Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

FILM

Layar Lebar Berwajah Lokal

Tiga tahun terakhir, sejumlah daerah aktif membuat film. Masih sulit menembus bioskop nasional karena masa tunggu antrean yang lama.

Salat, selawat, dan silat. Tiga hal tersebut adalah keutamaan bagi orang Minang. Setidaknya, itu yang disampaikan Djohar Hakim (Yusril Katil) kepada trio Adil (Muhammad Razi), Kurip (Bintang Khairafi), dan Dayat (Bima Jousant), sesaat setelah setuju untuk menjadi pelatih silat baru mereka. ''Percuma belajar silat kalau lupa Allah,'' demikian salah satu penggalan dialog Djohar dalam Surau dan Silek (Mahakarya Pictures, 2017).

Kelahiran film bertema Minangkabau ini tak lepas dari latar belakang sang sutradara, Arief Malinmuda, yang tulen suku Minang. ''Karena saya asli orang Bukittinggi, saya pulang kampung dan riset tentang surau. Semula, saya mencari tema besarnya, hal apa di Minang yang ingin saya baca kembali. Ternyata saya ingin membaca surau. Karena surau adalah sebuah institusi informal yang mencetak tokoh-tokoh bangsa,'' Arief menuturkan. Terlebih lagi ia melihat peran surau sudah semakin terdegradasi.

Padahal, ada masa ketika surau punya 'kurikulum' rutin. Di era Buya Hamka masih cilik, saat magrib, anak-anak seumurannya mengaji di musala. Setelah isya mereka belajar silat. Lalu pada tengah malam masuk lagi ke surau untuk mempelajari petatah-petitih budaya. Di sinilah saatnya mereka belajar berdemokrasi, berpolitik, atau berorasi. Selanjutnya, pada saat dini hari mereka salat tahajud dan diakhiri salat subuh berjamaah. Kemudian, di pagi hari, kembalilah si Minang tua bekerja atau berdagang dan Minang muda berangkat sekolah.

***

Pengamat film Yan Wijaya menjelaskan, definisi film daerah adalah film-film yang dibuat oleh daerah. Tema boleh beragam, tentang daerah tersebut atau tidak, namun wajib prmbuat dan pemainnya kebanyakan adalah orang-orang dari daerah tersebut.

Film daerah di layar lebar tak hanya ada pada saat ini, tapi sudah sejak dua dekade lalu. Itu berawal ketika Chand Parwez Servia mendirikan rumah produksi Kharisma Jabar Film -yang belakangan menjadi Kharisma Starvision Plus atau yang populer dengan sebutan StarVision Plus- pada 1989. Film produksi pertamanya adalah Kabayan Saba Kota. Film yang dibintangi Didi Petet tersebut mengusung budaya Sunda. Sukses dengan Kabayan Saba Kota, Chand Parwez mengangkat kisah Kabayan dalam empat judul film lainnya. Baru setelah itu, Parwez hijrah dari Bandung ke Jakarta. Sampai dengan saat ini, ada seratusan film yang dia produksi.

Setelah lama vakum, menurut Yan, film daerah muncul kembali dengan dipelopori oleh sekelompok anak muda dari Makassar, Sulawesi Selatan. Pada 2014, sutradara Syahrir Arsad Dini alias Rere Art2tonic menyajikan film anak-anak berjudul Bombe (Paramedia & 786 Production, 2014). Sayang, film ini hanya tayang di dua bioskop di kota Makassar.

Walau tak sampai ke Ibu Kota, masyarakat Makassar sangat antusias menyambut film ini . Yang menyatakan bahwa Bombe sukses luar biasa di sana karena menggunakan bahasa Bugis. "Waktu saya menonton, saya katakan kepada produsernya, lebih baik diberi subtitle atau teks bahasa Indonesia. Kalau tidak, penonton yang bukan suku Bugis tidak akan mengerti, mereka bicara apa. Dan itu dilakukan di film berikutnya,'' ujar Yan.

Kesuksesan itu mendorong kru film tersebut membuat sekuelnya, Bombe Dua: Dumba-dumba (2016). Selain itu, Rere juga membuat dua film daerah lainnya: Sumiati dan Silariang serta Menggapai Keabadian Cinta. Film yang terakhir menyedot hampir 200.000 penonton.

Namun, film daerah yang paling sukses meraup banyak penonton adalah Uang Panai (Makkita Cinema Production, 2016). Film komedi karya sutradara Halim Gani Safia dan Asril Sani itu dinikmati sekitar 600.000 penonton. Film ini mendapat special mention pada perhelatan Piala Maya untuk kategori Film Daerah Terbaik dan masuk nominasi untuk kategori penulisan skenario terbaik.

Uang panai atau mahar itu, menurut Halim merupakan warisan dari tradisi yang kemudian menyulitkan pemuda-pemuda zaman sekarang untuk menikah. Akibatnya, ada semacam ketimpangan sosial gara-gara uang panai itu. Kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan akan menjadi bom waktu ke depannya. "Jadi, mau tidak mau, kita harus melakukan perlawanan. Menurut saya perlawanan yang paling bagus itu adalah lewat media film. Film Uang Panai itu sekedar meluruskan, membuat orang Makassar itu mempertanyakan kembali mengenai budayanya,'' kata Halim.

Ke depannya, Halim mengatakan, tengah menyiapkan film dengan genre laga drama berjudul Makassar Underground. Dalam film ini ia menjadi director of photography. Mengingat referensi film ini adalah The Raid (PT Merantau Films & XYZ Films, 2011), dalam film ini akan ada banyak aksi baku hantam.

Film Bugis-Makassar lain yang siap tayang adalah Datu Museng. Ini adalah film kolosal yang mengisahkan seorang pahlawan daerah yang gugur dalam perang melawan penjajah Belanda. Kisah abad ke-19 itu tayang pada November mendatang. Sebagai film kolosal, biaya produksi film ini lebih tinggi daripada film-film Makassar sebelumnya yang memakan biaya hanya sekitar Rp 1 milyar. Dengan demikian, dalam era kebangkitan film daerah, Makassar sampai saat ini sudah membuat sekitar sepuluh judul film berbahasa Bugis.

Mengacu pada definisi di atas, Athirah ( 2016) karya Riri Riza tak masuk kategori film daerah. Riri memang berdarah Bugis, tema film yang diangkat juga seputar kisah tokoh dari Makassar, namun film tersebut diproduksi oleh Mira Lesmana via Miles Films yang ada di Jakarta.

Demikian pula dengan film legenda seputar Sumatera Selatan karya Hanung Bramantyo, Gending Sriwijaya (2013) atau film berbahasa Karo besutan Rako Prijanto, 3 Nafas Likas (Oreima Films, 2014). Sinema Papua Boven Digoel (Foromoko Matoa Indah Film, 2017) juga belum tepat dikelompokan sebagai film daerah. Memang, semua film itu menonjolkan isu-isu terkait daerah tersebut. Namun, kebanyakan krunya tidak dari orang daerah, dialognya pun tak sepenuhnya menggunakan bahasa setempat.

Yan memaparkan, bahwa sesungguhnya ada banyak film daerah yang mulai bermunculan. Setidaknya ada lima film besutan sineas-sineas lokal dari Pontianak. Salah satu di antaranya adalah Pemuda Kota Naga yang menggunakan bahasa Cina-Singkawang. Ada pula film dari Manado seperti Senjakala di Manado. Di Banten diproduksi film berjudul Jawara yang hanya tayang di bioskop di Cilegon.

Yogyakarta yang aktivitas perfilmannya marak, juga menyumbang sejumlah film daerah -walau hanya sedikit yang masuk bioskop arus utama. Salah satunya film berbahasa Jawa yang juga berjaya di banyak festival dan menyabet Piala Citra untuk kategori Film Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2015, Siti (Four Colours Films, 2015). Sebagai film independen, Siti tidak ditayangkan melalui bioskop berjaringan di seluruh Indonesia, tapi di ruang-ruang pemutaran alternatif.

Menurut Yan, film-film daerah itu dibuat dengan biaya yang tidak besar, yaitu sekitar ratusan juta. "Meskipun hanya main di satu bioskop atau di daerahnya sendiri, misalnya hanya di Makassar saja, kalau penontonnya membeludak, modal sudah kembali. Apalagi kalau didukung oleh pemda dan bisa diputar secara nasional,'' kata Yan.

Yan lantas mengambil contoh maraknya film daerah di India. Dalam satu tahun, India rata-rata memproduksi 800 judul film. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 200 yang dibuat oleh Bollywood di Mumbai. Sedangkan 600 judul sisanya diproduksi oleh sineas dari sejumlah daerah di seluruh daratan India.

Kendala utama film-film daerah untuk menembus eksibisi nasional terutama adalah karena lamanya masa antre. Untuk mendapat tanggal main di jaringan bioskop harus mengantre karena jumlah filmnya sangat banyak. Hingga pertengahan 2017 ini saja, film Indonesia yang masuk bioskop lebih dari 150 judul. Jumlah itu belum termasuk film-film impor yang dalam satu tahun bisa lebih dari 200 judul.

Karena itu, strategi yang diterapkan tim dari Singkawang bisa ditiru. Alih-alih menunggu antrian yang kadang bisa sampai satu tahun itu, mereka mem-booking bioskop. Mereka lantas menjual tiket sendiri supaya bisa ditonton oleh khalayak ramai. Ternyata peminatnya banyak.

Film-film daerah tentu saja efektif pula mempromosikan wisata daerah tersebut. Selain belajar budaya baru tapi penonton mendapat alternatif tempat berwisata. Yan mencontohkan kesuksesan Ada Apa dengan Cinta 2 yang melahirkan spot-spot wisata baru di seputaran Yogyakarta yang menjadi incaran para wisatawan.

Berikut beberapa film daerah yang tayang di bioskop:

Judul : Bombe Sutradara : Syahrir Arsad Dini Pemain : Zahra Syahira Syahrir, Alya Nur Azizah Hendra, Siti Anisyah Putri Produksi : Paramedia & 786 Production

Bombe adalah kata dalam bahasa Bugis yang berarti permusuhan. Film ini berkisah tentang enam anak SD yang saling bermuduhan. Namun, mereka lantas bahu-membahu untuk menghadapi tantangan yang ada di depan mata mereka.

Judul : Uang Panai Sutradara : Halim Gani Safia dan Asril Sani Pemain : Ikram Noer, Nur Fadillah, Tumming, Abu Produksi : Makkita Cinema Production

Untuk menikah ternyata harus bermodal besar, kalau tak mau gadis impian diembat pria lain. Tema film ini sesungguhnya menohok jantung adat tapi diperhalus dengan balutan komedi.

Judul : Surau dan Silek Sutradara : Arief Malinmudo Pemain : Muhammad Razi, Bintang Khairafi, Bima Jousant Produksi : Mahakarya Pictures

Judulnya memang hanya menyebut dua hal, tapi sebagai film daerah, Arief Malinmudo menyinggung banyak tema lainnya. Mumpung sedang menghidangkan sajian lokal. Jadilah soalan merantau (termasuk di dalamnya tentang orang merantau cino alias tak kembali pulang kampung), tokoh-tokoh lokal yang menjadi pahlawan nasional, tradisi menyulam, semua tumpang-tindih dalam bentang alam Sumatera Barat yang variatif. Hasilnya adalah pola tutur yang bertele-tele.

Flora Libra Yanti

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com