Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Soal Ekonomi Lebih Berperan

Bangkrutnya industri milik pribumi di Tasikmalaya dinilai punya peran dalam memicu kerusuhan akhir Desember lalu.

ROIS Am NU KH Ilyas Rukhiyat berpendapat, Kerusuhan Tasik 26 Desember itu berlatar belakang kesenjangan sosial. "Dulu yang punya usaha batik itu haji-haji, sekarang telah berpindah tangan," ujar ajengan dari Pesantren Cipasung, Singaparna, sekitar 15 km dari Kota Tasikmalaya itu. Kiai Ilyas pun mengingatkan, pada 1963 Tasikmalaya dilanda keonaran yang sama. Diilhami Insiden Tasikmalaya 1963 itu, pemerintah sempat mengeluarkan beleid yang melarang etnis keturunan untuk tidak mengembangkan usahanya ke kota kecamatan dan desa.

Namun ketentuan itu kini seperti tidak berlaku. "Kecemburuan timbul kembali," kata ajengan yang mengasuh 5.000 santri itu. Jumat pekan lalu, wartawan Gatra Mauluddin Anwar, Hidayat Tantan, dan Ahmad Husein menemui Kiai Ilyas di kediamannya yang asri di Cipasung. Petikannya:

Hikmah apa yang bisa dipetik dari Kerusuhan 26 Desember lalu?

Peristiwa itu suatu musibah bagi kita, dan mudah-mudahan tak terulang lagi. Dan semoga pemerintah dapat segera mengatasi bekas-bekas kerusuhan itu. Rusuh itu telah membuat ribuan buruh menganggur, harga-harga melambung. Kalau tak segera diatasi, gejolak akan timbul kembali. Jadi masyarakat harus lebih waspada terhadap hasutan.

Pemerintah hendaknya juga lebih hati-hati dalam menangani masalah ini. Kita seolah-olah kecolongan. Tidak disangka di Tasikmalaya akan terjadi peristiwa seperti ini. Kalau melihat kenyataan sehari-hari, hubungan antara ulama dan umara, dan juga antarumat beragama, sangat dekat. Umat Islam tidak pernah protes soal perkembangan agama lain, juga sebaliknya.

Kalau begitu, apa kira-kira pemicu utama kerusuhan ini?

Ada beberapa kemungkinan. Yang paling nyata adalah soal pemukulan pada Ustad Mahmud Farid dan dua santrinya, yang diteruskan dengan isu bahwa Mahmud wafat. Bumbu-bumbu ini menimbulkan emosi berbagai pihak. Kalau orang-orang yang sudah emosi berkumpul, kan sulit dikendalikan. Apalagi ketika mereka disusupi orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Faktor lainnya adalah kesenjangan sosial. Hasil pembangunan belum merata. Ini yang membuat massa makin sensitif. Banyak yang susah mencari kerja. Mau jadi pegawai susah. Begitu juga dengan masalah tanah yang digusur karena dipakai proyek tertentu. Pedagang yang sering tergusur dari tempat kerjanya karena penertiban. Ini yang membikin mereka makin menggelora. Dadanya sudah penuh sesak dengan berbagai kekecewaan dan ketidakpuasan.

Apakah faktor pribumi dan nonpribumi juga berpengaruh?

Kalau melihat harta benda yang dirusak, juga tempat ibadah umat lain, kemungkinan itu ada. Misalnya, Matahari. Mungkin pedagang-pedagang kecil itu merasa terganggu karena dengan adanya supermarket, orang-orang kampung kalau beli sayuran dan terasi saja ke sana perginya.

Pada tahun 1963, di Tasikmalaya juga pernah terjadi kerusuhan rasial. Apa kerusuhan ini menjadi penyakit menahun?

Akibat peristiwa itu memang pemerintah melalui Menteri Perdagangan sampai melarang warga keturunan membuka usaha di tingkat kecamatan dan desa. Setelah itu, soal etnis tidak lagi menjadi masalah yang menonjol. Tapi setelah bank-bank swasta masuk ke kecamatan, kecemburuan itu muncul kembali.

Apakah Anda sering menerima keluhan-keluhan dari pedagang kecil atau petani yang tergusur itu?

Ya. Dulu orang-orang kaya di Tasik kan para perajin batik, dengan koperasi mitra batiknya. Tapi setelah ada pabrik industri batik, usaha para perajin hancur. Seperti di Majalaya, dulu yang punya usaha batik itu haji-haji, sekarang telah berpindah tangan. Kini yang bertahan cuma industri batik yang mendapat subsidi dari GKBI.

Jadi kesenjangan sosial dan kekecewaan sebagian warga Tasikmalaya yang memicu kerusuhan itu?

Sangat berkaitan dan memungkinkan. Meskipun Bupati bilang tidak ada kesenjangan. Dalam penglihatan pemerintah memang tidak ada kesenjangan karena pembangunan berjalan terus. Tapi masyarakat sendiri ada yang tidak puas.

Bagaimana dengan peran ulama? Di Situbondo kerusuhan terjadi karena ulama tidak dilibatkan untuk meredamnya. Di Tasikmalaya, walaupun beberapa ulama sudah turun tangan, mereka tidak berhasil.

Itu karena massa sangat emosional. Lagi pula para pelaku kerusuhan itu belum tentu orang yang taat pada ulama.

Artinya, pelaku kerusuhan bukan santri?

Ya. Memang dalam acara doa di Masjid Agung, masih banyak santri yang ikut. Tapi ketika kerusuhan terjadi, santri tidak ada yang ikut. Buktinya tidak ada santri yang terjaring pihak keamanan.

Bupati menduga ada pihak ketiga. Bagaimana menurut Kiai?

Kemungkinan memang ada. Banyak juga para residivis dan garong yang terlibat.

Ada indikasi kerusuhan itu direkayasa dengan menyebarnya telepon gelap kepada para ulama agar mengerahkan santrinya turun ke jalan. Kiai menerima telepon juga?

Tidak. Pada hari peristiwa pemukulan terhadap Mahmud dan dua santrinya, saya mengutus anak saya untuk menengok ke sana. Ternyata Ustad Mahmud tidak apa-apa.

Konon menjelang kerusuhan itu massa dikerahkan dari berbagai kabupaten dengan puluhan truk. Benarkah?

Saya tidak tahu. Tapi waktu saya berangkat ke Bandung malam hari saat peristiwa itu terjadi, saya menemui ada beberapa truk yang membawa anak-anak. Di samping itu ada beberapa truk berisi tentara menuju ke sini.

Kiai ikut menenangkan massa?

Siang itu saya memang ditelepon oleh Kepala Kantor Departemen Agama Tasikmalaya bahwa saya ditunggu Bapak Bupati untuk menenangkan massa. Tapi karena saya sudah janji ke luar kota, saya tidak bisa. Pertimbangan saya, kalaupun ikut menenangkan, akan sia-sia. Massa sudah sangat emosional.

Kerusuhan yang sama juga terjadi di Situbondo, Pekalongan, dan Timor Timur. Apakah hubungan antarumat beragama sudah rawan saat ini?

Basa-basi dan hubungan di permukaannya memang baik. Tapi untuk saling memahami secara mendalam masih susah karena jarang berdialog. Belum ada saling pengertian. Tapi lagi-lagi pangkalnya karena soal kesenjangan.

Artinya, masalah kesenjangan ekonomi lebih rawan?

Tampaknya begitu.

Apakah bukan karena kualitas sumber daya umat nonmuslim lebih baik?

Memang begitu. Tapi kenapa umat Islam seringkali tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber dayanya sebesar yang didapat nonmuslim?

Tetapi banyak yang menganggap sifat pendidikan mayoritas pesantren tidak melatih sumber daya manusia umatnya.

Di mana-mana selalu saya tekankan agar pesantren-pesantren memberi keseimbangan pada porsi pelajaran agama dan soal-soal duniawi. Dan sekarang sudah lebih banyak pesantren yang melakukannya. Tentu saja porsi agamanya masih dominan.

Peristiwa ini juga dikatakan sebagai kegagalan cendekiawan muslim di tingkat elite, yang tidak bisa menyentuh masyarakat kelas bawah.

Itu sama saja dengan pertanyaan apakah peristiwa ini untuk memojokkan NU. Untuk sementara saya masih berbaik sangka. Meskipun kemungkinan-kemungkinan itu ada. Saya tidak mau berburuk sangka. Toh yang rugi bukan hanya umat NU, melainkan semua warga Tasikmalaya.

Bagaimana Anda melihat tindakan aparat dalam menangani kasus kerusuhan ini?

Kami berterima kasih kepada Panglima Kodam Siliwangi dan aparatnya sehingga bisa mengatasi kerusuhan dengan cepat.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com