Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Di Balik Kerusuhan Tasik

Kerugian akibat huru-hara Tasikmalaya mencapai Rp 85 milyar. Di balik kerusuhan ada sas-sus kesenjangan sosial dan kolusi. Efek bumerang pun muncul.

FUDDY Seniharja, 42 tahun, masih saja merasa sulit untuk menerima realitas bahwa bisnisnya telah luluh-lantak. Seluruh isi tokonya ludes, hangus menjadi puing gara-gara api huru-hara Tasikmalaya 26 Desember silam. Di bawah sorot lampu petromaks, karena aliran listrik putus akibat instalasinya rontok, Sabtu pekan lalu, tubuh tambun Fuddy tampak lunglai dan tak terurus. "Saya tak bisa mengerti, hasil usaha puluhan tahun hancur dalam sekejap," ujarnya.

Padahal Kota Tasik bagi Fuddy adalah kampung halaman yang telah diakrabinya lebih dari 30 tahun. Ayahnyalah yang memulai usaha itu dengan membuka toko cat dan onderdil. Usaha itu maju pesat. Tiga puluh tahun kemudian, bisnis keluarga Seniharja itu telah berbiak menjadi tiga buah toko berlantai tiga, berjejer di Jalan KH Zaenal Mustofa, jalur utama di Tasikmalaya. Ketiga toko itu memajang nama Fajar, warisan dari sang ayah yang ternyata membawa hoki. Ketiga Fajar itu menyediakan pelbagai macam cat dan material bangunan, onderdil motor dan mobil, serta menjadi dealer sepeda motor. Tapi huru-hara 26 Desember itu menjadi mimpi buruk bagi keluarga Seniharja.

Kerusuhan tiba-tiba merebak di Kota Santri itu. Ketiga Fajar itu cepat mengunci pintu. Tapi seorang perusuh melempar bom molotov di toko sebelah. Api pun menjalar. Perusuh yang lain menyulut kertas koran yang dilumuri dengan bensin dan menyusupkannya ke bawah pintu dorong pada ketiga toko Fajar. Api pun menyala, dan Seniharja sekeluarga tak bisa berbuat apa- apa. Tak hanya isi toko yang hangus. Sebuah sedan Mitsubishi Lancer dan sebuah Honda Accord milik keluarga itu pun menjadi arang. Fuddy mengklaim kerugian seluruhnya mencapai Rp 3 milyar. "Saya tak mau menyalahkan siapa-siapa," kata Fuddy.

Tentu bukan hanya keluarga Seniharja yang mengalami nahas. Dalam kerusuhan itu, menurut catatan kepolisian Tasikmalaya, ada 89 toko yang mengalami kerusakan, dijarah, dan 43 di antaranya dibakar. Toko Serba Ada Matahari dan Yogya termasuk yang dijarah dan dirusak. Empat pabrik, empat gereja, dan 60 mobil di jalan ikut dimangsa api. Ini belum termasuk enam kantor bank swasta yang dihujani dengan batu dan sekitar 40 mobil yang "hanya" dibikin penyok serta diremukkan kacanya. Korban jiwa ada tiga orang. Menurut taksiran, kerugian materiil mencapai Rp 85 milyar, jauh lebih besar ketimbang Geger Situbondo 10 Oktober lalu.

Geger sehari di Kota Tasik ini memaksa Panglima Kodam Siliwangi Mayor Jenderal Tayo Tarmadi mengerahkan satuan-satuan prajurit untuk mengamankan Kota Santri itu dan kota-kota sekelilingnya. Menurut kabar, kehadiran para prajurit ABRI itu akan dipertahankan sampai pekan ini. Para petugas juga telah mengambil dan memeriksa hampir 200 orang yang dianggap terlibat kerusuhan itu. Hasilnya, kini 118 orang telah resmi menjadi tersangka. "Secara bertahap, perkara mereka akan diselesaikan penanganannya menurut hukum," kata Tayo Tarmadi. Panglima Siliwangi itu mensinyalir, huru-hara itu digerakkan oleh pihak ketiga. "Tunggu saja, kami sedang selidiki," tambahnya.

Setelah lebih sepekan berlalu, Kota Tasik berangsur pulih. Toko-toko yang masih utuh sudah membuka pintunya. Transaksi dagang pun berlangsung. Namun suasana masih tercekam rasa "gampang panik". Ketika seorang penderita sakit ingatan mengamuk di sebuah sudut Jalan KH Zaenal Mustofa, kerumunan massa segera terjadi. Pemilik toko di jalan protokol itu pun cepat-cepat menutup pintu. Dan petugas keamanan pun datang tergopoh-gopoh. Mereka kecele karena keributan itu hanya akibat ulah jalma gelo (orang gila). Tinggallah Pak Wali Kota Administratif Tasikmalaya Edi Herdiana sibuk menggedor pintu toko-toko agar dibuka kembali, sambil meyakinkan bahwa kerusuhan tak akan terulang.

Meletusnya huru-hara di Tasikmalaya itu memang mengagetkan banyak pihak. Selama lebih dari 30 tahun, Kota Kelom Geulis ini tak memperlihatkan gejala ketegangan sosial, apalagi pergolakan. Maka biduan dangdut bersuara lembut asal Tasikmalaya, Evie Tamala, seperti tak percaya aksi kekerasan massa muncul di kotanya. "Setahu saya, orang Tasik itu santun dan beradab. Membuat rusuh itu bukan watak orang Tasik," kata pemilik hits Selamat Malam itu.

Daerah Tasikmalaya sendiri dikenal sebagai kawasan yang potensial di Jawa Barat. Luas wilayahnya 2.680 km2 -lebih dari empat kali luas wilayah DKI Jakarta dan bisa tiga kali luas daerah kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah. Penduduknya sekitar 1.823.000 jiwa, tersebar di 25 kecamatan dan 3 kecamatan kota di Tasikmalaya. Konon, nama Tasikmalaya itu berasal dari pelesetan kata keusik ngalayah, pasir di mana-mana, gara-gara letusan Gunung Galunggung pada 1822. Sebelumnya kota yang menurut catatan sejarah muncul pada tahun 1111 itu menyandang nama Sukapura. Kota Tasik, yang berpenduduk sekitar 250.000 jiwa itu, dikenal sebagai kota yang resik dan cantik. Tak mengherankan bila kota ini telah empat kali menggaet penghargaan Adipura.

Selain itu, Kabupaten Tasikmalaya sejak dulu juga dikenal dengan industri rumahannya: ada kerajinan payung kertas, bordir, selop wanita kelom geulis, batik, sarung tenun, dan beragam anyam-anyaman. Kehadiran industri kecil itu membuat Tasik sering disebut-sebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Priangan Timur. Sempat pula tersiar kabar bahwa munculnya huru-hara 26 Desember itu adalah dampak terpukulnya industri rumah tangga tersebut oleh kedatangan modal besar dan sektor industri modern.

Namun sinyalemen itu dibantah Musimin Herlan, Kepala Seksi Industri Kecil dan Kerajinan di Dinas Perindustrian Tasikmalaya. "Industri kecil di Tasik tetap eksis. Bahkan terus berkembang," katanya. Ia pun menyodorkan catatan resmi bahwa pada 1989 sektor industri rumahan di wilayah Tasikmalaya hanya ada 5.695 unit, dengan 99.000 tenaga kerja, dan volume produksi hampir Rp 174 milyar. Pada 1995, angka itu telah meningkat menjadi 7.906 unit usaha, dengan 114.000 tenaga kerja dan volume produksi Rp 343 milyar. Menurut catatan resmi, industri rumahan ini menyumbang 16% - peringkat ketiga setelah sektor pertanian dan perdagangan- pada pendapatan daerah regional bruto (PDRB). Angka itu memang tak spektakuler bila dibanding dengan daerah wisata seperti Bali. Namun untuk ukuran daerah agraris, angka itu sudah terhitung menonjol. Sektor formal, katakanlah toko-toko besar di pusat Kota Tasik, kata Musimin Herlan, justru punya kepentingan dengan industri kecil itu sehingga ikut menjaga denyut nadinya. "Karena mereka yang memasok bahan baku atau memasarkannya," ujar Musimin.

Maraknya perekonomian Tasikmalaya itu juga tampak dari merebaknya lembaga-lembaga keuangan. Saat ini tak kurang dari 61 instansi di Tasikmalaya yang berurusan dengan soal kredit yang terdiri dari 18 kantor cabang bank umum, 4 kantor cabang pembantu bank, 23 bank desa, 7 bank pasar, 6 bank perkreditan rakyat (BPR), serta 3 lembaga kredit lain.

Namun Rois Am NU KH Ilyas Rukhiyat melansir sinyalemen lain: warga Tasikmalaya dihinggapi kekecewaan akibat ketimpangan ekonomi. Pemimpin Pesantren Cipasung, Singaparna, sekitar 15 km dari Kota Tasikmalaya, menunjuk rontoknya para perajin batik pribumi. "Dulu yang punya usaha batik itu haji-haji, sekarang telah berpindah tangan," katanya. Kehadiran pasar swalayan dan toko-toko besar, kata ajengan Cipasung itu, menggusur pasar tradisional, ditambah lagi isu-isu soal tanah -hal yang tentu tak cuma muncul di Tasikmalaya. Namun Kiai Ilyas Rukhiyat menggambarkan, hal-hal itulah yang membuat dada sebagian warga Tasikmalaya merasa sesak. "Ini yang membuat massa sensitif," katanya.

Sas-sus campur-baur antara kesenjangan ekonomi dan kolusi memang mewarnai perbincangan orang Tasik pascahuru-hara. Ada cerita ironi di balik relokasi Pasar Cihideung yang terbakar 1992. Pasar itu sedianya dipindah ke Cilembang. Tapi akhirnya pusat perdagangan itu terdampar di Cikurubuk, yang jauh dari lalu lintas manusia. Para pedagang pun mengeluh. "Jangankan mengembangkan usaha, bisa membayar cicilan saja sudah syukur," kata Otong Sumarna, seorang pedagang kelontong di Pasar Cikurubuk. Menurut cerita dari mulut ke mulut, pasar itu harus pindah ke Cikurubuk karena ada pengusaha kuat yang mengincar lokasi Cilembang.

Di antara cerita miring itu menyangkut pula kisah lama sengketa Hotel Priangan dan pelelangannya, yang membuat bangkrut pemiliknya, Haji Abdul Hamid. Urusan hukum formalnya selesai 1988 lalu, dengan kekalahan Abdul Hamid. Hotel itu pun dilelang. Namun isu yang hingga sekarang masih beredar: pelelangan berjalan tidak fair, Abdul Hamid dirugikan. Gosip ini beriringan pula dengan kekalahan Ajengan Endik di pengadilan, atas kasus utang-piutang dengan pengusaha yang sama. Maka muncullah tuduhan kolusi di pengadilan.

Tudingan itu dibantah Ketua Pengadilan Negeri Tasikmalaya Karseno Atmotoyoso. "Kami mengadili itu berdasarkan bukti- bukti. Kalau buktinya kuat, ya kami menangkan. Tak peduli pribumi atau bukan. Yang namanya utang itu mestinya ya dibayar," ujarnya menanggapi sas-sus kolusi dalam kasus Abdul Hamid dan Ajengan Endik. Bupati Tasikmalaya Suljana Wirata Hadisubrata pun menolak gosip soal kolusi dan sas-sus yang mengatakan seolah ada pengusaha yang bisa menyetir kebijaksanaan pemerintah daerah itu. "Nah, isu itu yang justru diembuskan pihak ketiga untuk mengerahkan massa dan menghancurkan semua. Isu itu yang dipakai memancing emosi massa," katanya kepada Ahmad Husein. Ketika hal yang sama ditanyakan pers, Mayor Jenderal Tayo Tarmadi menjawab diplomatis, "Saya inginkan kebijaksanaan publik itu hendaknya memberi manfaat pada masyarakat banyak. Tapi pernyataan saya itu dalam konteks melihat ke depan."

Peristiwa kerusuhan itu sendiri tak berkait langsung dengan industri kecil, Pasar Cikurubuk, apalagi denganAbdul Hamid. Pemantik huru-haranya ialah kasus penganiayaan oleh empat oknum anggota Kepolisian Resor (Polres) Tasikmalaya, Senin 23 Desember, terhadap dua santri dan Drs. Mahmud Farid, putra KH Ma'mum, pemimpin Pondok Pesantren Riyadul Ulum Wadda'wah, Condong, Tasikmalaya. Penganiayaan itu kemudian mengundang munculnya aksi solidaritas santri, dalam bentuk berdoa bersama untuk kesembuhan ketiga santri tersebut.

Unjuk solidaritas itu diadakan di Masjid Agung Tasikmalaya, Kamis pagi 26 Desember lalu. Seusai acara itu para santri melakukan unjuk rasa ke Markas Polres Tasikmalaya. Massa nonsantri bergabung. Ribuan massa mengamuk di jalan-jalan utama kota. Tasikmalaya pun babak- belur.

Seperti halnya KH Ilyas Rukhiyat, banyak pakar sosial politik berpendapat bahwa huru-hara Tasikmalaya -juga Pekalongan 1995 dan Situbondo Oktober 1996- sedikit banyak berlatar belakang kesenjangan sosial. Namun pengamat politik Rizal Mallarangeng, dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, meragukannya. Persoalan ekonomi rakyat pun mudah dijumpai di kota-kota lain, di Jawa atau di luar Jawa. Bahkan kesenjangan yang mencolok, menurut Rizal, justru terjadi di kota-kota besar. "Mengapa huru-hara justru terjadi di Tasik, bukan di Bandung atau Semarang?" katanya.

Rizal mengkhawatirkan adanya persoalan yang lebih dalam, yakni psikokultural: masih suburnya ketegangan etnis-religius. Cuma dengan sedikit pemantik, kata Rizal, ketegangan itu mudah berubah menjadi ledakan. Namun Rizal tak menafikan teori-teori lain tentang huru-hara itu. Di antaranya ialah teori tentang mengendurkan tingkat represi oleh ABRI akibat desakan isu hak asasi.

Apa pun latar belakangnya, huru-hara di Tasik itu mendatangkan efek bumerang bagi warga setempat. Rusaknya toko-toko dan pabrik tentu menimbulkan pengangguran mendadak atas 3.340 tenaga kerja. Separuh di antara mereka pekan ini sudah bekerja lagi karena tempat usahanya cepat pulih dari "lukanya", di antaranya Toko Serba Ada Matahari. Tapi Nursalim, seorang buruh di Tasik, kini masih kelimpungan mencari tempat penampungan. Pabrik tapioka tempat ia bekerja, dan memberinya upah Rp 6.000 sehari, terbakar dan belum ada tanda-tanda hidup lagi. "Saya akan mencari kerja di Jakarta," katanya.

Putut Trihusodo, Hidayat Tantan, dan Mauluddin Anwar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com