkaitannya adalah hubungan antara Eliza dengan Tommy seperti pengakuannya? "Itu harus dikonfirmasikan pada Tommy kalau yang bersangkutan ketemu. Apa benar, orang yang memakai topi rimba itu Tommy. Kalau betul begitu, berarti dia masih leluasa di Jakarta," kata Panji lagi. "Karena itu sabar sajalah dulu," kata Panji. Sabar sampai Tommy tertangkap? Repot juga urusannya.

Tapi siapakah Aliza Maria Tuwahatu? Paman Eliza, Max Tuwahatu, mengatakan bahwa kemenakannya itu tak banyak tingkah. ''Anaknya pendiam. Tak macam-macam,'' kata Max kepada Anita P. Purba dari Gatra. Setahu Max, sehari-hari Eliza Maria cuma sibuk mengelola Kafe Elmo's Corner, yang lokasinya menyatu dengan kediaman Tuwahatu di Jalan Suwiryo.

Sejak 1999, Eliza, putri tunggal pasangan Sonya dan Nico Yakob Tuwahatu ini, memang menjalankan usaha kafe bersama Lisa Imelda Lopulisa, putri Leo Lopulisa, mantan Panglima Kostrad, juga mantan Duta Besar RI untuk Filipina. Lisa Lopulisa dan Eliza Tuwahatu saling kenal sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama.

Sebelum sibuk mengurusi Elmo's Corner, Eliza kabarnya pernah bekerja sebagai sekretaris pada salah satu perusahaan milik Tommy Soeharto. Ia juga sempat tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Sayang, lulusan SMA Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) Sam Ratulangie Menteng ini gagal menyelesaikan kuliahnya.

Menurut penelusuran wartawan Gatra Nurul Ikhlas Husein di Bagian Administrasi Pendidikan Fakultas Kedokteran Trisakti, Eliza tercatat masuk Trisakti pada 1986. Tiga tahun kemudian, ia dikeluarkan karena indeks prestasinya jeblok. Menurut cerita yang berkembang di kampus itu, Eliza terkenal sering tertidur saat kuliah.

Dari sini berkembang cerita tentang kedekatannya dengan keluarga mantan Presiden H.M. Soeharto. Sebab, setiap kali kebiasaan tidurnya dipersoalkan, ia beralasan kurang tidur karena bekerja di Jalan Cendana. Rumah kediaman keluarga Tuwahatu memang hanya beberapa ratus meter dari Cendana.

Tak jelas, pekerjaan apa yang dilakoni Eliza Maria. Yang pasti, sejak masih menjadi mahasiswi, Eliza kerap mengaku bisa meramal dan punya bakat paranormal. Kedekatannya dengan keluarga Cendana, khususnya Tommy Soeharto, terbukti saat ia akan didepak dari Fakultas Kedokteran Trisakti.

Menurut cerita yang beredar, ketika keputusan drop-out Eliza disiapkan, datang surat sakti dari Tommy Soeharto yang meminta pimpinan Fakultas Kedokteran Trisakti mencabut keputusan itu. Tapi rupanya, surat sakti ini tak bertuah. Eliza pun tetap harus angkat kaki dari kampus.

Kabar kedekatan Eliza dengan Tommy juga didengar para tetangganya. Aida Mustafa, penyanyi tenar di awal 1970-an, yang kini menjadi ketua RT di kawasan kediaman keluarga Tuwahatu, mengakui hal itu. ''Dengar-dengar sih, dia memang dekat dengan Tommy,'' kata Aida.

Menurut Aida, Baby --panggilan akrab Eliza-- kerap mengaku sebagai penasihat spiritual keluarga Cendana. ''Itu dikatakan sendiri oleh Nyonya Sonya Tuwahatu,'' kata Aida, menyebut ibu Eliza. Toh, Aida Mustafa menyebutkan, ia tak tahu banyak soal kegiatan Baby sebagai paranormal.

Tapi, boleh jadi, Eliza yang pendiam itu punya sisi lain. Artis Irianti Erningpraja menyebutnya sebagai orang yang rame, banyak bicara dan terbuka. Irianti sempat sekali bertemu Eliza, karena keduanya sama-sama menjadi calon anggota legislatif dari Partai Republik, ketika berlangsung Pemilu 1999.

Irianti tercatat sebagai calon nomor tiga mewakili Jakarta. Eliza calon nomor lima. Irianti mengaku mengenalnya sepintas saja. Keterlibatan Eliza di Partai Republik ini juga bisa menjadi indikasi lain kedekatannya dengan keluarga Cendana. Sebab, sebagaimana dituturkan Irianti, anggota keluarga Cendana memang memilih Partai Republik dalam Pemilu 1999. ''Karena partai ini satu-satunya yang tidak menghujat Soeharto,'' kata Irianti.

Rahasia kisah hidup Baby, atau Eliza --yang dikenal rajin beribadah di Gereja Kristen Indonesia Cawang-- mungkin akan terkuak lebih banyak kelak. Boleh jadi, pemilik sedan Timor S-515 dan sebuah Toyota Kijang ini masih menyimpan kejutan. ''Saya tak menyangka dia bisa seperti itu,'' kata Max Tuwahatu. Ia tak percaya Eliza bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Betulkan apa yang dikatakan oleh pamannya itu? Seperti diungkapkan Wakil Kepala Polri, sabar saja sampai Tommy tertangkap.

[DH, Krisnadi Yuliawan dan Rita Triana Budiarti]


printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 23 January 2001 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer