Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Pabrik Setrum Terbesar se-Asia Tenggara

Berkapasitas 4.025 MW, PLTU Suralaya tak sekadar bagian dari interkoneksi listrik Jawa-Bali, tapi juga memenuhi kebutuhan listrik bagi industri di Merak dan Cilegon.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya terletak di Kecamatan Pulo Merak, Cilegon, Banten. Letak yang strategis. Hanya berjarak 7 kilometer dari pelabuhan penyeberangan Merak, dan 150 kilometer dari Jakarta. Pembangkit listrik ini berdiri di atas lahan lebih dari 240 hektare, diklaim sebagai PLTU terbesar di Asia Tenggara. Suralaya menjadi pilihan akhir tempat berdirinya PLTU, menyisihkan tiga kandidat lainnya: Cigading (Anyer), Gorenjang (Balaraja), dan Tanjung Pasir (Tangerang).

Untuk menghasilkan tenaga listrik, PLTU yang dimiliki PT Indonesia Power (anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara/PLN) ini mengandalkan bahan bakar batu bara. PLTU Suralaya berkapasitas total 4.025 megawatt (MW) yang tersebar di unit satu hingga unit delapan. Pembangunannya pun dikerjakan secara bertahap.

Tahap I beroperasi pada 1984 dengan kapasitas total 2 x 400 megawatt (MW). Tahap berikutnya juga berkapasitas sama mulai beraktivitas pada 1989. Lalu tahap ketiga (unit 5-7) berkapasitas 3 x 600 MW yang beroperasi pada 1997. Sehingga total untuk ketujuh tahap tadi sebesar 3.400 MW.

Sisanya dibangun lagi PLTU unit 8 yang dimulai pada 2007 dan selesai empat tahun kemudian. Unit tersebut memakai lahan seluas 34 hektare yang terletak di sebelah timur PLTU Unit 1-7. PLTU ini mempunyai kemampuan memasok listrik berkapasitas 625 MW. Proyek itu merupakan bagian dari proyek listrik nasional 10.000 MW.

PLTU ini dibangun oleh PLN dan konsorsium dari China National Technical Import dan Export Corporation (CNTIC), China National Machinery Import dan Export Corporation, Zhejiang Electric Power Design Institute, dan perusahaan lokal, PT Rekayasa Industri. Adapun investasinya sebesar Rp 4,08 trilyun.

Untuk menggerakkan turbin PLTU Suryalaya butuh pasokan batu bara sebesar 3 juta ton per tahun. Jumlah tersebut setara 1,2 milyar liter bahan bakar minyak (BBM) per tahun. Penggunaan batu bara sebesar itu bisa menghemat ongkos produksi PLTU Rp 7,5 trilyun ketimbang memakai BBM. Bahkan ongkos tersebut jauh lebih ringan ketimbang pembangkit listrik tenaga diesel dengan penghematan biaya operasional 14% lebih murah.

Dengan beroperasinya kedelapan unit tersebut, kebutuhan listrik industri di sana bakal terpenuhi. Sudah banyak industri yang memanfaatkan listrik dari PLTU Suralaya. Pada tahun silam saja, PLTU tersebut sudah melayani lebih dari 111.000 pelanggan. Beberapa di antaranya, perusahaan besar, seperti pabrik baja PT Krakatau Posco, yang memesan listrik 165 MW.

Aries Kelana

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com