Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LINGKUNGAN

Terbakar Pemanasan Global

Tujuh gunung bersalju di kawasan tropis terancam kehilangan topi esnya. Iklim global dan fenomena El Nino berperan menggerus puncak es. Puncak Jaya akan kehilangan salju pada 2025.

Kondisi salju di Puncak Jaya yang kian menipis mencemaskan Tim peneliti Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Mereka pun aktif memantau laju peluruhan salju di Carstensz Pyramid itu. Mereka menguraikan temuannya kepada GATRA, Jumat pekan lalu, di Jakarta.

Dalam rentang setahun terakhir (5 November 2015-23 November 2016) tebal es di Puncak Jayawijaya menyusut 5,88 meter. Ukuran penyusutan tersebut setidaknya menaik 5 kali lipat dari rata-rata 5 tahun sebelumnya. Kesimpulan itu diperoleh dari observasi berulang tim peneliti BMKG pada 21-25 November 2016 lalu.

Tim terdiri dari empat (4) personil Puslitbang BMKG yakni: Donaldi Permana (Ketua Tim), Wido Hanggoro, Erwin Makmur, Roni Kurniawan. Serta tiga (3) personil dari Mitra PT. Freeport Indonesia yakni: Yohanes Kaize, Deky Lala dan Budi.

Kepala Pusat BMKG Andi Eka Sakya menyebutkan penurunan ketebalan es di Puncak Jaya sangat rentan dipengaruhi oleh kejadian El Nino yang memuncak setahun terakhir. Kejadian perubahan iklim itu pula yang mendorong pengikisan es di puncak Jayawijaya. ?Kemungkinan besar disebabkan oleh kejadian El Nino kuat setahun terakhir, juga pemanasan global,? tutur Andi kepada GATRA.

Pemanasan global menjadi penyebab utama berkurangnya es di Papua, sepertihalnya pencairan es di pegunungan Andes di Amerika Selatan, pegunungan Kilimanjaro di Afrika Timur dan pegunungan tropis lainnya. Andi menyebut karakter tutupan es di Papua lebih rentan meleleh akibat pemanasan global karena elevasi-nya lebih rendah dibanding 2 pegunungan es lainnya, yakni 4.884 meter di atas permukaan laut. Bila kerentanan itu tak diatasi, dirinya menerangkan bukan tidak mungkin tutupan es di Papua akan menyusut tajam. ?Kondisi tutupan es di Jayawijaya saat ini lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan kondisi di 2010,? jelasnya lagi.

Guna mengukur laju pengurangan luas tutupan es di Puncak Jaya dilakukan observasi langsung dengan melihat trend data di masa lalu. Meski metodologi melihat trend juga punya simpangan error cukup besar, tim peneliti BMKG melengkapi akurasinya dengan melihat dan membandingkan foto udara luasan tutupan es di puncak Jaya yang dipantau sejak 2010 lalu. ?Laju pengurangan tebal es dapat menjadi salah satu indikasi untuk memprediksi hal tersebut.? ucap Andi.

Dia menuturkan bila kondisi pemanasan global berlangsung konstan dan terus menerus bukan tidak mungkin salju di puncak Papua akan raib di 2020 nanti. ?Kemungkinan tutupan es Papua akan hilang pada rentang 2019-2025,? jelas pria yang juga menjabat Presiden WMO (World Meteorological Organisation) Regional V itu.

Penyusutan es yang luar biasa tersebut menjadi sorotan tersendiri bagi pusat penelitian BMKG. Tercatat berdasarkan observasi Juni 2010 - 5 November 2015, tebal es secara akumulatif berkurang 5,26 meter, atau rata-rata pengurangan 1,05 meter per tahun. Pada observasi terakhir yang dilakukan BMKG , ketebalan es pada 5 November 2015 ? 23 November 2016, ketebalan es berkurang 5,68 meter.

Artinya menyusut lima (5) kali lipat dari rata-rata pengurangan tahun sebelumnya. Andi menjelaskan pada observasi November 2016, pihaknya memang menerjunkan 3 personil BMKG yang melakukan pengukuran selama seminggu di puncak Jaya. Penelitian tersebut juga didampingi oleh Tim Environment dari PT. Freeport Indonesia (PTFI) .

Alasan dipilihnya rentang waktu akhir tahun (November) untuk melakukan observasi, lebih disebabkan stabilitas cuaca. Untuk melakukan monitoring glacier dengan helikopter dibutuhkan kondisi cuaca yang cerah. Sebelumnya tim peneliti BMKG juga punya pengalaman buruk pada Agustus 2014. Misi ke Puncak Jaya gagal lantaran kondisi cuaca yang tidak mendukung. ?Dari pertimbangan klimatologis, kondisi cuaca pada November lebih memungkinkan kita melakukan monitoring dibandingkan bulan lainnya,? sasarnya lagi.

Semester sebelumnya, pada 1 Mei 2016, BMKG juga menerjunkan tim monitoring yang melakukan Flyover di atas glacier Papua. Pada tahun lalu, 5 November 2015, 4 (empat) personil BMKG (BMKG Pusat dan Timika) juga terjun melakukan pengukuran dan observasi langsung ke Puncak Jaya.

Andi menyebutkan penelitian beruntun BMKG ke puncak Gunung es di Bumi Cendrawasih itu bertujuan untuk merekam variabilitas iklim di wilayah tropis akibat hantaman badai El Nino dan La Nina, dengan puncak Jaya sebagai indikatornya. ?Karena lokasi Papua yang berada di kolam hangat Pasifik Barat, maka inti es dari glaciernya dapat merekam variabilitas iklim di wilayah tropis,? kata Pria asal Solo tersebut.

Menurutnya rekaman iklim di Puncak Jaya, Papua akan melengkapi rekaman iklim dari inti es yang pernah diperoleh di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Kepala BMKG itu juga menjelaskan pada Juni 2010, inti es sedalam ~32 meter diperoleh dari glacier Papua. Saat itu tim peneliti meletakkan sambungan pipa PVC ke dalam lubang inti es tersebut yang terhubung dengan tiang di permukaan es sebagai penanda (marking). Sejak itu dilakukan pemantauan berulang untuk mengukur ketebalan es yang tersisa di Pucak Jaya, di antaranya pada November 2015, Mei dan November 2016.

Penelitian BMKG mengenai monitoring glacier di Puncak Jayawijaya merupakan kelanjutan kerjasama antara BMKG dengan pusat penelitian Byrd Polar and Climate Research Centre (BPCRC) di Ohio State University dan Lamont Doherty Earth Observatory (LDEO) di Colombia University, Amerika.

Peneliti dari Puslitbang BMKG Donaldi Permada menyebutkan penelitian ke puncak Jayawijaya bertujuan untuk merekonstruksi iklim masa lalu berdasarkan inti es (ice core) yang diperoleh dari glacier di Puncak Papua pada Juni 2010 lalu. Beberapa penelitian internasional seperti Thompson et al (2011) dalam publikasi ilmiah ?Annals of Glaciology?, juga menjelaskan penyusutan es yang terjadi di pegunungan salju tropis di pegunungan Andes di Amerika Selatan dan Kilimanjaro di Afrika Timur.

Meski sama-sama mengalami ?pelelehan? akibat pemanasan global, Donaldi menyebut tutupan es di puncak Jaya lebih tinggi mengalami resiko penyusutan bila dibandingkan dengan pegunungan Kilimanjaro, Afrika. ?Keduanya sama-sama menyusut karena pemanasan global. Akan tetapi, tutupan es di Kilimanjaro lebih luas dan berada pada elevasi yang lebih tinggi daripada Papua,? ia menambahkan.

Satu-satunya upaya menjaga keberadaan tutupan es di puncak Jayawijaya yakni dengan melakukan proteksi lingkungan. Aktifitas pengurangan gas rumah kaca ditakar sebagai solusi yang mampu menekan laju pemanasan global, yang turut mengurangi penyusutan es di Papua. Peneliti Puslitbang BMKG itu juga menjelaskan secara fisik, tutupan es di Papua sudah menyusut secara signifikan selama tujuh (7) tahun terakhir dan ditemukannya banyak rekahan es. Penyusutan es menyebabkan luas batuan di sekitarnya semakin membesar sementara ketebalan lapis es berkurang.

Luasan bebatuan tersebut menyerap sinar matahari lebih banyak dan mencairkan es yang ada di sekitarnya lebih cepat. Hal itu yang membuat para peneliti memprediksi tutupan es di Papua tidak akan bertahan dalam waktu lama. ?Pada kondisi bumi yang semakin panas akan sangat sulit menjaga keberadaan es di Puncak Jaya,? pungkasnya.

Rohmat Haryadi dan Andhika Dinata

+++

7 Gunung Bersalju di Kawasan Tropis

1. Pico de Orizaba gunung tertinggi di Meksiko. Tingginya 5.636 meter, di ujung timur Sabuk Vulkanis Trans-Meksiko. Berada pada 19 derajat Lintang Utara (LU), puncaknya selalu diselimuti salju. Salju terbesar di Gran Glaciar Norte seluas 9,08 kilometer persegi, dengan ketebalan 50 meter.

2. Gunung Rwenzori adalah gunung di katulistiwa Afrika bagian timur. Letaknya di perbatasan Uganda dan Kongo. Gletser Rwenzori merupakan salah satu sumber air sungai Nil. Tinggi gunung yang terletak 1 derajat LU itu 5.109 meter. Puncaknya secara permanen tertutup salju. Pada 1906, luas total salju 7,5 km persegi. Pada 2005, tinggal 1,5 km persegi.

3. Gunung Kenya adalah gunung tertinggi di Kenya. Tingginya 5.199 meter. Puncak gunung yang terletak tepat di katulistiwa itu diselimuti salju. Gletser berkurang dengan cepat. Sedikit salju baru terakumulasi di musim dingin dan lenyap pada musim panas. Diperkirakan kurang dari 30 tahun, tidak ada lagi es di Gunung Kenya. Daerah gletser diukur pada 1980, dan tercatat sekitar 0,7 kilometer persegi. Jauh lebih kecil dari pengamatan pertama pada 1890-an.

4. Gunung Jayawijaya, Indonesia, memiliki ketinggian 4884 meter. Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid selalu diselimuti salju abadi. Namun pemanasan global membakar salju di gunung yang terletak 2 derajat Lintang Selatan (LS) ini. Tebal es 31,49 meter pada 2010, menyusut tinggal 26,23 meter pada 2015. Dan pada 2016 tinggal 20,54 meter. Diperkirakan salju di Puncak Jaya akan musnah pada 2020.

5. Gunung Chimborazo berketinggian 6.263 meter. Gunung tertinggi di Ekuador ini adalah gunung tertinggi di khatulistiwa (1,5 derajat LS). Puncak Chimborazo tertutup salju. Massa es Chimborazo menurun beberapa dekade terakhir, karena pemanasan global, aktivitas vulkanik, dan fenomena El Ni?.

6. Gunung Kilimanjaro, Tanzania, merupakan tiga kerucut gunung berapi, Kibo, Mawenzi, dan Shira. Puncak setinggi 5.895 meter menjadikannya tertinggi di Afrika. Gunung yang terletak 3 derajat LS senantiasa bertopi es pada daerah seluas 12,1 km persegi pada 1912. Dan tinggal 2,6 km persegi pada 2000. Diprediksi, sebagian besar es hilang pada 2040, dan habis pada 2060.

7. Nevado Sajama adalah gunung tertinggi di Bolivia. Dengan ketinggian 6.542 meter, gunung pada 18 derajat LS itu selalu diselimuti salju pada daerah 5,1 km persegi. Topi salju putih itu berakhir di lereng.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com