Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Huru-hara Santri Kalong

Ribuan massa mengamuk di Tasikmalaya. Toko-toko dan gereja menjadi sasaran. Tiga jiwa melayang. Gara-garanya polisi main hakim sendiri.

HANTU SARA gentayangan di Tasikmalaya. Kerusuhan bermotifkan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) ini telah membuat kota adem ayem di wilayah Priangan Timur itu lumpuh, Kamis siang pekan lalu. Asap hitam mengepul, mobil-mobil hancur berserak di jalanan, tiga nyawa melayang, dan api amarah menggelegak. Kota santri yang ramah dan terkenal dengan kelom geulis, bordirannya yang apik, dan para biduan dangdutnya yang aduhai, seperti Evie Tamala dan Itje Trisnawati, itu tiba-tiba saja memperlihatkan wajah beringas.

Para perusuh itu berbaur bersama ribuan massa santri yang tengah melakukan aksi unjuk rasa. Para santri itu menggelar aksi untuk menunjukkan solidaritas terhadap tiga orang pengasuh Pondok Pesantren Riyadul Ulum -berlokasi di Desa Condong, Kecamatan Cibeureum, 5 km dari Tasikmalaya- yang dihajar sampai babak-belur oleh empat oknum anggota Kepolisian Resor (Polres) Tasikmalaya, Senin pekan lalu. Namun aksi damai itu tiba-tiba berubah menjadi garang, dan meletuplah kerusuhan itu.

Kerusuhan itu telah membuat sebuah pabrik cat di pusat Kota Tasikmalaya lumat terpanggang. Atapnya ambruk. Satu ruang pamer mobil diserbu massa. Tujuh mobil di dalamnya hangus terbakar. Kantor Cabang Bank Buana yang berlantai dua ludes dimakan api. Toko-toko besar Ramayana, Matahari, dan Yogya Department Store pun tak luput dari luapan amuk: kaca-kacanya hancur dan isinya dijarah.

Menurut catatan polisi, kerusuhan itu menyebabkan 30 toko dan 6 bangunan pabrik dilalap api, 60 mobil hangus menjadi arang. Massa yang beringas itu sempat pula membakar 4 gereja dan merusak 7 gereja lainnya. Deretan korban ini belum termasuk toko-toko dan bangunan sekolah yang "hanya" dilempari dengan batu. Kantor Polsek Kota Tasikmalaya juga diserbu massa dan dirusak. Seorang tamtama polisi sempat ditelanjangi dan dikeroyok, tapi ia bisa lolos dan berlindung di kantor Kodim.

Amuk massa ini juga merembet ke kota-kota kecamatan di sekitar Tasikmalaya. Kantor Polsek di Kecamatan Singaparna, Indihiang, dan Kawalu, diserbu dan diporak-porandakan. Uniknya, di tengah suasana rusuh itu warga Desa Linggajati, Indihiang, memanfaatkan suasana dengan menyerbu dan membakar bedeng penginapan para pengikut ajaran Buki Sahiddin, yang dianggap sesat.

Amuk massa itu berpangkal dari kekecewaan para santri atas ulah oknum anggota Polres Tasikmalaya. Senin pekan lalu Kopral Kepala Nursyamsi memanggil Habib Hamdani, 23 tahun, dan Asnan, 20 tahun -keduanya lurah (kepala) santri dari Pesantren Riyadul Ulum Waddawah- ke kantor Polres. Karena menyangkut urusan "hukum", Habib dan Asnan datang didampingi Ustad Drs. Mahmud Farid, putra KH Ma'mum, pemimpin Pesantren Riyadul Ulum.

Nursyamsi merasa perlu memanggil Habib dan Asnan sehubungan dengan tuduhan dan hukuman yang dijatuhkan kedua lurah itu kepada anaknya Rizal, 14 tahun, yang menjadi "santri kalong" (santri yang tidak mondok) di Riyadul Ulum. Tamtama polisi ini tak rela anaknya didakwa mencuri uang temannya. Dalam versi Habib, Rizal dihukum karena kepergok lima kali menilap uang yang jumlah seluruhnya Rp 132.000. "Rizal sendiri mengakuinya," kata Habib kepada Gatra. Atas dasar pengakuan itu, Rizal sempat ditempeleng oleh Habib dan direndam setengah badan di kolam.

Hasil "penyidikan" Habib itu diragukan Nursyamsi. Maka dipanggillah lurah santri itu ke kantor polisi. Kedua santri senior itu datang bersama Mahmud Farid. Ketiganya langsung digiring ke ruang pemeriksaan. Rupanya Nursyamsi tak bisa menahan emosinya. Ketika Nursyamsi bertemu dengan Habib, tangan Nursyamsi langsung menyodok perut santri itu. Mahmud mencoba melerai. Tapi Nursyamsi agak mata gelap. Pukulan kedua pun melayang. Mahmud sigap. Kepalan Nursyamsi ditepisnya.

Namun akibatnya runyam bagi Mahmud. Kemarahan Nursyamsi beralih kepada Mahmud. Bahkan tiga bintara yang ada di ruangan itu, Didi Khaerudin, Agus Martadinata, dan Agus Yulianto, ikut menggarapnya sampai babak-belur. Dalam versi Kepala Dinas Penerangan Polda Jawa Barat, Letnan Kolonel Istanto: "Mereka menyangka Mahmud menyerang Nursyamsi hingga perkelahian tak bisa terhindarkan."

Setelah mereka puas melampiaskan kemarahan, ketiga santri itu digelandang ke ruang tahanan Polres. "Kami diperlakukan seperti kriminal, ditelanjangi hingga tinggal celana dalam, dan disundut dengan rokok," kata Mahmud Farid kepada Gatra. Namun yang membuatnya kesal, selama dalam sel, oknum-oknum polisi itu menghujatnya dengan makian yang dianggapnya menusuk hati. "Kami dikatakan kiai goblok dan sebagainya," ia menambahkan.

Penganiayaan ketiga santri itu sempat diintip Ustad Ate, anggota delegasi Pesantren Riyadul Ulum yang tak ikut masuk ke ruang pemeriksaan. Ia segera melaporkan insiden itu ke pesantren. Demi mendengar laporan itu, pihak pesantren langsung menghubungi Pemerintah Daerah Tasikmalaya. Dengan bantuan Bupati Suljana, ketiga santri itu dibebaskan, beberapa jam setelah masuk sel. Oleh Bupati Suljana, ketiga korban yang babak-belur itu diboyong ke Rumah Sakit Umum Tasikmalaya.

Mereka mestinya menjalani rawat inap. Namun Senin sore ratusan santri sudah berkumpul di halaman rumah sakit. Karena khawatir terjadi kerusuhan, Suljana memulangkan Mahmud, Habib, dan Asnan ke pesantren. Namun berita penganiayaan itu cepat menyebar dalam bermacam versi. Ada santri yang mengaku mendengar kabar bahwa Pak Ustad koma karena dikeroyok 20 orang polisi. Ada pula yang menyebutnya meninggal dalam tahanan.

Selebaran gelap pun berseliweran. Bupati Tasikmalaya Suljana sempat menerima pertanyaan lewat telepon dari sejumlah kiai. "Mereka menanyakan untuk mendapatkan konfirmasi," kata Suljana. Bupati Suljana pun menjelaskan bahwa pihak kepolisian akan mengambil tindakan terhadap oknum anggotanya yang main hakim sendiri itu. Namun para santri itu masih merasa perlu menggalang aksi solidaritas. Mereka mengagendakan acara khusus: berdoa bersama memohon agar Mahmud Farid dan Habib cepat sembuh. Waktunya ditentukan hari Kamis pagi. Pemda tak bisa melarang. Hanya ada kesepakatan, dalam acara itu para santri mengenakan tanda janur kuning di lengan, agar tak disusupi oknum luar.

Acara pun berlangsung di Masjid Agung Tasikmalaya. Sejak pagi ribuan santri berkumpul. Mereka tak cuma dari sekitar Tasikmalaya. Sebagian mereka datang dari Garut, Ciamis, dan Majalengka, yang berjarak puluhan kilometer. Suasana beranjak panas karena beredar desas-desus bahwa Mahmud Farid meninggal dunia. Maka dari kerumunan santri itu mulai terdengar seruan- seruan yang menghujat polisi.

Melihat situasi beranjak genting, sejumlah pejabat Tasikmalaya bergegas ke Masjid Agung untuk mengajak massa berdialog. Di antara mereka tampak Komandan Korem (Danrem) Tarumanegara Kolonel M. Yasin dan Bupati Suljana. "Saya berharap semua tenang. Semua oknum pelaku pasti ditindak tegas," ujar Kolonel M. Yasin, yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang haji.

Tapi jaminan dari Danrem Tarumanegara itu tampaknya tidak membuat massa santri itu puas. Usai bertemu dengan para pejabat, para santri itu bergerak ke kantor Polres Tasikmalaya, tak jauh dari Masjid Agung. Di situ mereka ditemui Kepala Polres Tasikmalaya Letnan Kolonel R. Suherman. Sebagai pimpinan Polres, Letnan Kolonel Suherman menjelaskan duduk perkaranya sambil minta maaf dan berjanji akan menindak anak buahnya yang nakal. Namun kemarahan massa tak terbendung. Mulailah sandal dan sepatu melayang, kemudian diikuti batu. Bupati Suljana sempat naik ke atas kursi dan mencoba menenangkan massa. Tapi suasana sudah tak terkendali. Walhasil, kantor polisi itu dihujani lemparan batu.

Azan lohor menghentikan aksi kekerasan itu. Massa kembali ke masjid untuk melakukan salat. Seusai salat, massa lalu bergerak ke Jalan KH Zainul Mustofa, di pusat kota. Api kemarahan masih berkobar dan massa santri itu mulai kesusupan oknum-oknum jail. Massa pun konon mencapai jumlah hampir 10.000 orang. Kerusuhan segera merebak dan tak berketentuan arahnya. Mula-mula mereka merusak rambu-rambu jalan dan pot-pot bunga. Berikutnya sasaran amuk meluas. Puluhan toko -termasuk Matahari, Ramayana, dan Yogya- dirusak, dijarah, dan sebagian dibakar. Mobil yang sedang parkir di pinggir jalan digulingkan, kemudian disulut dengan api dan terbakar.

Korban jiwa pun jatuh. Eli Santoso, 34 tahun, seorang pemilik toko di pusat kota, meninggal karena serangan jantung. Ia sempat gemetar ketakutan melihat keberingasan massa. Korban kedua adalah Anton Suteja, 62 tahun, pemilik toko kulit "Sukawangi". Anton terperangkap di kamar mandi saat tokonya dibakar massa. Dari kelompok perusuh jatuh pula seorang korban yang sampai akhir pekan lalu tak diketahui identitasnya. Korban meninggal karena luka-lukanya akibat jatuh dari truk dan tergilas truk yang meluncur di belakangnya. Hari itu suasana memang liar.

Warga Kota Tasikmalaya panik. Toko-toko, kios, warung, dan kantor swasta segera menutup pintu. Namun banyak pula yang didobrak dan dijarah. Beberapa pedagang menempelkan poster bertulisan "Ini toko muslim" atau "Toko ini jangan dibakar, di belakangnya ada masjid" di depan toko mereka. Beberapa mobil juga ditempeli kertas bertulisan "Mobil milik muslim". Cara ini rupanya cukup ampuh. Buktinya, toko dan mobil yang ada tulisan seperti itu tak diusik. Kerusuhan terus berlangsung hingga sore hari. Malah kerusuhan itu terus merebak bahkan melebar ke kota- kota kecamatan di sekitar Tasikmalaya.

Untuk mengamankan, aparat keamanan mendatangkan bala bantuan masing-masing satu kompi personel dari Batalyon 321 Majalengka, Batalyon 301 Sumedang, Batalyon 303 Cikajang-Garut, Batalyon 323 Banjar, serta kompi detasemen markas Brigif 13 Bandung. Suasana pun berangsur terkendali. Untuk tak mengundang kerawanan baru, malam harinya aliran listrik ke Tasikmalaya diputus. Ratusan tentara berjaga di sudut-sudut kota.

Para aparat keamanan tak berhenti sampai di situ. Penangkapan dilakukan. Sampai akhir pekan lalu, sekitar 160 orang telah diperiksa, dan 128 di antaranya, oleh Pangdam Siliwangi Mayor Jenderal Tayo Tarmadi, dikategorikan sebagai "garong". Dari mereka petugas menyita barang-barang elektronik, telepon genggam, dan sejumlah senjata tajam. Menurut Tayo, kerusuhan di Tasikmalaya ini ditunggangi pihak ketiga, yang menghendaki kekacauan dengan cara melempar selebaran yang menyesatkan. "Yang merusak itu bukan santri," katanya. Para oknum polisi yang menjadi pemicu kerusuhan itu kini telah berada di tangan Detasemen Polisi Militer Garut. "Kemungkinan mereka akan diajukan ke Mahkamah Militer," ujar Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Mayor Jenderal Nana Permana.

Para tokoh dari kalangan Islam, seperti Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais, Ketua NU Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyesalkan kejadian ini. "Kerusuhan itu adalah tindakan emosional yang tidak bertanggung jawab," kata Gus Dur. Amien Rais berpesan agar aparat belajar dari pengalaman pahit ini. "Jika umat tersinggung, maka tindakannya bisa emosional. Maka hendaknya aparat jangan main hakim sendiri," katanya. Putut Trihusodo,

Bambang H. Sujatmoko, dan Hidayat Tantan
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com